Ke’adalahan Sahabat Nabi Menurut Muhammad Syahrur

Ke’adalahan Sahabat Nabi Menurut Muhammad Syahrur

Almunawwir.com – Terms ke’adalahan sahabat Nabi terdiri dari kata ‘adalah dan sahabat Nabi, secara etimologi ‘adalah bermakna keadilan,[1] adil disini bermakna tentang kualitas moral, spiritual dan juga keagamaan dari perawi hadis[2].

Sedangkan sahabat Nabi ialah orang yang menyertai Nabi, Ibnu Hajar berpendapat bahwa yang dikatakan Sahabat Nabi ialah orang yang bertemu dengan Nabi, kemudian beriman dengan apa yang beliau bawa, dan wafat dalam keadaan Islam.[3]

Sahabat Nabi
Sumber Gambar: islami.nu.or.id

Terkait penetapan tingkat keadalahannya, terjadi silang pendapat antara jumhur Ulama terdahulu dengan beberapa Pemikir kontemporer, seperti Muhammad Syahrur.

Muhammad Syahrur memiliki nama lengkap, Muhammad Syahrur Deyb. Beliau lahir di Salihiyyah, salah satu distrik kota Damaskus pada tanggal 11 Maret 1938.[4] Sedari kecil hingga pendidikan doktoral, beliau mengenyam pendidikan non Keagamaan.[5]

Walaupun begitu, Syahrur telah menulis beberapa buku terkait Al-Qur’an, Hukum Islam dan Sunnah.[6] Pada struktur pemikiran Syahrur, didapati bahwa di samping pemikiran filsafat spekulatif Alfred North Whitehead, Bertrand Russel, dan lainnnya, Syahrur turut mendiskusikan pemikiran para filosof positivisme dari Jerman seperti Immanuel Kant, Fichte dan G.F. Hegel.

Dalam analisa Christmann, pemikiran Syahrur merupakan sintesa dari filsafat spekulatif Whitehead, rasionalisme idealis para filosof Jerman serta strukturalisme dari nalar matematika-teknik yang membentuk pemikirannya tersebut.[7]

Syahrur merupakan seorang pemikir muslim yang gagasannya seringkali bertolak belakang dengan keterangan yang telah disampaikan oleh Ulama terdahulu, bahkan ia juga dikenal sebagai seorang muslim liberal.[8]

Diantara gagasan Syahrur ialah tentang penyeruannya terhadap pembacaan ulang ayat-ayat Al-Qur’an dengan pandangan kontempoter/masa kini.[9] Gagasan ini secara rinci tertuang dalam kitab yang telah ditulis olehnya.

Menurut jumhur Ulama, Para sahabat Nabi sudah tidak diragukan lagi ke’adalahannya.[10] Penyematan tersebut berlaku bagi seluruh sahabat Nabi. Sehingga muncullah istilah al-Sahabah kulluhum ‘udul.[11] Mengacu pada Syahrur, menurutnya ke’adalahan yang disematkan kepada seluruh sahabat patut dipertanyakan.

Hal ini disebabkan oleh pandangannya tentang sahabat Nabi yang juga merupakan manusia biasa. Syahrur mengatakan bahwa sahabat juga tidak luput dari kesalahan, terutama sepeninggal Nabi.[12] Telah terjadi banyak persoalan yang mengindikasikan bahwa sahabat Nabi tidak layak dinyatakan ‘adalah kepada seluruhnya.

Berikut beberapa argumen  yang mendasari sikap penolakan Syahrur terhadap pernyataan seluruh sahabat yang dinyatakan adil, sebagai berikut:[13]

  1. Terdapat sebagian sahabat yang merupakan seorang munafik, pendusta.
  2. Menyorot kejadian pada saat terjadinya perang Jamal dan Shiffin. Menurutnya, kejadian ini mengindikasikan bahwa para sahabat juga haus akan kekuasaan.
  3. Terjadi banyaknya pemalsuan hadis pada masa sepeninggal Nabi.

Oleh sebab itu, maka Syahrur dalam bukunya  menyampaikan ketidak sepakatannya dengan pendapat ulama terdahulu tentang seluruh sahabat Nabi yang dinyatakan adil. Dengan menimbang situasi dan kondisi yang terjadi pada masa sepeninggal Nabi hingga masa pengkodifikasiannya yang amat jauh.

Maka Syahrur berpandangan bahwa hal tersebut haruslah ditinjau kembali dan pentingnya proses verifikasi dan juga identifikasi terhadap seluruh perawi hadis, tak terkecuali sahabat Nabi. Sehingga dengan telah terverifikasinya sanad hadis tersebut, maka kemudian bisa diterima masyarakat dan dijadikan sebagai pedoman pada masa kini.[14]

*Ditulis oleh Hisan Arisy, Mahasiswa Pascasarjana IAT UIN Sunan Kalijaga.


[1] Ahmad Zumaro, Bantahan Sunni terhadap Syi’ah tentang Ketidak adilan Sahabat, al-Dzikra: volume 11 nomor 1, juni 2023, hlm. 88.
[2] Heru Widodo & Fahmi Irfanuddin, al-Jarh wa at-Ta’dil in Researching Sanad and Hadits, ASILHA Islamic Institute Publishing: volume 3 nomor 1, 2020, hlm. 25.
[3] Ibnu Hajar al-Ashqalani, al-Isabah fi Tamiiz al-Sahabah, jilid 1 (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyyah, 1995), hlm. 158.
[4] Nur Shofa Ulfiyati, Pemikiran  Muhammad  Syahrur (Pembacaan Syahrur Terhadap Teks-Teks Keagamaan), Et-Tijarie volume 5, Nomor 1 2018, hlm. 59.
[5] Asriyati, Penataan dan Pandangan Hukum Islam Muhammad Syahrur, MAZAHIB: volume XIV, nomor 1, Juni 2015, hlm. 34.
[6] Abdul Fatah, Konsep Sunnah Perspektif Muhammad Syahrur, Diroyah: volume 4, nomor 1, September 2019, hlm. 26.
[7] Nur Shofa Ulfiyati, Pemikiran  Muhammad  Syahrur (Pembacaan Syahrur Terhadap Teks-Teks Keagamaan), Et-Tijarie volume 5, Nomor 1 2018, hlm. 61.
[8]Arip Purkon, Rethinking of Contemporary Islamic Law Methodology: Critical Study of Muhammad Syahrur’s Thinking on Islamic Law Sources, AOSIS: 16 Maret 2022, hlm. 2.
[9] Suheri Sahputra Rangkuti, Dekonstuksi Epistemologi Muhammad Syahrur, Al-Istinbath: Jurnal Hukum Islam, volume 3  nomor 2, 2018, hlm. 137.
[10] Muhammad Imran, Sahabat Nabi Muhammad SAW Dalam Perspektif Sunni Dan Syi’ah, JURNAL AQLAM Journal of Islam and Plurality — Volume 1, Nomor 1, Juni 2016, hlm. 19.
[11] Muhammad Tahir. A, Dekonstruksi ‘Adalah al-Shahābah Kepada Rekonstruksi Definisi Sahabat: Kajian Kritis mengenai Sahabat
dalam Tinjauan Nās, Diroyah: Jurnal Studi Ilmu Hadis 6, 2 (2022), hlm. 134.
[12] Muhammad Syahrur, al-Sunnah al-Rasuliyyah wa al-Sunnah al-Nabawiyyah, (Lebanon: Dar al-Saqiy 2012) p. 69.
[13] Ibid …. , p. 69.
[14] Ibid ….., p. 69.

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel