Malas atau Santai: Melipat Ulang Makna “Ngaret” di Pesantren

Malas atau Santai: Melipat Ulang Makna “Ngaret” di Pesantren

Yogyakarta – Almunawwir.com

Jika saya mengadakan pertemuan dengan teman sesama santri pukul 09.00, pasti mereka akan berkumpul sekitar pukul 10.00, atau bahkan 11.00. Kebiasaan ngaret ini terjadi hampir pada seluruh pertemuan. Entah sekadar ngopi, ngaji, bahkan saat event besar di pesantren sekalipun.

Seterusnya, yang merepotkan juga ketika pesantren mengadakan event dan mengundang tokoh-tokoh besar, memajukan jam rundown acara menjadi hal yang bersifat fardu ‘ain. Sebab memajukan jam rundown merupakan salah satu ikhtiar guna mengantisipasi ketelatan aktivitas acara.

Tidak heran santri anyar menganggap “isuk men acarane”. Tetapi berbeda dari kalangan santri senior yang sudah menguasai seluk-beluk pesantren, mereka pasti paham “halah iki ngono diajukno wektu e sejam.”

Baca juga: Ning Imaz: Berikan 4 Tips Ilmu Parenting Untuk Anak

Kejadian unik lain dari fenomena telat-menelat adalah Kiaine barang melu telat acara. Tidak jarang panitia acara ikut kebingungan melihat fenomena semacam ini.

Berawal dari telat-menelat, mencuatlah satu pola pikir kolektif dari parsialitas yang bersifat kasuistik menjadi stigmatiasi umum oleh orang Barat kepada para santri. Mereka menganggap tidak menghargai dan mencintai waktu.

Aktivitas pun terpecah menjadi produktif dan tidak produktif, penting dan tidak penting. “Produktif” dan “penting” menjadi tanda akan semangat mencari keuntungan ekonomi. Sedangkan nyantai, rileks, tenang, tidak mencari keuntungan ekonomi dinilai kegiatan tidak produktif dan bermanfaat.

Keramatisasi Waktu

Bagi beberapa orang luar (Barat) yang tidak pernah mukim di pesantren, pemaknaan “ngaret” sering dipandang sebagai bentuk kemalasan kaum santri dalam menjalankan aktivitas. Namun apa sebetulnya waktu?

Bagaimana awal mula standarisasi waktu secara internasional serta masyarakat luas bisa menyepakati seluruh aktivitas harus selaras tepat dengan arah jarum jam?

Menilik batang sejarah di Nusantara, standarisasi waktu itu tidak dapat terpisahkan dari menjamurnya praktik industri pada abad 19.

Baca juga: Komplek Nurussalam: Gelar Talkshow Inspiratif

Pembangunan besar-besaran Jalan Raya Pos Deandels (De Grote Postweg) yang membentang dari Banten (Anyer) sampai Jawa Timur (Panarukan) menjadi ikon permulaan industrialisasi.

Tidak lain dengan pembangunan rute kereta api di beberapa titik Nusantara. Sejak awal, pembangunan jalur kereta api oleh beberapa negara kolonial bertujuan agar pengiriman bahan mentah perkebunan menuju pasar Eropa menjadi efisien.

Belum lagi dengan sistem kerja paksa yang menyiksa nenek moyang kita dahulu. Pertumpahan darah dari kalangan pribumi terhadap proyek pembangunan industri kapitalisme, menjadi salah satu sumbangsih perajutan homogenisasi waktu.

Sebetulnya awal mula waktu ditetapkan berdasarkan aktivitas harian. Terstruktur sesuai corak lokal dan kontekstualitas budaya suatu daerah. Penganatomian waktu (satuan jam, menit, detik, milidetik, bahkan mikrodetik) ini mulai dari Konferensi Washington (International Prime Meridian Conference) pada tahun 1884.

Sejak itu waktu terbentuk menjadi satu standar universal-internasional. Otomatis pemecahan waktu dalam Greenwich Mean Time (GMT) menjadi ketat dan kaku.

Baca juga: Praktik Menghafal Al-Qur’an

Melihat alur sejarah di atas, mulai saat itu konsepsi masyarakat terhadap waktu berdiri independen dan abstrak, tendensinya pada kepentingan ekonomi oleh elit global. Setiap aktivitas yang cenderung nyantai, tenang, rileks, divonis sebagai suatu sikap “malas” atau “kegiatan tak penting”.

Tidak heran istilah “Time is money” tersiar luas, bahkan ketika kita duduk di bangku sekolah dulu.

Satu alur dengan konteks di atas, Syed Hussein Alatas dalam bukunya The Myth of The Lazy Native, juga memaparkan asumsi akan “kecepatan” (speed) menjadi simbol masyarakat modern di kemudian hari.

Semenjak “cepat” menjadi ikon dalam benak masyarakat modern, maka begitu mereka berhadapan dengan kebiasaan santri yang nyantai, rileks, dan tenang, dengan mudah mereka memvonisnya sebagai “pemalas”.

Baca juga: Gus Mus Perlu Waktu 3 Bulan Mengaji Surat Al Fatihah di Krapyak

Karena bagi mereka, setiap inci perputaran waktu harus diwarnai dengan kecepatan dan bertambahnya keuntungan ekonomi.

Ini bertentangan dengan orientasi santri yang tidak digerogoti pikiran “keuntungan modal” semacam itu.

Cara Santri Memaknai Waktu

Tentu jauh berbeda cara santri dan orang Barat dalam memaknai waktu. Harus kita ketahui, ada perbedaan mendasar tentang pemecahan waktu. Sebagaimana singgungan sebelumnya, masyarakat di luar sana memecah waktu dalam ukuran jam, menit, hingga sub terkecil.

Kalangan santri tidak seperti itu. Rerata kecenderungan santri adalah menilik ajaran-ajaran yang mereka terima dari Kiainya melalui kitab kuning. Santri memecah perputaran waktu cukup ke dalam perpindahan waktu salat saja.

Sebagaimana tercantum dalam kitab Matan Taqrib pada bab “Kitab Ahkam al-Salat” yang membeberkan perpecahan waktu salat:

(كتاب الصلاة)
الصلاة المفروضة خمس الظهر وأول وقتها زوال الشمس وآخره إذا صار ظل كل شيء مثله بعد الزوال والعصر وأول وقتها الزيادة على ظل المثل وآخره في الاختيار إلى ظل المثلين وفي الجواز إلى غروب الشمس والمغرب ووقتها واحد وهو غروب الشمس وبمقدار ما يؤذن ويتوضأ ويستر العورة ويقيم الصلاة ويصلي خمس ركعات والعشاء أول وقتها إذا غاب الشفق الأحمر وآخره في الاختيار إلى ثلث الليل وفي الجواز إلى طلوع الفجر الثاني والصبح وأول وقتها طلوع الفجر الثاني وآخره في الاختيار إلى الأسفار وفي الجواز إلى طلوع الشمس.

Pemaparan di atas turut dinafasi oleh keterangan Denys Lombard dalam buku Nusa Jawa. Ia menyebut masyarakat Jawa karena identik dengan menjamurnya kaum santri di kawasan tersebut:

Di Jawa, seperti di Nusantara pada umumnya, hari terbagi berdasarkan waktu salat; salat pagi (subuh), salat tengah hari (lohor), salat sore hari (asar), salat petang hari (maghrib), dan akhirnya salat malam hari (isya).

Baca juga: Ngaji Tanqihul Qoul: Mengaku Cinta, Apa Buktinya?

Bedug-bedug dari kulit kerbau yang masih terlihat di semua masjid yang masih kuno, meningkahi saat-saat penting dalam kehidupan masyarakat.

Saat salat sering ditetapkan dengan melihat tinggi matahari dan ada kalanya harus memakai beberapa hasil pengamatan yang sederhana, seperti pengamatan bulan, satu-satunya yang dapat menentukan tanggal akhir puasa.

Refleksifitas santri akan kesadaran ruang berimplikasi kepada kenyamanan beraktivitas, tidak terdikte himpitan perputaran jarum jam. Sebaliknya, himpitan waktu yang kaku dan tidak fleksibel, mencekik kesadaran masyarakat modern akan ruang yang sedang mereka tapaki.

Demikian juga dengan orang Barat yang menyuperiori dirinya sebagai golongan paling mencintai waktu.

Bagaimanapun kericuhan makna akibat persepsi tunggal harus melihat aspek historis. Karenanya pemanfaatan waktu tidak terlepas dari sepak terjang dinamikum industrialisasi dan kemajuan teknologi.

Jadi dimensi modernitas ini betul-betul menggigit ganas sayap pemaknaan terhadap “produktivitas”. Orang-orang Barat yang dengan mudahnya menilai nyantai sebagai pemalas, begitu keliru.

Padahal awal mula persepsi waktu adalah menyesuaikan kontekstualitas budaya suatu wilayah, bukan pembentukan tunggal secara makroskopis.

Tentu tidak semua santri pasti ngaret. Pengertian ngaret dalam uraian ini adalah muatan sikap santai, tenang, menikmati proses, dan hidup bahagia.

Bila makna ngaret sebagai pembenaran atas kemalasan menepati janji pertemuan atau lainnya, itu sangat tidak benar. Karena salah satu nilai ajaran orisinil Islam ialah tidak boleh melanggar amanah yang telah disepakati bersama.

___

Baca juga: Ngaji Ulumul Quran (10): Urutan Huruf Hija’iyyah

Afda Muhammad

Afda Muhammad

Afda Muhammad

Santri Komplek L Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak. Minat Kajian di Budaya, Gender, dan Politik

3

Artikel