Evolusi Makna “Qawwamun” dalam Semantik Toshihiko Izutsu

Evolusi Makna “Qawwamun” dalam Semantik Toshihiko Izutsu

Almunawwir.com-Ketika kita memasuki dunia tafsir Al-Quran, kita disuguhi dengan berbagai pendekatan, mulai dari yang klasik hingga kontemporer. Penafsiran klasik mungkin melihat ayat-ayat tentang penciptaan sebagai deskripsi literal, sementara penafsiran kontemporer dapat melihatnya sebagai metafora yang selaras dengan teori-teori ilmiah saat ini (Maurice Bucaille, 1976, 150). Pendekatan tersebut tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang Al-Quran tetapi juga menunjukkan keselarasan antara ajaran Islam dan ilmu pengetahuan modern.

Pendekatan hermeneutik dan semantik modern, seperti yang dikembangkan oleh Toshihiko Izutsu, menekankan pentingnya memahami konteks linguistik dan budaya dalam menafsirkan Al-Quran. Izutsu menunjukkan bahwa makna kata-kata dalam Al-Quran tidak dapat dipahami secara terpisah tetapi harus dilihat dalam jaringan makna yang lebih luas (Toshihiko Izutsu,  1964, 25).

Perubahan dalam penafsiran Al-Quran dari masa klasik hingga kontemporer mencerminkan dinamika kompleks dari berbagai faktor, termasuk perubahan sosial, budaya, ilmiah, dan pendekatan metodologis. Ini menunjukkan bahwa penafsiran Al-Quran adalah sebuah proses yang dinamis, terus berkembang seiring dengan perubahan dalam masyarakat dan pemikiran manusia. Dengan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan ini, kita dapat menghargai keragaman dan kedalaman interpretasi Al-Quran sepanjang sejarah Islam (Toshihiko Izutsu, 2002, 42).

Salah satu aspek paling menarik dari Al-Quran adalah kemampuannya untuk tetap relevan meskipun ilmu pengetahuan terus berkembang. Penemuan ilmu pengetahuan baru telah membuka pemahaman baru tentang pesan-pesan Al-Quran, membawa cahaya baru pada teks yang telah bertahan selama berabad-abad. Al-Quran bukanlah teks yang kaku dan tertutup, tetapi sebuah sumber yang terus berkembang seiring dengan zaman.

Oleh karenanya, Kitab Suci yang menjadi rujukan pertama Ummat Islam ini tidak pernah terlepas dari konteks sosial di mana ia diwahyukan. Seiring dengan perubahan sosial, seperti evolusi dalam norma-norma gender, peran keluarga, dan struktur masyarakat, pemahaman kita tentang Al-Quran juga berubah. Dulu, mungkin kita melihatnya dari perspektif patriarkal, tetapi sekarang, dengan semakin meningkatnya kesadaran akan kesetaraan gender, kita dapat melihatnya dengan lensa yang lebih inklusif dan progresif.

Termasuk dalam kata “ Qawwamun “ dalam Surah An-Nisa (4:34) yang Seiring waktu mengalami bebagai interpretasi dari masa Klasik hingga Kontemporer.

Metamorfosis makna Kata “Qawwamun”

Secara etimologis, “Qawwamun” berasal dari akar kata “Qama” yang berarti berdiri, menopang, atau menjaga. Dalam konteks klasik, khususnya dalam penafsiran Al-Quran, kata ini sering diterjemahkan sebagai “pelindung” atau “penanggung jawab”. Awalnya, kata ini identik dengan “pemimpin” yang tegas dan berkuasa, tetapi kemudian maknanya bergeser menjadi “pelindung” yang penuh kasih dan tanggung jawab. Berikut Evolusi Makna Kata“ Qawwamun” dalam Penafsiran Klasik-Kontemporer (Quraish Shihab, 2000, 334-338):

  • Pra-Islam: Dalam budaya Arab pra-Islam, “qawwamun” merujuk pada sosok pemimpin laki-laki yang kuat dan berkuasa, bertanggung jawab atas keluarga dan komunitasnya.
  • Al-Quran: Di dalam Al-Quran, “qawwamun” digunakan untuk menggambarkan Allah SWT sebagai pemimpin tertinggi alam semesta. Selain itu, kata ini juga digunakan untuk merujuk pada suami yang bertanggung jawab atas kesejahteraan keluarganya (QS. An-Nisa’ [4]: 34).
  • Pasca-Islam: Seiring perkembangan tafsir dan pemikiran Islam, makna “qawwamun” mulai bergeser. Para ulama mulai menekankan aspek kasih sayang dan tanggung jawab suami dalam memimpin keluarganya.

Evolusi makna “qawwamun” merupakan transformasi yang positif dalam pemahaman tentang peran suami dalam Islam. Dari pemimpin otoriter, suami kini diposisikan sebagai pelindung penuh kasih dan bertanggung jawab, membuka jalan bagi terciptanya keluarga yang lebih harmonis dan setara. 

Pergeseran ini juga membuka peluang dialog interfaith yang konstruktif, berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih toleran dan inklusif. Pandangan ini menentang stereotip tradisional yang menempatkan suami sebagai pemimpin tunggal dan istri sebagai subordinat. Pergeseran ini membuka jalan bagi terciptanya keluarga yang lebih demokratis dan setara, di mana suami dan istri saling mendukung dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama (Wafa Ahmad, 1993, 123-135).

Perbandingan Makna “Qawwamun” dalam Tafsir Klasik-Kontemporer

Menurut tafsir klasik, “Qawwamun” sering diterjemahkan sebagai “pemimpin” atau “penanggung jawab” dalam rumah tangga. Ini mencerminkan pandangan tradisional tentang peran laki-laki sebagai figur otoritatif yang bertanggung jawab atas perlindungan dan pemeliharaan keluarga. Tafsir Ibn Katsir, misalnya, menekankan peran laki-laki sebagai pemimpin dan pelindung keluarga (Ibn Kathir, 2000, 529).

Sedangkan dalam konteks kontemporer yang semakin menekankan kesetaraan gender, makna “Qawwamun” telah menjadi subjek perdebatan. Banyak cendekiawan Muslim kontemporer menafsirkan “Qawwamun” sebagai tanggung jawab bersama antara suami dan istri dalam rumah tangga, yang melibatkan kemitraan dan kerja sama aktif dalam mengelola keluarga dan mengatasi tantangan bersama (Amina Wadud, 1999, 70-72).

Baca Juga:

Penulis: Soraya Savana Zain (Mahasiswa S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Editor: Redaksi

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel