Dari Big Data Mengajak ke Renungan Teologi dan Alam Semesta

Dari Big Data Mengajak ke Renungan Teologi dan Alam Semesta

Ilmu pengetahuan modern telah mengungkap bahwa banyak fenomena di alam semesta ini memiliki pola dan dapat dijelaskan dengan bahasa matematika. Dari yang mikroskopis seperti atom hingga makrokosmos seperti galaksi, semuanya taat pada rumus tertentu, seolah menunjukkan bahwa semesta ini tidak acak, melainkan terdesain dengan keteraturan yang luar biasa presisi, semua memiliki algoritmanya masing-masing. Dalam konteks inilah Big Data berperan penting untuk membaca dan mengungkap pola-pola tersebut secara lebih sistematis.

Big Data, Algoritma, dan Keteraturan Semesta

Sebagai penguat, sebuah artikel dalam jurnal Technomedia: Informatics and Computer Science menyebutkan bahwa alternatif modern seperti deep learning dan algoritma machine learning telah digunakan untuk menangkap pola spasial dan temporal dalam data polusi udara (Asnawi et al., 2025).

Setelah duduk di bangku kuliah dan mengambil mata kuliah Literasi Big Data, penulis baru memahami bahwa algoritma bukan sekadar urusan pola dalam soal ujian, ataupun pola-pola dalam dunia digital. Algoritma bisa memprediksi banyak hal termasuk kualitas udara, cuaca, waktu, tata surya, hingga perilaku manusia dalam skala besar. Dunia ini ternyata penuh pola, yang artinya penuh keteraturan, dan Big Data hadir untuk menangkap dan membaca pola-pola itu.

Berbicara tentang keteraturan alam semesta menjadi jauh lebih menarik ketika penulis mengerjakan tugas mata kuliah Literasi Big Data. Di tengah proses memahami bagaimana algoritma mampu membaca pola-pola kompleks di dunia nyata, muncul kesadaran bahwa keteraturan kosmos ini bukan sekadar konsep ilmiah, melainkan juga memiliki korelasi yang kuat dengan nilai-nilai spiritual dalam kitab suci Al-Qur’an. Salah satu ayat yang mencerminkan keteraturan semesta ini terdapat dalam Surah Yasin ayat 40:


لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِۗ وَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Sebuah negara jika tanpa pemimpin, maka akan kacau balau. Lalu bagaimana mungkin alam semesta yang jauh lebih kompleks ini berjalan begitu teratur tanpa ada yang mengatur? Ketika segala pergerakan bintang, rotasi planet, cuaca, kualitas udara, hingga hukum-hukum fisika dapat dihitung dan diprediksi dengan akurat, bukankah ini menjadi isyarat kuat bahwa ada sebuah sistem agung yang mengatur semuanya? Atau bahkan, ada Zat Maha Kuasa, Sang Pengatur segala sesuatu. Demikian dalil aqli, argumen rasional yang menyatakan bahwa keberadaan Tuhan dapat dikenali melalui ciptaan-Nya.

Teologi Deisme dan Refleksi dari Sergio

Konsep ini juga memiliki kemiripan dengan dengan teori deisme mengenai Tuhan. Paham ini meyakini adanya Tuhan Sang Pencipta semesta yang memberlakukan hukum alam, memberikan tuntunan moral bagi kehidupan manusia, serta menjanjikan kebahagiaan di akhirat kelak bagi yang beramal saleh dan menjauhi perbuatan jahat, namun penganutnya enggan mengikatkan diri pada dogma agama tertentu.

Dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais, putri dari Amien Rais, menceritakan perjalanan beliau menapak jejak Islam di Eropa, beliau pernah bertemu dengan salah seorang pemandu wisata di Mezquita, dengan keyakinan penuh menyatakan:

“Sudahlah, aku ini seorang agnostik. Aku percaya akan adanya kekuatan di atas segala-galanya dalam hidupku ini. Tapi aku tidak percaya apakah kepercayaanku tentang Tuhan harus diwujudkan dalam penerimaan agama. Dan untuk hidup yang sementara ini, aku hanya ingin berbuat baik.” Ucap Sergio

Pernyataan Sergio memiliki irisan dengan pemikiran deistik, meski ia sendiri mengaku sebagai agnostik. Tuhan dalam deisme digambarkan sebagai “arsitek agung” yang telah menciptakan jagat raya dengan segala keteraturannya, lalu membiarkan ciptaan itu berjalan sesuai hukum alam yang telah ditetapkan-Nya. Manusia dipandang memiliki tanggung jawab moral untuk berbuat baik atas hidupnya sendiri bukan karena kewajiban dogmatis, melainkan kesadaran etis dari dalam dirinya. Paham tersebut tercermin juga dalam pernyataan Sergio yang memilih untuk menempuh jalan kebaikan bukan karena pahala atau surga, melainkan kesadaran moral yang lahir dari dalam dirinya sendiri.

Bagi sebagian orang Barat, seperti Sergio, sikap deisme yang enggan memeluk agama lahir bukan semata karena sikap skeptis, apalagi sebagai bentuk penolakan, luka, ataupun trauma terhadap sejarah kelam agama yang pernah membelenggu masyarakat Eropa dalam fanatisme keagamaan yang mengekang selama berabad-abad silam. Sikap itu lahir dari perbedaan mendasar dalam memahami konsep ketuhanan. Bagi seorang deisme, Tuhan bukanlah sosok yang harus disembah melalui serangkaian ritual-ritual tertentu, melainkan suatu kekuatan agung yang keberadaannya tidak perlu dibuktikan lewat dogma. Dan jikalau kebahagiaan di akhirat benar-benar ada, maka kelak diperuntukan bagi mereka yang berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat. Demikianlah secuil pengetahuan mengenai teologi dalam paham deisme.

Mencari Jembatan antara Nalar dan Iman

Meskipun konsep Tuhan yang pasif –seperti yang diyakini paham deistik– pernah dikritik oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Tahafut al-Falasifah karena dianggap meniadakan peran aktif Tuhan dalam kehidupan manusia. Namun, bagi penulis yang hingga kini masih tertatih dalam memahami makna keimanan dengan segala keterbatasan, teori ini justru terasa lebih mudah diterima dan masuk akal. Bukan karena hendak berpaling dari keyakinan yang diwariskan sejak kecil, melainkan karena terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab dengan utuh dalam proses pencarian pemahaman ini. Adapun jawaban terbaik yang sering diberikan orang-orang sekitar adalah “akal kita terbatas, iman itu dari hati, dan hidayah dari Allah.”

Jawaban itu tidak salah. Namun bagi seorang pencari, kebenaran tidak ingin diraih hanya karena diwariskan, atau diterima karena semata-mata diajarkan. Penulis masih menyimpan harap, suatu hari nanti, akan menemukan pemahaman yang mampu menjembatani nalar dan iman. Pemahaman mampu membawa penulis lebih dekat dengan jati dirinya sebagai hamba Allah SWT yang Maha Pemberi Petunjuk, bahwa percaya tidak harus berarti menutup pintu tanya, dan bertanya bukan berarti mengingkari. Mungkin kita memang tak akan pernah tahu seluruh kebenaran. Tapi tak ada salahnya mencoba mencari dan bertanya, sebab bisa jadi dari sanalah iman yang sebenarnya tumbuh.

///

وَفِى الْاَرْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَۙ وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

“Di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. (Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat : 20-21)

Penulis: Malia Anisa Fitri – Hamba Allah yang menyukai konsep deisme

Referensi:

Al-Qur’an al-Karim

Pals, Daniel L..(1996). Seven Theories of Religion. New York: Oxford University Press.

Rais, Hanum Salsabiela. (2013). 99 Cahaya di Langit Eropa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Asnawi, M. F., Fitriyanto, N., & Pamoengkas, M. A. (2025). Implementasi Big Data Analytics dalam Klasifikasi Kualitas Udara Menggunakan Algoritma Gradient-Boosted Tree Classifier pada PySpark. Technomedia: Informatics and Computer Science, 2(1), 15–20 

Redaksi

Redaksi

admin

552

Artikel