Paradigma Malam 1 Muharram dan Malam 1 Suro Dalam Persimpangan Makna Filosofis

Paradigma Malam 1 Muharram dan Malam 1 Suro Dalam Persimpangan Makna Filosofis

Dalam dinamika kehidupan di alam semesta ini, sejatinya waktu bukanlah segalanya tentang detik, menit, jam, minggu, tahun atau sekalipun tentang abad. Waktu juga bukan tentang kalender. Buktinya sampai sekarang banyak beragam kalender yang masih tetap dijadikan sebagai parameter waktu. Ada kalender masehi, kalender Islam atau hijriyah, kalender Jawa, kalender China dan kalender-kalender lainnya.

Dari sini dapat terjawab bahwa waktu tidaklah bersifat universal. Ketika kita merayakan tahun baru Islam 1 Muharram 1444 H, maka terdapat perbedaan tahun baru dengan waktu-waktu lainnya. Sebut saja tahun baru masehi yang masih tinggal beberapa bulan lagi. Sejatinya waktu adalah hasil konstruksi pemikiran manusia.

Dibalik perbedaan waktu dari beragam kalender tadi, terkadang kita juga membangun mitologi tentang waktu tersebut. Banyak stigmatisasi yang terkandung dalam waktu, seperti ada yang percaya tentang tanggal sial, tanggal sakral, tanggal keberuntungan dan lain-lainnya. Beberapa mitos tersebut sampai abad modern sekarang yang cenderung lebih rasionalistik masih tetap eksis, seperti yang sudah menjadi rahasia umum dalam masyarakat Jawa setiap tanggal 1 Muharram dalam kalender hijriah itu adalah tanggal 1 Suro dalam kalender Jawa.

Secara umum, keduanya memang tampak sama tapi tak serupa. Letak perbedaannya hanya berada pada penyebutan dan tradisi yang melatarbelakanginya. 1 Muharram adalah penanda awal tahun baru dalam kalender Islam/hijriyah. Sedangkan 1 Suro adalah penanda awal tahun baru dalam kalender Jawa.

Jika melihat dari konteks tradisi, dapat dikatakan  keduanya berada dalam persimpangan makna filosofis. Malam 1 Muharram dipandang sebagai malam yang penuh kemuliaan. Hal ini justru berbanding terbalik dengan malam 1 Suro yang dianggap penuh dengan bau-bau sakral dan mistis.

Malam 1 Muharram adalah malam yang penuh kemuliaan karena adanya peristiwa bersejarah, yakni semangat perjuangan yang menggelora dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam berhijrah dari Mekah menuju kota Yatsrib (sebutan kota Madinah pada saat itu). Momentum malam 1 Muharram sebagai penanda awal tahun baru islam memiliki makna yang mendalam bagi setiap umat Islam.

Sebagaimana filosofis hijrah yang mengandung semangat persaudaraan dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar, maka kita jadikan tahun baru Islam sebagai cinta kasih dan cinta damai. Hal ini menegaskan kembali pentingnya menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan yang bersumber dari Al-Qur’an.

Sedangkan malam 1 Suro adalah malam yang diyakini sebagai malam sakral bagi masyarakat Jawa. Mereka memiliki keyakinan untuk tetap waspada. Berbagai upacara dan ritual yang dilakukan pada malam 1 Suro diyakini membawa berkah dan disisi lain malam 1 Suro juga dipercaya dapat mendatangkan kesialan bagi mereka yang melanggar.

Ada juga berbagai mitos yang dipercayai salah satunya adalah masyarakat Jawa pada malam 1 Suro lebih baik berdiam diri di rumah. Apabila hal tersebut dilanggar maka akan mendapatkan kesialan dan hal yang buruk akan menimpa. Ada juga Streotipe malam 1 Suro yang populer dikalangan masyarakat Jawa, yakni malam 1 Suro diidentikkan dengan hari rayanya makhluk halus. Jadi mereka (makhluk halus) akan keluar di malam yang keramat ini. Anggapan-anggapan tersebut seakan-akan sudah menjadi senyawa bagi masyarakat Jawa.

Sangat menarik jika concern fenomena kedua malam ini dihadapkan pada masyarakat Jawa yang beragama Islam. Mereka akan dibenturkan oleh dua paradigma tadi. Satu sisi sebagai orang Islam wajib mempercayai bahwa malam 1 Muharram adalah malam yang penuh kemuliaan. Sedangkan pada sisi yang lain sebagai masyarakat Jawa sudah mendarah daging pepatah Jawa yang berbunyi “wong Jowo ojo nganti ilang Jowone”.

Bagi penulis, sangat tidak penting jika harus memilih dan mereduksi salah satu dari dua paradigma tadi. Masyarakat Jawa yang beragama Islam tidak perlu menggangap kedua makna filosofis antara malam 1 Muharram dan malam 1 Suro sebagai sebuah pilihan. Terlepas dari sisi penyimpangan makna filosofis, keduanya adalah malam yang sangat penting dan berarti.

Sikap yang paling penting adalah seperti apa yang dikatakan oleh Martin Heidegger (filsuf Jerman) bahwa “Untuk menghindari banalitas waktu, setiap manusia patut terus menyadari waktu otentik”. Kesadaran akan waktu otentik perlu dijaga, karena akan mengantarkan manusia kepada samudera makna. Dalam Islam juga diajarkan untuk terus menyadari mati, sehingga setiap waktu atau malam yang dilewati akan bermakna.

Begitu pentingnya ungkapan Heidegger tentang kesadaran akan waktu otentik. Sebab ketika kita melewati setiap waktu tanpa adanya kesadaran, pastilah kita terjebak dalam kerugian. Pada intinya, antara malam 1 Muharram dan malam 1 Suro adalah sama-sama berarti dan baik. Tergantung cara kita menginterpretasikannya.

Selamat tahun baru Islam 1444 H

Oleh: Ahmad Fatih Syarofuzzaman (Santri Komplek K2)

Editor : Irfan Fauzi

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel