Benarkah Rasulullah Hijrah pada Bulan Muharram?

Benarkah Rasulullah Hijrah pada Bulan Muharram?

Almunawwir.com-Banyak yang mengira bahwa hijrahnya Rasulullah Muhammad Saw. ke Madinah terjadi di bulan Muharram karena bulan itu adalah bulan pertama pada kalender Hijriah, yang mana kalender Hijriah menggunakan peristiwa hijrah sebagai patokannya. Namun sebenarnya Rasulullah tidak berhijrah pada bulan Muharram melainkan pada akhir bulan Shafar sampai pertengahan Rabiul Awal.

Seruan Hijrah

Ibnu Hisyam mengisahkan bahwa setelah turun ayat yang memperbolehkan berperang (QS. Al-Hajj: 39-41), kaum Anshar dari Madinah melakukan baiat kepada Rasulullah yaitu Baiat Aqabah kedua yang menyatakan loyalitas kaum Anshar dan siap untuk berperang mati-matian membela Rasulullah.

Setelah peristiwa Baiat Aqabah kedua, dan Islam berhasil menyebar dengan baik di Madinah, maka Rasulullah memerintahkan para sahabatnya di Makkah untuk berhijrah ke Madinah dan bergabung bersama saudara-saudara Anshar.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kalian akan memiliki saudara-saudara dan negeri yang akan menjadikan kalian merasa aman di dalamnya”.

Dua bulan lebih beberapa hari setelah Baiat Aqabah kedua, tak seorang pun dari orang-orang mukmin yang tersisa di Makkah kecuali Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Ali, yang memang diperintah untuk tetap tinggal di Makkah.

Ada pula beberapa orang lain yang ditahan orang-orang musyrik secara paksa di Makkah. Kaum kafir Quraisy yang mulai khawatir merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah.

Hijrahnya Rasulullah

Syaikh Al-Mubarakfuri mengisahkan bahwa setelah adanya kesepakatan tentang pembunuhan Rasulullah, Jibril turun membawa wahyu yang mengabarkan persekongkolan kaum kafir dan mengizinkan Rasulullah untuk berhijrah serta berkata “Janganlah engkau tidur di tempat tidurmu malam ini!”.

Rasulullah lalu mengajak Abu Bakar untuk hijrah bersamanya, kemudian menyuruh Ali bin Abi Thalib agar menggantikan beliau di tempat tidur. Rasulullah meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 Shafar menuju rumah Abu Bakar, lalu keduanya meninggalkan Makkah secara tergesa-gesa sebelum fajar menyingsing.

Rasulullah menyadari bahwa orang-orang Quraisy akan mencarinya mati-matian, dan jalur satu-satunya yang mereka perkirakan adalah jalur utama ke Madinah yang mengarah ke utara. Untuk itu beliau justru mengambil jalur yang berbeda, yaitu jalur yang mengarah selatan.

Beliau menempuh jalan ini sekitar 5 mil hingga tiba di sebuah gunung yang disebut Gunung Tsur lalu tinggal di sebuah gua yang bernama Gua Tsur selama 3 hari. Pada hari Senin, 1 Rabiul Awwal, Rasulullah dan Abu Bakar menyewa Abdullah bin Uraiqith sebagai pemandu jalan menuju Madinah dan jalan yang ditempuh adalah jalan yang jarang dilalui orang.

Baca Juga:

Berada di Quba’

Pada hari Senin, 8 Rabiul Awwal tahun ke-14 dari kenabian atau tahun pertama Hijriah, bertepatan dengan tanggal 23 September 622 M. Rasulullah tiba di Quba’. Rasulullah disambut oleh penduduk di sana. Beliau tinggal di rumah Kultsum bin Al-Hadm. Ali bin Abi Thalib yang semula ditinggal juga menyusul berhijrah dan bertemu Rasulullah di Quba’

Rasulullah berada di Quba’ selama empat hari, yaitu Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Di sana beliau membangun Masjid Quba’ dan shalat di dalamnya, inilah masjid pertama yang didirikan setelah masa nubuwwah (kenabian).

Pada hari Jum’at beliau melanjutkan perjalanan bersama segerombolan orang mukmin. Beliau sholat Jum’at di Bani Salim bin Auf yang berada di tengah lembah.

Muharram

Memasuki Kota Madinah

Seusai sholat Jum’at, Rasulullah memasuki kota Yatsrib. Sejak saat itulah Yatsrib dinamakan Madinah Al-Rasul yang kemudian disingkat dengan nama Madinah. Menurut perhitungan Syaikh Al-Mubarakfuri, waktu kedatangan Rasul di Madinah adalah pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun pertama Hijriah atau 27 September 622 M.

Kedatangan beliau di Madinah memulai era baru bagi kaum muslimin, di mana sebelumnya umat muslim ditindas oleh orang kafir Quraisy dan harus bersembunyi ketika beribadah, sekarang kaum kafir Quraisy tidak bisa mengganggu perkembangan Islam.

Rasulullah membangun sebuah komunitas masyarakat baru yang majemuk. Beliau membuat perjanjian yang dijuluki “Piagam Madinah” yang mengikat seluruh penduduk Madinah dengan ajaran Islam sebagai dasarnya dan Rasulullah sebagai pemimpinnya.

Pencetusan Kalender Hijriah

Perlu diketahui bahwa nama-nama bulan Hijriah sudah dikenal bangsa Arab jauh sebelum Nabi Muhammad lahir. Kemudian bangsa Arab biasanya menggunakan suatu peristiwa sebagai patokan tahun, seperti tahun Nabi lahir yaitu Tahun Gajah karena Makkah yang diserang pasukan gajah.

Pada masa Khalifah kedua, Umar bin Khattab, tepatnya 17 tahun sesudah hijrahnya Nabi, salah satu gubernur yaitu Abu Musa Al-Asy’ari mengadu kalau dia kebingungan karena banyak surat dari khalifah yang datang padanya tapi tidak ada tanggalnya, sehingga bingung untuk menentukan mana surat baru dan mana surat yang lama.

Khalifah Umar lalu mengumpulkan orang-orang pentingnya untuk berdiskusi merumuskan sebuah penanggalan agar tidak ada lagi kebingungan. Mereka berselisih dalam menentukan tahun pertama, ada yang mengusulkan tahun pertama adalah tahun Nabi lahir, ada juga usulan tahun Nabi wafat, lalu usulan tahun Nabi diangkat menjadi Rasul, dan juga opsi tahun di mana Nabi berhijrah ke Madinah.

Dari empat opsi ini, Khalifah Umar memutuskan hijrahnya Nabi sebagai tahun pertama. Beliau tidak memilih tahun kelahiran dan diangkatnya Nabi menjadi Rasul karena memang mereka masih berselisih tentang waktu kapan tepatnya Nabi lahir dan kapan wahyu pertama turun.

Sedangkan tahun wafatnya Nabi tidak dipilih karena tahun itu adalah tahun kesedihan bagi umat Islam. Dan tahun hijrahnya Nabi dipilih karena hijrah menjadi tonggak awal kejayaan umat Islam.

Kemudian permasalahan bulan pertama dalam tahun Hijriah, tentu saja ada yang mengusulkan Rabiul Awwal karena Nabi hijrah pada bulan itu, tetapi Khalifah Umar memilih bulan Muharram dengan alasan bahwa walaupun hijrahnya Nabi pada bulan Rabiul Awwal tetapi permulaan hijrah terjadi di bulan Muharram.

Beliau mengatakan bahwa wacana dan semangat hijrah itu muncul setelah beberapa sahabat membaiat Nabi (Baiat Aqabah kedua), dan baiat itu terjadi di akhir bulan Dzulhijjah. Dan bulan yang muncul setelah Dzulhijjah adalah Muharram. Karena itu Khalifah Umar memilih Muharram sebagai bulan pertama di tahun Hijriah. Wallahu A’lam

Editor: Redaksi

Muhammad Wahyudi Azzukhruf

Muhammad Wahyudi Azzukhruf

Muhammad Wahyudi Azzukhruf

4

Artikel