Murajaah Kitab Kiai Ali, Shorof Wadhih sampai Hujjah Aswaja

Murajaah Kitab Kiai Ali, Shorof Wadhih sampai Hujjah Aswaja

Sejak pagi, tampak jalanan sekitar Krapyak lebih ramai ketimbang hari-hari biasanya. Banyak kendaraan luar kota memadati sekitar pesantren. Para santri dan warga sekitar terlihat sibuk kesana kemari menyiapkan berbagai rangkaian acara. Malam ini akan dilangsungkan prosesi haul Almaghfurlah KH. Ali Maksum ke-35.

Ketokohan KH. Ali Maksum sudah tak perlu diragukan. Pada masanya, putra Mbah Ma’sum Rembang ini pernah menjadi nahkoda utama Pondok Krapyak. Puncaknya, beliau diamanahi untuk menjabat sebagai Rais Amm’ PBNU tahun 1981-1984 sepeninggal KH. Bisri Syansuri.

dari kanan; KH. Bisri Syansuri (Denanyar), KH. Ali Maksum, KH. Mahrus Aly (Lirboyo), KH. Anwar Syaddad

Terlampau banyak jasa dan kiprah yang beliau tinggalkan bagi kita semua. Dari sisi manapun, Mbah Ali punya keistimewaan yang patut kita renungkan dan teladani. 

Pada tulisan ini, penulis ingin menampilkan sisi intelektualitas dan kebaharuan manajemen dalam mengelola lembaga pendidikan. Kecakapan beliau di bidang ilmu alat tak perlu diragukan. Sampai-sampai beliau dijuluki sebagai ‘munjid ‘berjalan. ‘Munjid’ adalah salah satu nama kamus bahasa Arab tingkat lanjut yang cukup komprehensif karya Louis Ma’luf dari Lebanon. 

Dalam beberapa referensi, Mbah Ali digambarkan sebagai sosok kiai yang peka terhadap modernitas. Beliau tidak menutup kemungkinan adanya inovasi baru dalam proses pembelajaran.

Secara praktek, beliau termasuk kiai yang mengadopsi sistem madrasi untuk pembelajaran di pesantren. Hal ini sudah beliau lakukan bahkan ketika masih di Tremas. Beliau juga memiliki konsep kaderisasi yang efektif, yaitu dengan mempercayakan para senior untuk mengajar santri-santri pemula. Selain itu, Kiai Ali juga melakukan inovasi terhadap materi ajar kepesantrenan.

Baca Juga:

Dari Shorof Wadhih sampai Hujjah Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Shorof atau yang awam kita kenal dengan “tasrifan” merupakan disiplin ilmu alat, termasuk salah satu cabang ilmu lughoh yang menjelaskan seputar bentuk-bentuk perubahan kalimat sesuai dengan makna yang dikehendaki.

Sebagai pengantar, sebelum ada shorof anggitan Kiai Ali, ada ulama asal Jombang yang juga membuat karangan serupa. Beliau adalah KH. Ma’sum Ali dengan Amtsilah Tashrifiyyah-nya. 

Untuk karya kedua ini, meskipun agaknya saat ini lebih masyhur ketimbang Shorof Wadhih (judul kitab Kiai Ali). Namun Kiai Ali punya sedikit koreksi yang nantinya menjadi pembeda dalam karyanya.

Metode shorof ala Kiai Ali Maksum merupakan terobosan yang beliau buat ketika masih nyantri di Tremas sekitar tahun 1927-1935. Temuan ini juga sudah pernah diujicobakan kepada para santri saat beliau diamanahi menjadi Direktur Madrasah Nizhamiyah di Pondok Tremas yang beliau dirikan bersama Kiai Hamid Dimyathi.

Ketika masa kebangkitan Pondok Tremas sekitar tahun 50an, metode ini dikembangkan dan disempurnakan oleh murid beliau sekaligus pimpinan madrasah Pondok Tremas, Kiai Harist Dimyathi dengan kitabnya دروس التصريف الترمسي (Al-Tashrif al-Tarmasi) dan menjadi salah satu ciri khas Tremas hingga kini.

Hal yang sama juga terjadi di Krapyak. Sejak diselenggarakannya sistem madrasah di Pesantren Almunawwir pada tahun 1946 yang mana Kiai Ali menjadi salah satu di antara pengasuhnya, metode ini diterapkan dan bertahan hingga sekarang. 

Lantas, apa yang menjadi ciri khas metode shorof karya Kiai Ali Maksum Krapyak?

Beliau beranggapan materi shorof yang tengah beredar itu memasukkan bentuk-bentuk klasifikasi kalimat yang sebenarnya tidak perlu. Seperti adanya kalimat yang tidak termasuk unsur pokok dalam pentashrifan, lalu ikut-ikutan di-tashrif. Seperti kata-kata ”فَهُوَ” dan ”وَذَاكَ”.

Merespon hal itu, beliau membuat formulasi baru praktis yang disusun dengan sederhana hingga lebih mudah dipelajari, efisien, relatif praktis dan fungsional. Model seperti ini juga berguna menjaga efisiensi waktu dan tenaga bagi santri ketika belajar.

Adapun perbedaan dengan metode pembelajaran shorof model Amtsilah Tashrifiyyah-nya Kiai Maksum Ali, Jombang ialah terletak pada pembahasan tashrif ishtilahiy, adapun dari pentashrifan secara lughawiy relatif sama. 

Beberapa perbedaan tersebut antara lain :

  1. Adanya pengklasifikasian secara tegas antara bentuk fi’il dan isim. Beliau mengawali dengan runtutan fiil (madhi, mudhari,dan amr), baru diikuti bentuk-bentuk isim.
  2. Pembuangan kata-kata ”فَهُوَ” dan ”وَذَاكَ” yang sebenarnya tidak termasuk unsur penting dalam pentashrifan, sekedar sebagai variasi;
  3. Tidak mencantumkan dalam pentashrifan beberapa bentuk (shighat) kata/kalimat yang dipandang kurang berfungsi dan jarang digunakan dalam penggunaan bahasa Arab sehari-hari, seperti mashdar mim (المصدر الميم) dan isim alat (اسم الألة).
  4. Tidak mencantumkan bentuk fi’il nahi (الفعل النهي) dalam pentashrifan, karena merupakan bagian dari pembahasan ilmu nahwu;
  5. Bentuk-bentuk kata yang ditashrif terdiri dari 8 unsur pokok yang secara urut terdiri dari sighot: a) fi’il madhi; b) fi’il mudhori’; c) fi’il amar; d) isim mashdar; e) isim fa’il; f) isim maf’ul; g dan h) isim zaman dan isim makan.

Latar Belakang Penulisan Hujjah Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Kitab Hujjah Ahlu Sunnah Wal Jamaah merupakan salah satu karangan fenomenal Kiai Ali. Kitab ini berisi ulasan terkait dasar dan dalil amaliyah warga NU. Ada sekitar delapan masalah yang menurut beliau perlu untuk dijelaskan ketika itu.

  • Kebolehan dan sampainya pahala bacaan Al-Qur’an, sedekah, dan amal-amal salih kepada orang yang telah meninggal.
  • Permasalahan salat qabliyyah jum’at
  • Talqin mayyit
  • Pelaksanaan salat tarawih
  • Metode penetapan bulan Ramadhan dan Syawal
  • Legalitas ziarah kubur
  • Nikmat dan siksa kubur
  • Ziarah ke Madinah (Makam Rasulillah SAW)

Menurut penuturan Romo KH.R Abdul Hamid AQ yang mana beliau juga pernah ngaji langsung kepada Kiai Ali, bahwa latar belakang penulisan kitab ini adalah respon muallif pada saat itu terhadap kelompok-kelompok sebelah (Muhammadiyah, Wahabi, Persis) yang menyerang dan meragukan dasar amaliyah yang dilakukan masyarakat NU.

Dalam muqaddimahnya, beliau dengan tegas menuturkan adanya kebutuhan mendesak bagi para penuntut ilmu di Krapyak dan selainnya akan pengetahuan masalah-masalah yang seharusnya tak perlu menjadi perdebatan yang begitu panjang. Begitu juga, kitab ini menjadi panduan agar umat tidak perlu ragu, waswas ketika menjalankan amaliyah-amaliyahnya.

Atas dasar itulah Kiai Ali membuat kitab ini dalam rangka mengedukasi dan memberi pencerahan kepada masyarakat NU, terlebih masyarakat akar rumput yang masih minim akan informasi tersebut.

Baca Juga:

Editor: Redaksi

Referensi:

Abdillah Amiril Adawy

Abdillah Amiril Adawy

AbdillahAdawy

Santri Komplek Madrasah Huffadz 1

20

Artikel