Bersatu di Bawah Payung Besar: Sarasehan dan Temu Akbar Alumni Santri Krapyak dalam Rangka Haul ke-87 KH. Muhammad Munawwir

Bersatu di Bawah Payung Besar: Sarasehan dan Temu Akbar Alumni Santri Krapyak dalam Rangka Haul ke-87 KH. Muhammad Munawwir

Salah satu agenda rutin menjelang Haul al-Maghfurlah KH. Muhammad Munawwir bin Abdillah Rasyad Adalah sarasehan dan temu alumni IKAPPAM (Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al Munawwir) yang pada Haul ke-87 ini, dilaksanakan pada hari Senin 1 Desember 2025 bertempat di Aula G Pondok Pesantren Al Munawwir. Namun, sedikit berbeda dari tahun tahun sebelumnya, yang menarik dari temu Alumni tahun ini adalah selain dari perkumpulan alumni Pondok Pesantren Al-Munawwir, juga ada dari Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Pondok Pesantren Ali Maksum, Alumni Madrasah Huffadh (HIMMAH ALMUNA), Komplek Q (HAL-Q EL MUNA), dan beberapa asosisasi Himpunan Alumni di lingkungan pondok Krapyak. Ini merupakan salah satu permohonan dari Dewan pengasuh untuk menyatukan kembali beberapa himpunan alumni di lingkungan pesantren Krapyak agar tetap bersatu dan tetap dalam payung besar “santri Mbah Munawwir”.

Acara dimulai sekitar pukul 08.30 WIB dengan diiringi hadrah. Pada kesempatan ini juga hadir ratusan alumni dan para dewan pengasuh, seperti KH. R. Abdul Hamid AQ, KH. Jirjis Ali, Drs. KH. Muhtarom Busyro, KH. R. Chaidar Muhaimin, dan lain sebagainya. Acara kemudian dilanjutkan oleh pembacaan Tahlil oleh, Drs. KH. Muhtarom Busyro, lalu sambutan perwakilan lanitia acara, yakni Dr. KH. Muhtarom Ahmad, M.Si. Dalam sambutannya beliau berpesan “semoga perkumpulan ini dapat menjadikan dan menambah ‘alaqoh bathiniyah kita sebagai santri dengan almamater dan para Masyayikh Krapyak dan sesama santri Krapyak di seluruh generasi”.

Buya Hamid, dalam sambutannya selaku pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir, menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan antar Alumni Krapyak, entah itu IKAPPAM, Akrab, Himmah Al-Muna atau sebagainya, karena semuanya itu manba’ atau sumbernya tetap kepada Mbah Munawwir. Maka pada kesempatan tahun ini, Temu Alumni yang tahun sebelumnya hanya mencakup IKAPPAM, diganti menjadi lebih luas cakupannya, yakni seluruh asosiasi atau himpunan alumni di Lingkungan Krapyak.

Tema yang dikaji dalam kesempatan kali ini Adalah,”Ragam Qira’at dan Pengaruhnya dalam Penafsiran Al-Qur’an.” Yang diisi oleh KH. R. Abdul Hamid Abdul Qodir, (Pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir) dan Prof. Dr. KH. Abdul Mustaqim, M.Ag, (Guru Besar Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga sekalius Alumni Pondok Krapyak) serta di moderatori oleh Dr. KH. Ihsanuddin, M.Ag. (Dosen Institut Ilmu al-Qur’an An-Nur, Ngrukem). Tema ini penting untuk dikaji karena latar belakang pesantren krapyak yang juga berbasis al-Qur’an dan Qiraat.

Prof. Mustaqim dalam kesempatan pertama sebagai narasumber, menjelaskan terkait urgensi pentingnya mendalami ilmu al-Qur’an selain menghafal kan nya. Karena ilmu yang ada di dalam al-Qur’an di luas القرأن البحر لا سهل له (Al-Qur’an itu lautan yang tidak bertepi). Karena itulah, sangat penting bagi umat Islam mendalami isi dan kandungan Al-Qur’an bukan hanya sebatas menghafalnya saja, hal ini disinggung di dalam Al-Qur’an surah al-baqarah ayat 78:

وَمِنْهُمْ اُمِّيُّوْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ الْكِتٰبَ اِلَّآ اَمَانِيَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ

Di antara mereka ada yang ummi (buta huruf), tidak memahami Kitab (Taurat), kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga.

Konteks ayat ini memang ditunjukkan untuk orang Yahudi karena mereka tidak mau tau tentang isi kandungan Alkitab, namun demikian juga ditunjukkan untuk orang Islam yang tidak mau mengetahui dan mendalami isi kandungan dari Al-Qur’an. Nah, salah satu dari sekian ilmu Al-Qur’an adalah ilmu Qir’aat yakni ragam bacaan Al-Qur’an dari berbagai daerah dengan sanad yang jelas dan mutawattir. Dalam kitab صفحلت في علوم القرءات dijelaskan bahwa ilmu Qira’at adalah علم بكيفية اداء كلمات القرأن وختلافها بعزو ناقلة (ilmu yang menjelaskan tentang menjelaskan kosa kata Al-Qur’an dengan segala ikhtilafnya dengan menyandarkan perawinya). Riwayat-riwayat qira’at mafhum kita kenal dengan Qira’ah Sab’ah dengan menisbatkan atau Riwayat Imam Tujuh, ada juga Qira’ah Asyrah. Di Indonesia, Mu’dzom menggunakan riwayat Hafs ‘an Ashim, namun berbeda Ketika di luar negeri seperti Di Maroko yang menggunakan Riwayat Nafi’. Prof. Mustaqim juga menekankan pentingnya Talaqqi atau mengaji dengan guru. Karena sanad dan riwayatnya jelas dari siapa dan sebagainya.

Sementara Kiai Hamid menekankan tiga prinsip dasar dalam belajar dan memahami Al-Qur’an, yaitu: Pertama adalah harus digurukan (talaqqi). Belajar al-Qur’an harus mempunyai guru agar sanad dan Riwayat bacaan nya jelas dan mutawatir sampai Rasulullah SAW. Kedua, butuh waktu yang lama. Maka Ketika belajar Al-Qur’an kata kiai Hamid, jangan kesusu, jangan puas dalam satu fan ilmu. Ketika khatam Al-Qur’an bi nadzhri, silahkan lanjut sampai khatam bil Ghaib, Ketika sudah khatam bil ghaib lanjutkan belajar qira’at dan sebagainya. Dan yang ketiga muraja’ah. Jangan merasa puas ketika sudah hafal Al-Qur’an tapi tidak mau mura’jaah, karena hal ini penting untuk menguatkan hafalan.

Selain itu, dalam pertemuan kali ini datang pula tamu dari Malaysia, yakni dari pihak percetakan Nasyrul Qur’an yang bekerja sama dengan Krapyak menerbitkan Mushaf Al-Munawwir. Al Habib Abdurrahman al Masyhur bin Hafidz dan Datuk Sri Dr. Asyyarif Abdul Lathif yang akan diresmikan dan dilaunching pada malam haul. Acara kemudian diakhiri dengan Terongan Bersama.

By: attariky.

Redaksi

Redaksi

admin

552

Artikel