Fiqih Karakter: Menemukan Kembali Pribadi yang Anfa’ dalam Diri Santri

Fiqih Karakter: Menemukan Kembali Pribadi yang Anfa’ dalam Diri Santri


Oleh : Qifi Faiza*

“Dilansir dari detik.com pada 02 Februari 2018, Di Sampang, Ahmad Budi Cahyono, seorang guru Seni Rupa SMA Negeri 1 Torjun tewas diduga karena dianiaya muridnya yang tidak menghiraukan pelajaran dan mengganggu teman-temannya. Saat peringatan demi peringatan lisan tidak digubris, guru mencoretkan cat di pipinya sebagai teguran. Tidak terima, murid itu memukuli gurunya. Pukulan itu diduga menjadi penyebab kematian sang guru.”

Mengawali tahun 2018 ini, wajah pendidikan Indonesia sudah dibuka dengan luka yang menganga. Betapa tidak, berita-berita seperti cuplikan di atas berturut-turut menghiasi berbagai media massa. Di koran, televisi, media sosial, majalah, radio, berbondong-bondong orang-orang ikut andil membahas tragedi mengerikan tersebut. Seorang guru tewas dihajar muridnya, setelah sang guru berusaha memberinya peringatan karena bertindak acuh selama pembelajaran. Kawan, terbayangkah oleh kita dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang seorang kyai wafat di tangan santri?

baca juga : Beberapa Adab Uluk Salam yang Sering Kita Lupakan”

Miris. Satu kata yang muncul di benak saya ketika menonton atau membaca berita guru Budi. Aksi yang dilakukan oleh siswa berinisial H ini agaknya membuat kita tersadar dari lamunan panjang tentang sesuatu yang selama ini mulai menguap dari spirit pendidikan zaman now. Akhlak, karakter, budi pekerti, atau sejenisnya lambat laun dapat dirasakan kealpaannya. Bahkan di lingkungan pesantren, ‘tawadhuisme’ para santri terhadap guru (barangkali termasuk penulis) terus digerogoti oleh teknologi dan life style kekinian. Tidak heran jika banyak orang tua kerap menggumam pelan “anak zaman sekarang itu berbeda ya, dengan anak zaman dulu”.

Asumsi kolektif ini sesungguhnya tidaklah keliru. Berbagai perubahan memang berdampingan dengan perkembangan tiap generasi. Era Z (tahun 2000-an) yang banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang serba praktis, instan, dan –terkadang- terlalu kompetitif, karena terjadi perlombaan untuk menarik perhatian khalayak umum, membuat persaingan di media begitu terasa. Akibatnya, demi mendapat perhatian tersebut, banyak orang yang kemudian mengesampingkan nilai-nilai akhlak.

Guru di sekolah mulai kurang dihargai ke’guru’annya, karena para siswa mulai merasa mampu belajar ‘mandiri’ –untuk tidak mengatakan tidak terkontrol- dari gadget-gadget. Para santri mulai ingin mengikuti zaman dengan memperbanyak tontonan-tontonan kekinian, mengamati artis-artis ‘islami’ dan menjadikannya panutan, meninggalkan kitab-kitab kuning nan klasik dalam kesendirian, memposisikan kyai, pesantren, dan madrasah diniyyah sebagai sampingan dan IPK di garda terdepan.

Kesederhanaan khas santri yang menjadi satu paket dengan akhlak karimahnya, sebagaimana teladan kita, para kyai-kyai pendahulu, hari ini menjadi sesuatu yang terasa nadir ditemui. Dibanding kepada kyai, kita hari ini nampaknya lebih tawadhu kepada tanggal tua.

Anjuran kyai untuk tirakat ditinggalkan, tetapi peringatan tanggal tua untuk berhemat dan menjadi santri sholih dadakan yang berdiam di masjid demi menghindar dari kelaparan seakan menjadi keharusan.

baca juga : 5 Prinsip Supaya Hidup Tanpa Musuh”

Melihat fenomena di atas, apa yang menjadi sebuah kekhawatiran adalah sinar akhlak yang terus berkurang itu perlahan meredup dan akhirnya padam. Sebagai santri, barangkali quote khairun nas anfa’uhum linnas sudah tidak asing lagi di telinga kita. Maka, cara menjadi insan yang anfa’ versi tulisan ini adalah dengan tetap mengikuti dinamika zaman dan teknologinya, tanpa menghilangkan unsur santri dalam diri kita, unsur-unsur baik ini kemudian ditebar pada sesama.

Dengan segala kecanggihannya, semoga kita tidak pernah kehabisan ide untuk menebar kebaikan. Entah sekedar broadcast WA, video singkat tentang keutamaan akhlak karimah, dan lain sebagainya. Di samping fiqih politik, fiqih kliner, harus ada fiqih karakter yang mulai dibudidayakan di lingkungan kita.

Kemajuan teknologi tidak mengharuskan kita untuk terbawa arusnya. Kita ‘hanya’ perlu mengimbangi kecerdasan ponsel-ponsel kita dengan kecerdasan karakter dan moral. Pertanyaannya, sudahkah kita menemukan cara mencerdaskan kembali karakter santri kita?

Mari jadi pengamat, bukan penikmat, apalagi pecandu. Terjun itu baik, tapi lupa mentas itu berat, kamu tidak akan kuat.

sumber :
https://m.detik.com/news/berita/d-3845912/cerita-siswa-aniaya-guru-di-sampang-hingga-meninggal-dunia

*santri komplek R2
**kontestan Lomba Parade Menulis memperingati Haul Al Maghfurlah K.H.M. Moenawwir bin Abdul Rosyad ke 49

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel