Kembali digelar, (Sabtu, 2 Sya’ban 1438 H) Krapyak berkumandang Al Qur’an dimalam Sabtu wage, seiring awan yang yang cerah tanpa mendung ini menjadi semangat santri dalam mengikuti sebuah acara yang diadakan di Serambi masjid yang adem, ayem tur tentrem, membuat para santri nyaman mengikutinya.
Majlis Istima’il Qur’an Malem Sabtu Wage [doc. Mifta]
Sema’an Al Qur’an, merupakan kegiatan rutinan yang diselenggarakan disetiap bulannya, yakni pada malam sabtu wage. Kegiatan yang diadakan di Serambi Masjid Pondok pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, kegiatan ini dimulai ba’da Isya’. Kemudian diikuti oleh santri-santri pondok Pesantren Krapyak, baik dari Al Munawwir maupun dari Ali Maksum.
Kegiatan yang merupakan kegiatan untuk membumikan Al Qur’an Nusantara ini sudah menjadi agenda yang sangat penting bagi masyarakat santri. Selain untuk mengikuti acara rutian juga sebagai ajang untuk tahsinul Qur’an (membenahi bacaan Al Qur’an dengan cara menyimak para qori’ yang sedang bertugas membaca Al Qur’an).
Hal ini dapat mengintrospeksi apakah bacaan yang selama ini sudah sesuai dengan tajwidnya atau belum, juga sebagai salah satu cara mentakror/ mmengulangi hafalan Al Qur’an bagi Qori’, dengan meghafal ulang di depan para qori’ yang lain juga disimak oleh para santri-santri.
Sema’an Al Qur’an yang dimulai pada ba’da isya ini dilaksanakan hingga pukul 22.30. Sema’an menggunakan metode bergilir. Seusai dibacakan oleh Para Ustadz dan Santri Senior, satu qori memulai dengan membaca satu halaman. Kemudian dilanjutkan oleh qori’ yang lain secara bergantian, begitu seterusnya hingga selesai. [doc. Mifta]
Pagi-pagi, sekitar ba’da Shubuh, Lurah Pondok, Khalimatu Nisa mengumumkan mengenai hari ini, 18 April 2017, empat tahun lalu pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek Q kembali ke rahmatullah.
Seruan ke Maqbarah secara berjama’ah dari lurah, menyebar ke seluruh penjuru pondok. Cukup mendadak memang seruan ziarah ini, tapi bukan pesantren namanya jika santri tidak bersemangat untuk ziarah ke makam Kiainya.
Pesantren terkenal dengan sistem figure sebagai role of mode, dalam hal ini Kyai adalah figure tersebut. Baik model berfikir, berbusana, maupun cara berpendapat yang digunakan kyai dalam menanggapi problema masyarakat. Kiai begitu kharismatik, jika kita bertanya pada santri mengenai suatu hukum, maka jawaban yang sering kali keluar adalah jawaban yang pernah disampaikan pula oleh Kiainya. Begitulah santri begitu tawadhu’ dan menghormati guru besarnya.
Dalam catatan ini, saya tidak mengulas mengenai biografi beliau secara detail. Karena saya baru nyantri di Krapyak sekitar dua tahun. Saya mengetahui sepak terjang beliau lewat tutur kata Ibu Nyai, Asaatidz, maupun senior-senior di pesantren.
Saya yakin di balik berdirinya pondok, ada seorang yang rela berkorban demi pesantrennya, demi syiarnya Islam. Seperti yang dikatakan oleh Ustadz Maulidi dalam suatu pengajian bandongan, “mengapa tutur kata kiai selalu dikenang umat dari pada profesor atau doktor? Karena keikhlasan pada kiai, tutur katanya selalu diingat umat”. Begitu juga dengan pesantren ini, di baliknya ada aktor utama yang menjadi idola santri sekaligus umat. Dialah KH. A. Warson Munawwir.
Tradisi Peninggalan
KH. A. Warson Muanwwir adalah ulama yang produktif. Hal ini dibuktikan dengan hasil karya beliau, Kamus Bahasa Arab, yang diberi nama Al Munawwir. Kamus yang terbilang cukup fenomenal. Kelahirannya menggeser kamus sebelum-sebelumnya yang sering digunakan, yaitu kamus Al Munjid karya salah seorang orientalis asal Lebanon, Louis Ma’luf.
Sesuatu yang harus kita ketahui adalah menulis dapat menyebabkan umur bertambah. Dengan menulis, hasil belajar, berfikir, maupun membaca kita akan dinikmati oleh khalayak umum. Kiai Warson telah melakukan itu. Walaupun badan beliau bersemayam dalam tanah dengan iringan do’a tanpa henti dari santri maupun umat, tetapi hasil karya beliau tetap bisa dirasakan umat. Kamus karya Kiai Warson telah digunakan oleh jutaan orang dari dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan dalam buku biografi beliau karya santrinya juga menyebutkan jika kamus karya Kiai Warson tersimpan dalam perpustakaan di Vatikan dan digunakan oleh berbagai kalangan di Timur Tengah.
Untuk mencapai keberhasilan tersebut, jelas membutuhkan usaha yang tidak mudah. Usaha ini jelas tidak seperti usaha Bandung Bondowoso yang harus membuat seribu candi untuk Roro Jonggrang dalam waktu satu malam. Menulis, membaca, membuka lembaran-lembaran, dan menggoreskan pena dilakukan secara terus-menerus. Tak heran jika Aguk Irawan mengabadikan aktivitas Kiai Warson dalam bait-bait pusinya :
Lima dasawarsa mudawam membasuh debu Di antara saksi kertas yang senyap Lidah-lidah yang mengendap udara yang pengap Di antara doa dan kalimat jalalah Di antara papan peneduh dan karus marut arti kata O ia begitu hanyut bersama gelombang waktu Siang malam meratapi lembar demi lembar Tak henti memengang pena di sisa-sisa suara parau Intrik politik dan omong kosong kekuasaan O siapa yang tahu dan mendengar?
(Cuplikan pusii karya Aguk Irawan berjudul “ Suatu Hari, Ketika Engkau Pergi “)
Kiai Warson menulis kamus sejak tahun 1957, ketika berliau masih berusia 23 tahun, bahkan jauh sebelumnya. Jangan berpikir ketika itu Kiai Warson hanya menulis kamus tanpa melakukan aktivitas lain. Selain menulis kamus, beliau juga belajar kepada KH Ali Ma’sum, mengajar ngaji, juga aktif di beberapa organisasi. Bisa dibayangkan bagaimana beliau membagi seluruh waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat dan tidak sedikit seperti itu.
Kiai Warson dengan tradisi membaca dan menulis telah membuat namanya melambung dan dikenal umat, kamusnya terus dipakai jutaan umat hingga doa yang terus mengalir dari berbagai penjuru Nusantara. Sebuah karya telah memanjangkan usia seorang meski tubuh atau jasadnya bersemayam dalam tanah.
Seperti Imam Ghozali dengan Ihya’ Ulumuddinnya atau Syekh Ihsan Dahlan Al-Jampesei, ulama asal Kediri yang memiliki karya mendunia, kitab Siraj Al Thalibin dan Kiai Warson dengan kamus Al Muanwwirnya. Dengan demikian masih kah kita ragu akan dua tradisi yang selalu dilakukan para ulama? Iqra’ tsumma uktub !
Budaya tercipta dari sebuah kebiasaan hingga menjadi adat istiadat bahkan tidak sedikit menjadi sebuah “Hukum” wajib. Rasanya seperti pergi ke burjo, makan lalu merokok. Kurang mantap rasanya jika sehabis makan tidak merokok.
Merokok saja bisa dikatakan menjadi budaya, namun bukan sebuah adat istiadat. Ternyata budaya sendiri seperti mempunyai batasan, kira-kira kalau cocok dan pas boleh-lah menjadi adat istiadat. Berawal dari kebiasaan, budaya, hingga adat istiadat. Budaya di Indonesia, jangan tanya sudah berapa yang beraneka ragam.
Bahkan satu budaya saja bisa berbeda-beda namanya, namun substansinya sama. Masyarakat yang berbudaya berarti mempunyai kebiasaan, kebiasaan itu sendiri memunculkan sebuah nilai titik tertentu hingga menjadi simbol dan ciri khas masyarakat tersebut.
Dalam segi pemahaman standar budaya tidak memandang itu lurus dan bengkok (sesat) selama itu pantas, diterima menurut akal dan nyaman bagi masyarakat, ya sudahlah dilakukan. Tidak jarang mampu bertahan selama beratus tahun lamanya. Hingga melahirkan sebuah tradisi yang harus dilakukan bagi suatu masyarakat.
Budaya atau kebudayaan bersal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia.[1] Jika kita melihat kebelakang –masyarakat primitif– cenderung lebih melakukan suatu hal yang bersifat mistis dan di luar daya nalar.
Tetapi menjadi budaya dari generasi ke generasi berikutnya. Hingga masyarakat yang terbilang sudah berada di era modernisasi melakukan budaya tersebut, yang terlahir dari masyarakat primitif dengan daya nalar mistisnya. Itu semua dilakukan semata-mata menjadi sebuah budaya, tradisi, dan adat istiadat di masyarakat tersebut. Secara langsung dengan adanya sebuah budaya atau tradisi mereka dikenal dengan tradisinya.
Secara tidak langsung, menjadikan masyarakat tersebut hidup dalam keemasan, keanekaragaman dan terciptanya persatuan. Artinya mereka mempunyai nilai plus. Seiring berjalannya zaman, jauh sebelum ajaran samawi hadir di muka bumi. Budaya sudah terlebih dahulu menginjakan kakinya. Pada zaman Nabi Adam AS, manusia pertama di muka bumi terjadi suatu perkelahian pertama antara Habil dan Qabil.
Hingga pertumpahan darah terjadi yang merenggut nyawa. Maka salah satu di antara mereka melihat seekor burng gagak sedang menggali tanah yang hendak menguburkan gagak lain yang mati, lalu diikutilah hal tersebut olehnya, hingga sampai pada saat ini.
Lalu bagaimana Islam hadir di tengah kemajemukan budaya yang sudah merakarkan dirinya pada masyarakat. Jika kita melihat secara epistimologi islam sendiri, secara harfiyah sudah memberikan perdamaian dan persatuan. Kata Islam berasal dari “Aslama, Salima-Yaslamu” yang berdefinisikan selamat (dari bahaya), menghormati[2].
Jadi secara konsep Islam hadir di tengah kemajemukan budaya mengambil langkah kongkrit dan bijaksana. Yaitu dengan masuk dalam ranah budaya tersebut disertai nilai-nilai teologis dan historis. Hal ini sudah dilakukan oleh pendakwah di Indonesia yang kita kenal dengan “Wali Songo”.
Masyarakat di tanah Nusantara yang sudah kental dengan budaya dan tradisinya dijadikan sebuah jembatan para Wali Songo untuk menebarkan visi monoteis (ketauhidan). Tidak menghilangkan sebuah tradisi yang sudah lama berjalannya, karena jika Islam hadir dengan bermodal gagasan Wahabisme dengan takfiriyah-nya justru tidak akan mampu masyarakat Nusantara mampu menerima Islam.
Islam hadir laksana sebuah bohlam lampu yang mampu menyinari goa gelam, goa tersebut tidak dihancurkan untuk mendapatkan cahaya Bulan, melainkan dengan lampu kita bias nyaman dalam goa tanpa merusak goa tersebut.
Antara Islam dan Budaya
Sudah berjalan ratusan tahun Nusantara berkembang hingga menjadi negara Muslim terbesar di Dunia. Di sisi menjadi negara muslim terbesar, mempunyai kenanekaragaman suku, ras, budaya hingga Agama. Saat membicarakan Agama –pada era panas pilkada – agaknya menjadi terlihat sentiment. Agama menjadi sebuah alat untuk membenarkan sendiri tanpa memperdulikan orang lain.
Padahal agama sendiri mengajarkan tentang ukhuwah Islamiyah, kebhinekaan, toleransi dan kasih sayang. “Padahal orang yang membawa-bawa agama sebenarnya tidak mencerminkan dia beragama”. Kembali pada budaya dan tradisi, Nusantara pada era ini dihadapkan dengan beberapa kelompok ekstrimeisme yang memberlakukan Agama sebagai alat upaya untuk kekeuasan semata.
Dengan tujuan menghilangkan tradisi Islam yang sudah lama di Nusantara dengan dalil-dalil ala kadar mereka. Bid’ah, kafir, munafiq, hingga tidak sedikit mengatakan sesat. Menurut Prof K.H Agus Sunyoto budaya dan tradisi adalah sebagai bentuk symbol suatu masyarakat agar mampu mempunyai perdaban[3].
Dengan adanya peradaban maka nilai-nilai kebudayaan akan menjadikan masyarakat menghormati, mengkasihi. Negara Spanyol. Selama 700 tahun lamanya menjadi negara dengan Islam terkuat, tetapi setelah di babat habis oleh kaum-kaum nasrani.
Mulai dari tradisi, budaya, adat itu semua dibumi hanguskan hingga sekarang Spanyol tidak mempunyai peradaban Islam karena hilangnya tradisi dan budaya yang sudah ada lamanya. Hal ini yang menjadi patut di prioritaskan untuk terus menjaga tradisi dan budaya Islam di Nusantara.
Tradisi dan Budaya yang ada di Nusantara sebenarnya sudah sesuai dengan tuntunan dan tatanan koridor Islam. Jelas isinya, tujuannya dan kenikmatannya, seperti Tahlilan, Manaqiban, Diba’an. Dapat teh hangat dan berkat gratis contohnya. Sudahlah kita ber – Islam di Nusantara dengan menjunjung kbhinekaan dan penuh rasa toleransi dan menguatkan tradisi – budaya kita. Islam nya yang dulu-dulu aja, tidak usah yang sekarang, membid’ahkan.
Mbah Munawwir masyhur sebagai Ulama’ ahlul qur’an Besar Nusantara. Nama beliau tertulis abadi dengan tinta emas di hati para penghafal dan pecinta Al-Qur’an di Bumi Pertiwi ini. Sanad Al Qur’an di Nusantara, tidak bisa dilepaskan dari nama beliau.
Cucu KH. Hasan Besari ini, dibesarkan dalam lingkungan agamis. Sedari kecil beliau diasuh langsung oleh ayahandanya KH. Abdullah Rosyad dengan pemantik semangat hadiah sebesar Rp. 2,50—apabila dalam seminggu Munawwir kecil dapat mengkhatamkan Al-Qur’an sekali.
Begitu seterusnya, sampai beliau belajar ke Mbah Abdurrahman Watucongol, Mbah Sholeh Darat Semarang, Mbah Kholil Bangkalan Madura, Mbah Abdullah Kanggotan Bantul, hingga berguru dan Riyadhoh ke Makkah dan Madinah selama 21 tahun dan kembali ke Jawi, Yogyakarta tepatnya.
Menetap di Krapyak beliau mencoba menguri-uri pengajaran Al-Qur’an, hingga pada tahun 1911 M beliau mendirikan Pondok Pesantren Al Munawwir. Santri perlahan-lahan mulai mendatangi beliau untuk belajar Al-Qur’an.
Tapi lingkungan sekitar yang masih monoton, dirasa menyulitkan beliau, kondisi sosial masyarakat yang kurang bersahabat membuat Mbah Munawwir bekerja ganda. Selain mengajar Santri.
Beliau juga mendidik masyarakat dengan budi pekerti santri. Ritual-ritual keagamaan di pesantren, dilaksanakan pula dengan melibatkan masyarakat sekitar. Seperti Mujahadahan, Sema’an Sabtu Wage, Diba’an atau Barjanjenan, dan ritual keagamaan yang lain.
Barjanjen, Sejarah dan Hikmah
Dalam konteks ini, Tradisi Barjanjen—orang Jawa melisankannya—sendiri, merupakan salah satu wadah terbaik bagi Salik, untuk mengandai-andaikan hal-ihwal akhlak, sifat-sifat, laku Rasulullah SAW. Keistimewaan-keistimewaan dan berbagai peristiwa yang ditimpahkan kepada Rasulullah saw, pun beberapa hikayat tauladan bagi umat Islam.
Bahasa dan Sastra yang tinggi, menjadikan kitab ini enak dibaca dan dilagukan. Bahwasannya tembang –tembang yang terkandung di dalamnya merupakan realitas historis Muhammad sejak sebelum dalam kandungan sampai sesampainya beliau di-pamit-kan kepada sekalian umatnya oleh Allah swt melalui Malaikat Izro’il.
Al Barzanji sendiri merupakan kitab karangan Syaikh Ja’far bin Husain bin Abdul Karim al Barzanji. Syaikh kelahiran Madinah tahun 1690 M itu wafat tahun 1766 M. Barzanji berasal dari nama suatu daerah di Kurdikistan, Barzinj. Pada mulanya, kitab tersebut berjudul “Iqd al-Jawahir” yang bermakna Kalung Permata. Tapi lambat laun, tersohor dengan sebutan Al-Barzanji/Barjanjen.
Pagelaran Barjanjen ini seringkali dibarengi dengan pola-pola tradisi ritual keagamaan, pengajian, dialog keagamaan, dan lain sebagainya yang merepresentasikan buah cinta kepada Kanjeng Nabi. Seperti yang digelar di Keraton Yogyakarta dan Surakarta; Sekaten, Gerebeg Maulud di Demak, Panjang Jimat di Kasultanan Cirebon, sedang di Cekelet Garut; Mandi Barokah, dan lain sebagainya.
Pakaian Keraton dan Santri
Nah, di Sekaten Keraton Yogyakarta, Mbah Munawwir seringkali secara eksklusif diundang oleh Sultan HB IX untuk mengikuti peringatan Maulid Nabi saw. Menilik beliau punya hubungan genealogis dengan Keraton yang sangat kental. Dimulai sejak era Kakek beliau, KH. Hasan Bashari yang menjadi Ajudan Raja Jawa di Perang Jawa yakni Pangeran Diponegoro, sampai pada Mbah Munawwir meminang Nyai R. A. Mursyidah, istri pertama beliau dari Kraton Yogyakarta.
Karena kedetakan tersebut, dalam beberapa kesempatan, Mbah Munawwir, tatkala mendapat undangan dari Keraton, seringkali ditawari untuk dijemput Pasukan Kavaleri dari Keraton. Namun, beliau dengan baik-baik tidak segera menerima tawaran tersebut. “Kersaneingsun kale Santri-santri mawon, sareng-sareng mlampah ndugi Krapyak”. “Kebetulan Santri-santri saya juga pengen saya ajak”, beliau dawuh demikian dengan niat tidak menolak tawaran tersebut.
Mbah Munawwir memang sering mengajak santri-santrinya ketika ada undangan di Keraton, dan undangan yang lainnya. Santri yang diajak pun, tidaklah sama antara undangan satu dengan yang lain. Dalam urusan ini, beliau bisa dibilang menggilir para santrinya. Tidak jarang pula, banyak para santri yang mengharapkan ajakan beliau.
Hingga pada suatu ketika, sebelum berangkat, para santri yang masuk dalam daftar ajakan Mbah Munawwir, kumpul di depan Ndalem beliau.
“Loh, njenengan toh Gus”
“Loh kok njenengan Kang?”
“Loh awakmu toh Dul”
”Loh Cak, samean toh, bukane wingi samean meh nyilih duek na aku yo?”
Mereka para santri yang diajak ke Keraton untuk mengikuti Barjanjen, saling bertanya satu sama lain. “Loh Gus, punten, tasek dereng saget nyauri utang kulo”
“Gapopo Cak, Santai ae, penting do iso mangan”
“Bukane njenengan wingi bade nyambut duek teng kulo ngge Gus?”
Entah itu kebetulan atau bagaimana, mayoritas santri yang diajak Mbah Munawwir, adalah mereka yang terlilit hutang atau bahkan tidak memiliki uang sama sekali. Dan mereka menyadari hal itu.
“Mungkin Simbah mengetahui keresahan kita, Kang, Cak, Dul”.
“Nggeh Gus”.
“Setoran gak nambah-nambah, deresan yo keteteran. Sehingga beliau mendistribusikan kesejahteraan kepada kita, beliau mempraktekkan kaidah kadal faqru an yakuna kufron”.
“Hehehe”. Semua tertawa mendengar hal itu. “Pun mikir aneh-aneh Gus. Penting Syukur sik, pun dijak Mbah Yai”.
Tak berselang lama, Mbah Munawwir keluar dari rumahnya. Para santri yang berdialog tadi, terperangah melihat ketampanan Mbah Munawwir yang memakai pakaian dinas Keraton, berupa model Jas Laken dengan kerah model berdiri, serta dengan rangkapan sutera lengkap dengan ornamen kancing bersepuh emas, tentu dengan berblankon. Sehingga nampak lebih gagah, elegan dan terhormat. Menghoramati Nabi dan Raja.
“Ayo Le, berangkat”. Lamunan mereka hilang dengan suara ajakan Mbah Munawwir. [afrizalqosim]
*Inti cerita disarikan dari Dawuh Dr. KH. Hilmy Muhammad
Membaca dan menulis adalah kegiatan harian santri kapan dan di manapun. Dapat dikatakan bahwa kedua kegiatan tersebut adalah jendela untuk masuk ke dalam dunia literasi. Santri yang telah masuk ke dalam dunia tersebut bisa diibaratkan katak yang telah terbebas dari tempurung yang selama ini mengurungnya, ia bebas, ia dapat memandang dunia lebih luas, menjelajah dunia lebih jauh, dan bertutur-berlaku lebih bijak.
Dua kegiatan literasi tersebut dilakoni santri dari pagi hingga malam; membaca Al Qur’an (menambah -mengulang hafalan), menerjemah, mempelajari gramatika, kesusastraan, akhlak, hukum, kaidah hukum, tafsir, tauhid, dan lain-lain. Sebuah pertanyaan sederhana, apakah kegiatan seabrek itu benar dapat membuat santri melek literasi? Jawabannya bisa iya dan tidak. Orang yang menjawab “iya” mungkin akan menyebutkan Gus Mus, Gus Dur, Cak Nur, Mbah Sahal, Syekh Nawawi Al Bantani, Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi, dan lain sebagainya. Sedang untuk yang mengatakan “tidak”? Untuk apa mengenang orang yang tidak dikenal, aneh. Akhirnya, jawaban dari pertanyaan tadi adalah “iya”.
Meminjam makna membaca dari Seno Gumira Ajidarma; membaca yakni untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupannya, dari definisi tersebut, apakah santri bisa dikatakan sudah membaca dengan benar? Pertanyaan ini mau saya jawab “tidak” berdasar dalih, “kan jalan kesuksesan orang berbeda-beda, dunia literasi mungkin bukan keahlianya, toh masa depan tidak ada yang tahu”. Tapi kadang saya juga ingin menjawab “iya” dengan dalih, “takut tidak dapat barokah karena terlalu mengkritisi pesantren”.
Coba kita amati di sekitar kita, apakah santri yang menyukai (tanpa paksaan) dunia literasi banyak? Seandainya kita memakai ukuran pers santri untuk mengukurnya, bagaimanakah hasilnya? Jika Al Munawwir mempunyai Almunawwir.com, Kodama punya Damar, Kopontren punya Intuisi, Komplek L punya El Tasrih, Komplek Q punya Mak Q News, GP dan Hindun-Anisah punya Blog, apakah berbagai pers santri tersebut bisa dijadikan jawaban?
Salah satu keuntungan kegiatan jurnalistik adalah mempunyai kosa kata yang beragam. Melalui pendidikan literasi, santri bisa mendefinisikan berbagai perkara yang ditangkap oleh indera, bisa menyuarakan pendapatnya ke publik, sedang dalam lingkup yang lebih kecil santri dapat mengerjakan makalah kampus tanpa kopi paste. Mantap. Dosen pembimbing pun akan bangga.
Literasi yang dilahap santri selama ini banyak menyinggung masalah kemanusiaan. Seharusnya kajian-kajian seperti itu dapat membuat santri lebih peka sosial dibanding anti sosial. Contoh kecil jika ada sampah bertebaran di sekitar segera dibersihkan, bukan malah abai dan memilih mojok di kamar sepanjang hari cekikikan memantau dunia melalui smartphone.
Maraknya akun media sosial dan website radikal yang menyuarakan hoax dan propaganda sungguh sangat meresahkan. Akun dan website tersebut secara terang menyuarakan dakwah yang sangat vulgar. Bagi mereka kata-kata yang di-tabu-kan di kalangan pesantren menjadi sangat populer. Dalam tataran ini, literasi menjadi kunci untuk berdakwah melalui media dengan cara yang lebih halus dan mendalam. Tapi, selain berjihad melawan radikalisme, santri juga dituntut berjihad di negeri yang resminya sudah bebas dari buta huruf namun sebagian besar masyarakatnya belum bisa membaca dengan benar.
Alih-alih berdakwah, ngaji saja banyak bolosnya, termasuk saya. Duh-duh, dasar santri.
*Penulis adalah Santri Komplek Taman Santri Krapyak Yogyakarta
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara. Sekitar lebih dari satu abad pondok pesantren berdiri di tanah Nusantara. Dalam kurun waktu yang panjang, pesantren menghadirkan berbagai tradisi yang menjadi ciri khas pendidikan pondok pesantren.
Jurnalistik menjadi salah satu ciri khas pondok pesantren. Pada era keemasan jauh sebelum pondok pesantren ada, tradisi tulis menulis atau jurnalistik sudah menjadi ladang dakwah para Ulama Nusantara bahkan Ulama di negara lain.
Ulama terkemuka seperti Imam Ghozali (1058 M – 1111 M) dengan karyanya yang begitu fenomenal Ihya U’lumuddin, Bidayatul Hidayah, dan puluhan kitab lainnya. Hadhratus Syeikh K.H Hasyim Asy’ari (1875 M – 1947 M) dengan karyanya Adab al-alim wal Muta’allim fi maa yahtaju Ilayh al-Muta’allim fi Ahwali Ta’alumihi wa maa Ta’limihi, Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama’ah: Fi Hadistil Mawta wa Asyrathis-sa’ah wa baya Mafhumis-Sunnah wal Bid’ah, dan puluhan karya lainnya.
Badi’uzzaman Sa’id Nursi (1878 M – 1960) pada saat di penjara bukan menjadi permasalahan primer untuk terus menulis, menebarkan keadilan hingga sampai pada kitab fenomenal di Turki Risale-I Nur (El Shirazy, 2016). Menurut Zuhairi Misrawi salah seorang intelektual muda NU, tradisi pesantren adalah tradisi jurnalistik karena setiap yang ingin menjadi seorang Ulama haruslah memiliki karya atau tulisan,[1]
Memasuki era modernitas pondok pesantren lazimnya ikut maju dalam mengembangkan visi dakwahnya melalui pendidikan jurnalistik. Tidak tenggelam dalam alur kehidupan masa lampau, pada masa kolonial kaum sarungan dianggap sebagai orang yang buta akan modernitas, bahkan tertinggal jauh.
Argumentasi seperti itulah yang harus di hilangkan pada zaman ini, bukan berarti meninggalkan ciri khas pesantren tradisional tetapi menambahkan visi dakwah jurnalistik dalam tulis menulis. Hal ini sepadan dengan kaidah Ushul Fiqh ” al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik). Jika melihat alur kehidupan modernitas, hampir semuanya terikat dan tarkait dengan jurnalistik tertutama tulis menulis.
Sosial media sudah bukan menjadi tempatnya informasi, melainkan seperti sudah menjadi ladang jual beli untuk sebuah kelompok yang ingin menguasai. Haq dan bathil sudah tercampur adukan dalam ranah kehidupan. Dampak terhadap masyarakat tersebarnya rasa kebencian antara satu sama lain dan hilangnya rasa persatuan sesama golongan. Maka dari hal sinilah pondok pesantran harus berani melangkah maju ikut serta melalui juranlistik.
Jurnalistik (dalam) Islam
Secara teori kata jurnalistik mempunyai beberapa arti yang sama. Dalam literatur Barat sangat familiar pengertian mengenai jurnalistik.. Karena dari aspek nama sendiri sudah menuju arah Barat. Secara etimologis kata jurnalistik berasal dari kata journal atau du jour (bahasa Prancis) juga diurnal yang berarti catatan atau berita harian (Aceng, 1993).
Sedangkan secara terminologis, jurnalistik (pers) sering didefinisikan sebagai proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan peristiwa (berita) atau opini atau pandangan (views) kepada masyarakat luas. Karena umumnya berita dicetak dengan mesin cetak press, maka menurut Aceng Abdullah istilah “pers” sendiri juga digunakan untuk menyebutkan kegiatan yang sama dengan jurnalistik.
Kebebasan dalam jurnalistik sangat diperlukan untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya, yaitu menyampaikan dan menyebarluaskan informasi – apapun itu informasinya.- Namun, untuk menjaga kepentingan masyarakat banyak, khususnya masyarakat awam dan bahkan keselamatan Negara, maka dalam kebebasan itu hendaknya ada sebuah peraturan sebagai acuan atau pedoman dalam pelaksanaan kegiatan jurnalistik (Aminuddin Bashir, 2009)
Membicarakan jurnalistik Islam tentu memerlukan dasar-dasar teoritis dan kajian yang komprehensif. Namun bukan berarti tidak menjadi hal yang prioritas untuk di kaji. Setidaknya ada unsur-unsur sosial dan humanis bagi pondok pesantren yang sesuai dengan ajaran Islam. Jurnalistik dalam bahasa arab familiar dengan istilah Sihafah[2]. Namun bukan berarti hanya mempunyai arti tersebut, bisa seperti al-Ikhbar, an-Naba, dan lain-lain. Lalu bagaimana dengan jurnalistik islam sendiri? Melalui pondok pesantren yang mempunyai basis nilai-nilai keislaman serta mengaplikasikan Al-Qur’an sebagai sumber dalam etika jurnalistik.
Terkait dengan masalah ini , sumber-sumber normatif Islam, al-Qur’an, seperti yang ditemukan dalam (QS. al-Ahzab [33 ] : 70), mendorong orang untuk berbicara kebenaran jujur. Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan untuk menjauh dari prasangka yang akan membawa keraguan dan ketidakbenaran (al-Hujurat [49 ] QS. 12 ). Atau fitnah siaran berita dalam berbagai bentuk ( QS al-Nur [24]: 19). Selain itu, pembaca harus memeriksa kebenaran terlebih dahulu sebelum menerimanya (QS al-Hujurat [49]: 6) (Limmatus, 2014).
Langkah Komprehensif Pesantren
Pondok pesantren sepatutnya harus berani mengambil langkah dakwah di era serba modernitas. Teknologi yang kian terus maju, tetapi kurangnya rasa kesadaran berpikiran maju bagi beberapa pesantren. Akibatnya media yang kurang memahami betul antara Haq dan Bathil terus maju tanpa disertai dengan nilai-nilai keislaman yang cukup.
Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi yang terus berkembang pesat dari waktu ke waktu telah memunculkan realitas baru di tengah masyarakat dunia. Realitas baru tersebut adalah pasar bebas ide (free market of ideas). Semua itu ditunjang dengan teknologi informasi dan komunikasi. Semua orang berlomba memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang apa saja yang menyangkut hidup dan kehidupannya (Syah, 2012).
Perlunya langkah komprehensif bagi pondok pesantren melalui jurnalistik dalam dakwah era modernitas. Menghadapi itu, Sardar dalam bukunya Tantangan Dunia Islam Abad XXI: Menjangkau Informasi, mengemukakan gagasan tentang perlunya strategi umat Islam dalam menghadapi tantangan abad informasi.
Menurutnya strategi yang perlu dirumuskan, antara lain: pertama, sesuai dengan asas hikmah dan syura, negara-negara muslim harus mengembangkan lembaga-lembaga riset dan pengembangan. Untuk melepaskan diri dari negara-negara industri, mereka harus melakukan kerjasama dengan sesama negara muslim.
Kedua, sesuai dengan asas istislah, negara-negara muslim harus mengembangkan struktur informasi yang relevan bagi konsumen lokal dan nasional.
Ketiga, sesuai asas a’dl bagian infrastruktur yang didesentralisasi harus memberikan jasa untuk mengembangkan kemampuan berpartisipasi pada seluruh warga masyarakat muslim.
Keempat, berdasarkan prinsip ‘Ilm – yang didefinisikan sebagai pengetahuan distributive – komunikasi sains dalam umat harus digalakkan. Jurnalisme Islam harus diwujudkan dalam pemenuhan kebutuhan ilmuwan dan cendekiawan Islam.
Kelima, sesuai dengan prinsip syura dan ummah, diperlukan kerjasama para peneliti dan cendekiawan lewat jaringan informasi muslim internasional dan jasa informasi referensi Islam. Keenam, para cendekiawan dituntut tampil sebagai penjaga gawang peradaban Islam dan penyedia (pemasok) gagasan (Sardar, 1988).
Dalam gagasannya bukanlah hal yang mudah bagi pesantren untuk mengimplementaskannya. Jika di lihat dari presentase pesantren hanya segelintir yang sudah mengaplikasikan jurnalistik sesuai koridor Islam. Adil, tidak berbau sara, dan untuk kepentingan bersama.
Hanya beberapa pondok pesantren modern, seperti halnya Gontor, Ponorogo. Sampai saat ini pun masih kurang pesantren yang memperhatikan pendidikan Juralistik. Justru hal in yang menjadi momentum kaum Barat untuk menghancurkan dan mengadu dombakan dunia Islam. Seperti pada akhir tahun 2016 hingga sekarang, arus media yang begitu cepat dan pesat.
Di sinilah peran pesantren dalam jurnalistik yang mempunyai nilai-nilai Islam dituntut tampil sebagai wahana budaya tanding (counter culture) terhadap dominasi media Barat di era informasi global. Bahkan hal ini termasuk mempertahankan persatuan dengan tujuan membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Untuk kedamaian dan kesatuan bukti cinta persatuan.
Belajar Jurnalistik Sejak Santri
“Menulislah agar dipahami, bicaralah supaya didengar dan membacalah untuk mengembangkan diri” begitu salah satu dawuh Presiden ke-4 K.H Abdurrahman Wahid atau Gus Dur panggilan akrabnya. Menulis merupakan salah satu pembelajaran dalam jurnalistik. Pentingnya menulis menjadikan setiap insan abadi dalam kehidupanya.
Mulai dari membuat sebuah opini, syair, dan hikayat. Serta apa yang mampu menggoreskan pena dalam tiap lembaran-lembaran putih. Tokoh-toko intelektual muslim, seperti Cak Nur, Gus Dur, Gus Mus sudah belajar jurnalistik dalam masa santrinya.
Hingga sekarang tulisannya menjadi rujukan inspiratif kehidupan bagi semua kalangan. Menulis berdasarkan prinsip-prinsi Islam menjadikan moralitas Islam berkembang baik. Sejatinya santri mampu menerapkan keilmuan Islamnya dengan tulisan-tulisannya. Praktiknya, media (pers) Islam dalam aktivitas jurnalistiknya harus tetap dan senantiasa berpedoman pada landasan etis profetik yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits sehingga eksistensinya benar-benar bisa membawa kedamaian dan rahmat bagi semua.
“al-‘Ilmu shayyidun wal Kitaabatu qayyiduhu”
*Penulis adalah santri komplek Taman Sari
Daftar Pustaka
Aceng, A. (1993). Media Muslim : Sekarang dan Masa Depan. Jurnal Komunikasi Audentia, 65-66.
Aminuddin Bashir, d. (2009). Kebebasan Media Komunikasi Dalam Perspektif Islam. Jurnal Hadhari, 65.
El Shirazy, H. (2016). Api Tauhid, Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid. Jakarta: Republika .
Limmatus, S. (2014). Etika Jurnalistik Dalam Perspektif Al-Qur’an. ESENSIA, 161.
Sardar, Z. (1988). Tantangan Dunia Islam Abad 21. Bandung: Mizan.
Syah, H. (2012). Peran Jurnalisme Islam di Tengah Hegemoni. Jurnal Komunikasi Islam, 147
Kanjeng Nabi berkata : “mangke riyen malaikat (Nanti dulu malaikat). Tolong tanyakan kepada Allah SWT, nopo inggih ummat kulo mangke anggeripun bade sowan dicabute kados nggoten sakitipun? (Apa iya besok apabila ummatku akan dicabut nyawanya sakitnya seperti ini?)”
KRAPYAK, 7/4/2017, bertempat di Aula AB Pondok pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, berlangsung pengajian rutinan jumat pahing yang diadakan oleh Ibu Nyai Ida Fatimah Zainal, MSI–Pengasuh pondok putri Komplek R2 Al-Munawwir Krapyak. Acara yang diikuti oleh kurang lebih 100 warga yang mayoritas ibu-ibu lanjut usia ini dimulai tepat pada pukul 14.00 WIB.
Rutinan kali ini dibuka oleh Ibu Nyai Umi Salamah dilanjutkan pembacaan Sholawat Diba’ oleh grup hadroh Komplek R–Ar-Rahman, kemudian pembacaan Ratibul Hadad dan Tahlil.
Sedang Mauidzoh Hasanah disampaikan langsung oleh Ibu Nyai Ida. Dalam penyampaian dengan kekhasan bahasa jawanya, beliau mengatakan bahwa Kanjeng Nabi itu sangat sabar, berani menerima beban dan cobaan. Terutama untuk kesejahteraan dan keselamatan ummatnya. Di antara ribuan Nabi, beliau merupakan satu-satunya Nabi yang sangat cinta dan mencintai ummatnya.
Salah satu bukti bahwa Kanjeng Nabi sangat cinta kepada ummatnya adalah sewaktu Malaikat Izroil hendak mencabut nyawa Kanjeng Nabi, Kanjeng Nabi berkata : “mangke riyen malaikat (Nanti dulu malaikat). Tolong tanyakan kepada Allah SWT, Nopo inggih ummat kulo mangke anggeripun bade sowan dicabute kados nggoten sakitipun? (Apa iya besok apabila ummatku akan dicabut nyawanya sakitnya seperti ini?)”
“O nggeh mboten yaa Rasulullah, nek panjenengan wong Nabi utusan Allah kok. Nek ummat e panjenengan nggeh onten sek nangis njerit-njerit saking nahan lorone dicabut nyawane (Ya beda yaa Rasullallah, engkau itu Nabi utusan Allah SWT. Ummatmu ada yang sampai menangis menjerit-jerit, karena merasakan terlalu sakit ketika dicabut nyawanya,” jawab Malaikat Izro’il
“Suwunke dateng Gusti Allah SWT. Pertama, ummatku niki cilik-cilik menowo dicabut nyowone koyo ngoten mesakke, mangke nek mboten kuat, trus mboten saget moco syahadat pripun? Mangke dados su’ul khotimah. Nyuwun tulong diringankan sakitnya. Kedua, sakitnya ketika dicabut nyawa ummatku seluruh dunia dikumpulkan ke, aku saja yang menanggung semuanya”.
Subhannallah, begitu dahsyatnya bukti kecintaan Kanjeng Nabi pada kita selaku umatnya. Terlepas dari itu, di masa sekarang ini banyak sekali umat muslim yang melupakan pengorbanan baginda Rasullullah SAW.
“Pengorbanan Kanjeng Nabi itu sangatlah besar. Kita sebagai ummatnya, setiap tahun perlu memperingati peringatan maulid nabi, isra’ mi’raj dan nuzulul qur’an.
Tidak hanya sekadar untuk memperingati saja tetapi untuk mendengarkan lagi sejarah pengorbanan Kanjeng Nabi, agar kita menjadi lebih cinta kepada Beliau,” ujar Ibu Nyai Ida dengan tegas.
Beliau juga menyampaikan bahwa, ketika bulan Rajab setiap hari Jum’at, kita sebagai umat Islam yang beriman, dianjurkan untuk membaca Sayyiduna Ahmad shollallu’alaihi wasalam, Sayyiduna muhammad shollallahu’alaihi wasalam sebanyak 35 kali. Sabda Rasulullah SAW : barang siapa yang membacanya maka Allah SWT akan mencukupkan rejekinya.
Dan ketika 10 hari pertama bulan Rajab disarankan pula untuk membaca Subhanallah ahadus shomad 100 kali, 10 hari kedua membaca Subahanallah hayyul qoyyum 100 kali dan 10 hari terakhir membaca Subhanallah roufun 100 kali.
Setelah selesai membaca dilanjutkan dengan do’a yang khusyuk memohon kepada Gusti Allah SWT apa yang menjadi hajatnya. Yang memberi sehat, rejeki, umur, itu Gusti Allah SWT. Maka dari itu, kita harus meminta kepada-Nya. Meminta dengan sopan dan ngalembono kepada Gusti Allah. Demikian nasehat Ibu Ny. Hj. Ida Fatimah Zainal. (Sa’adah)
“Saya mengaji Fatihah dengan Mbah Arwani satu minggu selesai, tetapi dengan Mbah Qodir satu bulan, masyaallah. Kadang hati setengah jengkel (ngajinggaktambah-tambah), tetapi anehnya setiap beliau keluar dari pintu tengah, siap mengajar anak-anak pasti yang saya tatap adalah wajah yang ceria, senyum yang khas..plengeeh.. seakan hati saya disihir, lenyap rasa gundah saya. Saya jadi semangat untuk mengaji.”
–KH. Munawir Abdul Fatah (Anggota MUI Provinsi DIY) –
Mengemban Amanah
R. Abdul Qodir Munawwir, atau Romo Kyai Qodir, dilahirkan pada Sabtu Legi 11 Dzulqo’dah 1338 H bertepatan dengan 24 Juli 1919 M. Beliau adalah salah satu putraal-maghfur lah KH Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad (muassis Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta) dari istri pertama, Ny. R. Ayu Mursyidah, yang berasal dari keluarga Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Setelah KH. M. Munawwir wafat (1942 M), Romo Kyai Qodir meneruskan estafet tanggung jawab ayahandanya untuk mengasuh pesantren bersama sang kakak (KH. R. Abdullah Afandi Munawwir) dan adik iparnya (KH. Ali Ma’shum) dalam usia yang relatif muda, yakni 18 tahun.
Meskipun usia beliau masih relatif muda namun apa yang telah beliau dapatkan dari guru-guru beliau waktu itu sudah cukup sebagai bekal untuk meneruskan amanah berupa pesantren, khususnya dalam hal pengajian Al-Qur’an. Di antara guru-guru beliau ialah sang ayah sendiri, KH. M. Munawwir, dan KH. Dalhar Watucongol.
Di kemudian hari, mengenai hal ini, dikisahkan oleh KH. Umar Abdurrahman (Bantul) ketika mendampingi beliau silaturrahim ke kediaman almarhumKH. Abdul Hamid Pasuruan. Saat itu, menurut penuturan Kyai Umar, Kyai Hamid sempat mengatakan bahwa Kyai Abdul Qodir adalah sosok seorang putra yang sangat mengerti dan memahami keberadaan orangtuanya. Yakni mampu menyerap ilmu dari orangtuanya, mengabulkan apa yang menjadi harapan orangtuanya, dan mampu menggantikan serta meneruskan perjuangan orangtuanya. Dan satu lagi; mampu meneladani sifat-sifat serta kepribadian orangtuanya yang mulia.
Teman-teman seangkatan Romo Kyai Qodir sewaktu mengaji Al-Qur’an kepada ayahanda al-maghfur lahKH. M. Munawwir antara lain; KH. Arwani Amin Kudus, KH. Umar Abdul Mannan Mangkuyudan, KH. Umar Harun Kempek, KH. Ma’sum Gedongan, KH. Murtadho Buntet, KH. Badawi Kaliwungu, KH. Abdul Hamid Hasbulloh Tambakberas, KH. Ahyad Blitar, KH. Suhaimi Bumiayu, KH Zuhdi Kertosono, dan banyak lagi.
Romo Kyai Qodir menikah pada usia 25 tahun dengan Ny. Hj. Salimah Nawawi (Jejeran), diakadkan oleh al-maghfur lahKH. Muhammad Manshur (Popongan) yang merupakan mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyyah. Beliau dikaruniai 8 putra-putri, yakni; Fatimah (wafat waktu kecil), Nur Jihan (wafat waktu kecil), Nur Widodo (wafat waktu kecil), Ny. Hj. Ummi Salamah, KH. R. Muhammad Najib, Ny. Hj. Munawwaroh, KH. R. Abdul Hamid, dan KH. R. Abdul Hafidz.
Filosofi “Layang-layang”
Dalam periode Romo Kyai Qodir, pengajian Al-Qur’an diselenggarakan dengan menggunakan metode seperti yang ada pada zaman KH. M. Munawwir. Santri yang ingin mengikuti pengajian tahaffudzAl-Qur’an (bil hifdzi / bil ghoib) disyaratkan terlebih dahulu membacanya di hadapan Kyai dengan melihat mushaf (bin nadzri) dengan baik dan benar.
Untuk mencapai puncak keberhasilan dalam menghapal Al-Qur’an, yakni adanya pengakuan dari Romo Kyai Qodir, tidaklah mudah. Dalam hal ini beliau menerapkan standar yang cukup ideal. Santri yang disahkan dan beliau ijinkan mengikuti prosesi wisuda Khotmil Qur’an adalah santri yang sudah mampu membaca 30 juz dengan sempurna dalam posisi sebagai imam tunggal dalam shalat tarawih yang dilaksanakan selama 20 malam pada bulan Ramadhan. Hal ini merupakan ikhtiar beliau untuk mencetak penghafal Al-Qur’an yang tangguh.
Untuk mengetahui sejauh mana kelancaran hapalan santri, beliau biasa melakukan ujian mendadak. Di waktu dan hari yang tidak terduga, para santri diharuskan selalu siap menghadap beliau yang terkadang tidak mengajar mengaji seperti biasanya, yakni para santri menyetorkan hapalannya.
Tetapi, setelah tawassul Fatihah yang ditujukan kepada para guru dan para ahli silsilah sanad Al-Qur’an, beliau langsung membaca sebagian ayat atau satu ayat dari Al-Qur’an kemudian menunjuk salah satu santri untuk melanjutkannya. Hal ini beliau lakukan secara acak.
Beliau juga menerapkan program semacam ujian semester yang dilaksanakan pada bulan Rabi’ul Awwal dan Sya’ban menurut masing-masing juz yang sudah didapat dan disetorkan oleh para santri. Waktu itu, secara keseluruhan jumlah santri berkisar 70-80 orang yang dibagi menjadi beberapa kelompok.
Masing-masing kelompok terdiri atas 5 santri. Kalau beberapa juz yang sudah didapat ternyata tidak semuanya lancar, maka beliau memerintahkan untuk menyetorkan kembali beberapa juz yang belum lancar tersebut dan tidak diperkenankan menambahnya lagi.
Metode seperti ini dilandasi oleh filosofi “layang-layang” yang beliau terapkan. Seseorang yang hapalan Al-Qur’annya sempurna dan lancar diibaratkan sebagai layang-layang yang mampu terbang tinggi karena mendapat angin yang cukup.
Jika benangnya diulur lagi, ia juga akan bertambah tinggi. Sebaliknya, jika yang tidak sempurna dan tidak lancar hapalannya ibarat layang-layang yang kurang angin, sehingga walaupun benangnya diulur, ia tetap tidak akan mampu mencapai ketinggian yang diharapkan. Artinya, jika hapalan sekian juz sudah mantap dan lancar, tidak masalah jika akan menambah hapalan lagi. Namun bila hapalan masih kacau, tidak akan sempurna jika ditambah-tambah terus.
Pembimbing Para Hamilul Qur’an
Romo Kyai Qodir merupakan sosok yang memiliki disiplin dan keistiqomahan yang tinggi. Hal ini terlihat dari berbagai aktivitas yang beliau lakukan setiap hari. Di mulai dari jam tiga dini hari, beliau bangun, kemudian membangunkan salah satu santri (Kyai Umar) yang waktu itu ikut ndalemuntuk diajak shalat tahajjud.
Setelah menunaikan shalat tahajjud, beliau membaca Al-Qur’an hingga menjelang shubuh, dilanjutkan dengan membangunkan para santri untuk menunaikan shalat shubuh berjama’ah. Dalam membangunkan para santri, beliau selalu didampingi oleh Kyai Umar dan Kyai Hasyim Syafi’i (Jejeran). Kyai Umar bertugas membawa lampu petromak sedangkan Kyai Hasyim bertugas membawakan ember berisi air untuk menyiram santri yang masih tidur.
Setelah selesai dzikir pagi, beliau mengajar Al-Qur’an kepada para santri secara bil ghaib.Sekitar jam tujuh pagi, pengajian selesai. Kemudian beliau bersantai sejenak, lalu melanjutkan mengajar Al-Qur’an kepada para santri putri yang datang dari komplek utara (Nurussalam).
Sehabis Dzuhur, sekitar jam setengah dua siang, beliau melanjutkan kembali mengajar Al-Qur’an di masjid. Kali ini yang mengaji bersifat umum, ada yang menghapal (bil ghaib) dan ada yang tidak (bin nadzri), tidak hanya para santri tetapi juga masyarakat umum. Saai itu beliau didampingi dua asisten, yakni Kyai Ahmad Munawwir dan Kyai Zainuddin. Keduanya adalah adik beliau, satu ayah lain ibu.
Pengajian selesai sekitar jam setengah lima sore. Kemudian para santri menyiapkan diri untuk mengaji kitab di Madrasah Diniyyah. Sehabis Maghrib diterapkan program takror(mengulang hapalan) kepada para santri dengan model berpasangan, itupun tak terlepas dari pengawasan beliau. Setiap jam sembilan malam, beliau juga menyempatkan diri mengajarkan Qiro’ah Sab’iyyah,yakni ilmu tentang bacaan Al-Qur’an dan tata caranya menurut tujuh imam ahli qiro’ah, kepada beberapa santri tertentu.
Khusus pada bulan Ramadhan, pada setiap ba’da dzuhur sekitar jam setengah dua dan setelah shalat tarawih selama dua puluh hari beliau membaca Al-Qur’an secara tartildan estafet bersama para santri sambil disiak oleh para santri lain secara keseluruhan sebanyak satu setengah juz dengan dua pembagian waktu; yakni siang hari tiga perempat juz dan malam hari juga tiga perempat juz. Di sela-sela membaca Al-Qur’an beliau menyempatkan memberikan penjelasan kepada para santri perihal bacaan-bacaan yang terkandung dalam Qiro’ah Sab’iyyah.
Dalam bepergian, di sela-sela waktu dan tempat yang tidak terduga, beliau sangat biasa mengkhatamkan Al-Qur’an. Pernah suatu hari, beliau didampingi Kyai Hasyim Syafi’i bepergian untuk berziarah di sekitar Bantul. Berangkat mulai ba’da Ashar, dimulai dari makam Dongkelan kemudian meluncur ke makam Sewu.
Lalu beristirahat di kediaman kenalan beliau di Giriloyo pada sekitar jam sepuluh malam. Pagi harinya beliau melanjutkan perjalanan. Sesampainya di Gesikan, persis di musholla agak kecil, beliau mengajak berhenti untuk membaca Dzikir Tahlil dan doa Khotmil Qur’an. Baru setelah itu, beliau kembali ke Krapyak.
“Syim, bagi siapa saja yang hapalan Al-Qur’annya sudah lancar, dalam menjaga hapalannya (nderes) bisa dilakukan di manapun dia berada dan tidak harus sambil membaca dan duduk saja. Tetapi bisa dilakukan sesuai dengan keadaan, semisal sambil berjalan, rebahan, naik kendaraan, dan lain sebagainya.” pesan beliau kepada Kyai Hasyim sebelum meneruskan perjalanan menuju Krapyak.
Semasa hidup, di samping sehari-hari mengasuh pesantren, Romo Kyai Qodir juga mengisi pengajian di pelosok-pelosok kampung di Yogyakarta, termasuk sima’an rutin Ahad Pahing setiap bulan yang dilaksanakan secara bergilir dari satu tempat ke tempat lain di wilayah Bantul. Beliau juga aktif di Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama, menjadi Penasehat Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz Pusat, serta menjadi Anggota Majlis Pentashih Al-Qur’an.
Saking sibuknya mengabdikan diri untuk para santri dan masyarakat, sampai-sampai beliau tidak memedulikan kesenangan duniawi secara mendalam. Apapun benda dan berapapun banyaknya harta, beliau tidak pernah menghitungnya. Namun setiap kebutuhan hidup keluarga beliau senantiasa tercukupi, bahkan istri beliau, Ny. Salimah Nawawi, selalu diperintahkan untuk mengambil sendiri berapapun banyaknya yang dibutuhkan tanpa harus sepengetahuan beliau.
Mengajar dengan Keteladanan
Diceritakan oleh KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus, Rembang), bahwa beliau mengaji Surat Al-Fatihah kepada Romo Kyai Qodir selama tiga bulan. Sampai-sampai beliau seakan sakit hati karena santri-santri lain sudah khatam tetapi beliau masih saja Al-Fatihah. Setelah diusut, ternyata waktu itu, sang ayah (KH. Bisri Mustofa) menitipkan beliau kepada Romo Kyai Qodir secara sungguh-sungguh.
“Kyai, hari ini saya titip anak saya kepada Kyai. Tolong ajari anak saya bagaimana caranya membaca Al-Fatihah yang baik dan benar. Tapi ingat Kyai, kalau nanti shalat anak saya sapai tidak diterima oleh Allah subhaanahu wa ta’alalantaran fatihah yang Kyai ajarkan, saya akan tuntut Kyai nanti di Yaumil Hisab.” Ujar Kiai Bisri kepada Kyai Qodir.
Romo Kyai Qodir sangat memegang erat komitmen ini. Sehingga beliau benar-benar membimbing proses mengaji dan keseharian para santri dengan tegas dan contoh nyata berupa kedisiplinan, keistiqomahan, dan ketawadhu’an.
Beliau seringkali ikut mengaji bersama para santri kepada santri beliau sendiri, membawa dan ngesahi(memberi makna gandul) kitabnya sendiri dalam pengajian kitab-kitab kuning. Tentunya, santri yang dimaksud telah mendapat mandat dari beliau dan dianggap sudah mumpuni dalam mengajarkan kitab, seperti KH. Abdul Mannan (Malang) yang mengajar kitab Tafsir Jalalain atau KH. Hasyim Yusuf (Nganjuk) yang mengajar kitab Fiqih Fathul Mu’in.
Setiap kali mendapat undangan dalam berbagai acara, di manapun tempatnya, beliau senantiasa menyempatkan waktu untuk menghadirinya. Terlebih-lebih kalau pihak yang mengundang beliau berasal dari keluarga yang tidak mampu, beliau prioritaskan untuk menghadirinya.
Selain sangat menyayangi orang fakir, beliaupun sangat mencintai anak-anak yatim. Sebagaimana dikisahkan oleh KH. Abdullah Faqih (Temenggungan – Malang), ketika itu Kyai Faqih kecil beserta adiknya, Gus Najib, yang telah yatim, pertama kalinya tiba di Pesantren Al-Munawwir Krapyak untuk mengaji, didampingi sang ibu yang juga turut mengaji dan menetap di komplek utara.
Sesampainya mereka di depan gerbang pesantren, dan setelah ketiganya turun dari becak, nampak Romo Kyai Qodir berada di dekat gerbang bersiap menyambut mereka. Dengan rasa haru, sambil melambaikan tangan, beliau menyambut, “Ayo, ayo, mari ke sini anak-anakku, silakan, silakan..” Keduanya mencium tangan beliau dan beliaupun memeluk serta mengecup kening kedua anak yatim ini dengan penuh kasih sayang.
Adapun santri-santri yang pernah mengaji Al-Qur’an kepada beliau di antaranya adalah; KH. Ahmad Munawwir (adik) Krapyak, KH. Mufid Mas’ud (adik ipar) Sleman, KH. Nawawi Abdul Aziz (adik ipar) Ngrukem, K. Muhdi Tempel – Sleman, KH. Jawahir Sewon, KH. Ali Harun Sewon, KH. Umar Abdurrahman Bantul, KH. Bilal Kulonprogo, KH. Hasyim Syafi’i Jejeran, KH. Munawir Abdul Fatah Krapyak, Ny. Hj. Walidah Munawwir Ngrukem, KH. Shohib Demak, KH Shodiq Purworejo, KH. Ahmad Djablawi Klaten, KH. A. Mustofa Bisri Rembang, KH. Ahmad Husnan Pekalongan, KH. Abdullah Demak, KH. Munawwir Kebumen, KH. Ardani Mangkuyudan, KH. Ibnu Hajar Wonosobo, Ny. Hj. Shofiyah Syafi’i Purworejo, K. Munawwir Klaten, KH. Sofyan Nganjuk, KH. Syafi’i Abbas Banyuwangi, KH. Masduki Abdurrahman Jombang, KH. Abdul Mannan Malang, KH. Dahlan Basuni Surabaya, KH. Ridhwan Abdul Rozaq Kediri, KH. Abdullah Faqih Malang, KH. Ali Shodiq Tulungagung, KH. Umar Pare, KH. Musta’in Malang, KH. Yusuf Hasyim Nganjuk, KH. Muhtarom Sya’roni Blitar, KH. Ahyad Blitar, KH. Maftuh Afandi Ngawi, KH. Khoiruddin Pare, KH. ‘Ashim Ma’lum Tulungagung, KH. Misbah Ahmad Sidoarjo, KH. Misbah Zainuri Kediri, KH. Murod Sampang, KH. Sulthon Jombang, NY. Hj. Zuhriyyah Mundzir Kediri, Ny. Hj. Aminah Blitar, KH. Masduki Mahfudz Malang, KH. Thoyyib Ghozali Surabaya, KH. Manshur Sampang, KH. Rosyad Thoyyib Sampang, KH. Suhaib Syukur Pasuruan, KH. M. Umaerah Baqir Bekasi, KH. Amin Siraj Cirebon, KH. Syarif Husein Tasikmalaya, dan masih banyak lagi.
Khotmil Qur’an Terakhir
Dalam perjuangan dan pengabdian beliau terhadap keluarga, para santri, dan masyarakat, tidak terasa ternyata beliau terserang diabetes melitusyang mengakibatkan kesehatan beliau menurun. Meskipun beliau hanya mampu berbaring, pengajian Al-Qur’an tetap berlangsung seperti biasanya. Hingga pada akhirnya kondisi beliau betul-betul berubah drastis dan semakin parah, sehingga mengharuskan beliau dirawat di RS Panti Rapih.
Menurut Pak Mastur (Kretek – Bantul), Romo Kyai Qodir sebenarnya tidak berkenan dirawat di rumah sakit, begitu pula keluarga beliau. Dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yakni wafat di ruah sakit. Namun setelah mendapat penjelasan tentang penyakit yang beliau derita dari dr. Yasin dan arahan dari KH. Ali Ma’shum, akhirnya beliau dan keluarga berubah pikiran.
“Perlu kalian semua ketahui, bahwa iman itu tidak terdapat di rumah sakit, tetapi iman itu ada di sini…”
(Kyai Ali memegang dadanya)
“…sekian banyak orang yang datang ke masjid tetapi kenyataannya sekian banyak pula yang sesat di luar sana. Oleh karena itu, mari kita bawa serta Kyai Abdul Qodir ke rumah sakit sebagai sebuah ikhtiar kita selaku hamba Allah subhaanahu wa ta’aladan bertawakkallah.” ujar Kiai Ali Ma’shum kepada segenap keluarga.
Saat-saat terakhir menjelang wafat, beliau masih sempat untuk sekali lagi dan terakhir kalinya mengkhatamkan Al-Qur’an 30 juz, dalam kondisi kesehatan yang makin kritis. Sampai pada akhirnya, dalam kondisi yang sangat berat, setengah sadar setengah tidak, sehabis membaca surat Al-Ikhlas, beliau bertanya kepada Kyai Hasyim,
“Syim, kalau setelah surat Al-Ikhlas itu kemudian seterusnya surat apa ya, Syim?”
“Setelah surat Al-Ikhlas seterusnya adalah surat Al-Falaq, kemudian surat An-Nas, Romo..” jawab Kyai Hasyim sambil sesenggukan, tak mampu membendung air matanya.
“Syim, tolong bantu aku menyelesaikannya ya, Syim..” pinta beliau.
“Inggih, Romo..” jawab Kyai Hasyim, kemudian dengan amat pelan disertai sesenggukan menuntun kalimat demi kalimat , ayat demi ayat dari surat Al-Falaq, An-Nas, Al-Fatihah, dan seterusnya sampai diakhiri dengan doa Khotmil Qur’an.
Melihat kondisi beliau yang semakin kritis, Pak Mastur dengan perintah Ibu Nyai, pulang ke Krapyak untuk memberitahukan kepada para kerabat, khususnya KH. Mufid Mas’ud dan KH. R. Abdullah Afandi, perihal kondisi beliau tersebut. Setelah selesai mengabarkan hal tersebut, belum sampai kembali di rumah sakit, Pak Mastur sudah mendengar kabar bahwa Romo Kyai Qodir telah wafat. Suasana haru dan pilu sontak terasa melingkupi Krapyak waktu itu. Semua merasa kehilangan dan merasa ditinggalkan oleh beliau.
Setelah selama kurang lebih 20 tahun beliau mengemban amanah dan perjuangan ayahandanya, khususnya dalam mengajar Al-Qur’an dan mencetak kader-kader huffadzyang handal, akhirnya beliau berpulang ke hadirat Allah subhanahu wa ta’alapada malam Jum’at Kliwon, pukul 18.30, 17 Sya’ban 1381 H / 2 Februari 1961 M., di RS Panti Rapih, dalam usia relatif muda (42 tahun), di sisi istri beliau.
Pemakaman dilaksanakan pada siang harinya ba’da Shalat Jum’at, di dekat pusara ayahanda tercinta, KH. Muhammad Munawwir. Beliau meninggalkan seorang istri Ny. Hj. R. A. Salimah binti KH. Nawawi dan lima putra-putri; Ny. Hj. Ummi Salamah (Krapyak – Yogyakarta), waktu itu masih berusia 9 tahun; KH. R. Muhammad Najib (pengasuh Madrasah Huffadz I Al-Munawwir Krapyak), waktu itu masih berusia 6 tahun; Ny. Hj. Munawwaroh (Glagahombo – Muntilan – Magelang), waktu itu masih berusia 4 tahun; KH. R. Abdul Hamid (pengasuh PP Ma’unah Sari Bandar Kidul – Kediri), waktu itu masih berusia 2 tahun; dan KH. R. Abdul Hafidz (pengasuh Madrasah Huffadz II Al-Munawwir Krapyak), waktu itu masih berusia 6 bulan di dalam kandungan.
Meskipun beliau telah tiada di tengah-tengah atmosfer kehidupan Krapyak, namun semangat dan keteladanan beliau senantiasa menginspirasi para santri, terutama bagi mereka yang sedang berupaya tahaffudz Al-Qur’an. Dan estafet amanah terus bergulir ke generasi selanjutnya.
~
Krapyak, 12 Rabi’ul Awwal 1434
Dinukil sekelumit dari buku Romo Kyai Qodir; Pendiri Madrosatul Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakartasusunan M. Mas’udi Fathurrohman, S.Th.I., Tiara Wacana: 2011.
“Ketika seseorang telah memantapkan hati untuk menjadi seorang hamba yang menjaga kalamNya. Tentunya ada tanggung jawab besar yang dipegangnya, yaitu dengan tetap istiqomah nderes Quran meskipun sudah hafal. Sebab hafalan bila tak pernah dibaca juga akan lupa. Begitu pula yang dilakukan oleh KH Ahmad Munawwir. Beliau senantiasa nderes supaya tetap terjaga hafalan Qurannya. Pun bukan sekedar hafal akan tetapi juga sudah menjadi tabiat bagi ahli Quran untuk mengamalkan apa yang ada dalamnya. Jadi pastilah beliau merupakan sosok yang istiqomah “.
Oleh: Muhammad Zaki Fahmi dan Lilik Maryanto*
Al ajru ‘ala Qodri Ta’bin, hasil itu sesuai dengan apa yang diusahakan. Mungkin ungkapan itulah yang cocok disematkan kepada sosok almarhum syaikhona KH. Ahmad Munawwir. Gus Mad, panggilan KH. Ahmad Munawwir, dikenal sebagai ahli Quran pada zamannya. Tentu tak sembarangan orang dapat mencapai maqom tersebut. Perlu usaha keras untuk sampai pada tahapan itu. Begitupun KH Ahmad Munawwir yang semasa muda, ketika itu berumur 21 tahun, berusaha keras menuntut ilmu di Jombang Jawa Timur.
Alif Lam Mim, Dzalikal Kitabu Laa Raiba Fih. Dua sahabat itu masih melantunkan ayat demi ayat dengan fashihnya. Walaupun tanpa pengeras suara, nada-nada yang indah nan lembut itu terus menggema di seluruh sudut-sudut sebuah pondok pesantren yang masih sederhana itu.
Merekalah dua penghafal Al Quran yang dipertemukan dalam satu ikatan yang kokoh. Tepatnya pada tahun 1958 M pertemuan itu terjadi. Sosok pemuda penghafal al Quran dari Krapyak datang nyantri kepada KH Umar Zahid, seorang Kyai karismatik di desa Semelo Jombang. Ya, di pondok Semelo (sekarang PP. Umar Zahid ) kisah persahabatan Gus Mad dan Kang Masduki* bermula.
Di kamar 1×2 meter, mereka mulai mengukir kisah. Hari-hari Gus Mad dilalui bersama dengan Kang Masduki. Gus Mad mengajak Kang Maduki nderes bersama. Hal ini dilakukan dengan cara membaca bergantian secara ayatan atau tiap satu ayat bergantian. Cara ini Gus Mad lakukan ¼ juz per minggunya. Selama 4 tahun Gus Mad melakukan semaan ayatan besama sahabatnya, sehingga dalam 4 tahun Gus Mad khatam 2 kali. Dan ketika khatam yang kedua, KH Masduqi Zein Jombang yang merupakan alumni Krapyak turut serta dalam mendoakan.
Meski Gus Mad seorang Ahli Quran, namun tak lantas puas diri dengan ilmu Qurannya. Bahkan Gus Mad juga masih haus akan ilmu yang lain seperti fiqih, tasawwuf, nahwu,dll. Di pondok Semelo, Gus Mad belajar berbagai kitab kuning kepada KH Zahid. Kitab ibnu Aqil, Hikam, Khasyiyah Bajuri Gus Mad pelajari sampai khatam.
Tak hanya di Semelo Gus Mad menuntut ilmu. Di Bandung Jombang, Gus Mad juga mengaji kitab Syatibi, sebuah kitab turots yang menjelaskan tentang ilmu Qiroah Saba’ah. Jarak Semelo ke Bandung yang sekitar 25 km Gus Mad tempuh dengan naik sepeda. Jarak yang teramat jauh tak membuat Gus Mad malas untuk menuntut ilmu. Justru Gus Mad tetap semangat untuk tholabul ‘ilmi. Pun ketika tak ada kegiatan mengaji, Gus Mad senantiasa nderes hafalannya sehingga tak waktu yang sia-sia.
Di Jawa Timur khususnya Jombang semaan Quran dikenal dengan mudarosah. Gus Mad dan Kang Masduqi merupakan orang yang pertama kali melakukan mudarosah di Jombang bahkan Jawa Timur. Keduanya pertama kali melakukan mudarosah di pondok Semelo. Lama-kelamaan banyak orang yang datang ke Semelo untuk mendengarkan Gus Madmudarosah meskipun pada waktu itu belum ada pengeras suara.
Pernah suatu ketika Gus Mad dijenguk oleh kakaknya, KH Abdul Qodir Munawwir. Sesuai kebiasaan di keluarga Al Munawwir Krapyak, KH Abdul Qodir mengajak Gus Mad untuk mudarosah di Ploso Kediri. KH Abdul Qodir naik becak dan Gus Mad bersama KH Masduqi naik sepeda. Ketika itu Gus Mad bertiga dijamu oleh tuan rumah dengan hidangan seekor kambing untuk bertiga. Akan tetapi, dibagikan oleh Gus Mad kepada tetangga sekitar.
Gus Mad semasa mondok di Semelo dikenal sebagai santri yang suka riyadloh. Gus Mad selalu puasa sebagai bentuk riyadlohnya. Pernah suatu ketika Kang Masduqi menanyakan perihal tersebut kepada Gus Mad. Kemudian dijawab oleh Gus Mad,” Kersane kulo tasih diparingi sehat”. Semoga saya (Gus Mad) masih diberi kesehatan. Bahkan selama nyantri pun Gus Mad tak pernah meminta kiriman dari keluarga di Krapyak.
Kemudian setelah KH Abdul Qodir Munawwir wafat, Gus Mad diminta oleh keluarga untuk kembali ke Krapyak. Di Krapyak, ilmu yang Gus Mad miliki sangat dibutuhkan. Terlebih sosok KH Abdul Qodir sebagai kiyai sepuh yang mengajarkan Quran di Krapyak telah wafat. Gus Mad pun mendapat mandat untuk mengajarkan Quran meneruskan perjuangan kakaknya. Berawal dari sinilah kisah Gus Mad sebagai seorang Kyai Ahli Quran pada masanya dimulai.
Ketika seseorang telah memantapkan hati untuk menjadi seorang hamba yang menjaga kalamNya. Tentunya ada tanggung jawab besar yang dipegangnya, yaitu dengan tetap istiqomah nderes Quran meskipun sudah hafal. Sebab hafalan bila tak pernah dibaca juga akan lupa. Begitu pula yang dilakukan oleh KH Ahmad Munawwir. Beliau senantiasanderes supaya tetap terjaga hafalan Qurannya.Pun bukan sekedar hafal akan tetapi juga sudah menjadi tabiat bagi ahli Quran untuk mengamalkan apa yang ada dalamnya. Jadi pastilah Gus Mad merupakan sosok yang istiqomah.
Semoga kita termasuk dalam hambaNya yang istiqomah menjaga Al Quran.
*Kang Masduqi (KH Ahmad Masduqi AR ) merupakan pengasuh PP. Roudhotu Tahfidzil Qur’an Perak Jombang.
*Reporter LPS EL TASRIIH Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L
Sumber tulisan : http://komplek-el.blogspot.co.id/2017/03/dalam-bingkai-semelo.html?m=1
Krapyak, Komisi Musyawaroh Santri (KMS) Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek L mengadakan Rapat Tahunan Pondok (RTP).
Jum’at (14/4) Sidang Pleno III tentang Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) pengurus kali ini diterima seperti biasa.
Pada awalnya, peserta yang menghadiri kuorum tidak memenuhi syarat yang sudah ditetapkan dalam Tata Tertib KMS untuk melaksanakan laporan pertangung jawaban. Akan tetapi, semua persyaratan itu diserahkan kembali ke kuorum untuk menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga Sidang Pleno III (LPJ) tetap dilaksanakan. Peserta Sidang Pleno III terdiri dari tamu undangan yaitu para Asaatidz, pengurus demisioner, sesepuh blok, dan Dewan Perwakilan Santri (DPS)
Peserta yang hadir kali ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan tahun lalu. Respon dari peserta sangat minim untuk menanggapi seluruh laporan pertanggung jawaban dari pengurus. Hal ini sangat disayangkan karena (LPJ) ini akan memberikan laporan tentang program kerja yang sudah terlaksana maupun tidak yang nantinya menjadi bahan koreksi untuk kepengurusan selanjutnya.
Bukan hanya itu, kepanitiaan KMS ini sebagai penyusun dalam program kerja yang akan dijadikan patokan oleh pengurus yang akan datang dan sebagai penentu diterima atau tidaknya LPJ kepengurusan. Tentu, dengan dalih demokrasi, proses LPJ ini dilaksanakan dengan musyawarah mufakat. Segala dinamika perdebatan, bukanlah hal yang ganjil. Pasti ada. Tapi hal ini, diketahui betul oleh peserta. Apabila dalam merumuskan kebijakan-kebijakan, bukanlah hal yang mudah.
Di tengah-tengah laporan pertanggung jawaban berlangsung, tepat pukul 02:30 WIB suasana mulai memanas ketika salah satu tamu undangan Hedrik Sukendar Baskuni angkat bicara. Beliau selaku Ketua Demisioner periode 2015/2016 membuka pembicaraan mengenai jumlah peserta yang hanya bisa dihitung dengan jari.
Ia menegaskan, bahwa jika antusias dari peserta Sidang Pleno ini sangat sedikit, maka bagaimana bisa laporan pertanggung jawaban ini bisa diterima dan bisa didengar oleh selurus santri komplek L. Ia juga menambahkan bahwa kepanitiaan KMS ini sebagai salah satu dari ajang pengkaderan untuk kepengurusan selanjutnya. Karena seluruh anggotanya merupakan santri baru yang akan dilihat kualitas kepribadiannya.
“Jika peserta yang hadir hanya ketua dan beberapa anggotanya, maka bagaimana nasib kepengurusan selanjutnya” ungkapnya dengan nada tinggi.
Sidang Pleno sempat terhenti beberapa menit, hampir seluruh peserta yang hadir menanggapi hal tersebut. Dimulai dari tamu undangan, pengurus, dan pimpinan sidang.
Suasana pun bergemuruh dengan sanggahan-sanggahan yang bisa menghentikan jalannya Sidang Pleno III. Akan tetapi seluruh pengurus mempertahankan agar Sidang Pleno III bisa dilanjutkan karena waktu yang sudah mendekati fajar. Pada dasarnya seluruh ruangan didominasi oleh pengurus dan akhirnya Sidang Pleno III bisa dilanjutkan sampai selesai.
Lutfi Lauza’i selaku Lurah Komplek L menanggapi permasalahan di atas bahwa sebenarnya permasalahan ini keluar dari tema dan ini menjadi bahan evaluasi untuk KMS dan DPS. Sebenarnya, KMS dan DPS ini sudah aktif dari awal rapat pembentukan sampai sidang Pleno II.
Idealnya memang harus sampai pada sidang pleno III akan tetapi apa boleh buat. Jelasnya. Ia juga ber khusnudhon faktor terjadinya hal seperti ini dimungkinkan karena bertepatan dengan tanggal merah dan faktor psikis panitia yang mulai merosot sehingga terjadi seperti ini. Dan ia malah senang dengan tanggapan seperti itu dari para peserta yang hadir. (Lukim)