Metode Kang Muhid: Hafal Sekaligus Paham Maknanya

Metode Kang Muhid: Hafal Sekaligus Paham Maknanya

Almunawwir.com-“Saya ketika masuk pondok itu sudah saya niati prioritas Al-Qur’an, selain itu tidak penting” kata Muhid Bariruddin atau yang akrab disapa Kang Muhid ini, salah satu khotimin masyhuroh pada haflah khotmil Qur’an 2023 Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak Yogyakarta.

Kang Muhid tidak memiliki riwayat pernah menghafalkan Al-Qur’an sampai ia lulus S1 di AKPRIND Yogyakarta. Setelah bergelar sarjana ia diperintahkan bapaknya untuk menghafalkan Al-Qur’an, pada bulan Maret 2022 ia menjadi santri di Pondok Pesantren Almunawwir dan sejak saat itulah ia mulai menghafalkan Al-Qur’an.

Walaupun berangkat dari suruhan orang tua, Kang Muhid sadar betul bahwa Al-Qur’an itu tidak bisa kalau tidak dari diri sendiri, dari situlah ia menumbuhkan semangatnya untuk menghafal Al-Qur’an, dan dalam waktu sekitar satu tahun saja, ia sudah berhasil menghafal dan disimakkan 30 juz.

Saya tidak terburu-buru, saya hanya memaksimalkan apa yang menjadi pekerjaan saya”, tutur santri komplek GIPA tersebut. Kang Muhid menyusun metode sendiri yang dirasa cocok dengan dirinya, alih-alih di waktu pagi atau sore, Kang Muhid memilih menambah hafalan di waktu tengah malam dari jam 12 malam sampai jam 3 pagi. Sebagai patokan, ia juga lebih memilih menggunakan ruku’ daripada halaman.

Lebih hebatnya, santri bergelar sarjana teknik ini ketika sebelum menghafal ia memahami dulu secara penuh apa makna dari ayat yang dihafalkannya, jika ada suatu ayat yang belum paham ia menuliskan di mushafnya yang akhirnya menyebabkan mushaf miliknya penuh dengan coretan makna.

Baca Juga:

Kang Muhid benar-benar mendalami apa yang dihafalkannya, ia menuturkan seringkali merasakan panas dingin ketika memahami suatu ayat dan mengetahui keagungan ayat itu.

Sebagaimana yang terjadi pada santri-santri lainnya, halangan yang dihadapinya adalah ngantuk, males, dan kesulitan istiqomah dengan target dan metodenya sendiri. Halangan-halangan itu tersingkir dengan motivasinya yang ingin membuat orang tuanya bahagia, Kang Muhid bahkan membatalkan rencananya untuk menikah setelah lulus dari kuliah dan lebih memilih untuk menuruti keinginan orang tuanya untuk menghafal kalam Ilahi.

Motivasi yang dimilikinya juga didapatkan dari merenungi dawuh-dawuh Romo Kyai Muhammad Najib dan Kyai Mas’udi Fathurrahman yang selalu memakai kata “tekun” bukan kata “rajin”. Ia memahami hal ini bahwa rajin itu hanya waktunya ngaji ya ngaji waktunya begini ya begini, tapi kalau tekun itu seperti rajin tadi dengan ditambah dengan metode yang tepat bagi diri masing-masing seperti yang ia dipraktekkan.

Pesan dari Kang Muhid untuk para pembaca, “Apapun itu kalau diberi kemudahan itu ya dari Allah, saya ketika nambah itu pasti ngucap ‘Alhamdulillah, Alhamdulillah’. Kalau disyukuri kan bakal ditambah. Tapi kalau pas sulit, ketahuilah kalau menghafal Al-Qur’an itu sulit”. Kang Muhid juga berpesan agar tidak lupa bersyukur supaya tetap berada di rel bahwa semua anugerah itu dari Allah semua dan jangan sampai keluar dari rel itu.

Baca Juga:

Editor: Redaksi

Muhammad Wahyudi Azzukhruf

Muhammad Wahyudi Azzukhruf

Muhammad Wahyudi Azzukhruf

4

Artikel