Muharram Momen Santuni Anak Yatim, Pikirkan Baik-Baik, Jangan Salah Langkah!

Muharram Momen Santuni Anak Yatim, Pikirkan Baik-Baik, Jangan Salah Langkah!
Foto: Media Almunawwir

Bulan Muharram memang kerap kali dipandang sebagai bulan bahagia bagi anak-anak yatim, karena di bulan itu agama memberikan tuntutan sekaligus reward yang luar biasa bagi orang yang berderma kepada mereka. Namun, momen tersebut perlahan mulai bergeser seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Masyarakat yang ingin menunjukkan eksistensi melalui dokumentasi kanal-kanal media sosial terkadang melakukan hal yang berlebihan terutama dalam eksploitasi santunan anak yatim.

Santunan anak yatim pada asalnya merupakan kegiatan untuk bersedekah kepada anak yatim, baik dilakukan individu maupun kolektif. Tetapi sekarang kegiatan tersebut telah dibiaskan sebagai acara untuk menampilkan anak yatim di depan teman-temannya atau di depan umum, bahkan disuatu daerah sebelum anak yatim disantuni, ia diarak keliling kampung dengan diiringi marcing band. Entah kebanggaan apa yang diinginkan panitia ketika melaksanakan kegiatan itu.

Ironi semacam itu sudah sepatutnya kita renungkan kembali, sebenarnya yang kita santuni anak yatim atau hanya ego kita sendiri. Andai kita mencoba berganti peran, kita yang berada di posisi anak yatim tersebut apakah kita merasa dihargai dengan model acara seperti itu. Seperti halnya pesan yang disampaikan oleh KH. Anwar Manshur, seorang kiai alim Mustasyar PBNU, beliau berpesan bahwa “Kurang baik kalau menyantuni anak yatim dijadikan acara, kasihan mereka, nelangsa kalau dipertontonkan”.

Kita perlu menyadari bahwa membahagiakan anak yatim, tidak hanya tentang aspek lahiriah saja tetapi juga aspek bathiniyah. Mungkin yang ia butuhkan bukan tentang uang, makanan atau pakaian, jangan-jangan yang ia butuhkan adalah perasaan dihargai dan disayangi, serta dianggap setara dengan anak-anak lainnya.

Lantas harus bagaimana? mungkin itu yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya, hemat saya sudah saatnya kita bermuhasabah serta memberi contoh kepada lainnya, masih banyak cara mengemas acara santunan anak yatim dengan lebih baik, dan lebih mempertimbangkan psikis serta kesehatan mental anak yatim. Jangan sampai niat santunan yang baik menjadi berdampak kurang baik terhadap masa depan anak yatim itu sendiri berupa terganggunya mental dan menjadi tidak percaya diri di depan teman serta lingkungannya.

 

Oleh: Ahmada Rizqur Rohman (Santri Komplek PJ)

Editor : Abdillah Amiril Adawy

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel