Kajian Semantik Kata al-Balad dalam al-Qur’an (Bagian 2)

Kajian Semantik Kata al-Balad dalam al-Qur’an (Bagian 2)

Almunawwir – Al-Quran menempatkan al-balad sebagai salah satu kosakata penting yang merujuk pada konsep negara, negeri, tanah, kota, atau wilayah. Berikut adalah analisis kata al-balad melalui tinjauan semantik dari segi makna relasionalnya.

Medieval Arab
Sumber: assetstore.unity.com

Dalam surah Ibrahim ayat 35 Nabi Ibrahim berdoa lagi, Beliau memohonkan keamanan untuk tempat tinggalnya, keluarganya (istri dan anak), serta masyarakat di sekitarnya. Selain itu, beliau juga berdoa agar mereka bisa tetap teguh dalam beriman kepada Tuhan Yang Esa (aqidah tauhid):

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِیمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَـٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنࣰا وَٱجۡنُبۡنِی وَبَنِیَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ

Kata al-balad dalam ayat ini juga merujuk pada kota Mekkah, yang saat itu telah menjadi tujuan banyak orang karena keberadaan air zamzam. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah agar kota tersebut senantiasa dilindungi dan dijaga keamanannya. Berbeda dengan penggunaannya di surat al-Baqarah, di mana baladan digunakan sebagai ism nakirah, yang menunjukkan bahwa Mekkah pada masa itu masih terbilang sepi dan belum ramai dikunjungi (Shihab, 2011: 67-68).

Di balik doa Nabi Ibrahim dalam ayat ini, terpancar makna yang lebih dalam. Beliau tidak hanya memohonkan keamanan bagi negeri yang didiaminya, tetapi juga memohon perlindungan ideologi dari gempuran ideologi paganisme dan politeisme.

Baca Juga:

Selain menyebut Makkah dengan al-balad, al-Qur’an juga memakai beberapa nama lain. Makkah dan bakkah secara terpisah muncul pada satu titik, sementara bait ‘atiq, bait al-haram, serta ummul qura disebut 2 kali. Makkah beserta bakkah dianggap se-arti, meski ada pendapat yang membedakannya.

Menurut Quraish Shihab dalam Al-Misbah, Bakkah dikhususkan untuk Ka’bah di Masjidil Haram, sedangkan Makkah mencakup keseluruhan kota. Penggunaan huruf ba’ dan mim terkadang memiliki arti serupa karena tempat dan sifat pengucapannya yang berdekatan.

Istilah bakkah, bait al-‘atiq, serta bait al-haram ditujukan untuk menyebut lokasi khusus di Makkah, yaitu Ka’bah atau Masjidil Haram. Sedangkan ummu al-qura digunakan untuk menyebut keseluruhan wilayah Mekkah.

Negeri atau Tanah

Kata al-balad yang merujuk kepada “negeri” muncul sebanyak 8 kali di dalam teks al-Qur’an. Selain itu, terdapat kata balad dan baldah dengan arti serupa, yang tersebar di delapan surat: Al-A’raf: 57, Al-A’raf: 58, Fatir: 9, Al-Furqan: 49, Al-Zukhruf: 11, An-Nahl: 7, Qaf: 11, dan Saba: 15.

Dalam penggunaannya, “negeri” ini digambarkan sebagai tanah tandus (maytan) sebanyak lima kali, tanah subur (tayyib) dua kali, dan sekali sebagai tujuan perdagangan (an-Nahl: 7).

Negeri-Negeri atau Kota-Kota

Al-Qur’an menggunakan kata “negeri” dengan makna yang luas, melampaui batas wilayah geografis. Kata ini tidak hanya merujuk pada desa, tetapi juga bisa berarti kota juga negara. Arti yang lebih meluas ini terlihat dalam penggunaan kata bilad (jamak dari balad) sebanyak lima kali di dalam teks Al-Qur’an, yakni dalam surat Ali ‘Imran: 196, Ghafir: 4, Qaf: 36, Al-Fajr: 8, dan Al-Fajr: 11.

Kata al-bilad dalam al-Qur’an merujuk pada beberapa negeri atau kota, namun penggunaannya selalu memiliki konotasi negatif. Di lima ayat yang disebutkan, al-bilad selalu dikaitkan dengan tempat-tempat yang menjadi saksi terjadinya kezaliman, kekufuran, dan tipu daya.

Kata ini sering dibarengi dengan kata-kata seperti kafara (orang-orang kafir), tagha (orang-orang yang melampaui batas), gharar (penipuan), dan merujuk pada bangsa-bangsa yang melakukan penindasan di dunia, contohnya ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun.

Makna Semantik al-Balad: Sebuah Konklusi

Penggunaan istilah al-balad dalam al-Qur’an berdasarkan pendekatan Izutsu, menunjukkan ide, struktur, dan pembatasan wilayah sebuah negara. Analisisnya menghasilkan tiga makna seperti yang telah disebutkan diatas, namun al-balad tidak selalu menunjukkan sistem yang sama di semua tempat.

Di masa itu, Makkah, yang disebut al-balad, menerapkan sistem kesukuan, di mana setiap kepemimpinan suku dipegang oleh pemimpin yang independen mengikuti aturan tradisional dan juga batas-batas wilayahnya belum ditetapkan secara resmi. Berbeda dengan al-balad menurut kisah Ratu Bilqis yang merujuk pada negara dengan pemerintahan monarki dan mempunyai wilayah teritorinya sendiri.

Pada aspek kedua, al-balad bermakna objektif. Kebaikan atau keburukan suatu negara tidak ditentukan oleh bentuk pemerintahannya, melainkan dari ketaatan rakyatnya terhadap norma-norma agama, sosial, dan lingkungan. Pada spektrum makna ketiga, al-balad dalam bentuk jamak selalu bermakna negatif.

Baca Juga:

Ini menunjukkan bahwa kejahatan, penindasan, dan kesewenang-wenangan dapat terjadi di sistem pemerintahan apa pun dan tidak terbatas pada suatu generasi atau wilayah tertentu. Kemakmuran dan kesejahteraan rakyat tidak ditentukan oleh struktur pemerintahannya, tetapi oleh kepatuhan dan kerja keras mereka. Kejahatan pun tidak mengenal batas negara dan dapat terjadi di mana pun di dunia.

Oleh: Muna Min A.

Editor: Arina Al-Ayya

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel