Tafsir Ibnu Katsir: Corak dan Metode Panafsiran

Tafsir Ibnu Katsir: Corak dan Metode Panafsiran

Almunawwir.com-Seiring dengan perkembangan zaman yang ada maka berkembang pula peranan akal dan ijtihad ulama’ dalam penafsiran Al-Qur’an. Banyak ulama’ yang menafsirkan Al-Quran dengan keunikannya masing-masing.

Salah satunya yang akan dibahas dalam artikel ini yaitu seorang ulama’, juga seorang ahli hadis yang memiliki nama lengkap lmaduddin Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimasyiqi al-Qurasyi asy-Syafi’i yang biasa dikenal dengan nama Ibnu Katsir.

Ia terkenal sebagai seorang yang sangat menguasai ilmu pengetahuan; khususnya di bidang ilmu tafsir, hadis, dan sejarah. Sangat banyak buku yang telah ia tulis dan dijadikan rujukan oleh para ulama, huffaz dan ahli bahasa. Tafsirnya ini merupakan tafsir terbesar dan berisi faidah yang luar biasa banyaknya, sebuah tafsir yang paling besar perhatiannya terhadap manhaj tafsir yang benar.

Baca Juga:

Al-Farmawi mengatakan dalam kitabnya al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mawdhu’i beliau menyebutkan bahwa corak penafsiran terhadap Al-Quran ada enam macam, di antaranya sastra budaya, fikih, hukum, ilmiah, filsafat, dan sastra bahasa.

Dari pengamatan Syeikh Manna’ Kholil al-Qathan dalam kitabnya Mabahits fii Ulumil Qur’an dalam bab Ibnu Katsîr wa Tafsîruhu sebagaimana yang dinukil dalam buku Model Penafsiran Hukum Ibnu Katsir, hal ini senada dengan latar belakang Ibnu Katsir yang merupakan seorang tokoh Madzhab Syafi’I yang sangat toleran sehingga dapat disebut sebagai mujtahid bil-madzhab.

Adapun penafsiran Ibnu Katsir ini bercorak tafsir bil-ma’tsur yakni penafsiran dengan al-Qur’an, penafsiran dengan hadis, penafsiran dengan perkataan sahabat dan tabiin.

Penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an

Sebagaimana yang tercantum dalam muqoddimahnya, beliau mengatakan bahwa “Cara yang paling baik dalam penafsiran adalah menafsirkan ayat dengan ayat yang lain” karena beliau meyakini bahwa jika dalam satu ayat diungkapkan dengan abstrak (mutlak) maka pada ayat yang lain akan ada pengikatnya (muqayyad). Atau pada suatu ayat bertemakan umum (‘âm) maka pada ayat yang lain dikhususkan (khâsh).

Penafsiran Al-Qur’an dengan Sunnah

Ibnu Katsir menjadikan Sunnah sebagai referensi kedua dalam penafsirannya. Bahkan dalam hal ini, Ibnu Katsir tidak tanggung-tanggung untuk menafsirkan suatu ayat dengan berpuluh-puluh hadits, bahkan mencapai 50 hadits. Kasus ini bisa dilihat ketika menafsirkan surat al-Isrâ.

Penafsiran Al-Qur’an dengan Perkataan Sahabat

Ibnu Katsir berkata, “Jika kamu tidak mendapati tafsir dari suatu ayat dari al-Qur`an dan Sunnah, maka jadikanlah para sahabat sebagai rujukannya, karena para sahabat adalah orang yang adil dan mereka sangat mengetahui kondisi serta keadaan turunnya wahyu. Ia menjadikan konsep ini berdasarkan beberapa riwayat, di antaranya atas perkataan Ibnu Mas’ud,

“Demi Allah tidak suatu ayat itu turun kecuali aku tahu bagi siapa ayat itu turun dan di mana turunnya. Dan jika ada seseorang yang lebih mengetahui dariku mengenai kitab Allah, pastilah aku akan mendatanginya “.

Juga riwayat yang lain mengenai didoakannya Ibnu Abbas oleh Rasululllah saw, “Ya Allah fahamkanlah Ibnu Abbas dalam agama serta ajarkanlah ta’wil kepadanya “. Kita dapat melihat pada surat an-Naba ayat 31 beliau menukil perkataan Ibnu Abbas.

Penafsiran Al-Qur’an dengan Perkataan Tabi’in

Cara ini adalah cara yang paling akhir untuk menafsirkan Al-Qur`an dalam metode bil-ma’tsur. Ibnu Katsir merujuk akan metode ini, karena banyak para ulama tafsir yang melakukannya, artinya banyak ulama tabi’in yg dijadikan rujukan dalam tafsir. Seperti perkataan Ibnu Ishaq yang telah menukil dari Mujahid, bahwa beliau memperlihatkan mushaf beberapa kali kepada Ibnu Abbas, dan ia menyetujuinya. Sufyan al-Tsauri berkata, “Jika Mujahid menafsirkan ayat cukuplah ia bagimu”.

Dan di sini penulis menyimpulkan bahwasanya Ibnu Katsir sebagai sosok ulama yang saleh telah meninggalkan karya yang sangat bermanfaat sekali. Lautan keilmuan yang ia ungkapkan merupakan gayung bersambut dari amanah yang telah diembankan kepada umat. Itulah salah satu tanggung jawab yang ia kontribusikan kepada kita.

Metode serta cara berpikirnya telah memperlihatkan dan mempersembahkan metode yang dijadikan standar dalam penelitian, dan senantiasa dijadikan tolak ukur. Dalam pembahasan yang sederhana ini kami dapat menyimpulkan bahwa tafsir Ibnu Katsir merupakan tafsir yang menggunakan metodologi bil ma’tsur, bahkan merupakan tafsir bil ma’tsur yang mendapatkan predikat termasyhur kedua setelah tafsir at- Thabari.

Adapun beberapa corak penafsiran dari Ibnu Katsir diantaranya Penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, Penafsiran Al-Qur’an dengan hadis, Penafsiran Al-Qur’an dengan sahabat, dan Penafsiran Al-Qur’an dengan tabiin.

Referensi:

  • Abd al-Hayy al-Farmawi, al-Bidâyah fi al-Tafsîr al-Mawdhû’i (Mesir: Huqûq al-Thaba’ Mahfûdzah, 1976 M), h. 26-33
  • Dr. H. Hasan Bisri, M. Ag., Model penafsiran Hukum Ibnu Katsir (UIN Sunan Gunung Djati: Juni 2020)
  • Muqoddimah Tafsir Ibnu Katsir.

Penulis: Safirna Raihana Yakin (Mahasiswi Prodi IAT Institut Ilmu Al-Qur’an An-Nur Yogyakarta)

Editor: Redaksi

Baca Juga:

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel