[Kebenaran Hadis Diragukan?] Memahami Akar Problematika Otoritas Hadis

[Kebenaran Hadis Diragukan?] Memahami Akar Problematika Otoritas Hadis

Almunawwir.com- Bagaimana bila selama ini riwayat hadis Nabi Muhammad Saw. semuanya dianggap sebagai hasil kreativitas para perawi dalam menyampaikan pesan-pesan Nabi? Tentu, pertanyaan tersebut sontak membuat heran, kenapa ada orang yang tidak percaya dengan otoritas hadis? Menjawab itu, kita perlu memulainya dari aspek bagaimana pribadi Nabi Muhammad dalam menyampaikan risalahnya.

Nabi Muhammad Saw. merupakan manusia yang diutus oleh Allah Swt. dalam menerima wahyu melalui malaikat Jibril untuk disampaikan kepada makhluk seluruh alam. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi terkadang diawali dengan sabda Nabi, petunjuk, atau tanpa sebab apapun.

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa apa yang terucap oleh Nabi tidak lain berupa wahyu. “wa ma yanthiqu ‘anil hawa. in huwa illa wahyun yuha” (dan tidaklah yang diucapkan Nabi itu (Al-Qur’an) atas dasar nafsunya. Melainkan itu adalah wahyu yang diturunkan kepadanya) [Q.S. An-Najm: 3-4].

Saat wahyu turun, Nabi segera memanggil sahabat penulis wahyu, seperti Zaid bin Tsabit (w. 45 H) untuk menuliskannya pada media tulis yang ada, seperti pelapah kurma, batu, kulit, dan sebagainya. Bersamaan dengan itu, Nabi melarang menulis sesuatu selain Al-Qur’an, hal ini berdasarkan riwayat yang berbunyi:

لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا إِلا الْقُرْآنَ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا فَلْيَمْحُه

Artinya : “Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Al-Qur’an, maka siapa saja yang menulisnya hendaklah ia menghapusnya”.

Riwayat ini merupakan bentuk kehati-hatian Rasulullah dalam proses pencatatan wahyu, agar para sahabat tidak keliru dan Nabi dapat memastikan setiap yang ditulis adalah wahyu Allah bukan selainnya (hadis).

Sumber: Islampos

Otoritas Hadis Pada Awal Islam

Dari sini dapat kita pahami bahwa perkembangan penulisan hadis pada masa Nabi belum memiliki peran penting sebagaimana Al-Qur’an, namun sejarah mencatat hanya beberapa sahabat yang menuliskan hadis-hadis Nabi, seperti Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash yang menulis hadis dalam sebuah shahifah yang dinamakan al-shadiqah. Kegiatan penulisan hadis mulai muncul secara resmi pada awal abad ke-2 yang diprakarsai oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz (w. 101 H).

Boleh jadi pencatatan hadis yang mengalami jeda panjang itu membuat sebagian kelompok mulai meragukan otoritas hadis, terlebih saat perang shiffin meletus (tahun 37 H), kelompok Islam mulai terpecah belah. Hal ini menyebabkan keberadaan hadis semakin tidak stabil karena banyaknya penyampaian hadis sebagai alat kepentingan politiknya (truth claim).

Baca Juga:

Pada penghujung abad ke-2, kelompok yang menolak otoritas hadis atau disebut inkar al-sunnah mulai muncul dan menolak hadis Nabi sebagai sumber hukum ajaran kedua. Mereka menyatakan bahwa satu-satunya sumber otoritas Islam adalah Al-Qur’an, sebab otentisitas Al-Qur’an tidak terbantahkan sampai sekarang.

Mengingat bahayanya kelompok itu, Imam Al-Syafi’i (w. 204 H) segera meluruskan paham tersebut dengan menjelaskan kedudukan dan fungsi hadis Nabi sebagai hujjah Islam. Beliau terkenal sebagai pionir dalam menyerukan otoritas hadis (nashirus-sunnah). Al-Syafi’i sebagai madzhab besar mendemonstrasikan bahwa umat Islam harus berpegang teguh kepada Al-Qur’an, sunah Nabi, dan sunah sahabat.

Upaya ini beliau lakukan untuk meluruskan paham-paham yang sudah menyimpang dari apa yang telah diwariskan Nabi dan para sahabatnya. Nabi Muhammad Saw. bukan sekedar penyampai risalah lalu perannya berlalu begitu saja, beliau merupakan representasi wahyu itu sendiri sehingga umatnya harus mengamati dan meneladaninya.

Kemudian peran beliau diperjuangkan oleh generasi selanjutnya, seperti muridnya, Imam Hanbali. Beliau mengembangkan Al-Qur’an dan hadis di madrasah-madrasah dengan mengikuti alirannya. Hal ini memberikan dampak positif bagi umat Islam, sebab kelompok yang meragukan hadis (inkar al-sunnah) tidak begitu kuat dalam penyebarannya, mereka hanya kelompok minor yang tidak memahami secara mendalam keniscayaan dinamika hadis.

Setelah itu, banyak kelompok yang mendudukan hadis sebagai otoritatif Islam setelah Al-Qur’an, tetapi terdapat sebagian kelompok yang tidak sepenuhnya menerima riwayat hadis. Kelompok Syi’ah misalnya, mereka yang mengklaim dirinya sebagai al-shautul-haq (suara kebenaran) hanya menerima riwayat hadis dari kalangannya sendiri, yaitu hadis-hadis ahlul bait Nabi dan enggan menerima riwayat para sahabat selain dari Sayyidina Ali.

Lebih jauh lagi, pada pertengahan abad ke-4 H para ulama hadis mulai merumuskan istilah-istilah hadis, salah satu pencetusnya adalah Abu Muhammad Al-Romahurmuzi (w. 360 H). Dimana secara garis besar hadis diklasifikasikan menjadi tiga: sahih, hasan, dan dha’if.

Pada umumnya para ulama menerima riwayat-riwayat hadis sahih atau hasan sebagai landasan hukum Islam, namun tidak sedikit para ulama yang menolak riwayat-riwayat hadis dha’if, seperti Al-Bukhari dan Muslim. Mereka menolak hadis dha’if karena banyak perawi atau redaksi hadis yang tidak sesuai dengan kriteria kesahihan hadis.

Kriteria kesahihan hadis tersebut adalah hadis harus bersambung kepada Rasulullah, para perawi berupa orang yang adil dan kuat hafalannya, hadis tidak terindikasi ‘illat (kesalahan perawi) dan tidak terindikasi syadz (kecacatan dalam periwayatan). Dengan syarat yang ketat itu, hadis yang tidak memenuhi kriteria salah satu saja akan turun statusnya menjadi dha’if.

Namun pada perkembangannya, sebagian ulama ada yang memperbolehkan menerima riwayat hadis dha’if dengan syarat bukan pada ranah akidah dan syariat. Hanya dalam ranah fadha’il al-a’mal (keutamaan amal), motivasi, dan manaqib. Di antara pendapat ini didukung oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Al-Ghazali, Al-Nawawi, dan lainnya.

Baca Juga:

Otoritas Hadis Pada Abad Modern

Sekitar abad ke-20, perdebatan dalam menolak otoritas hadis mulai mencuat kembali. Khususnya di Timur Tengah, seperti Turki, Mesir, India, dan Pakistan. Suatu hal yang wajar bila lonjakan tersebut muncul di negara tersebut, sebab di samping terpengaruh dari pemikiran barat, Timur Tengah merupakan daerah pusat peradaban dimana kepemimpinan Ottoman Turki berkuasa di sana.

Tokoh yang populer masa itu adalah Maulvi Abdullah Chakralawi di Punjab, India. Ia menyatakan secara terang-terangan penolakan hadis dan cukup Al-Qur’an saja yang menjadi sumber otoritatif. Ia mengemukakan alasannya berdasarkan Al-Qur’an surat Al-Nahl ayat 89 yang berbunyi:

Dan kami turunkan kitab kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (mulsim).

Selain Chakralawi, ada Khawaja Ahmaduddin di Amritsar, India yang meragukan integritas hadis,  disebabkan ada pengkhotbah yang menyebutkan hadis tentang Nabi Musa menampar Malaikat Maut. Baginya, hadis tersebut terkesan aneh dan tidak masuk akal. Akhirnya dirinya mulai meragukan keberadaan hadis, namun tidak begitu keras sebagaimana Chakralawi.

Di Asia Tenggara, tepatnya Indonesia dan Malaysia, setidaknya tercatat beberapa tokoh intelektual muslim yang menolak otoritas hadis, seperti Nazwar Syamsu di Indonesia dan Kassim Ahmad di Malaysia. Keduanya menganggap hadis merupakan sebuah kebohongan semata bukan berasal dari Nabi Saw. dan Al-Qur’an menjadi satu-satunya pedoman hidup.

Uniknya, kedua tokoh ini hanya menerima hadis yang sesuai dan sejalan dengan Al-Qur’an. Dalam artian, keduanya tidak sepenuhnya menolak hadis keseluruhan, hanya sebagian hadis-hadis yang mereka terima.

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa dinamika perkembangan hadis merupakan keniscayaan yang tidak bisa terelakkan, meskipun hadis lahir dua abad setelah penulisan Al-Qur’an, bukan berarti riwayat hadis tertolak begitu saja.

Para ulama terdahulu telah menyeleksi sebegitu ketatnya terhadap otentisitas hadis yang bersumber dari Rasulullah Saw. Buktinya, gerakan anti hadis dari abad ke abad tidak berkembang pesat sampai sekarang dan jarang sekali gerakan tersebut dikaji secara mendalam.

Hal ini menunjukkan bahwa hadis yang telah terkodifikasi merupakan hasil jerih payah para ulama dalam menyeleksi riwayat-riwayat yang sahih, dha’if, atau maudhu’ (palsu). Tentunya, dengan berkembangnya kajian ulumul hadis secara continue, kita dapat mendiskusikan kembali asal sumber suatu hadis serta melacak (mengkritik) aspek-aspek lainnya, seperti sanad, matan, kualitas perawi, biografi perawi, kontekstualisasi dan lain sebagainya.

Baca Juga:

Irfan Fauzi

Irfan Fauzi

IrfanFauzi

15

Artikel