Gus Yahya: Rasa Kebangsaan adalah Modal Terciptanya Peradaban

Gus Yahya: Rasa Kebangsaan adalah Modal Terciptanya Peradaban

Almunawwir.com-Peradaban merupakan suatu perwujudan sosial politik yang menjadi cara pandang dunia (world of view) yang dominan. Sebuah peradaban harus diperjuangkan oleh siapapun yang bernegara. Perlu langkah baru yang konkret dan sokongan yang kuat dalam rangka perwujudan tersebut, baik dari arah sosial-politik maupun arah keagamaan.

Hakikat Rasa Kebangsaan

Kemajuan bangsa yang digadang-gadang sebagai titik mula peradaban, nyatanya perlu banyak sekali pilar penyokong. Di dalamnya dibutuhkan keterlibatan semua pihak, baik dari kalangan stakeholders maupun dari kalangan masyarakat sipil. Bagaimana agar seluruh pihak dapat berpartisipasi, adalah dengan tertanamnya rasa kebangsaan.

Sebab hal itu semuanya dapat dilabeli sebagai suatu peradaban apabila terdapat rasa kebangsaan di dalamnya. Rasa kebangsaan merupakan naluri yang menjadi sebuah keharusan bagi tiap warga negara.

Rasa kebangsaan tersebut harus terus ditambah dan diasah agar tak memudar. Bagaimana caranya? Jawabannya ialah dengan penguatan ideologi bangsa. Ketika ideologi bangsa tidak kuat, maka hilang harapan sebuah peradaban akan berjalan sesuai tujuan, masyarakat sudah tak punya perlindungan, dan dikhawatirkan akan lahirnya tirani global.

Dua Pilar Kebangsaan

Di Indonesia sendiri, terdapat dua sokongan utama dan keduanya sudah berlaku. Yaitu hukumah siyasah yang dinaungi oleh Pancasila dan UUD 1945 dan hukumah diniyah yang dinaungi oleh ulama dan jajaran kyai. Untuk dapat mewujudkan ideologi bangsa, keduanya perlu berjalan beriringan. Pancasila dan UUD 1945 sama pentingnya dengan jajaran kyai dan ulama.

Namun nyatanya sampai pada hari ini di antara keduanya timbul sedikit masalah . Menurut Gus Yahya, masalah tersebut muncul baru-baru ini ketika dua sokongan tersebut malah berjalan masing-masing tak bergandengan. “Hukumah diniyah dan hukumah siyasah itu harusnya berkaitan dan saling membutuhkan, namun realitanya malah berjalan sendiri-sendiri”, kata Gus Yahya.

Bukan suatu hal yang tidak mungkin ketika lemahnya ideologi suatu negara sebab tak punya rasa bangsa, dan tak kuat sokongannya, maka akan digerogoti oleh oknum superpower, seperti pihak barat atau bahkan penguasa yang berasal dari internal itu sendiri.

Nahdlatul Ulama sebagai Masholihul Ummat

Selain berlandaskan politik dan agama yang setara, peradaban yang dicita-citakan juga harus berlandaskan perikemanusiaan dan perikeadilan. Semua strategi harus mementingkan kepentingan umat. Maka Nahdlatul Ulama hadir sebagai representasi dari sumber peradaban yang terus dibangun dan dikembangkan dengan dipenuhi oleh rasa bangsa tentunya.

Baca Juga:

“Nahdlatul Ulama diperjuangkan sebagai jembatan pemerintah agar bisa ber-tashorruf  mencapai masholihul ummah (kemaslahatan rakyat) dengan menempatkan fungsi NU sebagai fungsi hakim. Fungsi yang berkaitan dengan hukumah diniyah sekaligus hukumah siyasah, bagaimana kyai dapat berorganisasi, masuk ke ranah politik sekaligus berkonsolidasi untuk menghidupakan kembali dakwah Ahlussunnah wal Jamaah untuk kesejahteraan rakyat.”

Dengan banyaknya kekhawatiran tersebut, maka tugas kita sebagai punggawa muda Nahdlatul Ulama adalah terus memperkuat kapasitas negara. Dengan terus meluaskan wawasan dan menguatkan internal diri sehingga dapat menjadi kader penerus perjuangan dan pelita peradaban yang semakin terarahkan.

Bukankah peradaban, perjuangan, dan pemenuhan kapasitas negara akan sia-sia jika tak dibungkus oleh rasa kebangsaan?

Baca Juga :

Manazila Ruhma

Manazila Ruhma

Manazila Ruhma

Santri Komplek Q

7

Artikel