Mengapa Kita Sungkan Menjawab Yarhamukallah ketika Ada Orang Bersin?

Mengapa Kita Sungkan Menjawab Yarhamukallah ketika Ada Orang Bersin?
studio portrait of sick bald caucasian man holding napkin or tissue, trying to cover mouth while sneezing with closed eyes and shrugging, standing over gray background. Poor guy has terrible allergy.

Betapa hal-hal kecil adalah inti dari hal-hal besar, tapi kita sering melupakannya.

Saya bingung, termasuk pada diri saya sendiri. Sekalipun kita hidup di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, ataupun hidup di ruang lingkup pesantren yang biasanya lebih agamis, praktik sunnah nabi terkait bersin jarang sekali terlihat. Padahal, semua dari kita pasti mengetahui, atau minimal pernah mendengar, hadis nabi tentang bersin, dimana ada anjuran melakukan sebuah komunikasi antara orang yang bersin dengan orang di sekitarnya. Bagi yang bersin, dianjurkan mengucap hamdalah karena Allah telah mengeluarkan hal-hal buruk dari dalam tubuhnya. Bagi yang mendengar, dianjurkan untuk segera mendoakan kebaikan pada pelaku bersin. Sedangkan bagi orang yang didoakan (pelaku bersin) dianjurkan juga membalas doa baik tersebut. Sederhana memang, tapi mengapa praktik ini justru jarang terlihat?

Sudah lama saya mempertanyakan perkara ini, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Hasilnya, saya belum menemukan jawaban yang tepat, sementara rata-rata orang yang saya tanyai hanya menjawab dengan sebuah senyuman yang entah sebenarnya menyimpan maksud apa. Jika sekarang pertanyaan terkait hal ini tertuju pada Anda, apa yang akan Anda lakukan? Akankah sebuah senyuman ambigu tak jelas maknanya yang terbit di lisan Anda, atau justru dengan sabar dan telaten Anda akan menjelaskan panjang lebar?

Memang masih banyak sunnah lain yang cukup sering terlihat praktiknya, seperti mandi jumat, salat tahajud, salat sunnah rawatib, poligami, dan sebagainya. Tapi ayolah, jika dibanding sunnah-sunnah tersebut, menjawab ketika bersin terhitung sangat mudah pelaksanaannya. Bayangkan, apa susahnya menjawab ketika orang lain bersin? Tak perlu menguras tenaga, cukup menjawab dengan mulut. Tak perlu berkeringat, sekalipun dalam keadaan lapar atau haus, tidak mungkin kiranya kita tak mampu mengucap alhamdulillah, yarhamukallah, ataupun yahdikumullah.   

Saya yakin, jika kita telisik lebih dalam, banyak sekali manfaat yang terkandung dalam praktik bersin ini. Misal, atmosfer Islam kita semakin terasa, solidaritas sesama muslim bisa meningkat, ukhuwah semakin kuat, dan lain-lain. Itu baru dari aspek sosial, belum aspek-aspek lain yang bisa kita temukan bersamaan dengan mempraktikkannya.

Dalam hidup ini, hal-hal sederhana, atau hal-hal kecil, selalu menjadi inti dari hal-hal yang besar. Pohon beringin yang besar, tentu saja berawal dari bibit yang kecil. Manusia yang besar, mau presiden, musisi, raja, pesepakbola, atlet lari, qari’ internasional, dosen, ketua partai, semuanya berasal dari benih yang kecil. Dan banyak sekali contoh lain yang bisa Anda temukan sendiri.

Harapan saya, dengan adanya kesadaran terhadap praktik-praktik sunnah yang terkesan sederhana ini, nantinya bisa berdampak positif terhadap hal-hal yang besar, baik itu skala individu seperti kualitas agama pribadi, maupun skala jamak, seperti kualitas komunitas. Maka marilah, kita temukan hal-hal sederhana yang sebenarnya sangat penting dan mendetail, seperti praktik bersin ini, tata cara memakai sandal ketika turun dari masjid, kaki mana yang harus didahulukan antara kanan dan kiri ketika keluar-masuk kamar mandi, keluar-masuk masjid, ataupun keluar-masuk rumah, dan masih banyak lagi.

Sebagai penutup, saya hendak mengutip kata-kata dari tokoh reformasi sosial Jacob Riis, yang diabadikan oleh salah satu tim basket paling sukses dalam sejarah NBA, San Antonio Spurs, pada dinding ruang ganti mereka: “Ketika apa pun terkesan tak ada gunanya, saya sengaja pergi menyaksikan tukang batu mengayunkan martil ke sebongkah batu cadas, mungkin sampai seratus kali, tanpa menghasilkan satu retakan pun pada cadas itu. Namun, pada hantaman yang keseratus satu kali cadas itu terbelah menjadi dua, dan saya tahu bukan hantaman terakhir yang menyebabkannya, melainkan semua hantaman yang dilakukan sebelumnya.”

Oleh: Abdillah Danny Darmawan (Santri Komplek MH2)

Editor: Arina Al-Ayya

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel