Motivasi KH. M. Munawwir Untuk Generasi Qur’ani

Motivasi KH. M. Munawwir Untuk Generasi Qur’ani

Almunawwir.com – KH. M. Munawwir adalah salah satu ulama ahli Al-Qur’an pada abad ke-20 di Nusantara. Nama lengkapnya KH. M. Munawwir bin Kiai Abdullah Rasyad bin Kiai Hasan Bashari. Ia lahir di Kauman, Yogyakarta, dari pasangan Kiai Abdullah Rasyad dengan Nyai Khadijah. Ia dikenal sebagai ulama ahli Al-Qur’an yang ternama.

Sebagai pemegang sanad Al-Qur’an yang sampai kepada Rasulullah Saw. Begitu besar peranannya bagi perkembangan generasi penghafal Al-Qur’an. Banyak dari murid-murid beliau yang menjadi ulama ternama dan meneruskan perjuangan beliau. Keberhasilannya mencetak generasi-generasi penghafal Al-Qur’an yang kemudian tersebar di seluruh penjuru Nusantara membuat namanya melambung tinggi.

Kiai Munawwir adalah cucu Pangeran Senopati, Kiai Hasan Bashari. Ayahnya bernama Kiai Abdullah Rasyad yang memiliki 11 anak dari empat orang istri. Salah satu anak tersebut adalah Kiai Munawwir. Terdapat dalam sebuah kisah yang menceritakan bahwa kakeknya Kiai Hasan Bashari, sebenarnya ingin sekali menghafalkan Al-Qur’an, tetapi setelah berusaha berkali- kali keinginannya itu tidak terlaksana juga.

Munawwir
Sumber Gambar: bogor.pikiran-rakyat.com

Baca juga: Manifestasi Generasi Qur’ani Masa Kini Melalui Keteladanan Kiai Munawwir

Kemudian ia bermujahadah dan berdo’a kepada Allah Swt, hingga pada akhirnya ia mendapatkan ilham bahwa anak keturunannya yang akan menjadi seorang penghafal Al-Qur’an, sosok itu tidak lain adalah KH. M. Munawwir.

Sejak kanak-kanak, Kiai Munawwir belajar Al-Qur’an di Bangkalan, sebuah pesantren yang diasuh oleh KH Maksum. Selain belajar Al-Qur’an, beliau juga belajar ilmu-ilmu keislaman lainnya dari para kiai.

Pada tahun 1888, KH. M. Munawwir melanjutkan belajar ke Mekkah dan menetap di sana selama 16 tahun. Kemudian selang beberapa lama KH. M. Munawwir melanjutkan belajar ke Madinah. Setelah 21 tahun bermukim di kedua kota suci itu dan memperoleh ijazah mengajar tahfidz Al-Qur’an. Beliau kembali ke Yogyakarta pada tahun 1911.

Selama di Mekkah dan Madinah Kiai Munawwir memperdalam Al-Qur’an, tafsir, dan qiraat sab‘ah dari beberapa guru. Antara lain; Syekh Abdullah Sanqara, Syekh Syarbini, Syekh Muqri, Syekh Ibrahim Huzaimi, Syekh Manshur, Syekh Abd. Syakur, dan Syekh Musthafa.

Hafalan Al-Qur’an yang beliau kuasai lengkap dengan qiraat sab‘ah-nya, sehingga beliau terkenal kealimannya di senatero Jawa akan penguasaan qiraat sab‘ah.

Baca juga: Tiga Dasar Utama Agama Islam

Setelah beliau kembali ke Yogyakarta, ia mendirikan majelis pengajian dan merintis berdirinya Pondok Pesantren Krapyak. Selama kurang lebih 33 tahun menjadi pengasuh PP. Krapyak, Kiai Munawwir mewariskan ilmu kepada para muridnya. Hingga kelak tidak sedikit di antara mereka yang mendirikan pondok pesantren Al-Qur’an.

Kiai Munawwir dikenal sebagai seorang yang istiqamah dalam beribadah, salat wajib dan sunah rutin dikerjakannya, wirid Al-Qur’an selalu beliau khatamkan sepekan sekali, biasanya setiap hari Kamis. Sifat muru’ah tercermin dari kerapiannya berpakaian, beliau selalu mengenakan tutup kepala baik itu kopiah atau serban, berpakaian sederhana, dan terkadang mengenakan pakaian dinas Kraton Yogyakarta saat menghadiri acara resmi kraton.

KH. Munawwir adalah sosok yang memiliki perhatian besar terhadap keluarga dan para santrinya, wejangan-wejangan yang ia sampaikan dalam pengajian secara otomatis diterapkan dalam pergaulan sehari-hari. Beliau tidak membedakan tamu yang mendatanginya, semua disambut dengan baik. Bahkan beliau sesekali bersilaturahmi kepada keluarga santrinya, begitu pula kepada tetangganya.

Baca juga: Komitmen Kiai Munawwir Belajar Qira’ah Sab’ah: Pembelajar Sejati

Akhlak lainnya, seperti peran beliau sebagai kepala rumah tangga, beliau tidak luput mencari nafkah di tengah kesibukannya mengajar dan me-nderes Al-Qur’an. Sebagai seorang santri, beliau benar-benar sami’na wa atho’na terhadap guru.

Sebagai teman, beliau sering mengunjungi rumah-rumah meraka. Dari sisi seorang Kyai, beliau pun tidak ketinggalan membantu saat warga lingkungannya atau santri beliau ada yang kesusahan. Warga dan santri selalu diberi sangu jika ada keperluan mendesak. Ikut merawat jenazah warga yang meninggal.

Hingga tiba di suatu masa Kiai Munawwir sakit selama 16 hari sebelum meninggal dunia pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1360 H (6 Juli 1942) di rumahnya, di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. KH. Munawwir terkenal sebagai pembuka tradisi tahfidz, khususnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Begitu banyak keteladanan KH. M. Munawwir yang sangat disayangkan jika kita tidak dapat mengambil pelajaran dan mengimplementasikan di kehidupan kita sehari- hari. Terkhusus bagi para penghafal Al-Qur’an di zaman sekarang yang kadang mereka lalai akan kalam yang mereka hafalkan.

Baca juga: Memperingati Kelahiran Sang Cahaya diatas Cahaya

Tidak sedikit juga yang acuh terhadap akhlak mereka sebagai orang yang menjaga kalamullah. Ini menjadi permasalahan kita bersama bahwa para ulama terdahulu sudah banyak mencotohkan seperti apa dan bagaimnana kita bersikap dengan tanggung jawab Al-Qur’an yang kita bawa.

Haruslah kita menerapkan apa yang seharusnya kita terapkan bukan menyepelekan yang seharusnya kita lakukan. Tak sedikit para penghafal Al-Qur’an di zaman sekarang yang ikut terlena dengan kehidupan dunia, pergaulan, dan lingkungan. Namun perlu kita tekankan bahwa kita itu berbeda dari mereka, jadi harus bisa menjadi panutan yang baik untuk semua.

Semoga setelah mendalami sosok penghafal Al-Qur’an sejati yakni KH. M. Munawwir. Kita dapat lebih meresapi dan mendalami makna dari Al-Qur’an itu sendiri. Tentunya kita harus bisa memposisikan diri sesuai keadaan, agar dapat mencerminkan akhlak qur’ani yang seharusnya kita amalkan sehari-hari.

Referensi

Masyhuri Aziz, 99 Kiai Kharismatik Indonesia (Bogor:Keira Publishing, 2017)

Syakur Junaidi A.,dkk, Biografi KH. M. Munawwir Krapyak, (Yogyakarta: Al- Munawwir, 1998)

Lajnah.kemenag.go.id/artikel/biografi-kh-m-munawwir-1870-1941Mahadalyjakarta.com/ulama-nusantara-ahli-al-quran-kh-m-munawwir-krapyak/Ahmadmujib.web.id/2021/10/mbah-munawwir-krapyak-dan-mbah-arwani.html

Penulis: Ulia Muflikah Komplek T Putri, Partisipan Lomba Haul KH. M. Munawwir ke-84.

Baca juga: Al Quran, Perempuan, dan Insan Kamil

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel