“Saat kau ragu arah tuju
Di situlah kau mulai terbawa arus
Dan langkahmu kian tergerus
Kau tahu itu, kau telah hilang arah
Lalu tinggallah kau sendiri”
Petikan lirik lagu “Di Ambang Karam” dari band Amigdala terasa begitu relevan dengan apa yang kerap dialami para alumni santri saat memasuki fase life after boyong dari pondok. Di titik itu, keraguan akan arah tujuan sering muncul, membuat langkah terasa goyah dan perlahan terbawa arus. Perasaan kehilangan arah pun menjadi hal yang tidak asing, hingga pada akhirnya harus menghadapi semuanya seorang diri.
Kata ‘boyong’ yang mungkin ditunggu banyak santri ketika tidak betah menjadi sebuah kesedihan oleh para santri yang tidak memiliki pilihan lagi selain menyudahi mencari ilmu di pondok untuk melanjutkan hidup di dunia luar. Selepas masa purna belajar dan khidmah di pondok, setiap langkah akan membawa pada sebuah ruang hidup yang mendadak terasa begitu luas, hingga sering kali menyisakan rasa gamang di dalam dada.
Jika sebelumnya tersusun rapi oleh jadwal mengaji, jamaah dan kegiatan pondok, kini semuanya bergantung pada diri sendiri. Tidak ada lagi suara bel yang mengingatkan waktu, tidak ada lagi kawan satu kamar yang saling menguatkan di tengah lelahnya rutinitas. Kebebasan yang dulu terasa diimpikan, justru kadang berubah menjadi kebingungan yang diam-diam menggerus arah.
Dalam fase ini, penulis mulai menyadari bahwa ternyata kehidupan di luar pondok menuntut kemampuan beradaptasi yang tidak sederhana. Nilai-nilai yang selama ini dipegang harus diuji di ruang yang lebih luas, di tengah lingkungan yang beragam. Ada kalanya muncul rasa tidak percaya diri seperti “Opo ya wes cukup yo bekalku?”, “Jalan Keputusan boyongku po wes tepat si?”, “salah start ga ya aku?”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti, tanpa selalu memberi jawaban yang pasti. Namun Seiring berjalannya waktu penulis memahami bahwa bagaimanapun juga, fase ini bukan sekadar tentang kehilangan arah, melainkan tentang menemukan arah yang baru.
Dalam khazanah Islam, hijrah dari satu tempat ke tempat lain demi menjelajahi pengalaman dan pengetahuan baru bukanlah sesuatu yang asing, melainkan telah menjadi bagian penting yang tak terpisahkan. Ulama-ulama besar terdahulu pun menempuh perjalanan serupa, berpindah dari satu majelis ke majelis lainnya untuk memperkaya wawasan dan memperdalam keilmuan mereka.
Berangkat dari kesadaran tersebut, life after boyong sejatinya dapat dipahami sebagai kelanjutan dari proses thalabul ‘ilmi yang tidak berhenti pada ruang pesantren semata. Ia bertransformasi menjadi ruang aktualisasi nilai, di mana ilmu yang telah diperoleh diuji relevansi dan kebermanfaatannya di tengah realitas sosial yang lebih kompleks.
Dalam konteks ini seorang santri tidak lagi hanya berposisi sebagai pencari ilmu, tetapi juga sebagai agen yang menghadirkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat.
Bahkan hemat penulis, orientasi utama seorang santri tidak berhenti pada aspek penguasaan keilmuan, melainkan bermuara pada dimensi kebermanfaatan atau Anfa‘uhum linnas. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Dengan demikian, keberadaan alumni santri di tengah masyarakat seharusnya mampu menjadi representasi nilai-nilai pesantren baik dalam bentuk akhlak, kontribusi sosial, maupun keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, penulis belajar bahwa santri yang sudah lulus bukan berarti selesai dalam perjalanan, tetapi justru awal dari perjalanan yang lebih luas. Dan mungkin apa yang dirasakan ini juga diam-diam dirasakan oleh banyak alumni lainnya. Berjalan dengan ragu, namun tetap melangkah, sambil perlahan merangkai arah hidupnya kembali. Semoga keberkahan dan keridhaan para guru menyertai kita, Amiin Insya Allah.
Penulis: Wildan Afifi
Editor: Kavina.bii



