Ngaji Ulumul Qur’an (1): Ilmu Rasm dan Naqth Mushaf

Ngaji Ulumul Qur’an (1): Ilmu Rasm dan Naqth Mushaf


Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A

Pendahuluan

Penulisan Mushaf Alquran mempunyai model yang khas dan berbeda dengan model penulisan konvensional atau disebut dengan rasam ishtilahi/imla’i. Selain kedua model itu, model penulisan ketiga adalah rasam ‘arudhi yang digunakan untuk mengetahui wazan syair dalam ilmu ‘arudh, di mana harakat tanwin fathatain terkadang ditulis dengan huruf nun, dan harakat dhammah ditulis dengan huruf wawu.

Dalam perkembangannya, model penulisan mushaf Alquran dikenal dengan rasam utsmani. Karena ia merupakan model/cara penulisan dan penyalinan kata-kata dalam Alquran dengan cara yang disetujui oleh sahabat Usman pada waktu penulisan mushaf di masa pemerintahnya.

Beberapa ulama berbeda sikap terhadap rasam ini, ada yang mengatakan tauqifi, berarti ini bimbingan dari Nabi dan tidak boleh menulis mushaf Alquran dengan selain model/cara ini. Ada pula yang mengatakan ijtihadi, meskipun ijtihadi akan tetapi harus menjaga dan melestarikan model rasam ini. Pendapat ketiga, boleh menulis mushaf Alquran dengan menggunakan model rasam imla’i/ishtilahi, tidak harus rasam utsmani.

Ilmu rasam berbeda dengan ilmu kaligrafi Arab yang mempelajari macam-macam tulisan/khath seperti khath Riq’ah, Diwani, Kufi, Naskhi, Farisi dan lain-lain. Ulama mencoba merumuskan pembahasan-pembahasan ilmu rasam dalam enam kaidah: 1) pembuangan huruf 2) penambahan huruf 3) penggantian huruf 4) penulisan hamzah 5) penyambung dan pemisahan tulisan 6) dan penulisan kata yang memiliki dua cara bacaan/qira’ah.

Ilmu Nqath yang membahas titik dan harakat pada huruf akan dibahas pada pertemuan kedelapan dan seterusnya.

Kitab al-Muqni’ fi Rasm Mahsahif al-Amshar karya Abu ‘Amr al-Dani (w. 444 H) menjadi salah satu referensi utama dalam ilmu ini, termasuk dalam penulisan mushaf-mushaf di seluruh dunia, di samping kitab al-Tabyiin karya Abu Dawud Sulaiman bin Najah (w. 496 H). Kitab al-Muqni’, menurut Zainal Arifin, ditahqiq/diedit oleh lima orang muhaqqiq yang berbeda.
Al-Dani menulis beberapa karya yang menjadi rujukan penting dalam beberapa disiplin ilmu, sebut saja: al-Taisir (ilmu qira’at), al-Muqni’ (ilmu rasam), al-Muhkam (ilmu naqath), al-Tahdid (ilmu Tajwid), al-Bayan (ilmu menghitung ayat Alquran).

Pertemuan ini saya tutup dengan mengutip riwayat yang dinukil oleh al-Dani dalam bab pertama, Malik bin Anas ditanya: apakah boleh menulis mushaf Alquran sesuai/mengikuti model penulisan zaman sekarang? Beliau menjawab: tidak, tapi ditulis sesuai dengan model penulisan yang dahulu (al-kitbah al-ula).

Rekomendasi bacaan: disertasi Zainal Arifin Madzkur, Perbedaan Rasam Usmani. disertasi ini sudah dicetak dalam bentuk buku.
Wallahu A’lam

Catatan: Kata (al-tabuh/al-tabut) apakah ditulis dengan ha’ sebagaimana pendapat Zaid atau dengan huruf ta’ sebagaimana pendapat tiga anggota dari suku Quraisy, yang akhirnya Utsman memutuskan untuk ditulis dengan huruf ta’ (al-tabut).
Wallahu A’lam

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel