Kisah Juang: Fiyya Wassusana dan Doa Sang Guru

Kisah Juang: Fiyya Wassusana dan Doa Sang Guru

Namanya Fiyya, lengkapnya Fiyya Wassusana. Lahir di Tempuran, Magelang, di lingkungan keluarga yang mendalami ilmu agama. Latar belakang yang agamis mengantarkan Mbak Fiyya dan saudara-saudaranya sedari kecil menempuh pendidikan di pesantren dalam masa tholabul ‘ilminya. 

Dulunya, tidak pernah terbesit sedikitpun oleh Mbak Fiyya untuk menghafal Al-Qur’an. Ia menghabiskan masa remajanya dengan mendalami Kitab Kuning. Hingga pada suatu hari setelah ia lulus dari PPP Aris Kendal, ibunya menginginkan ia untuk mulai menghafal Al-Qur’an. Mbak Fiyya tidak lantas meng-iya kan dawuh ibunya, sebelumnya ada cerita menarik yang akhirnya membuat Mbak Fiyya bersedia menjalankan titah sang ibu tercinta.

Bermula dari guru ibu Mbak Fiyya ketika beliau masih mondok (dulu kala) yang mendoakan santri-santrinya dengan suatu kalimat mujarab “Tak dongakno anak-anakmu sing wedok mbesok apal Al-Qur’an” (tak doakan anak-anak perempuan mu besok hafal Al-Qur’an). Benar-benar sebuah kalimat hebat yang diamini oleh ibu Mbak Fiyya dan kemudian menjadi keyakinan untuk terus mendoakan putrinya agar menjadi hafidzoh seperti do’a Bu Nyai nya.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya Perempuan lulusan Pondok Pesantren Putri Aris, Kendal, ini memutuskan untuk melanjutkan mondoknya di Krapyak sebagai tempat berguru menghafalkan Al-Qur’an. Bukan suatu kebetulan ia memilih Krapyak – setelah sebelumnya ia mencari informasi dan memantapkan hatinya memilih pesantren ini.

“Sebelum mondok di Krapyak saya sudah banyak membaca tentang tokoh-tokoh besar ulama alumni sini. Dan ini salah satu alasan yang membuat saya mantap memilih Krapyak”. Ungkap Mbak Fiyya.

Perjalanan menghafal Al-Qur’an Mbak Fiyya – untuk pertama kali dimulai pada awal tahun 2017. Sejak saat itu ia telah memantapkan hatinya untuk menghafal Al-Qur’an di Komplek Ribathul Qur’an Putri di bawah asuhan Gus Mas’udi (menantu Romo Yai Najib). Proses perjalanan menghafal Al-Qur’an tiap orang tentunya berbeda. Bagi Mbak Fiyya, menghafal Al-Qur’an adalah hal yang harus diperjuangkan dan diselesaikan sampai akhir walau pun harus mengorbankan hal-hal yang ia senangi.

Seperti banyak dawuh dan ungkapan para huffadz (penghafal Al-Qur’an), “Al-Qur’an itu tidak bisa diduakan”. Dalam kehidupan menghafal Mbak Fiyya, hal ini diterjemahkan dalam bentuk nderes (muroja’ah) yang berulang-ulang disertai menambah hafalan sesuai target. Bahkan, penulis mendapat informasi dari sebuah sumber terpercaya, meskipun saat sedang mengobrol bersama teman-teman lain Mbak Fiyya tetap nderes dengan umik-umik (nderes secara pelan yang biasanya hanya terdengar oleh orangnya sendiri).

Di balik keberhasilan menghafal 30 Juz, pastilah ada momen bosan untuk menghafal. Inilah saat di mana diri sang penghafal diuji dengan suatu tirakat. Begitupun Mbak Fiyya. Sangat terbatasnya perizinan keluar komplek serta tak ada barang elektronik yang boleh digunakan (baca handphone) – sebelum mereka simaan ngglondong 30 juz – maka hiburan yang dilalui oleh Mbak Fiyya dan teman-temannya adalah sebatas mengobrol untuk saling bertukar cerita dan keluh kesah.

Beberapa juz lagi sebelum khatam, hafalan Mbak Fiyya sempat diuji oleh wafatnya Romo Yai Najib Abdul Qadir dan Bu Mariyatul Qibtiyah (ahlain). Pada hari-hari tersebut, setoran yang harusnya bertambah menuju 30 Juz, sempat terhenti karena disibukkan oleh acara-acara peringatan wafatnya beliau di atas. Kendati demikian, guru Mbak Fiyya, Gus Mas’udi kembali menyemangati bahwa ia sebentar lagi khatam.

Hari demi hari berganti hingga Mbak Fiyya sampai pada setoran terakhirnya di bulan Ramadhan tahun 1442 H. Ungkapan syukur tak luput selalu ia panjatkan pada Allah swt, kedua orang tua, guru dan tak lupa teman-temannya yang telah mendukung dan membersamainya dalam proses panjang ini. Ia pun berhasil sima’an ngglondong 30 juz untuk pertama kalinya pada November 2021. Dan sekarang, ia menjadi satu dari puluhan khatimin dan khatimat haamilul Al-Qur’an yang akan diwisuda saat haul akbar KH. Muhammad Munawwir ke 83.

Dari kisah Mbak Fiyya, kita dapat mengambil pelajaran bahwasanya keyakinan yang telah mantap digenggam akan membuahkan hasil, tentu tidak luput disertai dengan do’a dan usaha yang terbaik. Sekian dan semoga sekelumit cerita ini dapat menginspirasi khalayak bersama, terutama bagi yang sedang berjuang menghafalkan kalam Allah. Wallahu a’lam

Alma Naina Balqis

Alma Naina Balqis

Alma Naina Balqis

Santri Komplek R2 dan Pegiat Kajian Sejarah.

11

Artikel