Makna Idul Adha: Ikhlas dan Percaya

Makna Idul Adha: Ikhlas dan Percaya

Almunawwir.com- Pada bulan Dzulhijjah, kita akan menjumpai sebuah peristiwa paling bersejarah dalam Islam. Yakni Idul Adha yang biasa dikenal sebagai hari raya kurban. Idul Adha atau hari raya kurban adalah ibadah yang dilakukan dengan menyembelih hewan tertentu seperti sapi, kambing, domba, dan unta sebagai bentuk rasa syukur seorang muslim terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Idul Adha merupakan hari untuk merayakan atau menghormati pengorbanan Nabi Ibrahim AS terhadap perintah yang beliau terima langsung dari Allah SWT. Seperti yang kita tahu dari sejarah iduladha bahwa peristiwa tersebut merupakan kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS beserta putranya, Nabi Ismail AS.

Di mana Nabi Ibrahim AS mendapat perintah langsung oleh Allah untuk menyembelih putranya sendiri yakni Nabi Ismail AS.

Walaupun Nabi Ismail AS adalah putranya, tetapi kalau sudah menjadi perintah langsung dari Allah mau tidak mau dengan hati yang sangat ikhlas dan penuh tawakkal, Nabi Ibrahim AS pun menjalankan perintah Allah yakni menyembelih putranya sendiri.

Baca Juga:

Dengan demikian, pelajaran yang bisa kita ketahui dari makna iduladha selain hari berkurban adalah tentang ikhlas dan percaya. Bagaimana Nabi Ibrahim AS ikhlas dan percaya bahwa yang beliau lakukan pasti Allah telah mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik sebagai balasannya.

Kurban Perasaan

Seperti yang sering dikatakan oleh orang-orang “kurbannya kurban perasaan”. Mengapa? Karena dari peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS kita tahu apa yang mereka rasakan. Berkurban dengan penuh perasaan dari hati.

Mungkin sebagai manusia biasa, yang masih berat akan keikhlasan menjalankan sesuatu pasti akan menolak untuk menjalankan perintah seperti Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan menyembelih putranya.

Nah, itulah yang dimaksud dengan “kurbannya kurban perasaan”. Di mana kita harus ikhlas dan percaya bahwa semua itu sudah menjadi kehendak Allah SWT untuk kita melakukannya. Selain berkurban menyembelih, kita juga mendapat feelnya mengorbankan perasaan walau itu berat.

Sumber Ilustrasi: KABAR24.com

Ikhlas dan Percaya

Ikhlas dan percaya bukanlah hal yang mudah. Nabi Ibrahim AS mempercayakan semua pada Allah dan merelakan serta ikhlas melepas Nabi Ismail AS. Berat memang antara percaya dan ikhlas akan yang dilakukan. Tapi yakinilah bahwa masih ada Allah SWT yang maha kuasa dengan segala hal yang dapat dikehendaki-Nya.

Di mana kita dilatih untuk ikhlas menempatkan sesuatu pada kepercayaan yang semestinya. Semua yang kita punya, semua yang kita rasakan nantinya adalah hanya sekejap dan merupakan titipan dari Allah SWT. Kita hanya diperintahkan untuk menjaganya, baik dari segi harta maupun sifat dan sikap.

Sedikit dari kita yang kuat dan paham akan  ikhlas dan percaya. Boro-boro dengan Allah SWT, terkadang dengan sesama makhluk pun kita susah akan percaya dan ikhlas terlontar dari diri kita. Perlu disadari bahwa semua ini merupakan milik Allah dan kita selayaknya patut dalam menjaga entah itu nantinya berupa perintah merelakan ataupun kehilangan secara tiba-tiba tanpa adanya suatu proses.

Dengan demikian pun, kita juga dilatih untuk tidak berperilaku bodoh atau ceroboh dalam bertindak. Apalagi dengan keegoisan. Karena apabila kita melakukan suatu hal dengan disertai sifat egois, maka akan dapat membutakan kita dalam hal keikhlasan atau merelakan sesuatu. Wallahu a’lam

Editor: Redaksi

Baca Juga:

Zia Zahra

Zia Zahra

ZiaZahra

8

Artikel