Gus Baha: Pentingnya Mengaji dan Barokah Orang yang Tidur

Gus Baha: Pentingnya Mengaji dan Barokah Orang yang Tidur

Yogyakarta – Almunawwir.com

Rabu malam Kamis, 16 November 2022 telah gelar acara Lailatul Qur’an yang berlansung di halaman pondok pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Dalam acara ini menghadirkan 3 pemateri, salah satunya KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim, pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an  LP3IA.

Dalam acara ini beliau menceritakan beberapa hal yang menarik. Pertama, beliau menyampaikan mengenai masalah Ulumul Qur’an. Ayahnya menitipkan pesan: “kalau kita mempelajari masalah Ulumul Qur’an kita harus mencari sisi ekstrimnya.”

Misalnya dalam konteks Hudal Lil Muttaqin, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

Gus Baha Menyampaikan Materi di Acara Multaqa 2022

Orang-orang idealis mengartikan orang yang takwa itu sebagai imtitsalul awamir wa ijtinabun-nawahi (melaksankan segala perintah Allah dan Rasul dan menjauhi larangannya). Akan tetapi faktanya, Sayyidina Umar masuk Islam karena setelah mendengar Surah Thaha.

Baca juga: Soundscape Pesantren: Dari Al-Muqtashidah Sampai Santri Njoso

Bukan Sayyidina Umar saja, beberapa sahabat pun masuk Islam karena mendengar surah-surah di dalam Al-Qur’an saat mereka masih kafir. Di sini kita bisa buktikan orang yang tidak bertakwa kepada Allah bisa mendapat hidayah dari Al-Qur’an.

Barokah dari Al-Qur’an bukan hanya petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa saja, melainkan Hudal-linnas (petunjuk bagi setiap manusia).

Kemudian, beliau menyampaikan bahwa ijtihad itu suatu logika yang tidak konsisten. Sebab Nabi Muhammad Saw., bila berkata mengenai hal apa saja selalu dianalisis. Misalnya dalam perkara mengimami shalat, ada beberapa imam yang biasanya sehabis shalat langsung menghadap ke makmum.

Menurut Nabi dengan kita menghadap makmum setelah selesai shalat, menunjukkan bahwa shalat itu telah selesai. Khawatirnya kalau imam setelah shalat masih menghadap kiblat, makmum tidak tahu kalau imam itu sudah selesai shalat, apalagi bila ada makmum yang baru datang.

Analisis-analisis inilah yang menunjukkan bahwa ijtihad itu tidak konsisten

Tangkas Gus Baha, sapaan akrabnya.

Baca juga: 5 Prinsip Supaya Hidup Tanpa Musuh

Beliau juga menekankan bahwa ijtihad harus kita buka (open minded), karena  masih banyak perkara-perkara yang belum ada pada zaman Nabi, tetapi masih menimbulkan simpang siur. Di sinilah peran Ulama kita butuhkan.

Gus Baha adalah sosok yang sangat menggemari bidang Ushul Fiqih. Karena kakak-kakak beliau juga senang dengan bidang Ushul Fiqih. Kakak-kakak beliau mengagumi kitab ushul karena kaidah yang dibangun. Beliau memberi ijazah ilmu ushul fiqih. Beliau berkata agama ini menanggung orang yang kuat dan yang dhoif.

Orang yang kuat (mampu) menanggung zakat dan orang yang dhoif diberi zakat. Artinya dalam agama ini semua diunggulkan. Orang yang ilmunya cukup itu dijamin hatta yakuna lillahi waliyya (sampai menjadi wali Allah). Karena tidak ada orang syafaqah terhadap umatnya Nabi Muhmmad SAW, kecuali orang alim.

Contohnya ada seorang istri mengeluh tentang suaminya. Ketika malam hari suaminya  lihat TV sampai larut malam, sehingga ketika masuk waktu shalat Shubuh dia telat, meninggalkan tahajud dan qiyamullail.

Baca juga: Pembesar Ulama yang Mengingkari Kebenaran Kitab Ihya’ Ulumuddin Imam Al-Ghazali

Menurut Gus Baha dia bukan hanya meninggalkan qiyamullail, tetapi ia meninggalkan semuanya, karena dia dalam posisi tidur (tidak sadar). Tetapi dibalik itu semua ada sisi positifnya saat dia tidur, dia bisa meninggalkan hal-hal maksiat seperti dugem, mabuk-mabukan, dan lain sebagainya.

Maka dari itu Gus Baha berpendapat orang yang tidur itu terjaga. Orang tidur itu 0 (kosong) dia tidak punya ikhtiar sama sekali. Barokahnya orang tidur itu ketika dia mendapat ilham atau busyrah dari Allah, itu orisinil. Karenanya, Gus Baha lebih banyak wiridan ketika mau tidur dibanding dengan sehabis shalat.

Barokahnya ngaji kita jadi tahu duduk perkaranya. Nah saya mohon, semohon-mohonnya Qur’an ini kita bawa dengan semua perangkat ilmu.

Pesannya

Kemudian yang terakhir beliau menyampaikan terkait ilmu balaghoh. Ilmu Balaghoh ini sangat penting karena ketika ada ayat yang dhohir, ketika itu hal berupa fakta kita bisa menerimanya secara utuh. Akan tetapi jika itu bukan fakta kita bisa mentakwilnnya dengan ayat yang lain. Kalau kita tidak mengaji tentang ilmu balaghoh, nanti semua lafadz kita anggap kapitalis dan hakekat. Wallahu a’lam.

Baca juga: “Santri Ngrowot” dalam Pandangan KH Ali Maksum

Aizza U Nabila

Aizza U Nabila

Aizza U Nabila

1

Artikel