Siaran Pers: Haul Almaghfurlah KH Moenawwir bin Abdullah Rosyad ke-81 dan Khataman Al-Qur’an XV

Almunawwir.com – Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta akan mengadakan serangkaian Haul almaghfurlah KH M Moenawwir bin Abdullah Rosyad ke-81, KH R Abdul Qodir Monawwir ke-61, para Masyayikh dan Dzurriyyah dan juga Khataman Al-Qur’an ke-XV yang dimulai pada hari Sabtu-Selasa (1-4/02/2020). Peringatan haul merupakan tradisi rutin bagi masyarakat pesantren. Adapun serangkaian acara haul ini sudah dimulai dengan 81 majlis muqoddaman Al-Qur’an yang diselenggarakan di 25 Komplek Asrama Pondok Pesantren Al-Munawwir pada hari Sabtu (25/01/2020).

KH M Moenawwir (w. 1942) merupakan putra kedua dari KH Abdullah Rosyad dan Nyai Hj Khodijah. Beliau merupakan penghafal Al-Qur’an yang dihormati sebagai salah satu perintis pesantren Al-Qur’an dan Guru Besar Al-Qur’an Nusantara.

Pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (berdiri 1911) itu mempunyai kedekatan secara biologis maupun biografis (sebagai qadhi) dengan Keraton Ngayogyakarta. Sebagai seorang ulama pengasuh pesantren, beliau dikenal dekat dengan para santrinya. Tidak berhenti di situ, beliau juga dekat dengan beberapa pemimpin organisasi Islam, seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan.

Di bawah kepengasuhannya, beliau banyak mendidik dan melahirkan figur-figur yang mashur sebagai ulama penghafal Al-Qur’an di Nusantara, diantaranya; KH Arwani Amin (Kudus), KH Muntaha Asy’ari (Wonosobo), KH Umar Abdul Mannan (Solo), KH Basyir (Yogyakarta), KH Umar Said (Cirebon), H Yusuf (P. Bawean), H Ghozali (Singapura) dan lain sebagainya. Selain itu, pengembaraan dakwah Al-Qur’an KH M Moenawwir yang membawa visi besar “Membumikan Al-Qur’an” bergerak secara perlahan dalam mengubah pandangan hidup masyarakat, dengan cara membuka majlis-majlis Al-Qur’an di beberapa daerah di Yogyakarta.

Dalam rangkaian acara haul ke-81 ini akan diadakan pembacaan Qasidah Burdah yang diikuti oleh seluruh santri pada hari Sabtu malam (01/02) bertempat di halaman Pondok Pesantren Al-Munawwir, dilanjutkan dengan kegiatan Sema’an Al-Qur’an 81 khataman pada hari Senin (03/02) yang berpusat di Masjid Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Baca Juga: Meneladani Kepribadian KH M Moenawwir

Kemudian, pada hari Selasa pagi (04/02/2020) pukul 09.00 WIB akan diadakan Temu Alumni  dan Sarasehan (IKAPPAM dan HIMMAH AL-MUNA) yang bertempat di Aula AB Pondok Pesantren Al-Munawwir, dilanjutkan dengan Ziarah Kubur dan takhtim Al-Qur’an di maqbaroh (makam) Dongkelan pada Selasa sore.

Acara Temu Alumni dan Sarasehan akan dihadiri oleh KH Bahaudin Nur Salim (Gus Baha) dan Prof Dr H Abdul Mustaqim M.Ag (Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga). Kedua tokoh besar tersebut akan membincangkan tema “Pergulatan Tradisi Keilmuan Pesantren dan Tantangannya di Era 4.0”. Tema ini dirasa perlu dikaji lebih serius, mengingat otoritas keagamaan pesantren yang mulai terusik ditambah dengan pergolakan pemikiran Islam di tengah disrupsi informasi yang kini mudah diselewengkan, dan bahkan dijadikan sebagai alat perpecahan.

Puncak acara haul almaghfurlah KH M Moenawwir ini akan dihelat pada hari Selasa malam (04/02) pukul 18.30 WIB bertempat di halaman Pondok Pesantren Al-Munawwir. Terdapat dua acara yang akan digelar: Pertama, Wisuda atau Khataman Al-Qur’an XV yang akan mewisuda 185 peserta yang terdiri dari 120 khatimin Juz Amma dan 49 khatimin dan 16 khatimat 30 Juz bil hifdhi.

Kedua, Majlis Haul yang  rencananya akan dihadiri oleh Kepala Staf Kepresidenan Jendral TNI (Purn.) Dr H Moeldoko, S.IP, Menteri Agama RI Jendral TNI (Purn) H Fachrul Razi S.IP SH MH dan Wakil Ketua DPR RI DR (HC) H Ahmad Muhaimin Iskandar (Gus Ami). Adapun pembicara pada acara haul ini adalah KH Agoes Ali Masyhuri (Pengasuh Pondok Modern Bumi Sholawat Sidoarjo). Sedianya acara puncak dihadiri oleh tamu undangan dari berbagai unsur, baik keluarga, kiai pengasuh pondok pesantren, pengurus PBNU dan PWNU DIY, para pejabat pemerintahan, para alumni, santri, serta seluruh masyarakat Yogyakarta.

Belajar Tata Cara Pergaulan dari KH M Moenawwir

Almunawwir.com – Selepas dari kesibukan mengasuh pondok, KH M Moenawwir tak pernah mengesampingkan pendidikan dan perhatian terhadap keluarga. Setelah salat Subuh merupakan waktu khusus untuk mengajarkan al-Qur’an baik kepada anggota keluarga maupun pembantu rumah tangga. Ketentraman, ketenangan, kerukunan dan kewibawaan keluarga begitu nampak sehingga tidak sembarangan orang keluar masuk rumah tanpa izin beliau.

Begitu pula halnya dengan kesejahteraan putra-putri dan istri-istri beliau. Nafkah dan waktu gilir untuk istri-istri beliau sangat diperhatikan. Bagi istri yang kebetulan belum sampai gilirannya, KH M Moenawwir mengutus santri untuk menjaganya. Beliau juga menugaskan kepada salah seorang santri untuk merawat putra-putri beliau yang masih kecil.

Pergaulan KH M Moenawwir terhadap santri-santri selain dilakukan dengan melibatkan mereka secara langsung, baik dalam urusan rumah tangga, maupun dalam urusan yang bersifat pribadi dan tidak formal. Seperti potong rambut, memanggil santri hanya untuk diajak bicara dan hal-hal lain yang beliau lakukan dengan suasana santai dan kekeluargaan. Dalam kesempatan seperti inilah beliau memasukkan nilai-nilai pendidikan.

Sikap adil yang diterapkan KH M Moenawwir dalam keluarga juga tercermin dalam segala perbuatan yang dilakukan terhadap santri. Beliau tak segan-segan memanggil langsung ke rumah dan menasehati santri yang bersangkutan. Nasehat bisa meliputi antara santri dengan santri, santri dengan orang lain, bahkan antara santri dengan putra beliau sendiri.

Suatu ketika seorang santri dari Bumiayu (Dimyathi, adik H  Suhaimi) bersengketa dengan putra beliau Raden H Abdullah Affandi. Persengketaan yang membawa nama Haji Suhaimi ini menimbulkan suasana hubungan yang tidak enak bagi kedua belah pihak. Namun begitu KH M Moenawwir mengetahui, baik santri (Dimyati) maupun putra beliau sendiri, dipanggil dan dinasehati dengan penuh kearifan. Akhirnya perselisihanpun berakhir.

Kesabaran, kedermawanan dan kepedulian terhadap santri merupakan pelajaran yang selalu disampaikan lewat perbuatan nyata. Wejangan-wejangan dan ilmu-ilmu yang beliau sampaikan tidak hanya lewat lisan, namun juga melalui tindakan. Tak jarang beliau memberi “sangu” santri yang pamit pulang atau santri yang menghadiri undangan tetangga untuk membaca al-Qur’an. Pertimbangan beliau yang kedua ini selain lelah, santri juga dirugikan dengan meninggalkan pengajian.

Kunjungan (silaturrahim) kepada keluarga santri juga sering kali dilakukan KH M Moenawwir, terutama bagi yang rajin mengaji dan banyak berkhidmah. Sesekali beliau minta pendapat santri, lebih-lebih mereka yang giat mengaji dan salat berjamaah. Beliau sering mengajak mereka untuk ikut bepergian, juga meminta kepada para santri untuk ikut menemui tamu.

Baca Juga: Meneladani Kepribadian KH M Moenawwir

Keberhasilan sikap KH M Moenawwir dalam bergaul tidak hanya terwujud dalam lingkungan keluarga dan santri. Namun terhadap tetangga, tamu, kiai dan pejabat tak pernah membedakan tamu yang datang apakah mereka orang kaya atau miskin, rakyat biasa atau pejabat tinggi dan sebaginya. Semua disambut dengan penuh penghormatan. Mereka dianggap sebagai keluarga sendiri.

Beliau melakukan kunjungan kepada KH Suhaimi di Bumiayu. Beliau juga banyak menerima kunjungan dari ulama lain, misalnya kunjungan dari murid-murid Syaikh Yusuf Hajar dari Madinah. KH Said (Gedongan, Cirebon), KH Hasyim Asy’ari (Jombang), KHR. Asnawi (Kudus), KH Ma’shum (Lasem), KH Ahmad Dahlan (Yogyakarta) bahkan beliau juga berkenan meresmikan Madrasah Huffadz yang beliau namakan Tamrinis Shibyan.

Seperti halnya dengan santri, KH M Moenawwir juga bergaul akrab dengan tetangga. Beliau menghormati dan menghargai mereka. Beliau gemar mengunjungi rumah-rumah mereka. Beliau tak pernah membedakan status dan kedudukan seseorang dalam masyarakat, misalnya dalam hal memenuhi undangan. Baik kaya atau miskin, baik acara walimah atau khitan. Semua beliau hadiri dengan penuh rasa gembira.

 

 

*Referensi Tulisan Djunaidi A. Syakur, dkk., “Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta” (Yogyakarta: Almunawwir Press, 2001)

 

 

Meneladani Kepribadian KH M Moenawwir

Almunawwir.com – Rahasia kebahagiaan seseorang itu pada hakekatnya bukanlah terletak pada wujud materi yang bertumpuk-tumpuk, tetapi pada nilai-nilai rohaniyahnya yang tersembunyi dan pantulan cahaya yang keluar dari ibadah dan akhlak yang luhur, dan bermutu tinggi. Tanpa adanya ibadah itu, rohani manusia akan menjerit kelaparan karena kekurangan zat yang amat vital yang diperlukan dalam hidup ini. Dan orang-orang yang selalu istiqamah dalam ibadahnya akan memiliki rohani yang sehat dan segar sehingga memancarkan sinar kebahagiaan.

Sedang akhlak merupakan pancaran dalam bentuk tingkah laku manusia yang memancar keluar dari dirinya menurut nilai dan kadar ibadah yang dilakukannya. Jadi antara ibadah dan akhlak itu memiliki hubungan timbal balik (simbiosis mutualisme) yakni: yang satu saling memberi warna kepada yang lain.

Demikian juga KH M Moenawwir, beliau merupakan satu sosok pribadi seorang muslim yang berhasil dalam menempuh hidupnya di dunia dengan memadukan unsur ibadah dan akhlak secara istiqamah. Baik yang berkaitan dengan salat, zikir, membaca al-Qur’an, berdo’a, bergaul dan lain-lain.

Istiqamah

Ibadah salat, khususnya shalat wajib, KH M Moenawwir selalu memilih awal waktu. Untuk menunaikan shalat-shalat sunah selalu beliau kerjakan dengan rutin/istiqamah, misalnya shalat rawatib dan shalat Witir sebanyak 11 rakat dengan hafalan al-Qur’an sebagai bacaan suratnya. Shalat sunnah isyraq, Dhuha dan Tahajud pun selalu ditunaikan.

Selain istiqamah mengajar al-Qur’an pada siang hari sebagai amal kesehariannya, KH M Moenawwir setiap ba’da Ashar dan Subuh mewiridkan al-Qur’an baik dengan menghafal maupun menggunakan mushaf yang biasa dilakukan di dalam panggung mihrab (sebelah kanan ruang masjid). Begitu juga, jika beliau bepergian, berjalan kaki, berkendaraan dan waktu di rumah selalu mewiridkan al-Qur’an. Beliau selalu menghatamkan al-Qur’an satu kali dalam satu minggu. Dan biasanya di akhir (dikhatamkan) pada hari Kamis. Bahkan menurut sebuah kisah, wirid tersebut sudah diamalkan sejak berumur 15 tahun hingga wafat.

Pada setiap hari Kamis sore, KH M Moenauwir melakukan ziarah kubur dengan membaca Tahlil dan Surat Yasin, bahkan kegiatan ini beliau wajibkan kepada para santri. Setiap hari Jum’at, beliau menggunting kuku sebagai amaliyah sunah Rasul. Dan apabila terjadi suatu peristiwa yang menyangkut umat pada umumnya, beliau mengumpulkan semua santri untuk bersama-sama tawajjuh dan memanjatkan do’a ke hadirat Allah dengan membaca salawat Nariyah 4444 kali atau Surat Yasin 41 kali. Hal ini pernah beliau alami ketika sedang ibadah haji di tanah suci Makkah. Beliau bertemu dengan seorang dari Pare dan seorang lagi dari Solo. Dalam pertemuan tersebut, beliau dimohon bantuannya untuk berkenan menjadi jaminan piutang orang dari Pare, karena dia baru saja terkena musibah, seluruh bekal perjalanannya hilang. Beliau menyanggupi dan piutang (dari orang Solo) pun diserahkan.

Sampai pulang ke rumah, ternyata orang Pare tersebut belum mampu melunasi hutangnya, padahal limit waktu pengembalian yang disepakati sudah lewat. Oleh karena itu, beliau ikut bertanggung jawab dalam masalah tersebut, ketika orang Solo datang untuk menagih hutang. Beliau mengajak para santri untuk bersama-sama membaca salawat Nariyah sebanyak 4444 kali. Malam hari dibaca, pagi harinya orang Pare datang melunasi hutangnya. Dan tidak lama kemudian orang Solo datang lagi, malah uang tersebut dihadiahkan kepada beliau. Dengan demikian, persoalan ini dapat diselesaikan dengan aman.

Baca Juga: Metode Pengajaran Al-Qur’an KH M Moenawwir

Amaliah Keseharian KH M Moenawwir

Amaliah keseharian KH M Moenawwir yang biasa dikerjakan adalah tidak pernah membuka tutup kepala (selalu tertutup, baik dengan kopyah, serban maupun kedua-duanya). Dan setiap sebulan sekali memotong rambutnya.

Dalam berpakaian KH M Moenawwir selalu menggunakan pakaian sederhana, namun sempurna untuk melakukan ibadah salat. Pakaian beliau selalu rapi dan bersetrika. Jika bepergian ke Keraton untuk menghadiri acara resmi, beliau mengenakan pakaian Dinas Keraton Ngayogjokarto. Dan sering pula mengenakan baju jas hitam, serban hijau, sarung dan alas kaki jika bepergian ke tempat lain.

RA Mursyidah, salah seorang istri KH M Moenawwir pernah mengusulkan agar berkenan mengenakan pakaian yang lebih dari itu; beliau menjawab “Saya telah memiliki dua stel pakaian, satu saya pakai, dan yang lain masih tersimpan”.

KH M Moenawwir tidak suka makan sampai kenyang, lebih-lebih pada bulan Ramadan yang hanya dengan satu cawan nasi ketan untuk satu kali makan. Jika sudah terpenuhi semuanya, sedang sumbangan masih sisa/laba, maka kelebihan tersebut dikembalikan kepada pemberinya.

Sifat muru’ah dan amanah tersebut tercermin dalam satu kisah yang berkaitan sumbangan uang untuk pembangunan Pondok Pesantren Krapyak dari H Ali seorang hartawan Cirebon. Setelah pembangunan selesai, dan uang masih lebih, maka uang kelebihan itu dikembalikan lagi kepada H Ali lewat utusan beliau bernama R Jazuli. Karena terkesan akan sifat muru’ah beliau, akhirnya H Ali berkenan menghaturkan bantuan sekali lagi lewat R Jazuli ketika kembali ke Yogyakarta untuk kesejahteraan beliau beserta keluarganya.

 

*Referensi Tulisan Djunaidi A. Syakur, dkk., “Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta” (Yogyakarta: Almunawwir Press, 2001)

Metode Pengajaran Al-Qur’an KH M Moenawwir

Almunawwir.com – KH M Moenawwir memakai metode Musyafahah, yaitu santri membaca al-Qur’an satu persatu di hadapan beliau, dan jika terjadi kesalahan membaca, beliau langsung membenarkannya, kemudian santri langsung mengikuti. Jadi diantara keduanya saling menyaksikan secara langsung.

Selain itu, KH M Moenawwir seringkali menyuruh kepada santri (santri senior) untuk membenarkan bacaannya (santri baru) dengan cara minta petunjuk kepada temannya yang lebih pandai di luar majlis. Hal ini dapat membawa manfaat bagi santri lebih cepat dan lancar di dalam belajar membaca al Qur’an.

Sebagai contoh KH M Moenawwir menugaskan putranya KHR Abdul Qodir sebagai pengajar al-Qur’an. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pembacaan pertama santri sebelum menghadap beliau secara langsung, sedangkan pembacaan kedua kemudian disempurnakan oleh beliau.

KH M Moenawwir sangat mementingkan kefasihan dalam membaca, untuk itu diperlukan ketelitian yang sangat cermat. Untuk mencapai kefasihan tersebut, beliau menerapkan beberapa metode, yaitu :

  1. Bagi santri yang baru dalam tahap pertama mengaji, maksimal dua orang santri dari kelas bin nadzar ditambah satu orang dari kelas bil ghaib.
  2. Sebelum mengaji Surah al Baqarah (dari juz I) santri diharuskan telah hafal Surah al Fatihah dan juz 30 (juz Amma).
  3. Apabila hendak mengikuti mengaji kelas bil ghaib (menghafal) diharapkan terlebih dahulu mengajari di kelas bin nadzar paling tidak sampai dengan juz lima.

Sebagai contoh penerapan “Kefasihan” ini pernah dialami oleh KH Murtadla pada awal-awal berdirinya pesantren. Beliau hanya menaikkan rata-rata lima ayat, setiap mengaji. Itu pun harus diulang-ulang pembacaannya sebanyak 70 kali. Suatu kisah KH Yusuf Karang Ampel Indramayu di waktu mengaji Surah An Nas kepada beliau dan selama satu bulan baru dinaikkan. Hal ini karena KH Yusuf mengabaikan perintah beliau untuk minta petunjuk kepada temannya yang lebih pandai, di luar majlis pengajian beliau.

Baca Juga: Pengembaraan Dakwah bil Qur’an KH M Moenawwir

Cara beliau (KH M Moenawwir) mengajar dan mengingatkan santri yang salah bacaannya juga berlainan. Sekali-kali menegur dan lebih banyak beliau mendiamkannya. Karena pengajaran al- Qur’an berlangsung antara jam 07.30 sampai 13.00, maka selama mengajar itu juga kadang-kadang sambil tiduran. Bahkan kadang-kadang sampai tertidur. Namun apabila ada bacaan santri yang salah, beliau langsung bangun dan menegurnya.

Seperti kejadian yang dialami oleh KH Umar (Cirebon), bahwa pernah mengemukakan sesuatu pertanyaan tentang bagaimana memanjangkan bacaan انا dalam Surah al-Kaafirun ولا انا عابد Beliau menjawab: “Orang yang membaca seperti itu adalah kurang guru”. Begitu juga yang dialami oleh Kiai Syatibi (Kutoarjo), membaca انا pada Surah al-Kafirun dengan bacaan panjang hal ini beliau tegur. Setiap kali dibaca beliau menegur tanpa menunjukkan bagaimana seharusnya dibaca secara benar. Akhirnya Kiai Syatibi mencoba untuk membaca dengan pendek dan beliau tidak menegur lagi. Lantas membaca pun diteruskan tanpa teguran lagi.

Lain yang dialami oleh Kiai Adzkiya’ (Kroya). Ia pernah mengaji al-Qur’an di hadapan KH M Moenawwir dengan bacaan yang salah. Cara beliau memperingatkan yaitu dengan melempar sebutir batu putih sebesar ibu jari tangan kepadanya. Kiai Adzkiya memahami isyaroh tersebut, lalu mengulangi bacaannya sampai benar. Hingga sekarang, batu putih itu masih disimpan dengan baik oleh ahli bait (Kiai Adzkiya’).

Pengajian pokok, yakni: pengajian al-Qur’an diselenggarakan mulai pukul 07.30 sampai dengan 13.00 WIB. Khusus pada bulan Ramadan dilaksanakan dua kali sehari semalam, yaitu siang dimulai sesudah Dhuhur sampai Ashar dan malam dimulai sesudah shalat Tarawih sampai selesai.

Sebelum majlis al-Qur’an dibuka oleh beliau, ada beberapa tata tertib majlis yang harus diperhatikan oleh para santri, di antaranya:

  1. Sebelum pengajian dimulai, santri harus sudah hadir di majlis terlebih dahulu dan tidak diperkenankan meninggalkan sebelum majlis berakhir.
  2. Urutan mengaji (al-Qur’an), sesuai dengan nomor urut masing-masing.
  3. Pengajian ditutup dengan membaca takbir santri bin nadzar, sedang santri bil ghaib dengan berjabat tangan.
  4. Apabila ada santri telah khatam mengaji al-Qur’an, beliau langsung memanjatkan do’a dalam majlis tersebut.
  5. Khusus bagi santri baru, ia baru dapat mengikuti pengajian setelah satu minggu bermukim di pesantren.
  6. Untuk menghilangkan rasa jenuh, beliau mengizinkan segenap santri untuk mengadakan silaturrahim dan rihlah (refreshing) ke luar pesantren. Dan biasanya dilaksanakan ½ bulan sekali.

 

*Referensi Tulisan Djunaidi A. Syakur, dkk., “Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta” (Yogyakarta: Almunawwir Press, 2001)

Pengembaraan Dakwah bil Qur’an KH M Moenawwir

Gerbang lama Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta

Setelah menempa pendidikan di beberapa kiai di daerah Jawa dan Madura, seperti: KH Abdullah, Bantul, KH Kholil Bangkalan, KH Sholih Ndarat, KH Abdurrrahman Watucongol, KH Moenawwir muda melanjutkan jihad keilmuannya ke negeri Arab Saudi pada tahun 1888 M, tepatnya di kota Mekah dan Madinah.

Di kedua kota itu beliau belajar keilmuan Al-Qur’an beserta cabang-cabangnya, baik Tahfiz, Tafsir, dan Qiroah pada syaikh-syaikh mashur yang mayoritas pernah menyandang gelar sebagai Imam Besar Masjidil Haram, seperti: Syaikh Abdullah Sanqoro, Syaikh Syarbini, Syaikh Mukri, Saikh Ibrahim Huzaimi, Syaikh Manshur, Sayikh Abdus Sakur, Syaikh Mushthofa, dan Syaikh Mahfudz at-Tarmasi. Perjalanan jihad keilmuan yang beliau jalani di kedua kota tersebut, kurang lebih ditempuh selama 21 tahun.[i]

Setelah mengembara dalam misi pemenuhan hasrat keilmuannya, beliau kembali ke Tanah Air dengan membawa misi “memasyarakatkan Al-Qur’an dan meng-qurankan masyarakat”.[ii] Berpegang pada misi tersebut, pada tahun 1911 M, beliau mendirikan pesantren di daerah Krapyak, Yogyakarta. Karena berpijak di bumi Krapyak, pesantren itu kemudian dinamai dengan “Pesantren Krapyak”. Belakangan, pada tahun 1976 oleh KH Ali Ma’shum (pengasuh saat itu) nama Pesantren Krapyak berubah dengan penambahan “Al Munawwir” sebagai wujud penghormatan kepada pendirinya, yakni KH M. Moenawwir.

Perlu diketahui, sebelum pesantren berdiri, konstruksi sosio-kultural masyarakat sekitar masih terbilang riskan. Selain disebabkan lingkungan sekitar yang masih dirimbuni pepohonan dan hewan liar sebab hutan belantara yang mengakibatkan jenis peradaban yang cenderung primitif dan dalam cara pandang moralitas dikatakan dengan istilah; cacat nilai.

Kondisi Islam pada saat itu pun belum begitu mengental. Tradisi-tradisi keagamaan berbasis pesantren seperti tahlil, istighosah, dan shalawatan masih sangat jarang. Di samping sebagian dari masyarakat Krapyak masih asing dengan Islam, apa lagi mendengar lantunan orang membaca Al-Qur’an. Lingkar perjudian, minuman keras menjadi pemandangan degradatif masyarakat Krapyak. Sebelum KH Moenawwir datang, dan lantas tercium aroma perubahan sosial yang signifikan.

Melihat kondisi sosial masyarakat yang demikian, KH Moenawwir mencoba menyadarkan masyarakat dengan dakwah bil qur’an-nya secara aspiratif dan demokratis. Selain mengajarkan Al-Qur’an kepada para santri, strategi yang dipakai oleh beliau dalam memasyarakatkan Al-Qur’an adalah dengan mengadakan majlis-majlis pengajaran Al-Qur’an yang dikhususkan bagi masyarakat sekitar Krapyak.

Baca Juga: Sekilas Tentang KH Abdul Qodir Munawwir

Pengajian Al-Qur’an ini bertujuan untuk mengenalkan cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar kepada khalayak. Bahkan, tidak jarang, ia menyempatkan waktunya sekedar untuk mengunjungi rumah kediaman masyarakat yang pengin belajar Al-Qur’an kepadanya.

Fan keilmuan KH Moenawwir adalah penguasaan ilmu-ilmu Al-Qur’an. Beliau mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat umum sebagai bentuk pengabdian ilmunya.

Selain itu, sanad keilmuan beliau dalam fan Al-Qur’an sampai kepada Rasulullah saw., hal ini mengindikasikan jika sanad Al-Qur’an Pesantren Krapyak termasuk sebagai sanad Al-Qur’an tertua di Indonesia, selain mendapat predikat sebagai pesantren Al-Qur’an tertua di Indonesia.

Kemudian, pada perkembangan selanjutnya, Pondok Pesantren Al Munawwir tidak lagi menghkhususkan pada bidang Al-Qur’an saja, melainkan merambah ke bidang ilmu-ilmu lain khususnya pendalaman kitab kuning.[iii]

Selain aktif dalam mendidik para santrinya, sebagai trah keturunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KH Moenawwir juga diangkat sebagai penghulu di Keraton. Peran tersebut diemban beliau hingga wafat.[iv]

Sepeninggal KH M Moenawwir, Pesantren Krapyak kemudian mengalami dinamika yang sedikit banyak mengubah kurikulum pendidikan dan norma aturan yang diterapkan di sana. Seperti pengajaran yang mulanya dikhususkan dalam pengajaran Al-Qur’an, belakangan diimbuhi dengan pengajaran kitab kuning dan ekstrakulikuler yang memfokuskan pada pengembangan potensi kemandirian santri.

Meski terjadi dinamika, akan tetapi perubahan demi perubahan yang terjadi di pesantren sedikit banyak tetap dipengaruhi oleh prerogratif kiai sebagai broker budaya (cultural brokers) menggambarkan peran sebagai peneliti, penyaring, assimilator terhadap aspek-aspek yang datang dari luar dunia pesantren, dari awal perkembangannya sampai saat ini sehingga mampu memasukkan nilai-nilai baru, mengawinkannya dengan tanpa merubah nilai-nilai lama yang telah berjalan.[v]

Sehingga posisi kiai sangat berpengaruh dalam proses perubahan sosial pesantren. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai dinamika perubahan Pondok Pesantren Al Munawwir, berikut penulis sebutkan periodesasi kepengasuhan pondok pesantren:

  • Periode K.H.M. Moenawwir (1910 M – 1942 M)
  • Periode K.H.A. Affandi, K.H.R. Abdul Qodir, K.H. Ali Ma’shum (1942 M – 1968 M)
  • Periode K.H. Ali Ma’shum (1968 M – 1989 M) Periode K.H. Zainal Abidin Munawwir (1989 M – 2014 M)
  • Periode K.H.R.M. Najib Abdul Qodir (2014 M – Sekarang)

 

[i] Djunaidi A. Syakur, dkk., “Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta” (Yogyakarta: Almunawwir Press, 2001)

[ii] Ungkapan ini kembali dipopulerkan oleh cucu beliau KH.R. Abdul Hafidz Abdul Qodir  di setiap ceramahnya.

[iii] Djunaidi A. Syakur, dkk., “Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta” (Yogyakarta: Almunawwir Press, 2001), hlm. 4

[iv] Djunaidi A. Syakur, dkk., “Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta” (Yogyakarta: Almunawwir Press, 2001), hlm. 10

[v] Chumaidi Syarif Romas, Kekerasan Di Kerajaan Surgawi: Gagasan Kekuasaan Kyai, Dari Mitos Wali Hingga Broker Budaya, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003) hlm. 10

Gus Baha: Orang itu Harus Senang dengan Taat

Gelegar: Gus Baha menyampaikan mauidhoh dengan gaya semangat yang membuat audiens rileks. Sumber Foto: Istimewa

Almunawwir.com – “Yang saya kenang dari Mbah Ali Maksum itu dari murid-muridnya dan saya menyaksikan sendiri itu “senang guyon”. Karena itu menurut saya filosofi yang sangat luar biasa,” kenang KH Bahauddin Nursalim ketika menyampaikan ceramah di Haul KH Ali Maksum ke 31. Sabtu malam (04/01/2020).

Orang itu, Gus Baha melanjutkan, sampai mencari kesenangan dengan maksiat, karena tidak nyaman dengan taat. Sehingga, kiai-kiai alim termasuk Mbah Ali Maksum, Mbah Maimun, Bapak saya (Kiai Nur Salim), semuanya itu mengamalkan taatnya dengan cara suka bercanda. Supaya orang itu nyaman dengan kiai, nyaman dengan taat. Sehingga tidak perlu lagi senang dengan yang maksiat.

Kiai yang akrab disapa dengan Gus Baha itu melanjutkan, bahwa bercanda itu ada filosofi yang luar biasa. Supaya orang itu farrah bi tha’ah atau farrah bima ahlahullah. Kita mencium tangannya Mbah Ali Maksum sudah senang, dan dikenang sepanjang masa, itulah santri. Ini yang harus kita gerakkan di zaman akhir. Jadi, orang harus terbiasa senang dengan taat, dan ekspresi ridho yang paling mudah itu ceria dan riang gembira.

Baca Juga: Dubes Arab Saudi Apresiasi Kebesaran Krapyak

Gus Baha kemudian melanjutkan pembahasan mengenai “Hujjah Ahlussunnah Waljamaah” sebuah kitab karangan KH Ali Maksum yang disimpan di ruangan khusus rumahnya. “Tahaddus binn’mah, saya ini lama sekali mengkaji kitabnya Mbah Ali Maksum, Hujah Ahlussunnah Waljamaah, sebelum diundang dan saya tidak pernah membayangkan diundang di sini.”

Dalam kitab tersebut Mbah Ali berpesan tentang tata cara meminimalkan konflik atau perbedaan pendapat. Kita berkeyakinan bahwa yasinan, tahlilan itu sampai ke mayit, itu boleh dan kita hadiahkan sampai ke mayit. Ini dari awal hanya masalah khilafiyah, sehingga tidak perlu menjadi konflik yang berkelanjutan baik kita menuntut yang melakukan itu atau menuntut yang menentang itu karena dari awal ini hanya masalah furuiyah.

Gus Baha juga mennyebut referensi kitab yang dirujuk oleh Mbah Ali berasal dari ketetapan ulama lokal ataupun internasional. Dalam hal ini yakni ketetapan mengirimkan doa kepada jenazah yang sudah meninggal, Mbah Ali mengutip Ibnu Taimiyah yang sering dipakai oleh orang-orang sana (minhum, red.).

“Jadi kata beliau itu sederhana saja, kalau yang melarang (al-mani’u) tahlilan melarang yasinan dikirimkan ke mayit itu punya sanad, yang membolehkan juga punya sanad. Jadi pesan saya kepada santri-santri Krapyak, sebetulnya masalah kita ini adalah tercerabut dari ilmu. Ini gejala akhir zaman,” pungkas Gus Baha.

Dubes Arab Saudi Apresiasi Kebesaran Pesantren Krapyak

Bersemangat: Dubes RI untuk Arab Saudi Dr. Agus Maftuh Abrigibriel mengapresiasi kebesaran Pesantren Krapyak. Sumber Foto: Istimewa

Almunawwir.com – Mbah Ali ini termasuk al adib al lughowi filologis ahli bahasa, ruh inilah yang saya bawa ke Arab Saudi ketika menjadi seorang Diplomat. Berikut penuturan Dr. Agus Maftuh Abrigiebril pada sambutan yang beliau sampaikan dalam rangka memperingati Haul Almaghfurlah KH Ali Maksum ke-31 pada Sabtu, 04/01/2020.

Sementara itu, perasaan menderuh disampaikan oleh Pak Agus Maftuh perihal kealpaan seseorang yang di setiap Haul KH Ali Maksum selalu hadir dan berada di satu majlis dengan kita.

“Tahun ini haul tersedih yang pernah saya rasakan,” Duta Besar RI untuk Arab Saudi itu melanjutkan,”Sebenarnya setiap peringatan Haul Almaghfurlah KH Ali Maksum di depan kita ada guru saya, orang tua saya sekaligus mursyid saya, yaitu KH Maimun Zubair. Setiap Haul Mbah Ali, beliau rawuh ke sini, hari ini beliau tidak datang di sini.” Ujar Pak Agus yang dulu Ibunya pernah menjadi khodimah di ndalem KH Ma’shum Lasem.

Terakhir, dalam sambutannya Dubes RI untuk Arab Saudi itu menyampaikan “Saya apresiasi besar, kebesaran Krapyak yang digdaya ini mengingatkan kami pada sebuah syair Maruf al Rusafi, seorang penyair Irak, dia mengatakan “khoruin naasi dzul hasabin qodimin aqoma linafsihi hasaban jadida,” sebaik-baik orang adalah orang yang mempunyai kebesaran masa lalu. Seperti yang dialami Mbah Ali, ada Mbah Ma’sum dan ada Mbah Munawwir, kemudian Mbah Ali akhirnya aqoma linafsishi hasaban jadida,  membuat tradisi baru untuk membesarkan tinggalannya Mbah Munawwir, sebagaimana yang sekarang dilakukan oleh Kiai Attabik beserta keluarga Krapyak lainnya.”

Hal ini menunjukan perkembangan Pondok Pesantren Krapyak dari zaman Mbah Munawwir sampai saat ini yang terus berkembang hingga salah satunya mendirikan sebuah perguruan tinggi.

 

 

 

 

 

KH Ali Maksum adalah Kompas

Cair: Staf Kepresidenan RI Jenderal (Purn.) TNI Moeldoko memberikan sambutan dalam haul KH Ali Maksum ke 31. Sumber Photo: Istimewa

Almunawwir.com – “Mengingat dan memperingati berarti menghadirkan kembali ingatan kita akan jasa baik dan pengabdian KH Ali Maksum kepada agama, bangsa dan negara, melalui acara haul ini kita berusaha menggali sisi-sisi kehidupan beliau yang dapat diteladani oleh generasi masa kini dan seterusnya.”

Perkataan itu disampaikan oleh Bapak Drs. H. Zaenut Tauhid Sa’adi, MSI yang memberikan sambutan dalam peringatan Haul Almarhum Almaghfurlah KH Ali Maksum ke-31 sabtu malam, 04/01/2020.

Wakil Menteri Agama RI  juga menjelaskan, Pondok Pesantren Krapyak yang masih berdiri tegak dan bahkan terus berkembang di tangan para dzuriyah dan murid-murid beliau, menjadi bukti nyata keberkahan beliau. “melalui karya dan peninggalannya, Almaghfurlah KH Ali Maksum mengajarkan kepada kita, jika ingin hidup panjang sampai kapanpun setelah kita tiada dan ingin hidup berkah, persembahkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak sehingga akan terus dikenang.”

Pada sambutan yang lain, disampaikan oleh Bapak Drs. Tri Mulyono, MM, Staf Ahli Gubernur Bidang Sosbud dan Kemasyarakatan selaku perwakilan Gubernur DIY, beliau menuturkan bahwa Almaghfurlah KH Ali Maksum merupakan seorang tokoh pemimpin Islam yang mampu menjaga kehidupan keagamaan yang seimbang atau yang lebih dikenal dengan ummatan washatan.

Turut hadir pula Kepala Staf Kepresidenan RI, Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko, S.IP. dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa Almaghfurlah KH Ali Maksum merupakan tokoh petunjuk yang diibaratkan kompas dalam dunia militer, karena beliaulah kita mengikuti arah kompas itu. “KH Ali Maksum, kalau dalam bahasa militer, merupakan sebuah kompas yang menjadi petunjuk ketika tersesat atau tidak tau jalan.” tutur Jenderal asal Kediri tersebut.

Baca Juga: Bincang Alumni: Kenangan, Humor dan Kezuhudan KH Ali Maksum

Pada awal sambutan tuan rumah yang diwakili oleh Bapak Drs. KH Khairul Fuad, MSI beliau banyak mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh tamu undangan yang hadir dalam perhelatan Haul ke-31 Almaghfurlah KH Ali Maksum, beliau juga berharap semoga kita bisa mencontoh jasa-jasa kehidupan yang diajarkan oleh Shohibul Haul KH Ali Maksum.

Kemudian acara dilanjutkan oleh mauidloh hasanah yang disampaikan oleh KH. DR. A Ghofur Maemun selaku wakil katib PBNU lalu KH. Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar RI untuk Arab Saudi dan pengajian terakhir oleh KH. Bahauddin Nursalim atau yang sering dikenal dengan Gus Baha.

Lalu acara diakhiri dengan Do’a yang dipimpin oleh Rais Syuriah PBNU DIY, Bapak KH. Mas’ud Masduki. Sebelumnya, acara haul ini diawali dengan pembacaan sholawat dan manaqib Almaghfurlah KH Ali Maksum dan diteruskan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Romo KHR. Muhammad Najib Abdul Qadir Munawwir yang diikuti oleh segenap santri pondok pesantren krapyak.

Bincang Alumni: Kenangan, Humor dan Kezuhudan KH Ali Maksum

Mengalir: Ibu Nyai Hj Ida Rufaidah Ali menceritakan sepenggal cerita dengan ayahandanya di Bincang Alumni. Sumber Photo: Istimewa.

Almunawwir.com – Bincang alumni menjadi acara melepas kerinduan bagi Alumni Pondok Pesantren Ali Maksum lintas angkatan. Selain untuk melepas kerinduan terhadap suasana krapyak, bincang alumni juga menjadi nostalgia bagi keluarga dan murid-murid Kiai Ali yang pernah dididik langsung oleh beliau.

Bertajuk “Bincang Alumni: Kisah Kasih Santri Kinasih Mbah Ali” acara ini digelar pada hari Sabtu (04/01/2020) selepas Dhuhur di halaman Asrama Sakan Thullab Yayasan Ali Maksum.

Ibu Nyai Hj Ida Rufaida Ali dalam sambutannya mewakili tuan rumah, beliau  yang merupakan putri terakhir Kiai Ali bernostalgia bahwa dulu ketika beliau haid saat sebelum menikah, beliau merasakan nyeri haid yang luar biasa seperti orang melahirkan. Hingga pada suatu hari hal tersebut sampai membuat beliau pingsan.

Kiai Ali yang mengetahui hal tersebut akhirnya bertanya kepada istrinya perihal putrinya yang pingsan. Istrinya pun menjawab bahwa putri bungsunya tersebut kerap kali ketika datang bulan datang, ia akan mengalami nyeri haid yang luar biasa. Seolah tak percaya, Kiai Ali yang mengganggap putrinya masih kecil terkejut ketika mengetahui bahwa putrinya sudah mengalami haid.

“Padahal waktu itu saya sudah kuliah. Seandainya waktu itu saya tidak ketahuan Kiai Ali haid, pasti saya tidak segera dinikahkan oleh Kiai Ali”, tawa Ibu Nyai Ida.

Acara bincang alumni ini dimoderatori oleh Dr. Ali Muhsin. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang yang merupakan alumni Pondok Pesantren Ali Maksum tahun 1988. Beliau menuturkan bahwa Ibu Nyai Ida Rufaida Ali merupakan putri kinasih Kiai Ali. Hal ini diperlihatkan dengan anggapan Kiai Ali yang mengira bahwa Ibu Nyai Ida selalu berumur 15 tahun (dianggap selalu masih kecil).

Terdapat 5 pembicara yang bertugas mengisi bincang alumni. Pertama KH Ihsanuddin. Beliau merupakan santri Kiai Ali yang mahir dalam berbahasa Arab karena beliau lulusan Iraq. Lalu ada KH Suadi Abu Umar. Beliau meupakan murid Kiai Ali yang dulunya tidak bersekolah akan tetapi menjadi seorang kiai.

Baca Juga: Manaqib Simbah KH Ali Maksum adalah Kecintaan Terhadap Ilmu

Kiai Ali Muhsin menuturkan bahwa Kiai Suadi merupakan sosok yang ketika memiliki suatu barang maka beliau rela membagi-bagikannya. Lalu terdapat KH Muslih Ilyas yang dulunya merupakan santri dapur Kiai Ali yang sekarang telah menjadi DPR. Terdapat H Fadloli Yasin yang merupakan santri dekatnya Kiai Ali. Lalu yang terakhir terdapat Kiai Munawwir yang merupakan santri kepercayaan Kiai Ali.

Dalam penuturan Kiai Ihsan, sangking zuhud nya Kiai Ali ketika kasur beliau ingin diganti oleh istrinya karena rusak, beliau hanya berkata bahwa hidup di dunia tidak akan lama. Selama kasur tersebut masih bisa digunakan, beliau tidak menghendaki kasur tersebut untuk diganti. Begitupun ketika putra-putri beliau meminta rumahnya untuk dikeramik, beliau Kiai Ali tidak menghendaki hal tersebut dengan alasan yang sama bahwa hidup di dunia tidaklah lama.

Dilanjut dengan cerita Kiai Suadi bahwa ketika beliau akan dinikahkan oleh ayahnya beliau menolak permintaan tersebut. Hal itu didasari oleh kecintaan beliau terhadap Kiai Ali. Hingga akhirnya Kiai Ali menasehati bahwa bakti Kiai Suadi terhadap ayahnya sama dengan bakti beliau kepada Kiai Ali.

Menurut paparan Kiai Ilyas, yang jarang diketahui oleh khalayak adalah tentang Kiai Ali yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Dalam cerita Kiai Fadloli Yasin beliau adalah santri yang menemani Kiai Ali Maksum selama 5 tahun. Biasanya Kiai Fadloli akan meemijat Kiai Ali terlebih dahulu sebelum Kiai Ali tidur. Tak heran bila beliau Kiai Fadloli merupakan santri dekatnya Kiai Ali.

Acara ini ditutup dengan penyerahan simbolik Asmaul Husna raksasa oleh alumni kepada keluarga kiai Ali. Dalam hal ini diwakili oleh Kiai Muttaqur Mubarun selaku alumni kepada Ibu Nyai Ida Rufaida Ali.

Membumi: Para pembicara di Bincang Alumni: (Dari Kanan) Dr Ali Muhsin, KH Ihsanuddin, KH Suadi, KH Muslih Ilyas, KH Fadholi Yasin. Photo: @yayasan.ali.maksum

 

 

 

Manaqib Simbah KH Ali Maksum adalah Kecintaan Terhadap Ilmu

Photo: @yayasan.ali.maksum

Almunawwir.com – Dalam rangka memperingati Haul KH Ali Maksum ke 31, Keluarga Besar KH Ali Maksum mengadakan acara Pembacaan Sholawat dan Manaqib Simbah KH Ali Maksum. Acara ini digelar pada hari Jumat, 3 Januari 2020 di Lapangan Ali Maksum. Meskipun cuaca sedang kurang bersahabat, para santri dan masyarakat sekitar antusiasmenya masih cukup tinggi.

Acara ini diawali dengan pembacaan Sholawat Nabi yang dipimpin oleh KH Zaky Muhammad L.c pada pukul 20.00. Para siswa Ali Maksum yang bertugas menjadi penabuh hadroh yang diiringi irama hujan membuat pembacaan sholawat kian syahdu.

Usai pembacaan sholawat, KH M Afif Hasbullah memberi sepatah dua katah sebagai sambutan perwakilan Ahlul Bait. Beliau menjelaskan bahwa tujuan haul adalah untuk mengenang jasa dan perjuangan kiai yang dihauli, yang dalam hal ini KH Ali Maksum.

Dalam paparan beliau, Kiai Ali pernah berkata bahwa anak yang baik adalah  anak yang mengenal orang tuanya. Sebab anak yang baik adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya. Maka bagaimana anak itu menjadi baik apabila tidak mengenal orang tuanya. Oleh sebab itu, ketika acara Haul nama Kiai Ali diperkenalkan lagi kepada para santri guna menambah kebaktian terhadap Kiai Ali.

Baca Juga: Halaqah Tematik: Bagaimana UU Pesantren Bisa Difermentasi dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0

Usai itu acara dilanjutkan dengan pembacaan manaqib KH Ali Maksum yang berisi tentang perjalanan pendidikan Kiai Ali,  pengembangan Pesantren Krapyak dengan mengajarkan Ilmu al-Quran dan Kitab Kuning terhadap putra-putri KH Munawwir yang masih kecil, amal jariyah yang dilakukan KH Ali Maksum di luar pesantren seperti dalam penerjemahan al-Quran dan menjadi Rois Amm PBNU pada tahun 1980-1984, hingga pada saat menjelang akhir hayat KH Ali Maksum.

Dilanjut dengan Mauidhoh Hasanah oleh Ibu Nyai Hj Hindun Annisah. Dalam sambutannya beliau menjelaskan bahwa yang paling diingat dari Kiai Ali adalah kecintaan beliau terhadap ilmu (Hubbul Ilmi) yang dibuktikan dengan menempuh pendidikan di berbagai pesantren dan berkhidmah dengan beberapa kiai.

Setelah itu para santri serentak membacakan tahlil untuk Kiai Ali yang dipimpin oleh Kiai Zakky Muhammad dan ditutup oleh beliau dengan pembacaan doa.