Metode Tafsir dan Prinsip Hermeneutika Menurut Ibnu Katsir

Metode Tafsir dan Prinsip Hermeneutika Menurut Ibnu Katsir

Almunawwir.com-Ibnu Katsir, yang bernama lengkap Ismail bin Umar bin Katsir al-Qursyi ad-Damasyqi adalah seorang hafiz, ulama, dan pemikir terkemuka. Ia lahir pada tahun 1300 M di Busra, Suriah dan wafat pada tahun 1374 M di Damaskus. Ibnu Katsir dikenal atas keahliannya dalam bidang hadis dan tafsir.

Ia adalah seorang ulama Syafi’i dan memiliki berbagai karya terkenal, termasuk Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Bidayah wa an-Nihayah. Ibnu Katsir juga dikenal karena kedalaman pengetahuannya dalam berbagai bidang keilmuan Islam, termasuk tafsir, hadis, fiqh, dan sejarah.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menggunakan berbagai metode, termasuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan ayat-ayat lainnya, hadis, pendapat para sahabat Nabi, dan para tabi’in. Ia juga diakui sebagai seorang ulama yang mumpuni dalam berbagai disiplin ilmu keislaman.

Baca Juga:

Dalam muqaddimah kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan beberapa prinsip hermeneutika (kaidah penafsiran) Al-Qur’an yang sebaiknya dipegang oleh seorang mufassir.

Menurut Ibnu Katsir, cara terbaik untuk menafsirkan suatu ayat Al-Qur’an adalah dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang lain. Dengan kata lain, jika suatu ayat kurang jelas maksudnya, kita bisa mencari penjelasannya di ayat lain yang jelas maksudnya. Ini disebut Tafsir Al-Qur’an bi Al-Qur’an. Hal ini berdasarkan firman Allah pada ayat 64 Surat Al-Nahl yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menjelaskan Al-Qur’an.

Kedua, jika tidak ditemukan penjelasan dalam Al-Qur’an, maka cara kedua adalah mencari penjelasan dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW. Karena Sunnah adalah bayan (penjelas) Al-Quran. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa Sunnah  sama kedudukannya dengan Al-Quran, yang membedakan hanyalah bentuknya saja. Oleh karena itu, Sunnah mempunyai fungsi menjelaskan Al-Quran.

Ketiga, jika tidak ditemukan penjelasan ayat tersebut dalam Sunnah,  langkah selanjutnya adalah merujuk pada pendapat  sahabat. Tentu saja, sebagai orang yang hidup di masa yang sama dengan turunnya Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW, para sahabat memahami betul konteks turunnya Al-Qur’an. Mereka adalah orang-orang jujur ​​dan juga dikenal sebagai ahli ibadah, sehingga pemahaman mereka bisa dipercaya.

Keempat, apabila ketiga langkah di atas tidak dapat memberikan kejelasan maka pada masa itu berkonsultasilah dengan ulama Tabi’in. Yang paling terkenal di antara mereka adalah Mujahid bin Jabir. Beliau adalah seorang ulama Tabi’in terkenal yang mempelajari tafsir di bawah bimbingan Abdullah bin Abbas, murid langsung Ibnu Abbas.

Mujahid diketahui hafal isi Al-Qur’an dan mempelajari seluruh tafsir Al-Qur’an dari Abdullah bin Abbas sebanyak tiga kali. Ia juga selalu mencatat setiap penjelasan Abdullah bin Abbas tentang setiap ayat Al-Qur’an.

Kelima, apabila keempat langkah di atas telah dilakukan namun makna suatu ayat masih belum jelas, maka penerjemah tidak boleh memaksakan penjelasan. Sebab menurut Ibnu Katsir, penafsiran Al-Qur’an berdasarkan pendapat sendiri tanpa dasar ilmiah yang memadai adalah haram.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang melarang umatnya menafsirkan Al-Quran menurut pendapatnya sendiri agar tidak terjerumus ke dalam neraka.

Keenam, meskipun demikian, seorang mufassir tetap diperbolehkan menjelaskan ayat-ayat hukum yang telah ia pahami dan merahasiakan ayat-ayat yang belum ia pahami. Karena setiap muslim wajib menjelaskan ilmu agama yang dipahaminya dan tidak boleh menyembunyikannya.

Ketujuh, selain itu Ibnu Katsir juga membagi ayat-ayat al-Quran ke dalam 4 kategori, yaitu

  1. Hukum halal-haram yang wajib diketahui oleh setiap muslim.
  2. Ayat-ayat yang maknanya dapat dipahami dari konteks bahasanya sendiri.
  3. Ayat-ayat yang hanya bisa dipahami oleh ulama.
  4. Ayat mutasyabihat yang maknanya hanya diketahui oleh Allah semata.

Oleh karena itu, setiap muslim harus berhati-hati dalam berinteraksi dengan al-Quran. Metode penafsiran Ibnu Katsir inilah yang kemudian menjadi pedoman penting bagi setiap penafsir Al-Quran. Dengan adanya urutan rujukan dan batasan tafsir yang jelas, diharapkan umat Islam dapat memahami Al-Quran sesuai petunjuknya.

Penulis: Sirliya Saidatus Tsaniyah

Editor: Redaksi

Baca Juga:

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel