Haul Almaghfurlah K.H. Muhammad Munawwir ke-87 dan Haflah Khotmil Qur’an XVIII

Haul Almaghfurlah K.H. Muhammad Munawwir ke-87 dan Haflah Khotmil Qur’an XVIII

Pada hari Senin, 1 Desember 2025 yang bertepatan dengan tanggal 11 Jumadal Akhirah 1447 H, telah dilaksanakan acara puncak Haul Almaghfurlah K.H. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rasyad. Acara tersebut berlangsung dengan sangat khidmat, diawali dengan Prosesi Haflah Khotmil Qur’an. Pada tahun ini Haflah Khotmil Qur’an diikuti oleh 52 peserta 30 Juz Bil Ghoib, dengan rincian 3 khotimin Qira’ah Sab’ah, 36 Khotimin Qira’ah Masyhuroh, dan 13 Khotimat Qira’ah Masyhuroh.

Pembacaan Doa Khotmil Qur’an dipimpin oleh K.H. Mas’udi Fathurrahman, S.Th.I., kemudian dilanjutkan sambutan atas nama wali khotimin bil qiroatis sab’i yang disampaikan oleh Bapak K.H. Miftahul Huda, M.Ag. Rangkaian prosesi Haflah Khotmil Qur’an ditutup dengan penyematan sorban/selempang dan penyerahan syahadah kepada khotimin dan khotimat.

Setelah rangkaian acara Haflah Khotmil Qur’an selesai, dilanjutkan dengan Majelis Haul Almaghfurlah K.H. Muhammad Munawwir ke-87. Acara tersebut dibuka oleh Master of Ceremony, yaitu K.H. Fahmi Dalhar, S.Ag, S.S dan K.H. Solehudin Mansur, S.Ag. Pembacaan Ayat suci Al-Qur’an dan Syiir Munawwiriyah menempati bingkai acara yang kedua, yang dibawakan oleh Gus Ahmad Choirul Munada, Ustadz Alvin Fauzi, dan Gus Sholeh Ilham. Dilanjutkan dengan Tahlil yang dipimpin oleh KH. Muslim Nawawi dan pembacaan Do’a oleh KH. Muhtarom Busyro.

KH. R. Abdul Hamid Abdul Qodir selaku ahlul bait, menyampaikan sambutan tahniah ahlul bait. Dalam sambutannya beliau berharap semoga kita semua yang hadir bisa mendapatkan barokahnya Al-Qur’an, barokahnya Mbah Munawwir. Beliau juga menuturkan bahwa saat ini Pondok pesantren Al-Munawwir sudah mempunyai Mushaf Al-Munawwir, bekerjasama dengan Nasyrul Qur’an, Yayasan Restu, Malaysia.

Pada acara haul kali ini terasa lebih istimewa karena dibarengi dengan Launching Mushaf Al-Munawwir. Diawali dengan sambutan dari Bapak Menteri Agama Republik Indonesia yang disampaikan oleh Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A. selaku Kepala Diktis (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam) Kementrian Agama Republik Indonesia. Dilanjutkan Launching Mushaf Al-Munawwir yang diwakilkan oleh KH. R. Abdul Hamid Abdul Qodir, Dr. Datuk Mohd Asyaharim bin Abdul Latiff (Putra dari Datuk Dr. Abdul Latiff Mirasa, Executive Chairman Yayasan Restu, Ketua Pegawai Eksekutif Nasyrul Qur’an, Malaysia) dan Kementerian Agama yang diwakilkan oleh Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A.

Kementrian Agama mengucapkan selamat kepada Pondok Pesantren Al-Munawwir yang saat ini sudah punya Mushaf Al-Qur’an Al-Munawwir. Semoga mushaf ini membawa keberkahan bagi masyarakat, Umat Islam di Indonesia bahkan seluruh dunia. KH. R. Abdul Hamid juga berharap semoga mushaf ini bisa bermanfaat bagi umat Islam khususnya dan seluruh keluarga besar Al-Munawwir dimanapun berada.

Sambutan yang terakhir, dari perwakilan Ketua Umum PBNU yang disampaikan oleh Dr. K.H. Miftah Faqih. Beliau menuturkan “Beruntunglah kalian yang memiliki sanad kepada Mbah Munawwir. Kalian yang sudah khatam, harus memiliki personal branding, menyampaikan ilmu dari gurunya, agar bersanad jelas dan tidak mudah terprovokasi. Kita semua di majelis ini, semata-mata tabarukan. Siapapun yang datang dalam jalsah ahli ilmu, tapi tidak mampu untuk menghafal dan menjaga sedikitpun ilmu yang dibincangkan itu, akan tetap memperoleh 7 keramat (keutamaan), dua diantaranya yaitu memperoleh keutamaan orang yang mengaji serius dan mencegah dirinya dari dosa”.

Puncak acara diisi dengan Mauidhoh Hasanah oleh Dr. (H.C.) K.H. Zulfa Mustofa. Beliau terkenal dengan ciri khasnya membuat syair setiap menjadi pembicara. Begitupun saat puncak acara haul K.H. Muhammad Munawwir, beliau membuat syair tentang Mbah Munawwir sebagai ‘Umdatul Qurra serta murid-muridnya yang juga sebagai ahlul qur’an dan menjadi kyai masyhur di daerahnya masing-masing.

Dalam mauidhohnya beliau menyebutkan bahwa Sanad Al-Qur’an ulama Jawa rata-rata dari Mbah Munawwir. Ibnu Abbas pernah mengatakan dalam satu syairnya, yang artinya “Sesungguhnya semua cabang ilmu ada di dalam Al-Qur’an, tetapi kemampuan manusia memahami ilmu-ilmu yang ada di dalam Al-Qur’an itu terbatas, tergantung bagaimana Allah memberinya”. Dalam Kitab Qomi’ At-Thughyan, Syekh Nawawi Al-Bantani menuturkan: “Kalau ada orang yang ilmunya dari Al-Qur’an itu luar biasa, tidak hanya hafal saja, pasti disebabkan karena penghormatannya terhadap Al-Qur’an luar biasa”.

Mbah Munawwir itu ‘Umdatul Qurra, artinya patokannya para ahli Qur’an di tanah Jawa. Diantara muridnya Mbah Munawwir yaitu Mbah Muntaha (Wonosobo), Mbah Arwani (Kudus), Mbah Mufid (Pandanaran), Mbah Nawawi (Ngrukem), Mbah Ali Maksum, Mbah Dimyati (Banten), dan Mbah Dimyati (Pemalang). Beliau-beliau bersinar karena gurunya, yaitu Mbah Munawwir. Jika ada orang yang hebat, maka ushulnya hebat. Ushul itu bisa berupa gurunya maupun orang tuanya.

Mbah Abdullah Salam Kajen pernah dhawuh: “Sekarang orang yang hafal Al-Qur’an sudah tidak ada, seperti Mbah Munawwir, Mbah Arwani. Adanya hanya orang yang lanyah. Kalau hafal Al-Qur’an itu mengigaunya saja dengan menghafal Al-Qur’an”. Sesungguhnya murid bukanlah satu entitas hukum yang terpisah dari ushulnya. Murid-muridnya Mbah Munawwir hebat-hebat semua, karena mereka mengikuti langkah dan akhlak gurunya. Ketika jadi santri, perjuangan tholabul ‘ilminya pasti luar biasa.

Di akhir mau’idhohnya, beliau menambahkan pesan kepada para santri, “Jangan kita berfikir ingin seperti beliau-beliau, sementara level semangat ngaji kita jauh. Beliau-beliau tidak hanya alim, tapi baik juga akhlaknya, mengikuti guru-gurunya. Semoga kita semua para santri Mbah Munawwir, masih tetap bisa mengikuti langkah-langkahnya guru kita”.

Pembacaan doa oleh K.H. Mas’ud Masduqi, menandai ditutupnya acara. Maka berakhirlah acara puncak Haul K.H. Muhammad Munawwir ke-87. Semoga kita dapat memperoleh keberkahan dari ‘Umdatul Qurra, Almaghfurlah K.H. Muhammad Munawwir dan para masyayikh. Aamiin.

Redaktur: Nalkfn

Redaksi

Redaksi

admin

552

Artikel