Gus Mus berkisah terkait Keteladanan Kiai Ali

Gus Mus berkisah terkait Keteladanan Kiai Ali

Ketokohan seseorang bukan semata-mata pemberian cuma-cuma yang ujug-ujug langsung diperoleh tanpa adanya kerja extraordinary untuk mewujudkannya. Maksimalisasi ikhtiar dan ketekunan yang gigih dalam menimba ilmu merupakan rekam jejak para ulama terdahulu yang sampai sekarang menjadi sumber inspirasi bagi para santri dalam meneruskan tonggak perjuangan beliau semua.

Pagi ini rangkaian acara inti dalam rangka Haul KH. Ali Maksum yang ke 33 dihelat secara khidmah ditengah cuaca mendung yang menaungi langit Krapyak. Acara ini hanya dihadiri secara langsung oleh para ahlein dzurriyah pondok pesantren Krapyak dan para tamu undangan khusus. Pembatasan kali ini dilakukan karena memang masih dalam suasana pandemi sehingga para santri, wali santri, dan alumni dihimbau oleh pihak pesantren untuk ikut hurmat haul secara virtual melalui berbagai akun media sosial pondok  Krapyak.

Hilmy Hasbullah selaku wakil dari keluarga sekaligus cucu shohibul haul dalam sambutannya sangat berterimaksih kepada seluruh pihak yang telah ikut mensukseskan peringatan haul kali ini. Peringatan haul seperti ini begitu penting dilakukan guna para dzurriah dan santri-santri dapat mengingat dan meneladani Kyai Ali semasa hidupnya. Beliau juga menuturkan bahwa sebelumnya juga dihelat seminar seputar perpektif para alumni terhadap Kiprah Kyai Ali Maksum dalam berbangsa dan bernegara. Senada dengan itu, KH.Musthofa Bisri yang menjadi pembicara selanjutnya juga mereka kembali kisah-kisah beliau selama bermuasyaroh dengan Simbah Yai Ali Maksum. Salah satunya yaitu cerita ketika Kiai Ali akan didapuk sebagai Rois Aam Nahdhatul Ulama

Pada saat itu, setelah kepemimpinan KH. Bisri Syansuri sebagai Rois Aam Nahdhatul Ulama. Para sesepuh dan kyai berkumpul di Kaliurang guna bermusyawarah dan memilih pemimpin baru Nahdhatul Ulama. Saat itu tokoh yang digadang-gadang menggantikan Mbah Bisri seperti KH. As’ad Samsul Arifin (Situbondo) dan  KH. Mahrus Aly (Lirboyo)  enggan untuk dipilih menjadi Rois Am’. Bersamaan pada saat itu Simbah Yai Ali berhalangan hadir dalam acara tersebut. Wal hasil, para kyai bersepakat mendapuk Simbah Yai Ali sebagai Rois Am’ selanjutnya. Gus Mus saat itu ditugasi untuk sowan dan matur kepada Simbah Yai Ali ke Krapyak. Singkat cerita, ketika Gus Mus sowan dan mengutarakan maksudnya, simbah Yai Ali  duko dan mengancam Gus Mus kalau tidak lagi diakui sebagai muridnya sebab disangka ikut menyarankan Yai Ali sebagai calon Rois Am’ selanjutnya. Akhirnya Gus Mus kembali dan mengatakan bahwa KH. Ali Maksum tidak mau menerima jabatan itu.

Namun, tidak berhenti di situ para kyai justru berduyun-duyun datang ke Krapyak sowan dan membujuk Kiai Ali untuk menerima amanat Rois Am’ sebagai pengganti KH. Bisri Syansuri. Meski tidak langsung menerima hasil Munas tersebut. Dengan iringan takbir, Kiai Ali dibaiat Kiai anwar Musaddad sebagai Rais Aam PBNU.

Secuil kisah di atas menggambarkan bahwa peran dan kiprah Kiai Ali sangat diperhitungkan, sehingga beliau layak menjadi Rais Aam Nahdhatul Ulama. Begitu juga keteladanan beliau yang patut kita contoh ialah bahwa tidak ada jabatan terlebih dalam badan Nahdhatul Ulama yang patut diperebutkan.

 

Krapyak, 15 Desember 2021

Penulis: Abdillah Amiril Adawy ( Santri Komplek Madrasah Huffadz 1)

 

 

 

Abdillah Amiril Adawy

Abdillah Amiril Adawy

Abdillah Amiril Adawy

Santri Komplek Madrasah Huffadz 1 PP. Almunawwir Krapyak. Minat Kajian Keislaman (Bahsul Masail, Kepesantrenan, dan Kisah Inspiratif).

13

Artikel