Hijrah Ekosentris: Sebuah Tren atau Hajat?

Hijrah Ekosentris: Sebuah Tren atau Hajat?

Almunawwir.com-Agama menempati posisi yang esensial di kalangan pemeluk-pemeluknya. Sifat dasar agama yang dinamis membuatnya tetap eksis sehingga mampu mengarungi arus dunia dengan segala problemanya.

Sepadan dengannya, Paul Tillich juga mengatakan bahwa teologi sebetulnya bergerak diantara dua kutub. Kutub pertama merupakan kebenaran yang kekal, sedang kutub kedua adalah situasi ketika kebenaran itu diterima.

Bagi Tillich, iman tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kebudayaan. Iman dan budaya, dengan segala rupa, tidak bisa ditabrakkan antara satu dengan lainnya. Pemikiran teologis Tillich ini mengindikasikan bahwa agama tidak bisa ditolak menggunakan kebudayaan, dan berlaku pula sebaliknya. Lantas, budaya macam apa yang dimaksud?

Islam mafhum sebagai satu agama, sementara hijrah dikenal sebagai istilah yang sering dikaitkan pada aktivitas pemuda yang sedang dalam proses pencarian jati diri dan pada akhirnya bermuara pada nilai-nilai islami.

Tidak bisa ditolak bahwa fenomena hijrah menjadi tengara akan adanya antusiasme muda-mudi urban kontemporer terhadap oase spiritual, khususnya dalam lingkup agama Islam. Fenomena hijrah ini selanjutnya menjelma menjadi identitas baru bagi kalangannya sebagai pribadi ‘Muslim taat’. 

Masih sejalan dengan yang dikatakan oleh Tillich di awal, fenomena hijrah sekaligus menandakan bahwa kebudayaan, yang dalam hal ini adalah kebudayaan kontemporer (modernitas), tidak bisa dilepaskan begitu saja dari agama. Kasus hijrah ini memberi pemahaman bahwa modernitas, dengan segala rupanya, justru memberikan personalitas baru bagi sebagian pemeluk Muslim.

Muslim urban yang sudah mengekspresikan diri sebagai kaum berhijrah mengaktualisasikan dirinya sendiri dengan mengubah sikap, perilaku, dan gaya hidup mereka sesuai dengan ajaran Islam. Hanya saja, aktivitas hijrah yang dilakukan oleh Muslim urban ini agaknya stagnan pada kesalehan individu sehingga tidak menyasar pada dimensi yang lebih luas.

Sumber: halodoc.com

Krisis Lingkungan

Belakangan, polusi udara di ibukota menjadi isu yang kencang dibicarakan. Website yang mencakup berita terkini seperti halnya BBC News menuliskan bahwa kualitas udara DKI Jakarta, hingga saat tulisan ini saya buat, berada di fase yang sangat krisis.

Emisi karbon yang dihasilkan oleh transportasi hingga pabrik-pabrik menjadi sumber yang menyumbang dampak krisis udara bersih ini. Pun tidak jauh berbeda dengan kondisi yang terjadi di tempat saya tinggal, D.I. Yogyakarta.

Dikatakan oleh berbagai media bahwa Yogyakarta saat ini berada di kondisi yang kronis terkait sampah. Ditutupnya TPA Piyungan menjadi stimulan akan cerminan betapa abainya masyarakat terhadap lingkungan yang ditinggalinya. Tidak hanya itu saja peristiwa yang terjadi, cuaca panas ekstrem akhir-akhir ini menjadi satu dari sekian indikasi yang mengarah pada gentingnya kerusakan lingkungan di dunia.

Menanggapi kondisi krisis lingkungan yang riil adanya, formulasi berbagai dimensi kehidupan nampaknya perlu digeser agar berorientasi ke arah ekofilia (ecophilia: cinta lingkungan), salah satunya melalui dimensi agama.

Menanggapi isu Muslim urban yang terjadi di awal, berkaitan dengan tren hijrah, saya melihat ada oportunitas yang solid untuk menyasar hijrah yang semula hanya pada aspek teosentris menjadi ekosentris.

Kesalehan alam sudah sepatutnya menjadi aspek yang krusial untuk dijadikan sebagai sentral dalam membangun personalitas ‘Muslim taat’. Jika semula term hijrah hanya terbatas pada kesalehan individu saja, pergeseran pada dimensi yang lebih luas menjadi urgen untuk dilakukan.

Sebelumnya, salah satu ulama Indonesia, KH Ahmad Mustofa Bisri atau kerap disapa Gus Mus mempopulerkan istilah saleh ritual dan saleh sosial. Dikatakan bahwa kedua dimensi ini mewakili versi yang lebih luas ihwal ketaatan sebagai seorang hamba.

Dengan kata lain, saleh ritual dan saleh sosial ini merepresentasikan instrumen yang harus dimiliki oleh seorang pemeluk agama, secara spesifik Islam, dalam membangun hubungan dengan agamanya.

Baca Juga:

Lebih mendalam, saleh ritual mewakili dimensi hablun minallah, sedangkan saleh sosial mewakili dimensi hablun min al-naas. Hanya saja, dimensi ketiga yang esensial untuk disisipkan dalam kesalehan sebagai seorang hamba adalah hubungan baik dengan alam, sebagai tindak lanjut tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Kendati, tema besar ekosentris menjadi atap utama tulisan ini, namun tidak melulu bahwa kedua sentra lainnya diabaikan begitu saja. Hubungan agama dengan pemeluknya tidak akan berdiri dengan hanya menggunakan satu sentra, misalkan dalam hal ekosentris sekalipun. Ketiga dimensi ini harus tetap berjalan secara berdampingan tanpa menafikan dimensi prinsipiil yang lain.

Artinya, tajuk utama ‘hijrah ekosentris’ tidak meniadakan teo-antroposentris yang sudah dicanangkan sebelumnya. ‘Hijrah ekosentris’ berarti menggeser formulasi hijrah yang sebelumnya paling jauh dikaitkan dengan dua hubungan (ketuhanan dan kemanusiaan) menjadi tiga hubungan (Tuhan, manusia, dan alam).

Dengan dieksplanasikannya agama hingga hijrah dengan segala sentranya di atas, hal yang menggelitik untuk dipertanyakan adalah apakah ‘hijrah ekosentris’ menjadi suatu tren tersendiri atau justru hajat yang harus dipenuhi oleh dunia? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya sendiri menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca sebagai kader-kader Muslim hijrah nantinya.

Melalui tren atau hajat sekalipun, asumsi saya menyebut bahwa ‘hijrah ekosentris’ ini menjadi hal yang niscaya untuk dilakukan dengan segera. Mengakhiri tulisan ini, saya mengutip kata-kata yang menjadi slogan atas kegiatan bengkel Hijrah Iklim yang dilakukan beberapa waktu lalu di Pondok Pesantren Misykatul Anwar. Hijrah atau punah!.

Wallahu a’lam.

Editor: Redaksi

Arina Al-Ayya

Arina Al-Ayya

ArinaAl-Ayya

8

Artikel