Genealogi Kecakapan Literasi Santri dan Problema Modernitas

Genealogi Kecakapan Literasi Santri dan Problema Modernitas

Almunawwir.com – Sudah menjadi paradigma umum bahwa lema ‘santri’ kerap kali dikaitkan dengan pemahaman tentang ‘sekumpulan orang yang mencari ilmu agama di pesantren’. ‘Santri’, ‘pesantren’, dan ‘ilmu agama’ seakan menjadi segitiga yang ketiga sisinya tidak bisa dipisahkan dan saling terkait antar satu dengan lainnya.

Dari paradigma ini, timbul pembacaan yang memandang santri sebagai entitas yang hanya menimba ilmu agama sebagai aktivitas kesehariannya. Pandangan pihak yang membatasi lema ‘santri’ dengan aktivitas yang berbau ilmu agama tersebut ternyata tidak sekedar tuntas begitu saja di ranah deskriptif.

Intelektualitas Santri
Ilustrasi: Pinterest

Selanjutnya secara kronologis muncul impresi ketika membahas perilaku santri sebagai topik perbincangan. Santri sebagai sentral ilmu agama tidak syak merupakan pemahaman yang sudah terbangun sejak masa yang terlampau lama.

Dalam hal ini, Zamakhsyari Dhofier (2011) memberikan pandangan bahwa pesantren sejatinya merupakan bagian dari misi penyebaran Islam di Indonesia. Tidak dipungkiri, bahwa tantangan misionaris dan penyebaran agama Islam menjadi ilham awal keberadaan pesantren yang kemudian mengakar hingga saat ini.

Mengikuti misi penyebaran agama tersebut, tidak heran jika kemudian karakteristik yang muncul saat membicarakan ihwal ‘pesantren’ atau ‘santri’ adalah soal ilmu agama, hingga kemudian antara ketiganya tidak bisa dipisahkan begitu saja. Santri pun menjelma menjadi pusat rujukan yang otoritatif seputar ilmu agama, serta tempat dominan untuk belajar ilmu agama adalah di pesantren.

Benang Ikatan Harmonis antara Santri dan Ilmu Agama

Dari saling berkaitannya dimensi santri dan ilmu agama, timbul hubungan yang harmonis antar keduanya. Dengan membawa ilmu agama di genggamannya, santri secara simbolik dinobatkan sebagai pemegang warisan peradaban, secara spesifik adalah peradaban keilmuan klasik Islam.

Kegiatan-kegiatan di lingkungan pesantren yang berorientasi pada pelestarian ilmu-ilmu agama, seperti ngaji bandongan kitab kuning, bahtsul masail, hingga aklimatisasi praktik keseharian yang religius, menjadi ikon-ikon khusus yang melambungkan nama santri sebagai pemegang warisan peradaban.

Pada tataran ini, kegiatan-kegiatan pesantreniyah tersebut merepresentasikan mental santri yang dianggap oleh publik sebagai entitas yang religius sehingga keberadaannya pun juga dinilai krusial dalam percaturan pendidikan di Indonesia.

Sebetulnya, yang menjadi sisi istimewa santri di tengah keberadaan intelek non-santri lain, di samping kecakapannya dalam membingkai literatur klasik menjadi sebuah keilmuan, adalah kepiawaiannya saat merangkul masyarakat kelas bawah. Kemampuan ini yang kiranya menjadi musabab khusus mengapa keberadaan santri masih dianggap berharga bagi masyarakat umum.

Di tengah pertanyaan dan problem seputar agama yang melingkupi umat, santri secara langsung membaur dengan masyarakat umum dengan berbekal jawaban agamis dan tuntunan yang simpatik terhadap tradisi lokal. Seterusnya, santri dianggap menjadi pihak yang mengayomi masyarakat umum sekaligus mampu menjawab problematika keagamaan mereka.

Kiranya menarik perbincangan perihal ini, bahwa secara tidak sadar ada sikap defensif masyarakat umum, khususnya dari kelas bawah, terhadap tradisi lokal sehingga mereka cenderung menerima interpretasi agama yang sejalan dengan tradisi yang telah dianut begitu lama. Hanya saja, tulisan ini tidak membincang lebih jauh terkait hal tersebut, karena fokus utama disini adalah santri.

Benturan di antara Harmoni Santri dan Ilmu Agama

Harmoni yang terjadi antara ‘santri’ dan ‘ilmu agama’ nyatanya bukan kisah yang abadi. Hal ini musabab di tengah perkembangan global yang semakin pesat, kecakapan santri sebagai seorang intelektual menjadi dipertanyakan seiring dengan benturan yang terjadi antara pemahaman santri˗˗yang diklaim mewakili kekonservatifan˗˗ dengan modernitas.

Benturan-benturan ini semakin nampak manakala diskusi-diskusi seputar agama yang dilakukan oleh pihak ‘santri’ menjadi pembicaraan yang elitis dan jauh berada di menara gading sehingga tidak menjangkau masyarakat di sekitarnya.

Apa yang dikatakan Azyumardi Azra misalnya, bahwa santri memiliki kepiawaian dalam menjangkau Muslim pada kelas masyarakat tingkat bawah, agaknya menjadi pernyataan yang relevan untuk dipertanyakan ulang. “Apakah santri dengan membawa paradigma sebagai ‘entitas yang mempelajari ilmu agama’ tidak dapat mempertahankan sisi emansipatornya ketika dihadapkan pada modernitas?”

Pertanyaan ini lagi-lagi akan coba didiskusikan dengan mengurai aspek dasariah paradigma tersebut. Selama ini, santri dibatasi definisinya sebagai orang mendalami ilmu agama. Definisi tersebut tidak sepenuhnya salah, hanya saja apa yang muncul darinya berpotensi menimbulkan miskonsepsi akan santri dan segala perilakunya, termasuk dalam aktivitas keilmuan.

Intelektualitas Santri: Sebuah Solusi?

Argumen yang bisa digunakan dalam tataran ini adalah kecakapan santri dalam menghadapi problematika masyarakat kelas bawah. Tentu bukan hal yang mudah bagi santri untuk memanusiakan aspek agama yang didominasi oleh pengetahuan-pengetahuan teologis.

Oleh karenanya, terang bahwa dari sejak awal, intelektualitas santri diasah untuk menghasilkan penjelasan yang dipahami oleh masyarakat umum. Dari premis-premis ini, kesimpulan sementara yang muncul adalah bahwa santri tidak hanya belajar ilmu agama.

Di samping belajar ilmu agama secara teoritikal, santri juga belajar tentang ilmu laku masyarakat, dimana di dalamnya terdapat aspek lokalitas hingga psikologi masyarakat. Maka tidak tepat jika lema ‘santri’ hanya disempitkan definisinya kepada entitas yang mendalami ilmu agama.

Modernitas yang menuntut terjadinya perkembangan di semua lini kehidupan, termasuk keilmuan, memacu seluruh kalangan untuk mengikutinya, dimana masyarakat umum termasuk di dalamnya. Jika santri masih ingin berpegang teguh pada keistimewaannya dalam menyuguhkan wacana agama elitis dalam bentuk yang emansipatoris, maka harus ada tindakan untuk memahami fluktuasi dinamika masyarakat.

Santri Hibrida: Kecakapan Santri Menghadapi Modernitas

Istilah yang mutakhir ini cukup banyak berkembang adalah terminologi ‘santri hibrida’ yang sering dikaitkan dengan pemahaman seputar ‘santri yang mengkaji dan memadukan dua jenis keilmuan atau lebih’.

Perkataan Gus Dur yang mengatakan bahwa pesantren berdiri sebagai sebuah subkultur, secara tersirat menghendaki tindakan santri untuk mengikuti perkembangan kebudayaan dan perubahan sosial yang ada di masyarakat.

Sebab masyarakat senantiasa mengalami perubahan sosial, posisi santri adalah sebagai pendidik sekaligus sosiolog, dimana ia bertugas untuk mengkaji arah dinamika tersebut, sehingga bisa memformulasikan corak yang tepat untuk digunakan kepada masyarakat umum.

Bagi masyarakat awam yang keadaannya majemuk dan saling berbaur, wacana agama sudah pasti bukan komponen yang terjangkau dan berada pada posisi yang elit. Kebutuhan yang fundamental dari masyarakat adalah keberadaan orang-orang yang mampu mempertembungkan antara wacana agama yang elitis untuk bisa dipahami secara luas oleh masyarakat tersebut.

Baca juga:

Sosok-sosok inilah yang sejak dulu didominasi oleh kalangan santri. Dikatakan oleh Azra, bahwa sarjana-sarjana semisal perguruan tinggi Islam pun tidak memiliki kecakapan yang mumpuni, alih-alih mendominasi di bagian ini.

Dari sini, semakin nampak bahwa peran santri sebagai warisan peradaban, di samping kecakapannya dalam melestarikan literasi keilmuan Islam klasik, adalah perannya dalam upaya mendialogkan keilmuan klasik dengan realita perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Walahu a’lam

Editor: Alma Naina Balqis

Baca juga:

Arina Al-Ayya

Arina Al-Ayya

ArinaAl-Ayya

8

Artikel