Berawal dari Hobi Nyimak, Berakhir Disimak 30 Juz

Berawal dari Hobi Nyimak, Berakhir Disimak 30 Juz

Almunawwir.com- “Orang yang hafal Al-Qur’an itu pilihan Allah. Allah meniupkan ruh Al-Qur’an di hati seorang hamba, yang pada akhirnya Allah takdirkan untuk menghafal Al-Qur’an”, kata Bahriyatul Ulwiyah yang sering disapa dengan Mbak Ulya, salah satu khotimat masyhuroh pada haflah khotmil Qur’an 2023 asal Malang, Jawa Timur.

Dawuh dari guru Mbak Ulya tersebut menjadi semangat dalam proses hafalan Al-Qur’an yang dilakukannya. Karena menurutnya, menghafal Al-Qur’an bukanlah hal yang mudah. Mungkin ada beberapa orang yang menganggap menghafal Al-Qur’an adalah hal yang mudah dilakukan oleh orang yang cerdas dan pintar. Namun pada dasarnya kecerdasan dan kepintaran seseorang bukan kunci dalam menghafal Al-Qur’an, melainkan ridho Allah.

Baca Juga:

Seni Bahagia Menghafal Al-Qur’an

Cobaan akan datang silih berganti mengggoyahkan semangat dalam menghafal. Jika bukan karena ridho Allah dan hati yang mencintai Al-Qur’an, maka seseorang yang sedang menghafal  Al-Qur’an tidak akan bertahan dalam murojaah hafalannya.

Gambar: Simaan Al-Qur’an 30 Juz

Mba Ulya bercerita, pernah suatu ketika ia menghafal satu ayat tapi tidak hafal-hafal. Saat titik itu ia menyadari bahwa dalam mengahafal Al-Qur’an membutuhkan kesiapan hati, jiwa, dan raga. Ia juga menambahkan bahwa kunci dalam menghafal Al-Qur’an adalah kesabaran, ketelatenan, dan istiqomah.

Pada awalnya, sebelum memutuskan untuk menghafal Al-Qur’an, Mba Ulya hobi menyimak orang-orang yang sedang hafalan. Ia mengagumi orang-orang tersebut. Karena ia melihat seseorang yang menghafalkan Al-Qur’an tingkah lakunya banyak mencerminkan kebaikan ketika itu.

Walaupun begitu, motivasi utama dalam menghafal Al-Qur’an adalah orang tua, orang yang sudah memberikan yang terbaik untuk anaknya. Mbak Ulya ingin memberikan satu hal yang berarti dalam hidupnya dan dapat membahagiakan orang tuanya.

“Orang tuaku saja sangat bahagia melihat anak orang lain hafal Al-Qur’an. Apalagi kalau seandainya anaknya yang hafal Al-Qur’an”, katanya.

Baca Juga:

Murottal Al-Qur’an: Solusi Spiritual Menangani Kecemasan

Mba Ulya mulai menghafal sejak kelas satu SLTA (Sekolah Lanjut Tingkat Atas) di Malang. Pada saat itu, ia menghafal secara diam-diam. Ia tidak ingin teman-temannya tahu, bahkan orang tuanya pun tidak tahu. Setelah satu tahun menghafal secara diam-diam, pada akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke komplek khusus huffadz dan meminta restu kepada orang tuanya.

Keputusan tersebut diambil karena menurutnya lingkungan sangat mempengaruhi dalam proses menghafal Al-Qur’an. Saat belum masuk komplek huffadz ia merasa berjuang sendiri. Ia menghafal sendiri di sela-sela waktu sekolah dan mengaji madrasah diniyah. Berbeda ketika masuk komplek huffadz, ia merasa berada di lingkungan yang tepat bersama orang-orang yang juga sedang berjuang menghafal Al-Qur’an.

Pernah ketika sudah berada di komplek huffadz, Mbak Ulya sudah siap untuk tidur, sedangkan teman-temannya sedang menambah hafalan Al-Qur’an di balkon. Dikarenakan hal itu, ia tidak jadi tidur dan mengikuti teman-temannya untuk menambah hafalan. 

Berdasarkan pengalaman yang telah ia rasakan, Mbak Ulya menyadari bahwa ridho dan doa orang tua serta gurunya merupakan kunci utama dalam proses panjang menghafal Al-Qur’an.

Baca Juga:

[Cerpen Nasihat] Rinai Niat Mondok

Nur Hanik

Nur Hanik

NurHanik

Santri Komplek R2

11

Artikel