Kenali Kompetensi Santri Dalam Menghadapi Era Society 5.0

Kenali Kompetensi Santri Dalam Menghadapi Era Society 5.0

Yogyakarta – Almunawwir.com

Seiring berjalannya waktu, peradaban manusia semakin berkembang. Perkembangan itu menuntut segala hal untuk menjadi lebih mudah, lebih praktis, dan lebih maju. Apalagi sekarang mulai memasuki era perindustrian yang beroperasi penuh dengan teknologi (Internet of Thing).

Selain itu, para ahli juga telah menemukan inovasi baru dari dunia perindustrian, yaitu big data, percetakan 3D, kecerdasan buatan atau disebut dengan Artificial Intellegence (AI), kendaraan tanpa pengemudi, rekayasa genetika, robot, dan mesin pintar.

Revolusi industri yang begitu pesat memberikan pengaruh besar pada dunia. Sehingga pada tahun 2011 lalu, Jerman mencetuskan revolusi industri 4.0 sebagai bentuk pembaruan dari era industri 3.0.

Akan tetapi, revolusi industri 4.0 menimbulkan kepanikan bagi masyarakat yang beranggapan bahwa teknologi akan menguasai bidang perindustrian sehingga membuat mereka kehilangan pekerjaan.

Baca juga: Santri dan Dunia Literasi

Maka dari itu, pada tahun 2019, Jepang mengedarkan gagasan baru untuk merespon permasalahan dengan sebutan revolusi society 5.0.

Sebenarnya konsep industri 4.0 tidak jauh berbeda dengan konsep society 5.0, yakni revolusi industri 4.0 lebih memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI dalam kegiatan perindustrian.

Sedangkan society 5.0 lebih memanfaatkan komponen manusia dalam menyelesaikan permasalahan sosial yang menghubungkan antara dunia maya dan dunia nyata.

Pada sisi lain, revolusi society 5.0 sangat utopis bagi Indonesia yang merupakan negara berkembang dengan masyarakat yang tak acuh akan perubahan itu, terkhusus para santri. Mereka yang hidup serba terbatas dalam berteknologi.

Baca juga: Seni Arsitektur dan Narasi Islamisasi Nusantara

Sehingga muncul berbagai permasalahan santri dalam menghadapi era society 5.0. Apakah mereka mampu menghadapi segala tantangan di era society 5.0, apa yang perlu santri miliki agar mampu terjun di era society 5.0.

Lalu bagaimana dengan kurikulum pondok pesantren, apakah perlu mengalami perubahan?

Untuk mengatasi permasalahan itu, pada era society 5.0 sangat membutuhkan SDM yang unggul dan berdaya saing tinggi. Sehingga para santri perlu memiliki beberapa kompetensi agar dapat menjadi SDM yang dibutuhkan di era society 5.0.

Berdasarkan hasil penelitian dari beberapa mahasiswa Universitas Putra Indonesia YPTK Padang (2/6/2022), ada beberapa kompetensi yang diperlukan santri agar dapat menjadi SDM unggul era society 5.0.

Kompetensi pertama: Leadership

Leadership merupakan kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin. Karena era society 5.0 menuntut para santri agar menjadi seorang pemimpin setidaknya bagi diri mereka sendiri.

Seorang pemimpin yang hebat tentunya berani mengambil keputusan yang kuat terhadap tantangan dan siap dalam situasi apapun, juga menghasilkan keputusan yang hebat serta berdampak bagi orang-orang yang ia pimpin.

Kompetensi kedua: Language Skills.

Language Skills merupakan kemampuan berbahasa asing khususnya bahasa Inggris yang perlu wujud di era society 5.0. Karena pada era itu sudah tidak ada lagi batasan dalam berkomunikasi lintas negara.

Sehingga Language Skills dibutuhkan untuk memudahkan menjalin komunikasi dengan berbagai macam orang diseluruh dunia. Paling utamanya ialah agar dapat mengoperasikan teknologi canggih yang prosedur penggunaannya menggunakan bahasa asing.

Kompetensi ketiga: IT Literacy.

Dimana era society 5.0 menjadikan teknologi IT sebagai penggerak utama. Oleh karena itu, santri era society 5.0 perlu memiliki kemauan mengembangkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan dengan menggunaka internet.

Dengan melalui internet, santri dapat memiliki pengetahuan yang tanpa batas dengan data yang dapat dicari dengan mudah.

Kompetensi keempat: Writing Skills.

Dengan kemampuan ini, akan mendorong santri untuk lebih kreatif dalam menciptakan karya-karya tulis yang berguna bagi khalayak umum, menuangkan ide-ide dan gagasan yang santri miliki.

Serta dapat menularkan pemikiran dan inovasi baru yang berguna bagi masyarakat era society 5.0.

Selain semua itu, ada tiga kompetensi lagi yang harus wujud dalam menghadapi era society 5.0, di antaranya (1) Problem Solving yaitu kemampuan memecahkan suatu masalah.

(2) Critical Thinking yaitu kemampuan berpikir kritis dalam memecahkan suatu masalah, serta (3) kreativitas yang tinggi. Keseluruhan kompetensi itu, dapat menjadikan santri sebagai pribadi yang unggul dan berdaya saing tinggi.

Selanjutnya pembahasan mengenai kurikulum pondok pesantren. Sistem kurikulum pondok pesantren dari pertama kali muncul hingga saat ini tidak pernah berubah, seperti halnya sorogan.

Sorogan adalah suatu metode pembelajaran yang mengasah keterampilan berpikir santri serta keterampilannya dalam menyampaikan hasil pemikirannya.

Hal itu secara langsung melatih kompetensi santri di antaranya Critical Thinking.

Baca juga: Ketika Santri Menghapus Luka Negeri

Dari hal tersebut menjadi bukti bahwa pihak pondok pesantren di Indonesia ikut mendukung santri untuk mempersiapkan diri menghadapi era society 5.0.

Pondok pesantren juga berperan mendidik santri dari segi moral agar tidak terdorong arus pergaulan negatif. Karena era society 5.0 merupakan era pergaulan tanpa batas ruang dan waktu.

Selain pihak pondok pesantren, pemerintah juga ikut berpartisipasi terhadap hal itu. Dengan bukti adanya bentuk kerja sama antara PBNU dengan KOMINFO untuk mengadakan kegiatan literasi digital bagi santri di bawah naungan NU.

Juga manambah empat kurikulum kecakapan, yaitu kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan keamanan digital. Kegiatan itu bertujuan untuk mempersiapkan santri menghadapi era digitalisasi.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa beberapa kompetensi yang telah disebutkan sangat penting untuk dimiliki para santri dalam menghadapi era society 5.0.

Namun semua itu akan menjadi sia-sia bagi diri mereka sendiri juga merugikan bangsa ini, apabila santri tidak ada kemauan untuk mengimplementasikannya.

Oleh sebab itu, peran santri sangat diperlukan untuk kemajuan bangsa Indonesia di era society 5.0, karena mereka adalah pemuda penerus bangsa.

“Selamat berjuang menghadapi era society 5.0”

Penulis: Akhmad Azlany Rusli, Santri Ali Maksum, bergelut dalam bidang Pendidikan.

Editor: Irfan Fauzi

Baca juga: Malas atau Santai: Melipat Ulang Makna “Ngaret” di Pesantren

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel