Ramadhan di Tengah Persimpangan Tahun Politik dan Era Post-Truth.

Ramadhan di Tengah Persimpangan Tahun Politik dan Era Post-Truth.

Bisa dibilang ramadhan tahun ini berada dalam posisi ter-sandwich, dijepit oleh dua masa yang fenomenal dan sedang hangat dibicarakan, yaitu era post-truth dan tahun politik.

Menyinggung tentang post-truth adalah suatu masa yang merepresentasikan bahwa realitas kebenaran bukan lagi tentang fakta objektif yang alat ukurnya dengan akal dan rasional, melainkan yang menjadi dominasi dalam membentuk informasi dan opini publik adalah dengan sensasi dan emosi.

Dengan kata lain, dikotomi benar atau salah, fakta atau hoax, nyata atau palsu adalah urusan belakang, yang terpenting dapat menyentuh sensasi atau emosi publik itulah yang dianggap kebenaran. Akibatnya, era post-truth seakan menciptakan kebenaran semu.

Mengenai tahun politik, terutama saat ini tahun 2024, dimana negara kita sedang menyelenggarakan pesta demokrasi lima tahunan dengan segala dinamika dan romantikanya adalah isu yang sedang berada dalam tensi hangat untuk dibicarakan. Praktik-praktik politik menjadi hal yang sensitif dan tentu tidak terlepas dari kepentingan praktis.

Bahkan sangat potensial menciptakan polarisasi dan diskriminasi intelektual akibat pilihan politik yang berbeda. Sungguh anomali, dimana orang Indonesia dengan slogannya “Bhinneka Tunggal Ika” sangat mungkin dipecah oleh polusi politik ini.

Menyingkap hadirnya dua masa fenomenal (post-truth dan tahun politik) yang menjepit momen Ramadhan saat ini sangat perlu untuk direfleksikan. 

Baca Juga: Berkah Ramadhan dan Semarak Agenda PKR Al-Munawwir

Berbagai konten-konten Ramadhan dengan format forwarded atau repost yang dibungkus oleh premis “dakwah” semakin ramai. Tidak lupa juga dibumbui semacam backsound islamic/arabic agar terkesan relijiyes (baca: religius). Ada juga yang dikasih topping foto-foto pribadi dengan starter pack sarungan atau gamisan.

Anehnya, konten dakwah-able semacam di atas lebih gurih untuk dikonsumsi nalar publik saat ini. Keabsahan dalil seakan termarginalkan dan terpinggirkan, yang terpenting bagaimana caranya dapat insight sensasional dan emosional. Seolah-olah ingin tampil sebagai individu yang peduli syari’at agama, tapi disisi lain menjadi budak algoritma. Seolah ingin tampil menjaga diri, tapi tujuannya masih haus akan validasi. Beginilah cara bermain post-truth. 

Sementara pada posisi yang lain, momen sakral Ramadhan juga menjadi bahan renyah untuk membangun narasi pragmatis demi kepentingan politik praktis. Banyak para elit-elit seolah mendadak menjadi agamis. Tidak lupa juga retorika netralitas dijadikan topeng untuk menutupi cara-cara culas. 

Sungguh ironis, karena memang adanya cawe-cawe politik sangat menggerus frekuensi ibadah di bulan mulia ini. Bahkan narasi provokatif-agamis disertai penghinaan dan makian terlihat masih eksis. Momentum ramadhan yang seharusnya digunakan untuk memperbanyak baca Al-Qur’an malah masih menjadi buzzer bayaran. Beginilah permainan politik.

Maka adanya fenomena yang telah menjamur sebagaimana uraian di atas menunjukkan bahwa semakin masifnya transisi informasi memungkinkan terjadinya pergaulan bebas dalam konteks keberagamaan. Wilayah agama yang seharusnya otoritatif dan normatif, kini telah disetubuhi oleh berbagai entitas tak bertanggung jawab. Akibatnya, kesucian agama ternodai oleh kepentingan-kepentingan ego yang tidak jelas, sehingga mengalami deprivatisasi. 

Dengan demikian, seharusnya bulan mulia ini menjadi refleksi dan kesempatan emas untuk memperbaiki kualitas beragama dan kuantitas amal kita. Menghindar dan menjauh dari segala praktik-praktik yang menghalangi hubungan transendental kita dengan Tuhan, dan merajut kemurnian jiwa kita dalam menyalurkan cinta kasih sesama manusia.

Sebuah waktu khusus dimana kita berupaya untuk mengembalikan metabolisme rohani dan penyegaran jiwa setelah selama sebelas bulan terlempar kedalam lingkaran kehidupan keduniawian.

Penulis: Ahmad Fatih Syarofuzzaman

Editor: Kavina Bi’izzika

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel