[Edisi Muharam] Amalan yang Berujung Penghinaan

[Edisi Muharam] Amalan yang Berujung Penghinaan

AlMunawwir.com – Muharam adalah salah satu bulan suci yang menjadi awal tahun baru Islam. Dinamakan bulan yang suci karena pada hakikatnya muharam itu “dilarang atau meninggalkan”, maksudnya meminimalisir terjadinya peperangan atau pertumpahan darah. Bulan ini memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan.

Dinamakan bulan Muharam karena orang Arab tempo dulu menyebutnya sebagai bulan yang mulia (haram), tahun berikutnya menyebut bulan biasa (halal).

Anak-anak
Sumber: Pinterest

Orang Arab zaman dahulu meyakini bahwa bulan Muharam adalah bulan suci sehingga tidak layak menodai bulan tersebut dengan peperangan. Sedangkan pada bulan lain misalnya safar, diperbolehkan melakukan peperangan. Nama safar sendiri memiliki arti sepi atau sunyi dikarenakan tradisi orang Arab yang keluar untuk berperang atau untuk bepergian pada bulan tersebut.

Baca Juga:

Bulan yang istimewa ini membawa banyak dampak baik terhadap amalan yang dikerjakan oleh kaum muslim. Salah satu amalannya yaitu dengan menyantuni anak yatim. Sebagian ulama mengawetkannya dalam bentuk nadham, sebagaimana yang dilakukan Syekh Abdul Hamid dalam kitabnya Kanzun Naja was Surur Fi Ad’iyyati Tasyrahus Shudur,


فِى يوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بِهَا اثْنَتَانِ وَلهَاَ فَضْلٌ نُقِلْ
صُمْ صَلِّ صَلْ زُرْ عَالمِاً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ
وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا * وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ


“Ada sepuluh amalan di dalam bulan ‘Asyuro, yang ditambah lagi dua amalan lebih sempurna. Puasalah, shalatlah, sambunglah silaturrahim, ziarah ke orang alim, menjenguk orang sakit, memakai celak mata, usaplah kepala anak yatim, bersedekahlah, mandi, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, dan membaca surat al-Ikhlas sebanyak 1000 kali”

Namun, di zaman sekarang kegiatan ini dianggap kurang etis untuk dijadikan bakti sosial terhadap masyarakat atau anak yatim, karena dinilai merendahkan anak yatim dan terdapat sifat riya’ terhadap apa yang telah dikerjakan oleh sang pemberi santunan. Meskipun kita tahu bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan pahalanya sesuai dengan apa yang kita niatkan.

Peristiwa di atas menjadikan pahala yang seharusnya meningkat di bulan Muharam malah menurun. Kita sebagai santri dan juga manusia beradab harusnya tahu dan respect terhadap persoalan yang butuh penanganan khusus seperti kesalahpahaman antara berbagai sudut pandang yang menyudutkan satu kejadian tersebut dianggap salah dan dicap jelek.

Kita sebagai santri sudah selayaknya bergerak untuk meminimalisir terjadinya kesalahpahaman pemikiran terhadap fenomena yang terjadi. Melalui argumen lewat sosial media atau tulisan bisa meluruskan apa yang sebenarnya terjadi dan apa pandangan yang selayaknya terkait kejadian yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Apalagi di bulan Muharam yang mulia ini, seyogyanya kita sebagai umat islam berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan berlomba-lomba mencari sensasi yang bertentangan dengan syariat islam. Wallahu A’lam

Baca Juga:

Editor: Redaksi

Kavina Biizzika

Kavina Biizzika

Kavina Biizzika

Santri Komplek Q

5

Artikel