Al-Quran dan Ramadan: Menemukan Kembali Ruh Tadarus yang Hilang

Al-Quran dan Ramadan: Menemukan Kembali Ruh Tadarus yang Hilang

Bulan suci Ramadan adalah bulan mulia. Selain sebagai bulan puasa dan bulan ampunan, bulan Ramadan merupakan bulan turunnya beribu Rahmat. Bulan ini, kerap juga disebut sebagai bulan Al-Qur’an atau Syahrul Qur’an. Karena pada bulan inilah, Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw  sebagai petunjuk dan pedoman hidup umat manusia. Tepatnya, pada tanggal 17 Ramadan. Dimana momentum bersejarah ini kita peringati sebagai Nuzulul Qur’an.

Seperti dijelaskan pada QS Al Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman:

  شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَان 

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan)  yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan  penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda ( antara yang benar dan yang batil).” QS Al-Baqarah (2) : 185

Pada bulan Ramadan ini, kita memang dianjurkan untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah saw bersama malaikat Jibril yaitu tadarus setiap malam bulan Ramadan.

Di era digital ini, ada sebuah fenomena menarik yang jarang kita sadari. Tadarus sering kali menjadi ‘ajang perlombaan tak kasat mata’. Grup WhatsApp bertajuk one day one juz bertebaran lengkap dengan laporan hariannya. Hal ini menjadi refleksi bagi diri kita, apakah Al-Qur’an hanya dijadikan ajang lomba cepat khatam atau sudah sampai tahap meresapi isi kandungannya.

Memaknai  Tadarus Al Qur’an 

Tadarus secara bahasa berarti mempelajari, meneliti, menelaah dan mengambil pelajaran. Sedangkan secara istilah, tadarus Al-Qur’an berarti aktivitas membaca Al-Qur’an secara berulang-ulang, teratur dan dipahami secara bersama-sama, minimal melibatkan 2 orang atau lebih untuk saling menyimak, meningkatkan pemahaman dan mengamalkan isinya.

Aspek yang perlu diperhatikan dalam membaca Al-Qur’an yakni, makhorijul huruf dan ilmu tajwid yang tidak boleh sembarangan untuk diabaikan. Mengamalkan ilmu tajwid dalam membaca Al-Qur’an merupakan fardhu ain bagi setiap umat muslim. Dengan tujuan supaya bacaan kita benar. Sayangnya, kita terlalu fokus untuk mengejar kuantitas tadarus, fokus untuk mengkhatamkan sebanyak-banyak Al-Qur’an dalam 30 hari tersebut. Tanpa kita sadar, kita hanya fokus pada kuantitas bukan pada kualitas.

Namun realitanya seperti pada forum digital, tadarus sering kali berubah menjadi tilawah (membaca) mandiri demi mengejar laporan harian. Padahal ruh dari tadarus adalah koreksi bersama. Tanpa ada yang menyimak, kita tidak akan pernah tahu apakah ‘kecepatan’ kita membaca akan mengorbankan kebenaran akan ilmu tajwid yang seharusnya kita amalkan?

Khatam lebih dari satu kali dalam bulan Ramadan merupakan sebuah pencapaian yang baik. Banyak keutamaan yang kita peroleh dari membaca Al- Qur’an. Dalam hadist riwayat Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa membaca satu huruf saja dalam Al-Qur’an mendapatkan sepuluh kebaikan.

وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من قرأ حرفًا من كتاب الله فله حسنة، والحسنة بعشر أمثالها لا أقول: ألم حرف، ولكن ألف حرف، ولام حرف، وميم حرف

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an kitabullah, maka baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dibalas oleh Allah dengan sepuluh kebaikan. Tidak dikatakan Alif Lam Mim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf  (HR At Tirmidzi).

Namun, yang harus kita ingat bahwa kita tidak hanya fokus untuk mengejar khatam tanpa melalaikan pengamalan ilmu tajwidnya.

Tips Tadarus Berkualitas di Era digital

  1. Ubah mindset:  Grup WhatsApp one day one juz, bukan sekedar tempat laporan atau checklist harian tapi menjadi sebuah forum untuk mentadaburi isi Al-Quran dengan berdiskusi mengenai makna ayat yang baru dibaca.
  2. Merenung: Luangkan waktu 5-10 menit untuk membaca terjemah dari ayat-ayat yang dibaca guna meresapi maknanya
  3. Bimbingan : Tekankan bertadarus dengan disimak guru atau ustadz demi menghindari kesalahan fatal ketika membaca.

Tadarus Al-Quran merupakan amalan yang sangat mulia. Selain sebagai petunjuk dan pedoman hidup, Al-Quran dapat kita  jadikan  sebagai sahabat, yang menemani keseharian kita dengan ayat-ayat yang menenangkan. Apalagi kalau  membacanya di bulan Ramadan, kita tidak hanya sekedar membaca dan memaknai kandungannya. Namun, Allah memberikan ganjaran yang begitu besar bagi ia yang mau menghidupkan Ramadan dengan Al-Qur’an.

Ramadan juga bukan sekedar perlombaan untuk mencapai garis khatam, melainkan perjalanan hati untuk pulang kepada tuntunan Ilahi. Jangan jadikan Al-Quran hanya basah di bibir namun kering di hati. Mari kita jadikan ayat-ayat Al-Quran sebagai cahaya yang memperbaiki akhlak, bukan sekedar angka di laporan WhatsApp. Karena pada akhirnya, yang dihitung bukan seberapa cepat kita menghabiskan mushaf melainkan seberapa dalam ayat-ayat Nya meresap dan mengubah hidup kita.

Besar harapan, setelah Ramadan usai, kita tetap istiqomah dalam membersamai Al-Qur’an di keseharian kita.

Yocialief Yumna Maysti

Yocialief Yumna Maysti

Yocialief Yumna Maysti

Nama : Yocialief Yumna Maysti Tempat, Tanggal Lahir : Cilacap, 13 Mei 2006 Kota asal : Cilacap Santri komplek R1

2

Artikel