Kesan Kasih Mbah Ali Maksum di Mata Santri Kinasih

Kehidupan pesantren selalu menyimpan segudang cerita dan kenangan bagi insan-insan yang pernah bersimpuh di dalamnya. Kenangan yang terpendam berpuluh-puluh tahun jauh di dasar tumpukan-tumpukan peristiwa seolah muncul ke permukaan ketika tokoh kunci dalam peristiwa diperdengarkan kembali. Hal ini tampaknya dialami semua santri yang pernah mondok di suatu pesantren, tak terkecuali santri pondok Krapyak.

Kedekatan santri dengan kiai mengambil sebagian memori penting dalam benak dan laku kehidupan seorang santri. Mbah Ali Maksum, begitu sapaan akrab santri sekarang yang mencoba mengenalnya, baik dari karya-karyanya maupun melalui cerita santri alumni Krapyak sebelum tahun 89-an.

Dalam suatu cerita salah seorang santri kinasih Mbah Ali yang nyantri pada era 70-an, mengisahkan. “Mbah Ali itu seorang yang sangat dekat dengan santrinya. Beliau sangat memperhatikan semua santrinya, baik ketika masih nyantri di Krapyak ataupun sudah menjadi alumni…. Pernah suatu ketika, saat saya pulang belajar dari Madinah saya bertemu dengan Mbah Ali. Tampaknya Mbah Ali sangat memperhatikan keadaan santrinya sampai hal-hal yang menyangkut privasi santri seperti menikah juga ditanyakan.”

Dalam suatu obrolan bersama Mbah Ali, beliau menyinggung masalah perjodohan. Beliau mengatakan kepada saya kurang lebih  “iki ono santri ayu apal Qur’an, kepiye?

Mbah Ali ketika itu bermaksud menjodohkan saya dengan gadis pilihannya yang menurut ciri-cirinya cantik, putra kiai, dan hafal Qur’an. Lantas sambil malu-malu saya pun menjawab bahwa saya belum siap untuk menikah pada waktu itu. Perlu diketahui gadis yang dijodohkan tersebut akhirnya menikah dengan santri yang secara umur masih di bawah saya. Dan itu juga atas perjodohan Mbah Ali.

Masih banyak sisi-sisi kedekatan Mbah Ali kepada santrinya yang memberikan kesan pada setiap santri yang menangi Mbah Ali, entah karena pernah dihukum, ketika sorogan, dan banyak lagi kenangan dekat dengan Mbah Ali.

Baca Juga: Ketika Kiai Hasan Abdillah Dibina KH Ali Maksum: Dari Novel, Bioskop hingga ‘Proposal Hidup’

—-

Kesan masing-masing santri terhadap kiainya tentu berbeda. Lain masa, lain cerita. Mungkin adalah ungkapan yang cocok untuk mengisahkan pernak-pernik kehidupan pesantren dari waktu ke waktu. Seperti yang diceritakan oleh salah satu santri Mbah Ali  yang tak lain juga penulis buku berjudul KH. Ali Maksum: Perjuangan dan Pemikiran-Pemikirannya.

“Hampir tiap hari Mbah Ali itu keliling membangunkan santri untuk jamaah shalat Shubuh. Sebenarnya untuk kiai-kiai yang besar seperti Mbah Ali cukup mengutus pengurus untuk melakukan tugas tersebut, namun lain dengan Mbah Ali, dimana setiap hari beliau membangunkan sendiri santri-santrinya.”

Mbah Ali juga sering memanggil santri-santrinya untuk ke ndalem, entah mendapat hukuman atau perintah. Kamar beliau itu seperti studio yang ada speakernya menyambung ke semua kamar santri. Santri-santri sering dipanggil untuk mijeti (memijat). Tapi jangan hanya dilihat mijetinya saja, tapi lebih pada kedekatan dengan santri-santrinya.

Ketika mijeti, santri yang terindikasi nakal masih sempat saja mengambil jeruk, rokok milik Mbah Ali. Meskipun mengetahui hal tersebut, Mbah Ali membiarkannya dalam arti mengikhlaskan untuk digunakan santri-santrinya.

Ada hal menarik saat mijeti Mbah Ali, dimana ketika dipijeti, Mbah Ali seolah-olah tidur, tapi ketika santri mau pergi Mbah Ali langsung bangun. Ini menjadi satu kesan lucu sekaligus bukti kedekatan seorang santri kepada kiai, tidak adanya batas antara hubungan santri dengan kiai, pemimpin pesantren atau bahkan pemimpin tinggi NU waktu itu.

Sikap dalam kepemimpinan Mbah Ali juga bisa dikatakan termasuk “seni dalam memimpin”. Untuk mengenal dan dekat pada santrinya, Mbah Ali hafal nama-nama santrinya. Tiap pagi ada sorogan  dan pengeras suara dihidupkan. Sekali sorogan ada 6-7 dan Mbah Ali diam, namun ketika salah langsung membetulkan. Kok bisa?

Hal demikian sehingga santri-santri banyak sekali kenangannya karena selalu ada tanda tangan Mbah Ali pada setiap setoran.

Perhatian terhadap santri juga ditunjukkan Mbah Ali dengan menggoda santri-santrinya. Misalnya ketika ada seorang santri yang membeli makan di luar pondok dan kebetulan lewat depan ndalem, maka Mbah Ali akan menyuruh untuk berhenti dengan mengatakan “mandek mandek mandek, gowo opo kui, tuku kok meneng wae” (berhenti, berhenti, berhenti, bawa apa itu? Beli sesuatu kok diam aja.) dengan maksud untuk mengambil sedikit ataupun banyak dari makanan santri.

Mbah Ali sangat suka menggoda santri-santrinya dan santrinya pun justru malah senang merasa diperhatikan kiainya. Sisi lain juga dapat dipahami bahwa Mbah Ali itu memiliki selera humor yang tinggi, barangkali ini juga sedikit banyak memberikan kesan bagi santri-santri Krapyak.  (nm)

 

*Tulisan ini bersumber dari wawancara bersama KH. Muhadi Zainudin pada Juni 2019 dan KH. Zuhdi Mukhdlor pada Juli 2019 (keduanya adalah santri KH. Ali Maksum), oleh Muhammad ‘Ainun Na’iim, Santri Komplek Nurussalam dan Pegiat Pemikiran KH Ali Maksum.

 

Pesan Kiai Ali Maksum Agar Umat Islam Tidak Perlu Memperuncing Perkara Khilafiyah

 

Oleh: Muhammad Ainun Na’im*

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional harus diakui dalam sejarah bangsa tidak lepas dari peran serta kontribusinya dalam mengelola warisan tradisi salafi dan budaya lokal. Keberadaan pesantren tidak bisa dilepaskan dari peranan seorang kiai atau pemimpin pesantren.

Dalam dunia pesantren kiai memiliki porsi pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan santrinya. Nasihat kiai kadang dijadikan doktrin dalam tindak tanduk santrinya, bahkan ketika dia tidak lagi tinggal di pesantren. Hal ini tidak lepas dari prinsip yang mengakar kuat tentang esensi ta’dim (taat) kepada kiai untuk memperoleh kemanfaatan ilmu.

KH Ali Maksum atau dikenal dengan sapaan Kiai Ali adalah pengasuh pondok pesantren yang mashur di Indonesia khususnya di Yogyakarta yaitu Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak. Beliau dikenal sebagai salah satu penggagas sistem pendidikan dengan model madrasi atau madrasah. Ketokohan penting Kiai Ali lainnya adalah terpilihnya dalam struktur kepemimpinan tertinggi NU, yaitu sebagai Rais ‘Am keempat setelah Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbulloh, KH. Bisri Syansuri. Kiai Ali terpilih sebagai Rais ‘Am (1980-1984) pada Munas NU pertama di Kaliurang.

Sebagai seorang ulama, pemimpin pondok pesantren dan sebagai pimpinan tertinggi dalam jajaran kepengurusan NU di Indonesia kala itu, tentu Kiai Ali dihadapkan dengan berbagai persoalan sosial, politik, dan keagamaan. Hal tersebut mendorong beliau untuk memberikan pandangannya sebagai bentuk solusi atas persoalan tersebut, salah satunya adalah gagasan tentang ukhuwah atau persaudaraan.

Dalam berbagai kesempatan Kiai Ali memberikan pandangannya tentang kerukunan umat beragama yang dituangkan dalam konsep Ukhuwah Islamiyyah. Beliau berpendapat bahwa konsep ukhuwah sebenarnya telah diajarkan dalam Alquran. Menurut beliau “sesama mukmin itu bersaudara” dan juga memberi petunjuk pelaksanaan bagaimana persaudaraan itu harus dibina. Buah dari persaudaraan nantinya adalah ishlah (perdamaian).

Selain itu, Kiai Ali juga berpendapat bahwa untuk mewujudkan ishlah diperlukan adanya unsur kompromi atau akomodatif, tidak keras kepala menggunakan nalar logikanya sendiri. Usaha untuk mendamaikan (ishlah) menentukan tingkat ketakwaan dan rahmat seseorang atau kelompok. Hal tersebut merupakan cara untuk mewujudkan ukhuwah itu sendiri.

Masalah ukhuwah menurut Kiai Ali masih menjadi krisis besar di kalangan umat Islam. Beliau menyatakan bahwa seharusnya umat Islam mencari tentang sebab-sebab yang menjadikan berselisih paham, yaitu dengan mencari sumber konfliknya, bukannya malah mencari “perbedaan” yang justru akan memperuncing permasalahan.

Menurut Kiai Ali akar penyebab dari perselisihan tersebut adalah perbedaan dalam memahami sebagian ajaran Islam. Lebih pokok lagi Kiai Ali menandaskan bahwa perbedaan yang muncul sebagai akibat dari pemahaman yang berbeda tentang syariat Islam, sehingga dengan perbedaan ini memunculkan perbedaan-perbedaan lain yang semakin kompleks.

Perbedaan dalam memahami syariat, seharusnya tidak diiringi dengan rasa benar sendiri dan menyalahkan kelompok lain selama pemahaman tersebut memiliki dasar pijakan syar’i, justru perlunya menyadari akan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Istilah ukhuwah menurut beliau bukanlah hanya menggemborkan slogan “bersaudara”, lebih dari itu harus dibuktikan dengan tindakan nyata, bahkan dari aspek filosofisnya. Upaya-upaya untuk memperkecil persolan khilafiyah perlu untuk terus diusahakan.

Dalam forum ukhuwah yang diselenggarakan di Yogyakarta oleh Panitia Penyambutan Abad XV H pada tanggal 11 Desember 1980 di Gedung PDHI Sasonoworo, Alun-Alun Utara Yogyakarta, Kiai Ali menyampaikan gagasannya tentang ukhuwah di hadapan 60 tokoh yang mayoritas dari ormas Muhammadiyah. Beliau berargumen bahwa “masalah mempersatukan umat adalah masalah besar, merupakan program raksasa. Namun,  kita tidak boleh mundur, harus kita hadapi dengan jiwa besar pula.”

Beliau juga menyatakan faktor dominan yang menyebabkan perpecahan adalah sikap apriori, ekstrim buta, gegabah dalam menentukan hukum agama, picik dalam berpikir, penggunaan akal tanpa menurut dasar hukum agama, dan ada pihak-pihak yang memanfaatkan perpecahan tersebut. Selain itu penyebab perpecahan dari segi sosial adanya sikap suka menjilat.

Solusi atas realitas tersebut menurut beliau adalah Pertama, umat Islam tidaklah perlu memperuncing masalah khilafiyah. Sebagai contoh indikasinya yaitu dengan memberikan keterangan sepihak kepada golongan tertentu. Seseorang harus bersikap objektif, bijaksana, ilmiah, dan mengetahui dasar-dasar yang dijadikan pegangan oleh kelompok tertentu.

Kedua, agar umat Islam terutama tokoh-tokohnya meninggalkan perbuatan atau ucapan yang menyinggung perasaan umat Islam secara luas. Ketiga, kelompok-kelompok umat Islam agar berjiwa besar, yakni sanggup mengakui kebenaran pihak lain, menghormati pendapatnya, dan memperlakukan sebagaimana mestinya. Keempat, agar umat Islam memperluas cakrawala ilmiah.

Selanjutnya Kiai Ali menyatakan bahwa umat Islam harus menghilangkan sikap kaku terhadap agama lain. Lebih dari itu umat Islam harus dapat berakomodasi dengan pihak-pihak lain. Namun bertolak belakang dari sikap tersebut Kiai Ali sangat bersikap tegas tentang segala bentuk perilaku yang mengganggu ketentuan dasar dalam berakidah Islam. Beliau sangat menjunjung tinggi dan memperjuangkan akidah  Islam.

Beliau menegaskan “…inilah yang dinamakan idealisme sejati, tidak kompromi dengan hal-hal yang bathil…” dalam hal ini merujuk pada konteks sejarah Islam pada kehidupan Rasulullah tentang ajakan kaum kafir untuk menyembah berhala. Selain itu Kiai Ali juga melihat sejarah perjuangan Imam Syafi’i, Hambali dan Maliki yang tetap mempertahankan idealismenya meskipun terdapat berbagai rintangan dalam perjuangannya. (nm)

*Santri komplek Nurussalam Putra, naskah tulisan ini pernah disampaikan dalam MPSN 2019, Jakarta

(Sumber Utama: K.H. Ali Ma’shum: Perjuangan dan Pemikiran-Pemikirannya dan Ajakan Suci)

KH. Fairuzi Afiq Dalhar

“Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah daripada orang lain yang memiliki derajat kemuliaan lebih tinggi daripada kita. Juga kepada mereka yang hendak memuji dan menghina kita. “

KH.R. Abdul Hafidz Abdul Qodir

“Jika ingin ilmunya merasuk, berkah, serta manfaat, ada tiga caranya: 1) Mudzakarah, 2) Khidmah pada guru, 3) Mencari ridho guru”

KH.R. M. Najib Abdul Qodir

“Menghafal al-Qur’an memang tidak mudah, apalagi menjaganya. Terutama jika sudah sibuk, maka harus punya semangat yang kuat. Jika sudah semangat dan berusaha sungguh-sungguh, tetapi masih ‘lepas-lepas’ hafalannya ya dima’fu, asalkan sudah benar-benar berusaha.”

“Santri Ngrowot” dalam Pandangan KH Ali Maksum

Ilustrasi: Instagram @vckyyhr

“Kalian ini anak-anakku, oleh karena itu panggillah aku bapak”. Kalimat itu yang sering diucapkan oleh Beliau Yai Ali Ma’shum dalam pengajiannya kepada santri-santri di PP. Ali Ma’shum, Krapyak.

Yai Ali Ma’shum memang agak berbeda dengan yang lainnya. Beliau tidak mau dipanggil Kiai, Abah, Gus ataupun yang lain, Beliau lebih suka dipanggil Bapak.
Beliau lebih memilih dipanggil bapak karena dari situlah santri-santrinya bisa akan merasa dekat dengan Beliau.

Suatu hari, ada santri Yai Ali yang juga abdi ndalem meminta ijin untuk pulang.
Kebetulan santri itu berasal dari Jogja utara, tepatnya Sleman.

“Pak.., kulo ijin badhe wangsul riyen teng griyo”, kata Si santri.

“Ngopo mulih, Le..”, Mbah Ali menimpali.

“Wonten adicoro tenggriyo, Pak…, Njih mboten lami”.

“Oooo, yo, kono ati-ati”.

Ternyata santri itu tidak benar-benar pulang ke rumahnya.
Santri itu berkunjung ke rumah salah seorang kiai untuk sowan dan meminta ijazah.
Dalam sowan ke salah satu kiai itu, Si santri dapat amalan ngrowot dan beberapa wirid sehabis shalat. Sehabis mendapatkan ijazah, Si santri itu balik lagi ke Krapyak.

Suatu hari, Mbah Ali menemukan telo (singkong) di dapur.
“Iki telone sopo, Le?…” Mbah Ali bertanya pada Si santri.

“Telo kulo, Pak…”, Santri itu menjawabnya.

Selepas maghrib, Mbah Ali biasa mengisi ngaji untuk santri-santrinya. Dan santri yang sedang ngrowot itu datang terlambat gara-gara “nglakoni amalan” terlebih dahulu.

Suatu hari, santri itu dipanggil ke ndalem Mbah Ali dan ditanya,

“Sekarang kamu ngrowot to, Le..” tanya Mbah Ali.
“Njih, Pak”, sahut Si santri.

“Kenapa kamu ngrowot?… Kamu pengen pinter.?”…, tanya Mbah Ali dan Si santri pun diam tidak berani menjawab.

Kemudan Mbah Ali melanjutkan dhawuhnya,
“Kalau mau pinter itu mbok yao ngimbangi makan-makanan bergizi. Makan ayam, ikan, tempe, tahu…., bukan malah makan telo, nanti kamu malah tambah sulit belajarnya. Mbok yao hidup itu dinalar, Le……. Kita ini memang generasi salaf tapi kita tidak hidup di zaman dahulu…… Sekarang zaman sudah mulai berkembang dan kamu harus siap mengikuti perkembangan itu”.

Memang Mbah Ali terkenal dengan pemikirannya bagaimana supaya umat Islam mampu terus berkembang dan mampu menjawab tantangan zaman.
Bahkan di era itu, Bahasa Inggris, Ilmu Bumi dan Ilmu Ekonomi sudah menjadi bagian dari kurikulum di pesantrennya.

Sebagaimana yang dhawuh Mbah Hasyim Asy’ari, Beliau dhawuh, bahwa Nahdatul Ulama berdiri atas dua aspek.

Pertama, orang-orang NU harus menjaga tradisi orang-orang salaf, dan orang NU harus terbuka dan siap dengan sesuatu yang baru.

Dan santri yang ngrowot itu, sekarang adalah pengasuh salah satu pondok pesantren di daerah Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Wallahua’lam bisshawab.
Allahuyarham, KH. Ali Ma’shum, Al-Fatihah…..

Haul Ke 6 Kiai Zainal, Belajar dari Sikap Kezuhudannya

Almunawwir.com – Bakda Isya, sekitar pukul delapan inti acara Haul Kiai Zainal Abidin Munawwir sukses dilaksanakan. Acara ini bertempat di Aula AB dan musala komplek R Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak.

Dalam memperingati Haul Kiai Zainal Abidin yang ke 6, Keluarga Ndalem Almarhum Kiai Zainal dan dibantu pengurus komplek AB, CD, R1,dan R2 mengadakan 2 agenda yaitu Khotmil Quran dan Pengajian.

Tepat pada hari Rabu pagi (11/12/2019) Khotmil Quran dibuka langsung oleh Ibu Nyai Ida Fatimah Zainal. Acara ini terdiri dari 2x simaan dan 3 kali Muqodamaan yang dilaksanakan oleh para santri dan alumni. Kemudian ditutup dengan doa Khotmil Quran pada keesokan harinya di musala komplek R.

“Semoga beliau mendapatkan anugerah terindah di sana”, ucap Ibu Nyai Ida dengan mata yang berkaca kaca usai pembacaan doa Khotmil Quran.

Sedangkan acara pengajian dilaksanakan pada hari Kamis (12/12/2019) dengan dihadiri oleh beberapa pengasuh pondok pesantren yang ada di Yogyakarta, ketua RT 5-8, beberapa tokoh agama, santri dan alumni.

Acara ini dibuka dengan penyambutan oleh shohibul bait, bapak Nur Kholish S. Pd M. Sc lalu dilanjut dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh KH R Muhammad Najib Abdul Qodir.
Usai tahlil acara dilanjutkan dengan Mauidhoh Khasanah yang diisi oleh KH Ihsanudin Muslim pengasuh pondok pesantren Binaul Ummah.

Beliau menerangkan tentang perjalanan hidup Kiai Zainal Abidin Munawwir beserta beberapa kisah hikmah. Dikisahkan bahwa ketika beliau (Mbah Kiai Zainal) menjabat jadi DPR beliau menggunakan sepeda ontel untuk menuju kantor meskipun telah disediakan fasilitas. Selain itu selama menjabat menjadi DPR beliau tidak pernah mengambil gajinya seperserpun.

“Yang paling mashur dari mbah Kiai Zainal adalah kezuhudannya”, terang kiai Ihsan.

Pewarta: Khansa Syaridah

Kunjungi Krapyak, Menag Fachrul Rozi Sebut Santri Punya Keunggulan Yang Komplit

Almunawwir.com – Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak Yogyakarta menerima kunjungan perdana dari Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak Jenderal TNI (Purn.) H Fachrul Rozi pada Kamis siang, 12 Desember 2019 bertempat di Aula G.

Sebelum bertolak ke Aula G, Bapak Menteri menyempatkan beramah tamah dengan para Masyayikh Krapyak di kediaman KHR M Najib Abdul Qodir.

Bapak Menteri menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan ajang silaturahim dan berpesan kepada seluruh santri untuk giat menimba ilmu, karena banyak ilmu yang tidak bisa didapatkan di sekolah umum kecuali di pesantren. Beliau juga sedikit berbagi pengalaman semasa mengabdi di dunia militer,”kekuatan mental dan kecerdasan merupakan kunci kami di medan perang. Karena itu, santri harus sehat, cerdas secara umum serta agama dan bisa mengemban amanah yang diberikan orang tua dan guru. ”

Sambutan Menteri Agama didahului oleh sambutan yang disampaikan dari pihak Pondok Pesantren Almunawwir, dalam sambutannya KH. Fairuzi Afiq Dalhar mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungan silaturahim ke Pondok Pesantren Almunawwir serta memohon maaf apabila banyak kekurangan dalam penyambutan ini.

Kiai Uzi menyampaikan kisah KH Muhammad Munawwir semasa menghafal Al-Qur’an di Makkah dan menjelaskan tentang selayang pandang Pondok Pesantren Almunawwir dari mulai berdirinya sampai sekarang ini.

Acara ini ditutup dengan do’a oleh KHR. M Najib Abdul Qodir dan dilanjut dengan pemberian cinderamata dari Pondok Pesantren Almunawwir kepada Bapak Menteri, Kunjungan Silaturahim ini disambut hangat oleh para Masyayikh dan para santri. (Hanif)

Sisi Romantisme Kiai Zainal Abidin Munawwir

Almunawwir.com – Setiap insan yang berjodoh tidak luput dari kuasa-Nya. Terdapat kisah unik di balik pernikahan KH. Zainal Abidin Munawwir dengan Ny. Hj. Ida Fatimah ZA. Ketika KH. Zainal Abidin berusia 50 tahun (dan belum menikah), beliau dijodohkan dengan Ny. Hj. Ida Fatimah, putri KH. Abdurrahman dari Bangil, Jawa Timur.

Alasan beliau menikah di usia yang terbilang sudah berumur yakni karena beliau khawatir bila kepatuhan terhadap ibundanya berkurang jika menikah di usia muda. Begitu juga alasan Ny. Ida Fatimah ketika menikah sudah berusia 30 tahun yaitu karena kepatuhan beliau pada kedua orang tuanya dan gurunya, Ibu Nyai Mufid Pandanaran.

Berawal dari acara khataman al-Qur’an yang diadakan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, waktu pertama kali keduanya bertemu. Ny. Hj. Ida Fatimah merupakan santri di pondok pesantren tersebut. Sebelumnya KH. Mufid memang sudah ngendikan (mengatakan) pada Ibu Nyai Ida jika akan menjodohkan santrinya tersebut dengan adiknya, KH. Zainal Abidin.

Pertemuan kali itu hanyalah sebatas menunjukkan inilah KH. Zainal Abidin yang akan dijodohkan itu, tanpa ada perkenalan dan percakapan yang mendalam antara keduanya. Di balik itu, segala hal ihwal tentang perjodohan antara keduanya telah diatur oleh KH. Mufid dan KH. Ali Maksum berserta istri masing-masing.

Akad nikah K.H. Zainal Abidin dan Ny. Hj. Ida Fatimah berlangsung di kediaman calon istri, Bangil, Jawa Timur. Acara tersebut bertepatan dengan pertemuman para kiai di Jawa Timur. Ketika semua sudah berkumpul, para kiai tersebut kaget dan terheran-heran karena tidak tahu bahwa dalam pertemuan tersebut juga diselenggarakan akad nikah putri tuan rumahnya, KH. Abdurrahman.

Pernikahan yang sederhana itu penuh haru dan bahagia juga sarat dengan do’a para masyayikh, begitu juga ucapan KH. Mahrus untuk keduanya dengan penuh ketulusan, “Allah yang menghendaki, insyaallah Allah meridhai”.

Setelah menikah, terlihat bahwa KH. Zainal Abidin merupakan sosok suami yang bijak. Terbukti ketika beliau melarang Ibu Nyai Ida Fatimah, yang memang seorang aktivis organisasi ingin berhenti dari kesibukannya dan lebih mengabdikan diri sebagai istri.

Beliau sangat memahami kualitas diri dan potensi yang ada pada istrinya. Oleh karena itu, KH. Zainal Abidin meminta Ny. Hj. Ida Fatimah untuk tetap mengembangkan organisasinya disertai dakwah di masyarakat sekitar pondok. Dengan begitu, Ibu Nyai Ida tetap bisa berorganisasi tanpa melupakan kewajibannya sebagai istri seorang kiyai.

Selain terkenal sebagai ahli fikih yang alim, ternyata K.H. Zainal Abidin juga merupakan sosok yang romantis terhadap istrinya.

Ada suatu cerita ketika keduanya sedang menunaikan ibadah haji di Saudi Arabia, KH. Zainal selalu menyemangati sang istri agar memperbanyak amalan-amalan ibadah, menunaikan ibadah umroh, dan tidak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting.

Ketika Ibu Nyai Ida terlihat kelelahan, KH. Zainal tidak segan untuk memijat-mijat Ibu agar tetap bersemangat melanjutkan ibadahnya. Suatu kali ketika keduanya melaksanakan thawaf, Kiai Zainal melihat istrinya diam saja seperti tak melafalkan apapun, padahal sebenarnya Ibu Nyai sedang berdo’a dengan khusyu’. Kiai Zainal kemudian bertanya dengan khawatir:
“Da, kamu kok diam saja, pusing to?”
“Mboten Yah, lha kan katanya kalau berdo’a harus yang khusyu’.” Jawab Ibu Nyai Ida dengan santai.
“Oalah, kamu sedang berdo’a to, tak kira kamu pusing kepala. Kan aku nggak mau kalau kamu sakit.”

Perhatian beliau kepada istrinya dari hal-hal kecil telah membuat hubungan dalam rumah tangga keduanya begitu harmonis. Apabila ditanya tentang tips keromantisan pasangan Ibu dan Bapak (cara santri memanggil keduanya), maka jawabannya adalah rasa saling percaya dan tidak curiga. “ Setiap kemanapun, bertemu siapapun, baik saya dan Bapak itu kami saling cerita.” Tutur Bu Nyai Ida.

Kiai Zainal adalah sosok yang sangat mencintai dan menghargai istrinya. Beliau selalu memberikan kepercayaan lebih pada sang istri dan beliaupun ingin juga untuk selalu dicintai dan dilayani oleh istrinya.

KH. Zainal Abidin selalu berusaha agar pahala sang istri tidak berkurang karena pengabdiannya pada suami. Tercermin dalam kehidupan sehari-hari beliau yang kesemuanya serba meminta dilayani sang istri, bahkan hingga putra-putrinya sempat cemburu. “Bapak itu apa-apa maunya ibu.”, tutur salah seorang putra-putrinya.

Begitulah sedikit dari banyak kisah romantis antara K.H. Zainal Abidin Munawwir dan Ny.Hj. Ida Fatimah ZA. Dua hamba yang dipertemukan dan digariskan berjodoh oleh Allah Swt. hingga memiliki tiga buah hati yang kelak meneruskan perjuangannya. Memaknai kehidupan dengan sederhanan nan bersahaja serta didasari ketulusan rasa cinta antara keduanya.

Penulis: Alma Naina Balqis

Mbah Zainal, Enam Tahun Silam

Almunawwir.com – Hujan abu akibat letusan Gunung Kelud tahun 2014 menyisakan sekian kesedihan yang mendalam, kabar duka pun menyebar di berbagai media sosial. Rangkaian peristiwa gunung berapi yang terjadi di Gunung Kelud, Jawa Timur. Aktivitas seismik dimulai pada awal Februari 2014, tepatnya pada tanggal 2 Februari 2014, saat statusnya dinaikkan menjadi waspada, yang akhirnya menyebabkan letusan gunung berapi besar pada hari Kamis tanggal 13 Februari 2014 yang melontarkan material vulkanik hingga menutupi hampir seluruh Pulau Jawa.

Tepat malam Jum’at dini hari, tragedi Gunung Kelud berdampak hujan debu dari Kediri hingga sampai Yogjakarta. Pemandangan yang biasanya berwarna-warni dengan keindahan alam, kini harus memandang butiran demi butiran debu yang bertumpuk-tumpuk di setiap bangunan, sudut rumah dengan kecoklatan, yang ketebalannya mencapai 2 cm lebih. Begitu juga bangunan Pondok Pesantren Krapyak, debu yang hinggap di bangunan pesantren pun tak sedikit, para santri pun hingga Jum’at pagi menggelar rutinan ro’an (kerja bakti) secara masal. Walhasil, tumpukan debu pun dapat dibersihkan perlahan, sedikit demi sedikit.

Meski demikian, rutinitas pesantren masih berjalan seperti biasanya. Waktu itu, jum’at malam sabtu sesuai sholat maghrib, di Madrasah Salafiyah 2 ngaji rutin Alfiyah baru saja berlangsung, bacaan syair Alfiyah pun dikumandangkan dari bait ke bait. Dalam ngaji ini diampu oleh Mbah Mijan, yang merupakan salah satu murid Kiai Zainal. Beliau mengajar dengan sabar, lugas dan jelas. Seusai syair dirapal bersama, tiba-tiba salah seorang santri nDalem Kiai Zainal datang menghampiri kepada sang pengajar Alfiyah itu. Ia membawa satu kabar tentang Kiai Zainal, sembari air mata duka berlinang dengan derasnya, lalu berbisik “mbah yai mboten wonten” (Mbah Kiai tidak ada/ meninggal), seusai mengabarkan, santri ndalem tersebut undur diri dari ruang tempat ngaji. Sontak, para santri lainnya pun ikut berbisik dengan teman semeja kanan-kirinya, kesedihan yang begitu mendalam pun berpeluh seisi ruang tempat ngaji. Tanpa berpanjang waktu, ngaji pun segera diakhiri dengan bacaan Surah al-Fatihah.

Haru-biru, nampak jelas disudut mata setiap santri yang mengenal sosok Kiai Kharismatik itu, gaya bahasanya yang lembut, penuh kehati-hatian, setiap tutur kata beliau selalu menjadi teladan bagi santrinya. Salah satu amalan yang selalu beliau lakoni adalah Istiqomah. Semua kegiatan yang beliau jalankan baik di lembaga maupun majlis ta’lim yang beliau dirikan (Salafiyyah, Ma’had ‘Aly, pengajian tiap malam Sabtu Wage, dan pengajian IKAPPAM tiap malam Ahad Wage), beliau tidak pernah mengeluh. Mbah Zainal sangat memperhatikan pendidikan dimana beliau sangat istiqomah dalam mengajar, memberi contoh kepada santri-santrinya.

Anti Libur adalah sebutan untuk keistiqomahan beliau dalam mengajar, meskipun dalam keadaan apapun, muridnya berapapun beliau tetap mengajar, kecuali sudah benar- benar tidak mampu lagi. Beliau sangat suka kepada santri yang rajin mengaji, bukan santri yang rajin bekerja. Karena itu beliau sangat kecewa ketika ada santri yang tidak disiplin belajar. Beliau juga selalu memuthola’ah dahulu pelajaran yang akan disampaikan kepada santri-santri, dengan begitu beliau selalu menjawab dengan dasar hukum (rujukan yang diambil dari kitab-kitab).

Contoh ketika Ibu Nyai pernah menanyakan sesuatu dan beliau belum pernah mendengar, maka beliau akan mencari rujukan dahulu. Setelah menemukan rujukannya, baru kemudian menyampaikan jawabannya kepada Ibu Nyai. Termasuk keistiqomahannya dalam mengimami sholat jama’ah 5 waktu juga hampir tidak pernah absen, kecuali jika sedang bepergian yang memang harus beliau lakukan atau sedang sakit, maka beliau menunjuk seseorang untuk mengimaminya.

Dan kini, tinggal air mata yang berlinang, seolah ribuan kata tak sanggup melukiskan kepiawaiannya. Betapa tidak?, Sosok yang tidak pernah absen dari sholat berjamaah diawal waktu ini, kini harus berpamitan dengan kita semuanya. Tepat pada hari Sabtu, 15 Februari 2014, beliau menghadap keharibaan Ilahi Robbi. Wafatnya beliau menyisakan duka mendalam bagi para santri, keluarga dan muhibbinnya.

Banyak kenangan dan kesan tentang kepribadian kiai berkharisma tinggi ini, beliau adalah kiai yang sangat ketat memegang teguh fiqih Madzab Syafi’i. Apa yang menurut beliau benar, beliau tidak pernah ragu untuk melakukannnya, termasuk jika harus berbeda dengan mayoritas ulama yang lain. Tak kurang pujian dan pengakuan atas keilmuan disematkan oleh Rais ‘Am Nahdhatul Ulama KH. Ali Maksum yang tak lain adalah kakak dan guru beliau sendiri. “Zainal iku kiai Ampeg, Spesial Fikih 4 Madzhab “. Mbah Ali pun konon sering berdiskusi dengan Mbah Zainal perihal persoalan fiqih. Kemahirannya dalam babakan fiqih sangat luar biasa, penjelasan yang ringkas dan memberikan pemahaman yang jelas, banyak ilmu yang beliau wariskan melalui karya tulisnya, kitab yang berhasil beliau tulis masih menghiasi rak-rak setiap santrinya hingga kini. Mbah Zainal termasuk ulama yang produktif dalam menulis kitab, ada belasan kitab-kitab karya beliau antara lain Tarikhu al Hadharah Al Islami, Al Furuuq, Al Muqthathafat, Ta’rifu Ahlissunnah Wa Al Jama’ah , Wadhaifu Al Muta’allim, Gharib Al Nadlir Bi Kasyf Min Mas’uliyat Al Muta’allim Bahtsan Fighiyyan, Kitabus Shiyam, Manasik Haji, Majmu’ur Rasa’il, Ahkamul Fiqhi, dan Al Insya’.

Debu sisa letusan Gunung Kelud itu masih lekat menghiasi setiap sudut, Meja di Aula AB ditata dengan rapinya, sembari membersihkan debu yang ada. Halaman depan masjid disiram dengan air, supaya debu yang masih sisa tidak banyak yang berterbangan. Berduyun-duyun para pentakziyah mulai berdatangan dari segala penjuru. Setelah beberapa media mengabarkan wafatnya beliau, seusai Isya’ halaman Pondok Krapyak mulai dipenuhi para pentakziyah

Sebelum beliau wafat, beliau sakit selama 8 hari dan dirawat di RS Sardjito ruang Kusumawijaya, kemudian dirawat di rumah selama 12 hari. Dalam keadaan sakit pun beliau tetap mengajarkan ilmu seperti cara berwudhunya orang yang sakit. Karena kehati-hatian beliau dalam hal ibadah, selang infus dipasang di lengan bagian atas (bukan anggota wudhu). Karena kewira’ian beliau beberapa tahun terakhir ini beliau tidak makan yang bernafas seperti ayam, ikan dll. Bukan karena mempunyai penyakit, tetapi karena mengurangi kenikmatan dunia, supaya ditambah kenikmatan di akhirat kelak. Bahkan hasil pemeriksaan laborat, semua dokter mengatakan bahwa beliau tidak mempunyai penyakit.

Enam tahun silam ingatan ini masih sangat lekat, seolah baru kamarin saja beliau pergi. Mendengar wafatnya Kiai Zainal, pada hari Sabtu, 15 Februari 2014 ba’da magrib, para santri Krapyak dan sekitarnya khususnya yang berdomisili di Yogyakarta berbondong-bondong untuk datang melaksanakan shalat jenazah.

Pesantren Krapyak, dipenuhi para santri dan masyarakat yang ingin melaksanakan sholat jenazah untuk KH. Zainal Abidin Munawwir. Sholat jenazah dilaksanakan mulai sekitar pukul 20:30 WIB. Seraya ditemani dengan bacaan Surah Al-Ikhlas, para santri silih berganti memasuki ndalem untuk melaksanakan shalat jenazah. Petugas yang mengatur jalannya sholat jenazah pun kewalahan, karena saking banyaknya santri dan masyarakat yang ingin melaksanakan sholat jenazah.

Mengantisipasi antrian panjang para santri yang ingin sholat jenazah, tepat pada jam 22:00 WIB, jasad KH. Zainal Abidin Munawwir dipindahkan ke Masjid Pesantren Krapyak. Usai dipindahkan ke masjid, para santri yang belum melaksanakan sholat jenazah, kini dapat menjalankannya dengan jumlah jamaah yang lebih banyak.

Beliau wafat pada hari Sabtu, 15 Februari 2014 /15 Robi’ul Akhir 1435 H pukul 18.30 WIB dalam usia 85 tahun dan dikebumikan pada pukul 14.00 WIB hari Ahad keesokan harinya di pemakaman Sorowajan, Pedukuhan Glugo, Desa Panggungharjo sesuai permintaan beliau sebelum meninggal . Seperti yang dituturkan Ibu Nyai Ida Fatimah,” Bapak tidak suka wasiat. Karena dirasa, wasiat itu memberatkan bagi yang diwasiati. Yang penting pokoknya jalan, Ma’had ‘Aly dan Salafiyyah dijalankan terus dan hal-hal yang baik diteruskan .”

Enam tahun telah berlalu, tapi kini masih sangat kental dalam ingatan. Sebagai peringatan tahunan atau haul, selalu digelar dengan Tahlil dan Do’a disetiap tahunnya. Serangkaian acara Haul tahun 2019 ini, diawali dengan Majlis sima’an Al-Qur’an oleh santri Huffadh di Maqbaroh (komplek makam) Kiai Zainal, dan disima’ oleh santri AB dan D sedari Rabu (11/12), bakda ‘Asar hingga Kamis, (12/12) seusai sholat Subuh, kemudian dipungkasi dengan tahlil dan do’a takhtimul Alqur’an oleh ustadz Abdullah Harits, Kudus, yang juga merupakan santrinya Kiai Zainal. Sebagai puncak acaranya akan digelar Tahlil dan Doa’ di malam Jum’ah seusai sholat isya’.
Allahu Yarham Kiai Zainal.
___
Penulis: Irfan Asyhari