Semarak Haul ke-85: LBM Al-Munawwir Kembali Gelar BMQ

Semarak Haul ke-85: LBM Al-Munawwir Kembali Gelar BMQ

Almunawwir.com-Lajnah Bahtsul Masail PP. Al-Munawwir Krapyak kembali menggelar kegiatan Bahtsul Masail Quraniyyah sebagai salah satu rangkaian acara menyambut dan memperingati haul KH. Muhammad Munawwir ke-85. Kegiatan bahtsul masail ini diadakan sebagai media pemecahan masalah sehari-hari yang kaitannya dengan Al Qur’an.

Menelisik BM pada peringatan Haul sebelumnya, yang ternyata cukup unik. Sebab istilah Quraniyyah pertama kali digunakan pada kegiatan bahtsul masail tahun lalu dalam acara yang sama, peringatan haul dan khotmil quran. Keunikan tersebut hadir ketika di dalamnya dihadirkan cerita-cerita sang ahlul Qur’an, para Masyayikh Krapyak, khususon  almaghfurlah KH. Najib Abdul Qadir dan almaghfurlah KH. Zainal Abidin Munawwir yang dijadikan “Kitab Turats” oleh mushohih itu sendiri (berdasarkan pada liputan BMQ tahun sebelumnya).

Ini artinya pembahasan asilah-asilah yang kaitannya dengan al-Quran menjadi suatu ciri khas baru yang dihadirkan oleh kota tonggak ulama Al-Quran nusantara, Krapyak. Ust. M. Yunan Roniardian, sebagai penasihat, ngendika bahwa adanya kekhususan ini supaya arwah keilmuan dari Al-Munawwir lebih nampak dan menguar aroma wanginya. Alih-alih memunculkan ciri khas Krapyak, tentunya konteks Quraniyyah tidak bisa tidak diakui derajat pentingnya dalam Forum Bahtsul Masail Pesantren Indonesia.

Sedikit berbeda di tahun kedua pelaksanaan Bahtsul Masail “Quraniyyah”, pada tahun ini pembahasan lebih dijalurkan kepada asillah waqi’iyyah, diarahkan untuk memberikan solusi pada persoalan masyarakat awam. Tentunya tetap dengan persoalan utama adalah ahkamu tajwid wal qiro’at yang tidak bisa dihilangkan dalam pembahasan Quraniyyah. Sedikit pendapat dari Ust. Mabrur Barizi, bahwa Al Quran itu unik dan pelik, diperlukan rujukan fiqih yang lebih kompleks dibarengi banyak perspektif, banyak sudut yang dipertimbangkan, baik dari segi turats ulama maupun bagaimana musyawirin melihat asilah.

Walaupun majelis tahun sebelumnya, menurut salah satu peserta dua tahun berturut, Kang Izzul, peserta lebih sedikit dan mushohih serta perumus yang tidak banyak, tidak mengurangi insight  beliau dalam men-shohih-kan pembahasan yang kompleks dan membantu musyawirin  memecahkan masalah. Jika berbicara mengenai euphoria, mungkin tahun ini tidak lebih meriah, cenderung lebih sepi, tetapi dalam bobot pembahasan dari musyawirin dan mushohih satu level lebih baik dari sebelumnya, tentunya dan harusnya. Intinya bahtsul masail akan meningkat lebih baik setiap tahunnya”, ujar Kang Izzul.

Seperti yang telah dibahas di atas, bahwa ahkamu tajwid wal qiroat terus menerus menjadi asillah yang di “maskot” kan. Sama halnya pada BM tahun ini, membahas salah satu asillah yang mengarah pada kebenaran metode-metode qiroat yang telah tersebar di masyarakat, saail mengkhawatirkan adanya metode yang tasyaddud (berlebihan) dari seorang guru yang mengajarkan secara talaqqi.

Kekhawatiran itu muncul bukan tanpa sebab. Metode qiroat yang diajarkan tidak lain karena dalam prakteknya memiliki perbedaan dengan kitab-kitab tajwid yang dipelajari oleh saail yang dianggap kurang sesuai dengan sebab tasyaddud bi talaqqi tersebut. Setelah dibahas dari banyak perspektif dan berbagai rujukan, persoalan tersebut dinyatakan ma’fu (ditoleransi) selagi dalam lingkup ta’allum saja. Konsepsi ta’allum mengerucut pada majelis setoran atau sorogan saja. Sedangkan di luar kepentingan yang telah disebutkan, tidak dibenarkan.

Menilik asilah lain yang telah dibahas, pada realitanya masalah Quraniyyah yang kerap kali muncul menjadi sebuah urgensi yang harus terus diperhatikan. Karenanya perlu pembahasan dan pendalaman kembali sehingga nantinya ada suatu hasil yang diputuskan. Adanya putusan tersebut akan menjadikan kita lebih berhati-hati dalam membersamai Al Quran dan diniatkan sebagai wujud memuliakan Al Quran.

As a closing, sedikit kesan pesan dari peserta, besar harapan bahwa kegiatan BMQ ini kehadirannya jangan sampai patah, sebab yang patah akan sulit tumbuh, yang hilang akan sulit kembali. Terlebih pesan tersirat kepada santri Al-Munawwir, bahwa  Kekhasan Krapyak harus terus diharumkan dan dilanggengkan, dengan terus meng upgrade kualitas tholabul ‘ilmi, fadholnya pada masalah Quraniyyah wa ‘alaaqoot yang kedepannya akan menjadi bibit-bibit mubahhisin dan musyawirin muda yang me regenerasi punggawa-punggawa LBM Krapyak yang sudah sepuh.

Terlepas dari itu semua, membaca al Quran dengan tahu akan hukum dan keunikannya, bukankah akan menjadikan bertambahnya cinta kita kepada-Nya?

Baca Juga:

Editor: Redaksi

Manazila Ruhma

Manazila Ruhma

Manazila Ruhma

Santri Komplek Q

7

Artikel