MENILIK KACAMATA SEJARAH: PERISTIWA DIBALIK MALAM LAILATUL QADR

MENILIK KACAMATA SEJARAH: PERISTIWA DIBALIK MALAM LAILATUL QADR
Sumber: Pinterest

Bulan ramadhan memiliki malam yang istimewa, populer disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa malam ini terjadi pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Pada malam ini, banyak sekali peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sebagaimana di ketahui oleh kalangan umat muslim.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di malam lailatul qadr diantaranya yaitu turunnya Al-Quran dari lauhul mahfudz ke baitul izzah, sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-Qadr. Dalam tafsir Al-Misbah di paparkan bahwa proses penurunan Al-Quran terjadi sekaligus dan berangsur-angsur, demikian menguatkan terjadinya peristiwa penurunan wahyu pertama kepada nabi Muhammad S.A.W di gua hira, yang mana juga terjadi di malam lailatul qadr ini.

Tentu dengan adanya penyebutan ‘malam yang lebih baik dari seribu bulan’ di dalamnya terdapat sesuatu yang luar biasa, Allah telah melimpahkan pahala dan ampunan bagia siapa saja yang beribadah pada malam tersebut. Beribadah yang dimaksud tidak hanya i’tikaf, berdzikir sepanjang malam, tetapi bagi siapa saja yang menunaikan kebaikan. Seperti bekerja malam untuk menafkahi keluarga, menolong sanak saudara yang sedang kesusahan, juga kebaikan-kebaikan lain.

Lantas selain hikmah dari peristiwa mulia yang sudah terjadi, apa yang menjadikan malam tersebut di nobatkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan?

Dahulu, ada seseorang bernama Syam’un Al-Ghazi yang merupakan pejuang Allah dari Bani Israil, beliau memiliki pedang yang terbuat dari rahang unta. Barang siapa yang berani berhadapan dengannya, maka akan dimusnahkan oleh pedangnya itu termasuk orang-orang kafir. Dikisahkan pula pedangnya menjadi perantara Allah kepadanya untuk memberi makanan dan minuman, ketika beliau haus dan lapar.

Karena itulah Syam’un Al-Ghazi di buru oleh banyak orang kafir, sehingga mereka meminta istrinya untuk membantu membunuh suaminya. Setelah mengalami beberpaa proses percobaan, selalu saja gagal. Sampai Syam’un memberitahukan kepada istrinya, bahwa kelemahannya terletak di rambut beliau.

Saat hampir terbunuh dan Syam’un mengetahui muslihat dari istrinya, karena kegigihannya taat kepada Allah datanglah malaikat Jibril dan menanyakan apa yang beliau inginkan. Beliau menjawab “kekuatan Allah”, saat itulah hancur semua orang kafir dan istrinya bersama tiang-tiang bangunan.

Saat Rasulullah menceritakan kisah ini kepada para sahabat, kemudian beliau menyebutkan bahwa Syam’un melawan orang kafir selama 70 tahun. Kisah ini dikutip dalam kitab Durrotun Nasihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubawiy, dalam bab lailatul qadr.

Selain  kisah ini, ada suatu riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad S.A.W pernah di perlihatkan panjangnya usia nabi-nabi dan umat terdahulu, yang mampu beribadah selama ribuan tahun.

Dari kedua kisah diatas kemudian nabi meminta kepada Allah SWT agar umatnya dapat memiliki pahala yang sama seperti umat terdahulu, juga seperti Syam’un Al-Ghazi yang terus mengabdi di jalan Allah selama lebih dari 70 tahun. Maka turunlah surat Al-Qadr dan lahirlah malam yang lebih baik daripada seribu bulan yakni malam lailatul qadr.

Untuk itu, mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mencapai ridho-Nya dan terlahir kembali menjadi insan yang lebih berkualitas serta lebih merapatkan diri kepada tuhan.

Intan Amalia Anwar

Intan Amalia Anwar

Intan Amalia Anwar

2

Artikel