Satu Abad NU: Menjaga Tradisi, Mengelola Perbedaan, Merawat Kedewasaan.

Satu Abad NU: Menjaga Tradisi, Mengelola Perbedaan, Merawat Kedewasaan.


Pada tahun ini, organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara, Nahdlatul Ulama telah mencapai usia 100 tahun menurut perhitungan Masehinya yakni pada 31 Januari 2026 nanti, bulan yang sama dengan didirikannya NU yakni 31 Januari 1926 di Surabaya. Sedangkan untuk perhitungan Hijriyah nya yakni 103 tahun yang jatuh pada 16 Rajab 1447 H atau 6 januari 2026 lalu.

Nahdlatul Ulama: Wadah Peradaban dan Perjuangan Indonesia


Peringatan satu Abad Nahdlatul Ulama ini mengangkat sebuah tema yakni “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”. Sebuah tema yang menguatkan posisi NU selain sebagai sebuah organisasi Islam juga sebagai sebuah wadah yang ikut serta mengawal dalam meperjuangkan peradaban di Indonesia terbukti dari sebelum awal kemerdekaan, resolusi jihad hingga saat ini NU tetap berperan aktif. Hal ini tidak terlepas dari peran muassis Nahdlatul Ulama terdahulu yang ingin Nahdlatul Ulama selain sebagai wadah keagamaan yang berafiliasi Ahlussunah wal Jama’ah juga sebagai wadah untuk memperjuangkan Negara yang Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur.


Keadaan dan tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama pada masa awal pendiriannya yakni pada zaman K.H. Hasyim Asy’ari, tentu sangat berbeda dengan yang dihadapi saat ini. NU lahir dalam situasi keterjajahan, keterbatasan sarana, isu isu keberagaman yang masih panas serta ancaman terhadap keberlangsungan tradisi keislaman pesantren. Namun, dalam kondisi yang serba terbatas itu, para ulama NU justru menunjukkan keteguhan prinsip, keikhlasan berjuang, dan kejernihan visi.

Sejauh Mana NU Merawat Warisan Perjuangan?


Berbeda dengan kondisi yang terjadi hari ini, secara sosiologis NU masih menjadi sebuah wadah terbesar bagi jutaan muslim di Indonesia. Nahdlatul Ulama telah tumbuh menjadi organisasi besar dengan jaringan yang luas, sumber daya yang melimpah, serta posisi strategis di berbagai lini kehidupan masyarakat. Namun, besarnya nama Nahdlatul Ulama ini justru menghadirkan Tantangan yang tidak bisa dianggap sebelah mata. NU saat ini tidak lagi semata soal eksistensi, melainkan soal konsistensi:

“sejauh mana NU mampu menjaga ruh perjuangan para muassis dan masyayikh di tengah kompleksitas zaman, modernisasi, dan dinamika kepentingan. Mengingat akhir-akhir ini NU sering sekali mengalami berbagai cobaan baik secara kultural maupun struktural ?”.


Kita bisa lihat isu isu yang berkaitan dengan NU dan kultur ke-NU-an beberapa tahun terakhir mengalami sebuah tantangan baik secara kultural maupun structural yang bisa dibilang bukan hal remeh, mengingat berbagai isu ini menyentuh aspek paling sensitif dalam tubuh NU yakni kultur dan budaya yang telah dipertahankan puluhan hingga ratusan tahun oleh kaum nahdliyyin.


Kita dapat mencermati berbagai isu besar seperti polemik masalah nasab yang sempat mencuat dan benar benar menjadi topik hangat di berbagai linimasa media sosial. Persoalan ini bukan sekedar perbedaan dalam pandangan ilmu sanad atau percaya tidak percaya, akan tetapi lebih besar dari itu yakni berkembang menjadi sebuah gesekan sosial yang menyebabkan harus pro dan
kontra, adu kritik bahkan umpatan-umpatan yang tidak didasari keilmuan merajalela. Dari sini dapat dilihat, musuh terbesar islam bukan dengan agama lain, tapi dengan sesama penganutnya yang berbeda pandangan. Alih-alih perbedaan masalah madzhab atau pola pikir musalnya, ini terjadi justru di tubuh dan wadah yang sama, yakni NU.

Menjadi Warga Nahdliyyin, Sudahkah Berbenah?

Maka kemudian pertanyaan besar muncul, sebenarnya yang dibenahi dari kita bukan sikap kita terhadap umat beragama, akan tetapi sikap kita terhadap perbedaan di tubuh islam sendiri apalagi satu wadah yang sama itu harus bisa diselesaikan. Pada titik ini, muncul sebuah pertanyaan yang benar benar harus diresapi jawabannya, “apakah yang lebih mendesak untuk dibenahi adalah toleransi antarumat beragama, atau justru toleransi (perbedaan pandangan) di dalam tubuh umat Islam sendiri, terutama dalam satu jam’iyyah yang sama?. Dalam al-Qur’an tidak hanya menegaskan kewajiban untuk memererat persaudaraan, tetapi juga memberi mandat untuk aktif mendamaikan yang telah terpecah:


َ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ


“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)


Kita patut berbangga ketika banser dan warga NU mampu menunjukkan toleransi tinggi dengan ikut mengamankan rumah ibadah agama lain. Namun, kebanggaan tersebut akan terasa timpang jika di saat yang sama kita masih sibuk bertikai dengan persoalan internal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan musyawarah kelimuan dan kedewasaan.

Belum sepenuhnya mereda permasalahan tersebut, muncul pula isu terkait feodalisme pesantren yang benar-benar menguliti tradisi pesantren, sebuah intiuisi yang sangat lekat dengan NU. Kritik ini di satu sisi mungkin dapat dibaca sebagai sebuah upaya evaluasi dan otokritik agar pesantren bisa terus berbenah agar dapat relevan dengan perkembangan zaman. Bagaimana kita lebih bijak dan kontekstual dalam membagikan berbagai kegiatan kultural kita apalagi di pesantren kepada khalayak umum, karena tidak semua orang bisa memahami apa yang kita lakukan tersebut seperti perhormatan kepada kiai, ngalap barokah dan lain sebagainya.

Kita Adalah Nahdliyyin Sekaligus Seorang Santri


Namun, di sisi lain jika kritik ini tidak diletakkan secara proposional, ini bisa berpotensi mereduksi nilai-nilai pesantren yang selama ini dijaga oleh para kiai dan santri beratus ratus tahun. Oleh karena itu tugas kita adalah bagaimana menghadirkan visual pesantren ke khalayak umum sebagai sebuah wadah pendidikan, adab dan tata krama yang baik yang dilandaskan oleh Al-Qur’an,
Hadis dan contoh yang sudah diajari para ulama dan shalihin terdahulu.

Selanjutnya, ketika kita ingin mengutarakan argumen untuk mempertahankan kultur pesantren, harus dengan argumen yang dilandasi dengan keilmuan, bahan bacaan yang bisa dipertanggung jawabkan. Sikap kita dalam merespon kritik, baik terhadap pesantren maupun tradisi NU, warga nahdliyyin, khususnya santri, dituntut untuk bersikap lebih matang dan beradab. Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat jelas dalam hal ini:


ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125)


orang-orang yang mengkritik atau yang tidak suka dengan NU malah merasa senang kalau kita menanggapi nya dengan tulisan-tulisan yang tidak berbobot yang cenderung bersifat defensif tanpa bisa menerima kritik itu dengan bijak. Hal ini juga menjadi sebuah pelajaran bagi nahdliyyin utamanya para santri, agar memperkuat khazanah bacaan agar pandangannya terhadap dunia dan keberagaman bisa lebih luas.

Baca Juga: Islam dan Indonesia: Konsep Negara Ideal Menurut Islam

Santri pada saat ini tidak boleh stagnan atau kaku dengan isu-isu berkembang. Santri sudah saatnya hadir kembali menghiasi linimasa media sosial bukan dengan memamerkan dirinya, tapi dengan tulisan tulisan yang mudah dipahami dan bisa membuka pandangan orang lain tentang NU “oh wong NU iku ngene yo, ternyata ada dasarnya. Jangan malah menimbulkan narasi bahwa orang NU terlebih Jika tidak demikian, yang muncul justru narasi sebaliknya: bahwa orang NU terutama santri terkesan kolot, argumentasinya tidak berbobot, dan kehadirannya di ruang publik hanya sebatas memamerkan kegiatan tanpa disertai pemikiran.

Padahal, sejak awal, pesantren dan NU justru dikenal sebagai pusat lahirnya ulama dan intelektual yang mampu memadukan kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, dan kepekaan sosial. Kita juga tidak boleh menjadi nahdliyyin yang gampang tersinggung. Kita harus bisa menghdapi berbagai tangggapan atau kritikan dengan hati yang lapang dan kejernihan akal dilandaskan keluasan dan keluwesan kita dalam memahami berbagai tantangan dan perbedaan dengan ilmu pengetahuan. Jika tidak, maka kita cenderung defensif dan tidak mau kalah.

Merawat Nilai, Adab, dan Tradisi


Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama semestinya tidak hanya kita rayakan sebagai capaian usia, melainkan kita renungkan sebagai momentum muhasabah bersama. NU bukan sekadar organisasi dan wadah besar umat islam dengan sejarah panjang dan jaringan luas, tetapi amanah peradaban yang diwariskan oleh para muassis dan masyayikh dengan penuh keikhlasan dan pengorbanan. Karena itu, menjadi nahdliyyin tidak cukup berhenti pada identitas dan simbol belaka, melainkan menuntut kesanggupan untuk terus merawat nilai, adab, dan tradisi yang menjadi ruh berdirinya NU.


Di tengah berbagai dinamika dan tantangan zaman, pertanyaan tentang apakah kita telah menjadi nahdliyyin yang diharapkan para muassis seharusnya tidak dijawab dengan klaim sepihak, tetapi dengan kesediaan untuk bercermin. Ketika perbedaan pandangan berubah menjadi perpecahan, ketika kritik dibalas dengan kemarahan, dan ketika tradisi kehilangan pijakan keilmuannya, di situlah NU diuji kedewasaannya. Bukan untuk meniadakan kritik, tetapi untuk mengelolanya dengan hikmah dan keluasan jiwa.


Maka, tugas nahdliyyin hari ini adalah menjaga agar NU tetap menjadi rumah besar yang teduh, tempat perbedaan dirawat sebagai khazanah, bukan dipertajam menjadi permusuhan. Pesantren, santri, dan apapun itu yang menjadi elemen NU dituntut untuk terus menghadirkan Islam yang berilmu, beradab, dan berkhidmah serta islam yang rahmatan lil alamin. Singkatnya kita harus bisa menjadi Islam yang tidak hanya lantang di ruang publik, tetapi juga matang dalam sikap dan pemikiran.

Satu Abad NU: Menjaga Tradisi, Mengelola Perbedaan, Merawat Kedewasaan.


Pada akhirnya, satu abad NU adalah undangan untuk kembali menautkan langkah dengan ruh para muassis: berjuang tanpa gaduh, berkhidmah tanpa pamrih, dan berilmu tanpa merasa paling benar. Sikap dewasa ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an agar umat mampu mendengar berbagai pandangan lalu memilih yang terbaik:

الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ


“(Yaitu) orang-orang yang mendengarkan berbagai pendapat lalu mengikuti yang terbaik di antaranya.” (QS. Az-Zumar [39]: 18)


Selama nilai-nilai itu terus dijaga dan dilestarikan , NU tidak hanya akan bertahan sebagai sebuah organisasi keagamaan , tetapi akan tetap relevan sebagai penyangga peradaban dan penuntun umat menuju kemaslahatan bersama.

اللهم صلي على سيدنا محمد صالة ترغب وتنشط وتحمس بها الجهاد إلحياء وإعالء دين اإلسالم وإظهار الشعائر على طريقة جمعية نهضة العلماء وعلى آله وصحبه وسلم وعلى آله وصحبه وسلم هللا، هللا، هللا، هللا ثبت وانصر أهل جمعية جمعية نهضة العلماء إلعالء كلمة هللا جمعية نهضة العلماء إلعالء كلمة ه

Penulis: Moch. Yasser Satria (Santri Madrasah Huffad 1)

Moch. Yasser Satria Muzaiyyin

Moch. Yasser Satria Muzaiyyin

Moch. Yasser Satria Muzaiyyin

1

Artikel