KH. R. Abdul Hamid AQ: Waspadai Tiga Karakter Sumber Kemaksiatan

KH. R. Abdul Hamid AQ: Waspadai Tiga Karakter Sumber Kemaksiatan

Almunawwir.com-Setiap manusia pasti tak pernah luput dari dosa. Kendati demikian, akan selalu ada amalan yang bisa melebur kemaksiatan tersebut. Mustahil Allah tak menyediakan stok cadangan amal yang berpotensi besar menutup kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat hamba-Nya.

Kali ini, penulis kembali hadir dalam rubrik Khutbah Jumat, di mana tulisan ini nantinya menjadi pepeling bagi kita semua untuk selalu istiqamah melakukan ketaatan dan berupaya sekuat mungkin untuk menghindari jebakan-jebakan kemaksiatan.

Romo KH. R. Abdul Hamid AQ selaku khatib, di awal khutbahnya menyitir hadis populer yang juga dikutip Imam Nawawi dalam kitabnya, al-Arbain an-Nawawi, tepatnya hadis ke-18 yang berbunyi,

عن أبي ذر قال قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

Dari Abu Dzar, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya hal itu dapat menghapusnya. Bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik’

Sebagaimana anggapan yang mainstream kita dengar, bahwa manusia adalah tempatnya khilaf dan salah. Namun, dari hadis ini sekali lagi kita diberi notice oleh nabi untuk selalu menjaga diri (takwa) di manapun, kapan pun, dan dengan siapa pun kita berada.

Tak hanya sampai di situ, nabi juga memberikan solusi jika pada step pertama masih luput. Di mana meskipun sekuat tenaga menjaga diri untuk selalu terhindar dari maksiat, nyatanya masih juga lolos. Step kedua adalah tahapan recovery amal. Kondisi recovery (pemulihan) ini berupa amal-amal kebaikan yang berguna untuk menutup kemaksiatan yang sudah-sudah.

Step terakhir adalah upaya menjadi manusia sosial yang mampu memanusiakan manusia lain. Tak cukup hanya berlaku baik dengan Tuhan, seorang hamba juga harus berakhlah baik dengan sesama makhluk, sekurang-kurangnya dengan sesama manusia.

Meminjam istilah KH. Mustafa Bisri, bahwa manusia harus mampu mengkombinasikan dua macam kesalehan. Kesalehan ritual dan sosial. Keduanya harus berimbang sehingga setiap hamba mampu menemukan momentumnya sebagai manusia yang utuh, baik di hadapan tuhan maupun makhluk-Nya.

Upaya Menapaki Ketaatan

Beberapa upaya untuk menjadi manusia utuh di antaranya adalah selalu waspada dengan penyakit-penyakit hati yang menjadi biang terjadinya kemaksiatan lainnya. Suatu saat, nabi pernah ngendikan kepada para sahabat, bahwa ada tiga karakter yang menjadi sumber terjadinya kemaksiatan.

Tiga sifat itu ialah arogan (sombong), tamak, dan hasud. Sifat sombonglah yang menjadikan iblis tak mau sujud kepada Nabi Adam. Sifat tamak atau rakus menjadi sebab nabi Adam dan Hawa melanggar larangan Allah dengan memakan buah khuldi. Dan hasud (iri dengki) mendorong Qabil untuk membunuh saudaranya sendiri.     

عن ابن مسعود قال: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ثلاث هنَّ أصل كل خطيئة فاتقوهن واحذروهن: إياكم والكبر، فإن إبليس حمله الكبر على أن لا يسجد لآدم. وإياكم والحرص، فإن آدم حمله الحرص على أن أكل من الشجرة. وإياكم والحسد، فإن ابني آدم إنما قتل أحدهما صاحبه حسداً.

Ada tiga hal yang menjadi sumber terjadinya kemaksiatan dan kerusakan. Waspadai dan jauhilah. Jauhi sifat takabbur, sebab itu iblis tak mau sujud kepada Adam.  Tinggalkan sifat tamak, dengan itu Adam dan Hawa telah melanggar larangan Allah, memakan buah khuldi. Jauhi sifat hasud, karena itu membuat anak Adam, Qabil membunuh saudaranya sendiri.     

Hadis ini juga dikutip Abul Qasim al-Qusyairi pada sebuah karya monumental berjudul Risalah Qusyairiyyah sebagai upaya untuk menghindarkan manusia dari sifat dan sikap tercela. Di akhir khutbahnya, Buya Hamid juga mewanti-wanti agar tiga karakter ini jangan sampai menjangkiti hati, terlebih pada momentum mendekati pemilu seperti saat ini. Wallahu a’lam.

Baca Juga:

Editor: Redaksi

Abdillah Amiril Adawy

Abdillah Amiril Adawy

AbdillahAdawy

Santri Komplek Madrasah Huffadz 1

20

Artikel