Krapyak dan Sejuta Pesonanya

Krapyak dan Sejuta Pesonanya

… menjadi santri di krapyak adalah pengalaman yang ungkapannya tak terhingga. Waktu demi waktu yang saya tapaki suatu saat akan terhimpun menjadi manuskrip rindu yang mendalam…


doc. Media Al Munawwir                               

Oleh: Arina Manasikana*

Membicarakan krapyak dan sejuta pesonanya adalah satu hal yang baru mewakili satu pandangan seseorang saja. Karena bila orang-orang yang bergeliat di sana ditanya dan memberikan pendapat mereka, maka pesona “Krapyak” bukan lagi sejuta, melainkan berjuta-juta pesona atau mungkin pesona yang tak ternilai di benak dan di hati kita.

Bagi saya, membicarakan “Krapyak” bukan sekedar membicarakan tempat tinggal dan huru hara manusia menjejaki segala peraduan nasibnya, bukan pula sekedar berkunjung melihat ikon wisata di sana.

Karena itu jelas adanya dan tergolong biasa di mana saja. Tetapi lebih dari itu, yakni keistimewaan “Krapyak” itu sendiri.

Apa keistimewaannya? Suatu keistimewaan yang tidak hanya penduduk pribumi yang mengakui dan merasakannya. Tetapi juga oleh orang-orang dari berbagai penjuru negeri yang ingin berproses dalam suatu ruang dengan basis pendidikan keagamaan; yakni pondok pesantren.


Karena satu tempat itulah “Krapyak” terbilang istimewa. Orang yang sekali mendengar kata “Krapyak”, akan langsung muncul dalam benak mereka bahwa krapyak itu erat akan dunia kepesantrenan.


Saya berbicara tentang “Krapyak” sebagai seorang santri, yang telah mengikuti arus kepesantrenan 4 tahun lamanya.

Tepatnya di Pondok pesantren yang tergolong tua. Pondok pesantren Al-Munawwir, yang didirikan oleh Almaghfurlah KH. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad bin Hasan Bashori. Dulunya Krapyak merupakan kampung yang sepi, jauh dari keramaian.

Namun seiring berjanannya waktu, kini Krapyak adalah kampung yang ramai. Bahkan sudah sangat menyatu dengan kehidupan kota. Karena pondok pesantren krapyak berada ditengah perkotaan dan merupakan perbatasan antara kota madya dengan kab. Bantul.

Maka tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan pesantren krapyak juga tidak jauh dari kehidupan sebagaimana orang-orang berlalu lalang diluar sana. Mereka(santri) juga mengais berbagai pengalaman di luar mereka hidup di pesantren, tanpa melupakan kewajiban utamanya di pesantren, yaitu mengaji.

Pondok pesantren krapyak tergolong moderen, dan saya bangga menjadi bagian dari santri krapyak. Sebab para santri tidak melulu bergulat tentang materi keagamaan seperti kajian kitab kuning (bandongan,sorogan,madin) dan setoran hafalan. Mereka juga diberikan ruang kebebasan dalam berekspresi dan mendalami ilmu umum lainnya di luar ranah kepesantrenan.

Mengingat tantangan zaman semakin semrawut di era global ini, yang sepatutnya tidak membuat para santri malah membuta dan menutup telinga.

Sejurus akan hal itu, pesantren moderen sepeti krapyak justru akan membukakan pikiran para santri untuk merelevansikan keberadaan religiusitias pada ranah sosial yang lebih luas. Supaya santri juga memiliki kelenturan dalam bercengkrama dengan wajah-wajah dunia di luar dunia pesantren.

Meski begitu, pesantren krapyak tetap dikenal sebagai pondok pesantren Al-Quran. Artinya, pondok pesantren yang di setiap kompleknya tetap mengutamakan pengajaran Al-qur’an, seperti menghafal Al-qur’an atau pun mengaji Al-qur’an binnadzori. Mengingat pendiri PP Almunawwir adalah seorang Ulama besar ahli Qur’an.

Begitu indah suasana krapyak, seakan memiliki dunia sendiri. Dunia yang menguraikan rasa damai ketika ufuk mulai memekarkan cahayanya, menggiring bulir bulir kalam Nya bersahut-sahutan di antara komplek asrama yg saling berdempetan.

Kemudian suara-suara muroja’ah Alqur’an ba’da subuh yang menghias sunyinya udara pagi, memecah keheningan dengan lantunan kalam Ilahi. Kerap menepi di tempat-tempat sepi. Merekalah santri-santri yang mempersiakan diri untuk setoran hafalan pada bu Nyai.

Dunia yang memesona pula di sore hari dengan hilir para santri kesana kemari meriasi jalanan sepanjang jalan KH. Alimaksum.

Selagi senja belum pamitan, nampak asyik mereka berhamburan di pinggir jalan yang dipenuhi oleh para penjual makanan.

Tak heran, bila para pengendara di jalanan tersebut pasti terkena macet karena hiruk pikuk santri yang bertebaran mencari sumber kehidupan; yaitu makan.

Dan malam harinya, adalah dunia santri yang sesungguhnya. Malam adalah waktu yang terasa makin ramai bila berada di dalam pesantren. Karena kegiatan di luar pesantren sudah tidak diperbokehkan di malam hari(kecuali kuliah atau kepentingan mendesak).

Keramaian itu bukan membuat bising di telinga, melainkan keramaian yang tercipta dari kesibukan santri yang sedang mengaji. Itulah keramaian yang mendamaikan.

Para santri biasanya memulai segala aktivitas kegiatan di komplek masing2. Pada waktu inilah mereka menjalankan kewajiban utama mereka sebagai santri.

Bagi saya, menjadi santri di krapyak adalah pengalaman yang ungkapannya tak terhingga kata kata. Waktu demi waktu yang sudah saya tapaki suatu saat akan terhimpun menjadi manuskrip rindu yang mendalam. Begitulah.

Serba-serbi Krapyak, yang sesungguhnya masih banyak pesona yang belum terbuncah. Masih bagian kecil dari binar keindahannya.

*) Santri nurussalam Krapyak

baca juga : Santri Millenial : Oase di Tengah “Sahara” Media Sosial

 

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel