Mbah Hasyim Berpesan Agar Tidak Fanatik terhadap NU

Mbah Hasyim Berpesan Agar Tidak Fanatik terhadap NU
Sumber Foto: theconversation.com

Sebetulnya masih agak cukup sulit meredam pertikaian antarpartai yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu lamanya. Pertikaian yang tidak kunjung usai ini selalu dimandati dengan rasa ego, gengsi, serta fanatik terhadap organisasinya masing-masing. Bukan hanya partai tetapi juga antarorganisasi Islam. Antara satu dengan yang lainnya saling tendang, saling senggol, saling menjatuhkan.

Entah mengapa, penulis juga tidak begitu mengerti, tema-tema yang selalu berkibar di setiap ruang diskusi atau seminar selalu saja tentang “Moderasi Beragama”. Padahal hari-hari yang kita lihat di media massa, justru pertikaian antarpartai, antarorganisasi, antara tokoh Islam yang satu dengan lainnya. Maka seharusnya yang didengungkan dalam seminar adalah “Moderasi dalam Berpartai”, baik partai atau organisasi umum maupun Islam.

Konflik fanatisme semacam ini sudah dari jauh hari diwanti-wanti oleh pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim). Seluruh karya tulis beliau ini diikat dalam kitab Irsyad al-Sari (karya Mbah Hasyim yang dikompilasikan Gus Ishom). Beberapa artikel yang ditulis Mbah Hasyim dalam bentuk buku tipis itu mengkerucutkan pembaca pada pemahaman untuk senantiasa moderat sebagai manusia pemeluk agama, khususnya Islam.

Diksi “moderat” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V berstatus adjektiva (kata sifat). Sedangkan secara terminologi diartikan sebagai “berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah”. Dari sini kita tangkap maksud dari moderat adalah “berada di tengah-tengah”. Artinya mengambil apa yang seharusnya diambil, membuang apa yang seharusnya dibuang, fleksibel, adil, seimbang, dan proporsional.

Allah Swt. telah menerangkan moderasi dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 143:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Tidak terkecuali Kanjeng Nabi Muhammad Saw. juga turut memberitahu sakralitas moderasi. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah nomor 3268:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وُضِعَ الطَّعَامُ فَخُذُوا مِنْ حَافَتِهِ وَذَرُوا وَسَطَهُ فَإِنَّ الْبَرَكَةَ تَنْزِلُ فِي وَسَطِهِ

Artinya: “Ali bin Mundzir telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fudhail telah menceritakan kepada kami, Atha bin As-Saib telah menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dia berkata, “Rasulullah saw bersabda: “Apabila makanan telah dihidangkan maka ambillah dari pinggirnya dan tinggalkan tengahnya. Sesungguhnya barakah itu turun di bagian tengahnya.”

Sebab betapa pentingnya bersikap moderat, Mbah Hasyim sampai menulis artikel ringkas berjudul At-Tibyan fi an-Nahyi ‘an Maqatha’at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan yang bermuatan nasihat-nasihat beliau dalam pidato Muktamar NU ke-15 di Surabaya pada 9 Februari 1940:

أيها العلماء المتعصبون لبعض المذاهب او بعض الأقوال، دعوا تعصبكم في أمر الفروع الذى العلماء فيه على قولين، قائل: كل مجتهد مصيب، و قائل: المصيب واحد ولكن المخطىء يؤجر، ذروا التعصب، ودعوا هذه الاهوية المردية، ودافعوا عن دين الاسلام، واجتهدوا في رد من يطعن في القرآن و صفات الرحمن، ومن يدعى العلوم الباطلة والعقائد الفاسدة، والجهاد في هؤلاء واجب

“Duhai para ulama yang fanatik terhadap mazhab tertentu atau terhadap sebagian pendapat, tinggalkanlah kefanatikan kalian dalam perkara furu’ (cabang). Para ulama memiliki dua pendapat; seluruh mujtahid benar, dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar hanya ada satu. Akan tetapi pendapat (mujtahid) yang salah itu tetap mendapatkan pahala. Tinggalkanlah fanatisme dan tinggalkanlah carut-marut yang dapat merusakkan ini. Jagalah agama Islam, berjihadlah terhadap penghina Al-Quran dan sifat Allah, dan perangi penyeru ilmu batil dan akidah yang rusak. Berjihad dalam perkara tersebut hukumnya wajib.” (halaman 33).

Kurang lebih terjemah judul karya Mbah Hasyim itu dalam bahasa Indonesia menjadi “Penjelasan tentang Larangan Memutus Rantai Silaturahmi, Pertemanan, dan Persaudaraan”. Dalam salah satu pembahasan beliau menegaskan betapa pentingnya bersikap moderat. Karena jika tidak demikian, potensi untuk terjadi konflik dan pertikaian sangat terbuka lebar.

Uraian teks-teks di atas bila dikontekstualisasikan pada konstelasi politik kita saat ini, tentu menyasar pada seluruh komunitas, organisasi, partai. Tentu sikap moderat bukan hanya pada “dia yang di luar sana”, tetapi juga kepada diri kita sendiri. Nasihat Mbah Hasyim itu juga tentu dimaksudkan kepada organisasi yang beliau bentuk sendiri, yakni Nahdlatul Ulama (NU). Sudahlah pasti beliau akan mengkritik habis-habisan andai ada salah satu pengikut NU yang fanatik terhadap NU.

Jadi jangankan Mbah Hasyim mengkritik organisasi di luar sana, organisasinya sendiri pun akan beliau kritik bila memantik sikap fanatisme (ta’assub) yang menjangkit anggotanya sendiri. Apalagi Kanjeng Nabi Saw. juga memperingatkan bahwa yang harus kita awasi justru adalah diri kita sendiri. Rasulullah membahasakannya dengan “Jihaadun nafsi” (perang melawan diri sendiri).

Sayangnya masyarakat salah paham pada pembedaan antara “fanatik” dengan “menjaga”. Yang dimaksud Mbah Hasyim adalah menjaga NU, bukan fanatik terhadap NU. Karena bila fanatik, maka kita akan bodoh untuk menerka warna, seolah hitam dan putih sama. Tetapi bila yang kita jalankan adalah “menjaga NU”, itu artinya kita berupaya memperjuangkan yang benar dan membuang yang salah.

Keteladanan ulama seperti Mbah Hasyim inilah yang harus selalu kita ikuti, kita perjuangkan. Ketegasan sikap beliau yang tidak pandang bulu, tidak pandang partai, tidak pandang organisasi manapun. Selama itu menyalahi Al-Qur’an dan Hadis, maka layak digugat.

Ketegasan sikap Mbah Hasyim sebetulnya juga terlukis dalam karangan beliau sendiri, Ad-Durar al-Muntasirah fi al-Masail at-Tis’ ‘Asyarah. Beliau mengkritik fenomena praktik tarekat di Jombang yang kala itu banyak menyalahi kaidah Al-Qur’an dan Hadis. Di sisi lain juga banyak fenomena orang-orang yang mengaku dirinya wali. Sampai-sampai Hadratus Syaikh menuliskan:

Sopo wong kang ngaku dadi wali ora kelawan kesaksian manut syariate Kanjeng Nabi, mengko ngakune wong iku guruh lan gawe-gawe ingatase Allah Ta’ala.” Siapa yang mengaku dirinya menjadi Waliyullah tanpa adanya bukti mengikuti syariat Nabi Muhammad Saw, maka pengakuan orang itu dusta sekaligus tipuan belaka terhadap Allah Swt. (halaman 4).

Padahal zaman itu, Jombang sedang didominasi praktik tarekat yang “ngawur”. Tetapi Mbah Hasyim tetap tegas mengkritik, mengamankan para santri dari paham-paham yang melenceng. Dari Mbah Hasyim ini kita melihat sosok yang jujur dan adil dalam pikiran serta perbuatan. Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadis. Mengibarkan cinta dan kasih sayang Tuhan melalui kritik beliau yang tanpa pandang bulu.

Sudah selayaknya kita sebagai umat Muslim yang terus mengamalkan ajaran para guru, para alim ulama, para Masyayikh, haruslah mengikuti ajaran yang lurus ini. Apalagi hari-hari ini kita hidup di tengah atmosfer kebodohan dan kedangkalan berpikir. Yaa ayyuhal muddassir, qum faanzir!

___

Oleh: Afda Muhammad (Santri Komplek L)

Editor: Irfan Fauzi

Afda Muhammad

Afda Muhammad

AfdaMuhammad

Santri Komplek L

5

Artikel