Wejangan Hari Kemerdekaan: Adil dalam Kemakmuran dan Makmur dalam Keadilan

Wejangan Hari Kemerdekaan: Adil dalam Kemakmuran dan Makmur dalam Keadilan

Almunawwir.com- Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka…….

Begitulah kiranya penggalan lagu Hari Merdeka karya Habib Husein mengandung sebuah makna yang subtansial tentang kemerdekaan yang telah diperjuangkan dan diraih oleh para pahlawan. Hari ini, Kamis 17 Agustus 2023 bertepatan dengan hari kemerdekaan negara tercinta, kemerdekaan dari kekuasaan dan penjajahan bangsa asing.

Kemerdekaan yang telah diraih oleh suatu bangsa merupakan kenikmatan yang sangat besar, baik bagi bangsa maupun penduduk negara tersebut.

Pada masa penjajahan kehidupan begitu sukar, hasil bumi dirampas, apapun yang telah dihasilkan olah negara kita sendiri tidak bisa dinikmati. Bagian yang sangat besar diserahkan kepada bangsa penjajah sebagai upeti.

Warga bangsa sendiri yang memiliki tanah, menanam, merawat, hingga memanen namun bangsa lainlah yang menikmati hasil dari jerih payah masyarakat pribumi dan penjajah tersebut hanya memberikan beberapa persen saja.

Bangsa penjajah bukanlah kerabat, bukan sanak, dan buakan saudara seagama kita. Kedatangan mereka hanya untuk menumpang hidup, tetapi justru mereka jugalah yang menguasai tanah air kita sendiri.

Sumber: Foto Pribadi
Sumber: Foto Pribadi

Sebagai generasi pelajar, kita pernah mendengar kisah-kisah atau sejarah masa penjajahan yang dialami oleh masyarakat pribumi bangsa Indonesia. Perlakuan penjajah kepada pribumi sangat mengenaskan, namun berbeda dengan memperlakukan kepada pendatang lainnya yang sama-sama menumpang hidup.

Di mana kepada sesama pendatang mereka memperlakukan dengan sangat baik, bahkan dalam pendidikan mereka pun saling bekerja sama. Mereka membuka lembaga-lembaga pendidikan dengan kualitas yang sangat baik namun anak-anak pribumi tidak diperkenankan untuk menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

Hal tersebut bukan karena anak-anak pribumi memiliki otak yang tumpul tetapi karena negara kita sedang dijajah oleh pendatang tersebut.

Baca Juga:

Ma’na Cum Maghza: Terobosan TerhadapTafsir Kontemporer

Hingga pada perjalanan berjuang di 17 Agustus 1945 kita sudah resmi menjadi negara yang merdeka. Kini kita sebagai generasi bangsa Indonesia sudah menikmati hasil dari perjuangan para pahlawan dengan segala daya dan upayanya.

Hingga apa yang kita hasilkan dalam bangsa ini di masa ini termasuk hasil tanamannya bisa kita miliki dan nikmati sendiri. Siapa saja warga negara Indonesia baik pribumi maupun pendatang yang sudah resmi berkebangsaan atau menjadi warga Indonesia di mata hukum memiliki hak dan kewajiban yang sama. Semua itu merupakan sebuah kenikmatan besar yang wajib kita syukuri.

Bersyukur atas kemerdekaan sama halnya dengan mensyukuri nikmat-nikmat lain yang telah diberikan oleh Allah SWT seperti apa yang telah disampaikan oleh Romo KH. Su’adza Adzkia Rois Syuriah PCNU Cilacap dan Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Kroya yaitu:

صَرْفُ الْعَبْدِجَمِيْعَ مَااَنْعَمَ اللّهُ بِهِ عَلَيْهِ لِأَجْلِهِ

“Memanfaatkan semua apa yang dianugerahkan Allah kepada seseorang untuk mendapatkan apa yang kepadanya anugerah itu diciptakan”. Contohnya seperti penciptaan manusia oleh Allah memiliki tujuan untuk menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan tidak durhaka kepada-Nya.

Oleh karenanya kita sebagai hamba wajib bersyukur atas anugerah yang telah diberikan dengan menjaga tutur kata dan perilaku. Dengan kata lain bersyukur yaitu memanfaatkan anugerah-Nya sesuai dengan motif anugerah yang diberikan.

Adil dalam Kemakmuran dan Makmur dalam Keadilan

Keterkaitan antara bersyukur dengan kemerdekaan ialah melalui pemanfaatan kemerdekaan untuk mencapai tujuan kemerdekaan. Banyak kata ataupun kalimat yang dapat dirumuskan dalam mencapai tujuan kemerdekaan, namun kita juga dapat memaknai dengan sebuah rumusan yaitu Adil dalam Kemakmuran dan Makmur dalam Keadilan.

Adil memiliki makna bahwa segala sesuatu dapat berjalan sesuai porosnya. Semua sama rata yang salah berarti salah, begitu pula yang benar pun dibenarkan siapapun dia dan apapun jabatannya. Siapapun yang benar tidak perlu ragu ataupun takut untuk melakukan sebuah kebenran.

Sebaliknya siapapun yang bersalah bisa mendapatkan hukuman sesuai dengan kadar kesalahannya. Dengan demikian, diharapkan kesalahan yang telah dilakukan tidak akan terulang kembali.

Makmur memiliki arti serba kecukupan atau tidak kekurangan. Sangat sulit diterima oleh rasional jika negara kita tidak bisa Makmur. Sudah lazim kita dengar bahwa negara kita sangatlah kuat dengan potensi-potensi yang dimiliki untuk menjadi negara yang Makmur dan dapat sejajar dengan negara-negara lain.

Sumber daya negeri kita berlimpah, begitu juga dengan Sumber Daya Manusia yang kita miliki sebenarnya sangat berlimpah hingga dikirim ke luar negeri dalam bentuk TKI dan TKW. Padahal jika kita semua mengasah dan meningkatkan kemampuan SDM kita sangatlah banyak.

Lalu apa yang masih kurang? Itulah alasannya, kita masih kurang dan belum pandai bersyukur. Banyak sekali kesempatan untuk memakmurkan negara yang telah disia-siakan hanya karena kurangnya rasa syukur.

Kurangnya rasa syukur tampil dalam banyak wajah, diantaranya yaitu wajah-wajah yang mungkin sebenarnya kita kenal dan kita juga mengenal beberapa istilah kecurangan dari tidak pandainya bersyukur melalui sebutan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

Dengan demikian, masyarakat kecil yang memiliki kemampuan terbatas akan semakin tertindas. Maka dari itu marilah kita sebagai generasi penerus bangsa jadilah generasi yang pandai bersyukur kritis dalam berpikir, adil dalam berperilaku, dan taat dalam aturan.

Selain itu kita juga harus menjaga diri dengan baik agar tidak terkena virus KKN dan jangan pernah berhenti berdoa kepada Allah untuk selalu menghindarkan kita dari perbuatan yang mungkar atau pun kufur nikmat (tidak tahu berterima kasih). Sehingga kita bisa mensyukuri kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan bersyukur atas anugerah yang telah diberikan seperti Firman Allah:

وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکُمۡ لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku (Allah) akan menambahkan (nikmat) untukmu, dan tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S Ibrahim: 7)

Baca Juga:

Benarkah Rasulullah Hijrah pada Bulan Muharram?

Sumber: Catatan Khutbah Romo KH. Suadza Adzkiyab dalam buku “MENCARI AKHIRAT TIDAK LUPA DUNIA Pesan-Pesan dari Mimbar Kyai”

Editor: Syarafina Azzatul Hidayah

Feni Tri Astuti

Feni Tri Astuti

Feni Tri Astuti

Santri Komplek R2

4

Artikel