Kisah Wali Perempuan Masyhur, Rabi’ah al-Adawiyyah

Kisah Wali Perempuan Masyhur, Rabi’ah al-Adawiyyah

Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang wali putri (perempuan) yang sangat masyhur. Beliau terkenal akan giatnya dalam menjalankan ibadah sepanjang hari. Beliau juga merupakan ahli mahabbah (cinta) kepada Allah SWT, di mana cintanya melebihi dari apapun yang ada di dunia dan seisinya ini.

Sejak kecil, Sayyidah Rabi’ah sudah terdidik dengan sangat baik. Beliau tekun dalam beribadah dan melakukan tirakat. Saat dirinya masih kecil, beliau sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya dan juga sudah lama telah berpisah dengan sanak saudaranya sehingga beliau hidup sendirian.

Suatu saat, ketika hendak pergi keluar rumah, beliau ditangkap perampok lalu dijual dan dibeli oleh seorang pedagang yang tidak berperikemanusiaan. Beliau dijadikan budak dan dipaksa bekerja dengan pekerjaan yang berat dan yang tak semestinya dilakukan oleh wanita pada umumnya.

Beliau bekerja mengangkat bahan makanan berupa karung-karung besar dan berat. Tak hanya sampai di situ, beliau dipaksa majikannya untuk bekerja dengan keras dan giat hingga hampir tak mendapatkan jatah makan dan minum, namun dengan kondisi seperti itu, Ra’biah tetap istiqomah bermunajat kepada Allah SWT di setiap malam.

Pada suatu waktu, majikannya terbangun dari tidur mendengar dan melihat dari jendela kamar Sayyidah Rabi’ah sedang bermunajat hingga menangis. Majikannya terheran-heran saat melihat ada sebuah nur (cahaya) yang bersinar hingga mengelilingi tempat Sayyidah Rabi’ah bermunajat. Semenjak kejadian tersebut, majikannya akhirnya memerdekakannya.

Baca Juga:

Setelah terbebas, ia memilih fokus untuk beribadah, sampai ia tidak mau bekerja dan mengabaikan urusan duniawi. Kezuhudannya masyhur, hingga rumahnya banyak didatangi tamu para aulia’ dan zuhhad dari negara Basrah. Tempat sujudnya selalu saja dibasahi oleh air mata. Kalau mendengar sebutan neraka, beliau jatuh pingsan hingga waktu yang cukup lama.

Beliau sering berpesan untuk selalu memohon ampunan kepada Allah SWT dan senantiasa mengucapkan kalimat istighfar. Beliau dawuh seperti ini,

استغفارنا يحتاج إلى استغفارٍ

Artinya: “Istighfar (meminta ampun dan bertaubat) kita itu masih membutuhkan istighfar lagi.”

Pernah, suatu saat beliau mendengar keluhan Syaikh Sufyan as-Tsaury: “Aduh, susahku, aduh, takutku”. Setelah itu Sayyidah Rabi’ah menyanggah dengan mengatakan, “Aduh, kok amat sedikit kesusahanmu, kalau kamu memang benar-benar susah, masak hanya begitu cara hidupmu”.

Menurut beberapa riwayat yang masyhur, Sayyidah Rabi’ah tidak pernah bersuami. Beliau pernah dilamar oleh Syaikh Hasan al-Basriy, namun beliau menanyakan 4 perkara sebagai syarat agar mau menikah dengannya.

Pertama, jika aku mati, apakah matiku dalam kondisi beriman atau tidak?. Kedua, jika aku telah sampai di alam kubur, apakah aku bisa menjawab pertanyaan malaikat Munkar Nakir atau tidak?. Ketiga, ketika umat manusia menerima buku amalannya, maka aku akan menerima buku apa?. Keempat, jika manusia dipanggil berdasarkan golongannya, maka termasuk golongan manakah diriku, orang yang akan masuk surga atau neraka?

Mendengar pertanyaan yang diajukan, Syaikh Hasan al-Basri memberikan jawaban, “Semua itu adalah perkar ghaib, dan hanya Allah SWT lah yang tahu jawabannya”. Setelah itu, Rabi’ah menimpali, “Barangsiapa mengkhawatirkan empat perkara ini, masa ia masih sempat memikirkan masalah jodoh.”

Pernah juga, beliau didatangi oleh seorang pemuda yang berkata, “Aku sangat mencintaimu, aku ingin menikahimu”. Kemudian, beliau menjawab sembari bertanya kembali, “Benarkah kamu mencintaiku? Apa alasanmu?”. “Karena akhlak dan kecantikanmu aku bisa mencintaimu” jawab pemuda itu dengan tatapan yang dalam.

“Kalau seperti itu, aku memiliki adik perempuan di rumah, dia lebih sholihah dariku, juga lebih cantik dariku, dan lebih muda, sepertinya cocok untukmu. Itu dia di belakangmu”. Kemudian Sayyidah Rabi’ah menunjuk ke arah belakang pemuda tersebut. Pemuda itu percaya dan menoleh ke arah belakang.

“Itu dia di sana, cepat pergi, jika seseorang itu tulus mencintai maka niscaya ia tak akan pernah berpaling kepada siapapun.” lanjut Sayyidah Robi’ah dengan menunjukkan ke arah belakang.

Pemuda itu menjawab, “Tidak Rabi’ah, aku benar-benar mencintaimu”. ucapnya meyakinkan Sayyidah Rabi’ah dengan mengetupkan kedua telapak tangan. Setelah itu, Sayyidah Rabi’ah pergi meninggalkan pemuda tersebut.

Karamah Sayyidah Ra’biah al-Adawiyyah

Beliau dulu pernah mempunyai tanaman yang terserang belalang (hama tanaman), beliau lalu berdoa, “Ya Allah, lantaran ini Engkau menanggung rezekiku, akan tetapi terserah, apakah Engkau akan memberi makan kepada musuh-Mu atau kepada kekasih-Mu.” Setelah itu, tak lama kemudian semua belalang tersebut pergi hingga tak bersisa lagi.

Suatu waktu ketika beliau sedang sholat tahajud, pernah rumahnya dimasuki seorang pencuri yang hendak mengambil barang berharga. Si pencuri tersebut tidak mendapatkan apapun, sebab tidak ada yang bisa diambil dari rumah Sayyidah Rabi’ah. Namun, saat si pencuri hendak keluar, ia tidak menemukan jalan keluar.

Setelah selesai salat, Sayyidah Rabi’ah melihat si pencuri sembari berkata dan berdoa, “Apa yang anda lakukan di rumah saya? Di rumah saya tidak ada barang berharga. Ya Allah, ia telah masuk ke rumahku dengan maksud dan tujuan, mudah-mudahan ia keluar dari sini membawa sesuatu meskipun di rumahku tidak ada apapun yang berharga”.

Sejenak kemudian, si pencuri tersebut bisa keluar melewati pintu depan, dan seketika itu ia langsung mendapatkan hidayah dan langsung bertaubat kepada Allah.

Penulis: Deananda Triagi Putri

Deananda namanya. Gadis asal kota Surakarta ini telah menulis berbagai cerpen dan puisi dalam lomba antalogi. Akun Instagram @anandaputri.86

Editor: Redaksi

Baca Juga:

Redaksi

Redaksi

admin

531

Artikel