KH. Said Aqil Siroj: Cerita Ulama sampai Konsepsi Ayat Al-Quran

KH. Said Aqil Siroj: Cerita Ulama sampai Konsepsi Ayat Al-Quran

Almunawwir.com-“Seupama tidak ada ulama, maka Islam hanyalah sebuah nama yang tidak ada artinya”, begitulah kutipan dawuh yang disampaikan oleh KH. Said Aqil Siroj saat mauizhoh hasanah dalam rangka Haul KH. Muhammad Munawwir ke-85.

Pernyataan Kyai Said tentunya menimbulkan tanda tanya besar dalam benak kita. Bukannya Islam itu ada sejak zaman Rosulullah yha? Bukannya islam satu-satunya agama yang diridhoi Allah? Bukannya Islam itu agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin yha ? Lalu mengapa beliau menyatakan kalau Islam hanya nama jika tanpa ulama?. Bukankah pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya akan menjadi sangat skeptis jika tidak dikaji dan dibahas lebih mendalam?

CERITA ULAMA QUR’AN TERDAHULU

Menilik kembali pada masa ulama terdahulu, yang ternyata mempunyai jasa yang sangat besar dalam jihad tarbawi dan ijtima’i. Jihad tarbawi merupakan jihad yang diarahkan untuk memerangi kebodohan yang marak dialami oleh masyaraakat muslim terdahulu. Yang pada hal ini, adalah memerangi kebodohan dalam membaca dan memahami bahasa Al Quran.

Sedangkan jihad ijtima’I merupakan istilah yang ditujukan dalam hal kebangkitan sosial dan kemasyarakatan. Dalam konteks ini mengarah kepada bagaimana ulama terdahulu memberikan pemahaman makna Al Quran kepada masyarakat awam. Kedua jihad tersebut pada akhirnya digolongkan sebagai jihad fii ‘ilmi sebab sebagian maksud tujuannya adalah untuk membangkitkan keilmuan masyarakat terdahulu.

Sebagai contoh, ulama terdahulu yang menggagas lahirnya titik penanda dalam huruf hijaiyah, Abul Aswad Ad-Duali. Beliau merupakan waadhi’unnuqod al-huruf (titik pada huruf hijaiyah). Ada lagi Imam Kholil bin Ahmad al- Farohidi yang menggagas lahirnya harokat pada huruf hijaiyyah. Tidak hanya sampai pada hal tersebut, ulama-ulama selanjutnya juga menggagas lahirnya ilmu tajwid dan ilmu ghorib untuk memperbaiki bacaan Al Quran. Yaitu Imam Abu Ubaid Qosim bin Salam.

Dari cerita Kyai Said, dapat dipahami bahwa tanpa adanya ulama tersebut, maka minim sekali kesempatan kita untuk menggapai muta’abbad bi tilawatih (mendapat pahala dalam membaca), lebih-lebih pada era transformasi digital, bukan mendapat pahala, malah nantinya qori’i lil qur’ani wal qur’anu yal’anuhu, yaitu mendapatkan laknat dari qur’an itu sendiri sebab membaca dengan tanpa ilmu. Na’udzubillah.

NAHWU SHOROF SEBAGAI PENYEIMBANG QUR’AN

Cerita-cerita ulama tidak hanya sampai pada itu saja, di samping pentingnya ulama penggagas ilmu bi tilawatil qur’an, kita sebagai muslim milenial tidak boleh hanya berfokus pada bagaimana cara membaca, bagaimana padanan tiap ayatnya apabila dirangkai, namun kita juga harus melek bahwa penting untuk memahami bagaimana hermeunetika terjemah Al Quran sehingga dapat mempengaruhi kita dalam bersosial. Maka dari itu dibutuhkan berbagai komponen ilmu untuk memahaminya.

Baca Juga:

Atas realita tersebut, lahirlah ilmu nahwu shorof. Sebab Al Quran jika ditelisik lebih jauh, mempunyai jenis ayat. Seperti ayat-ayat mutasyabihah, yang memiliki makna yang samar sehingga memerlukan pendalaman dan pengkajian yang lebih.

Misalnya pada potongan ayat “…innallaha bariiu minal musyrikiina wa rosuulih…” artinya, “Allah tidak akan melindungi orang musyrik dan juga Rosulullah.” Karenanya ayat tersebut salah jika dibaca rosuulih, tidak masuk akal apabila Allah tidak melindungi utusan-Nya, maka yang benar i’rob nya adalah rosuulah, yang merubah arti menjadi “Allah tidak akan melindungi orang musyrik, dan Rasulullah juga tidak akan melindunginya”.

Maka, bagaimana nasib umat islam jika tidak ada ulama penggagas ilmu Al Quran dan ilmu nahwu shorof?

Sekedar memahami ayat dan terjemahnya secara etimologi dan terminologi saja ternyata belum cukup, ulama terdahulu juga mengerahkan akal bayaninya. Yang kita tahu sebagai ijma’ dan qiyas. Bagaimana akal kolektif menghasilkan ijma’ konsesus sebagai produk akal dan pemikiran ulama. Qiyas tersebut nantinya ditujukan pada asilah-asilah di kehidupan sehari-hari. Seperti bagaimana cara berwudhu, berapa lama ketentuan haid, cara mandi besar, hukum-hukum air, dan sebagainya yang kaitannya dengan keseharian.

KH. SAID AQIL SIRAJ SAAT MENGISI MAUIDHOH DI PP. AL MUNAWWIR KRAPYAK

Dari situ lahirlah ilmu fiqih sebagai terobosan yang menjembatani pemahaman Al Quran dan hadits dengan keseharian umat muslim khususnya. Berbicara mengenai per-fiqih-an, ada sedikit cerita unik dari Imam Abu Ghozali, bahwa ada seorang fuqoha’ dengan seorang sufi yang bertengkar sebab divergensi pemahaman  antara orang yang solat saja namun tidak fasih bacaan qurannya, dan orang yang hanya fasih bacaan qurannya tetapi tidak melaksanakan solat.

Atas peristiwa tersebut, dapat dipahami bahwa keilmuan bersifat saling terkait satu sama lain. Terkait maksudnya adalah saling mengisi kekurangan satu sama lain. Tidak bisa berdiri sendiri, pun juga tidak bisa bercampur satu dengan lainnya.

PENTINGNYA PESANTREN CULTURE

Menurut Kyai Aqil, untuk dapat mendapatkan keseimbangan yang demikian, pesantren adalah jawaban paling relevan dan paling dibutuhkan. Pesantren mengandung sebuah rasa dan citra nahnul aghniya. Penuh akan kekayaan. Kekayaan yang dimaksud adalah Social Capital dan Culture Capital. Dilabel dengan kedua istilah tersebut tentu bukan tanpa sebab.

Social Capital, dilihat dari bagaaimana pesantren menerapkan cara bersosial yang tidak biasanya. Mengacu pada ayat “…Wa antumul a’launa inkuntum mu’miniin”, yang menjadi pegangan kaum muslimin saat perang uhud agar terbiasa menjadi pribadi yang tidak lemah dan tidak gampang kalah

Meskipun mendapat pukulan berat dan ancaman yang tidak berhenti, mereka tidak diperkenankan bersedih hati dan lemah. Sebab menang dan kalah adalah hal biasa yang termasuk dalam ketentuan Allah ( dikutip dari NU Online). Ini artinya, pesantren menjadi wadah yang sesuai bagi pergaulan yang mulai disetir oleh oknum luar. Pesantren menjadi jawaban atas kemunduran akhlak yang mulai marak.

Selanjutnya, adalah Capital Culture. Budaya pesantren yang mbedani juga merupakan media yang seharusnya dipertahankan. Seperti budaya barzanji, burdah, sintudduror, dan bandongan kitab kuning. Budaya-budaya yang demikianlah yang kemudian dapat digunakan sebagai branding sehingga dapat digunakan sebagai senjata untuk melawan arus digital yang sebagian besar memvalidasi pergaulan negatif.

Jadi, terbukalah pada dunia bahwa kita ini punya cekelan sejak dahulu yang tidak bisa hilang jejak kemasyhurannya, yaitu ulama. Darah ulama tidak selalu mengalir pada orang arab saja. Siapapun berkesempatan meneruskan perjuangan dan kehadiran ulama pada islam. Utamanya bagi seorang santri. Bahkan, seorang santri mempunyai fadhol lain yang disebut sebagai barokah. Bukan seberapa banyak, namun seberapa pandai kita, sebagai kaum muslimin sekaligus santri untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT.

Ayo bangkit, tunjukkan pada dunia bahwa kita adalah penerus muda tonggak ulama yang siap berkontribusi untuk agama, bangsa, dan negara !

Editor : Redaksi

Manazila Ruhma

Manazila Ruhma

Manazila Ruhma

Santri Komplek Q

7

Artikel

Artikel Terkait