KH Atabik Ali: Ulama Pemerhati Pendidikan dan ‘Melek’ Politik

KH Atabik Ali: Ulama Pemerhati Pendidikan dan ‘Melek’ Politik

Almunawwir.com – Beberapa hari kemarin Pondok Pesantren Yayasan Ali Maksum telah menggelar haul ke-2 almaghfurlah KH Atabik Ali yang berlangsung di Asrama Panggung Pondok Pesantren Ali Maksum (15/01/23). Acara ini disiarkan secara offline dan online pada chanel You Tube Krapyak TV.

Sebagai tadzkirah sosok KH Atabik Ali yang telah dihauli kemarin, tidak salahnya kita mengenal kembali kiprah dan perjalanan beliau dalam mengemban amanat di pesantren Krapyak tercinta ini. Semoga dengan kisah ini, kita semua mendapatkan limpahan berkah dari leluhur kita. Aamiin.

KH Atabik Ali adalah anak dari Rais Aam PBNU, KH Ali Maksum (masa jabatan 1981-1984). Dikenal sebagai ulama kharismatik dan penggerak modernisasi pesantren, ayahnya yakni Kiai Ali Maksum adalah putra dari KH Mashum alias Mbah Mashum, pendiri dan pengurus Pondok Pesantren Al-Hidayah yang legendaris di Lasem Rembang.

KH Atabik Ali
(ket: kanan) KH. Attabik Ali memberikan sambutan hangat dalam acara halaqah ke-10 di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, Rabu (14/8/19). (Foto: Aros)
Sumber Gambar: Tebuireng Online

Baca juga: Motivasi KH. M. Munawwir Untuk Generasi Qur’ani

Setelah ayahnya, KH Ali Maksum wafat pada tahun 1989, Kiai Atabik terus menjalankan pondok pesantren Krapyak. Berkat berbagai kemajuan luar biasa yang Kiai Atabik lakukan tersebut, Pondok Pesantren Krapyak berkembang pesat. Sebagai sesama masyarakat NU, KH Atabik Ali, ternyata beliau juga merupakan teman lama Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin.

Pada masa kepemimpinan Gus Dur, KH Atabik Ali juga menduduki posisi penting di PBNU. Lebih tepatnya, sejak saat Kongres Situbondo 1984. Beliau menjabat sebagai ketua PBNU.

Santri-santri Krapyak sekarang mengenalnya dengan julukan Pak Bik. Dulu, para Ulama Kiai di Krapyak disebut Pak, tapi bukan Kiai. Kiai Ali Maksum biasa dipanggil Pak Ali. Panggilan ‘Pak’ ini mengacu pada Bapak. Seorang kiai atau pengasuh pesantren seperti ayah pengganti bagi santri-santrinya.

Dilansir dari krapyak.org pada 15/02/2021 KH Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi hadir secara virtual dalam acara tahlilan 7 hari KH Atabik Ali bin Ali Maksum dalam tausiahnya, beliau menyampaikan bahwa nama “Atabik” bukanlah nama yang berasal dari Bahasa Arab akan tetapi laqob dari Bahasa Turki yang artinya panglima.

Baca juga: Obituari KH. Atabik Ali: Pak Bik dan Kamus Al-Ashry

KH Atabik dalam pandangan Pak Agus adalah الكياىء العالم العصرني الرقمي قبلَ عَصْرِالأسرنية, atau dalam bahasa Indonesia Kiai Atabik adalah seorang kiai yang alim, berpikiran modern, serta satu-satunya kiai yang sangat akrab dengan dunia digital sebelum adanya zaman digital.

Pak Agus menambahkan cerita bahwa pada tahun 1990-an, Kiai Atabik awwalul quyuh (kiai yang pertama kali akrab dengan dunia komputer) yang jauh melampaui merk komputer yang dimiliki orang-orang pada waktu itu. Pak Bik sadar betul bahwa masa depan santri akan ditentukan dengan penguasaan terhadap ilmu digital.

Dengan software yang beliau kuasai, beliau berhasil menciptakan kamus. Bahkan Pak Agus menyatakan bahwa Kiai Atabik adalah kiai yang sangat aneh karena memiliki teknologi yang sangat luar biasa, menggauli zamannya.

Tidak berlebihan kalau saya dalam bidang ini menyebut beliau فريد عَصْرِهِ ووحيد زَمَنِهِ atau satu-satunya kiai yang sangat gharib di masanya.

Ungkapnya

Kiai Atabik merupakan monitor perkembangan internasional dan manca negara melalui parabola di kamarnya menggunakan DVD recorder. Beliau sangat hafal dengan kondisi politik-sosial di luar negeri. Semua berita dan narasi-narasi yang diucapkan oleh tokoh besar luar negeri sangat dihafal oleh Kiai Atabik.

Baca juga: Bahasa Bu Nyai Sukis

Kiai Atabik pernah ngendika kepada Pak Agus “Kula kepingin merealisasikan mimpi bapak (KH Ali Maksum) untuk mengembangkan Pondok Pesantren Krapyak.” Bahkan untuk biaya menggambar rancangan pesantren beliau keluarkan sebesar 80 juta.

Pola pikir Kiai Atabik adalah mudhori’ datang saat ini dan masa yang akan datang. Proyek besar beliau adalah menginginkan Pondok Pesantran Krapyak menjadi pondok pesantren kekinian dan pondok pesantren yang bisa menjawab tantangan masa depan. Buah dari perjuangan tersebut, Kiai Atabik yang dibantu keluarganya berhasil merintis Yayasan Ali Maksum dan membangun SMP-SMA Ali Maksum Boarding School.

Beliau menguasai kosakata dan kurikulum bahasa Arab dengan baik. Kemahiran bahasa Arab Pak Bik seperti bawaan lahir, juga “turun” dari ayahnya, Kiai Ali Maksum. Karena kemahirannya tersebut beliau membuat kamus Al-Ashri. Kamus Al-Ashri adalah bukti nyata beliau atas dedikasinya itu.

Kamus Al-Ashri bisa dibilang merupakan cermin keluasan dan kealiman intelektualitas KH. Atabik Ali Maksum. Kamus itu juga menjadi kontribusi yang paling nyata dari beliau dalam kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan keislaman. Kiai Ali disebut Munjid berjalan. Al-Munjid adalah kamus bahasa Arab karya Louis Ma’luf dan Bernhard Tottel.

Ketika putra sulung Kiai Ali Maksum itu berada di Jakarta, saya mendengar banyak cerita tentangnya. Kiai Mashuri Malik adalah narator. Pertama, Pak Mashuri bercerita tentang Pak Bik saat menjadi anggota DPR di Jakarta.

Baca juga: KH Abdul Hamid AQ : Almunawwir Pengemban Tugas Nasyrul Ilmi wad Din

Pak Bik adalah karakter yang unik dan penuh semangat. Penampilannya yang sangat sederhana seringkali tidak terlihat tanpa penutup tengkorak. Namun, beliau jelas orang di atas rata-rata dalam hal teknologi. Hal tersebut tidak lain karena beliau merupakan golongan ‘orang penting’ yang memiliki akses sangat luas.

Di Muktamar NU tahun 1994 di Cipasung, Pak Bik memihak almarhum Abu Hasan yang menentang Gus Dur. Namun semua itu dilakukan dengan santai, bahkan tanpa dianggap sebagai politisi “bagaimana”. Ketika Gus Dur menjadi ketua PBNU, Pak Bik juga menjadi salah satu ketua PBNU dari tahun 1989 hingga 1994.

Ketika Gus Dur tidak menerima hasil Solo 2004 di Muktamar NU, Pak Atabik dengan semangat mengatakan bahwa Gus Dur harus rendah hati. Namun Gus Dur pun dengan tenang menanggapi langkah Pak Bik. Alasannya jelas: selain satu teman, ayah Pak Bik, Kiai Ali Maksum, adalah gurunya yang disegani. Keduanya tidak eksplosif jika keduanya berbeda. Karena menjadi panutan adalah sebuah kehormatan.

Baca juga: Tangis Pilu di Hari Wafat Mbah Kiai Umar Abdul Mannan Mangkuyudan

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel