Kajian Semantik Kata “Khalifah” dalam Al-Qur’an

Kajian Semantik Kata “Khalifah” dalam Al-Qur’an

Almunawwir.com-Al-Qur’an adalah kalam Allah Swt yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat penting di dalam kehidupan umat Islam.

Adanya petunjuk, norma, dan bukti-bukti kebenarannya, menjadikan seluruh isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an berlaku bagi siapa pun, kapan pun dan di mana pun sebagai realitas yang terjadi dalam kehidupan manusia. Sehingga penerapan ajaran-ajaran yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an memberikan dampak bagi umat manusia yang berupa kebenaran dan kesejahteraan.

Al-Qur’an sebagai sebuah kitab dengan sastra yang indah, menjadikan sisi kebahasaan itu mulai dikaji lebih luas dalam metode kebahasaannya. Terdapat salah satu tokoh yang mempopulerkan kajian bahasa Al-Qur’an, yakni Toshihiku Izutsu yang menekankan pada semantik kebahasaan Al-Qur’an. Semantik menjadi salah satu cara yang tepat untuk mencapai kesesuaian makna yang menyeluruh dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam artikel ini, penulis akan membahas mengenai makna kata khalifah dalam Al-Qur’an yang akan dikaji dengan pendekatan semantik Toshihiku Izutsu.

Makna Dasar

Makna dasar adalah sesuatu yang melekat pada kata itu sendiri, yang selalu terbawa di manapun kata itu diletakkan meskipun kata itu diambil di luar konteks al-Qur`an.[1]

Kata khalifah berasal dari rangkaian tiga huruf yaitu kha’, lam, dan fa’. Kata khalifah merupakan bentuk isim masdar dari fi’il tsulasi mujarod yakni khalafa-yakhlafu-khalfan yang berarti mengganti. Dalam kitab Lisanul ‘Arab, kata khalafa bermakna belakang atau lawan dari yang di depan. Makna yang dijelaskan disini menandakan akan posisi sesuatu terhadap sesuatu yang lain, yaitu sesuatu berada di belakang sesuatu yang lain. Selain itu, kata khalafa dalam kitab ini juga diartikan sebagai setelah, yaitu sesuatu yang datang setelah sesuatu yang lain pergi.[2]

Dalam kitab Maqayisul Lughah juga dijelaskan bahwa kata khalafa memiliki tiga makna dasar, yaitu 1) Sesuatu yang datang setelah sesuatu untuk mengambil alih tempatnya atau kedudukannya, 2) Berbeda dengan sebelumnya, 3) Perubahan, pertukaran, atau pergeseran.[3]

Dari ketiga makna dasar tersebut dapat disimpulkan bahwa kata khalafa bermakna tentang sesuatu yang datang setelah sesuatu yang lain untuk mengambil alih tempat, jabatan, atau kekuasaan yang membawa perbedaan dari sesuatu yang sebelumnya untuk melakukan perubahan atau pergeseran.

Dari kedua kitab tersebut, dapat disimpulkan bahwa makna dasar kata khalifah memiliki makna pengganti, yakni orang yang datang setelah orang lain pergi untuk meneruskan apa yang dilakukan orang sebelumnya, atau mengambil alih kedudukannya untuk melakukan perubahan.

Makna Relasional

Makna relasional adalah sesuatu yang bersifat konotatif yang diberikan dan ditambahkan pada makna yang sudah ada dengan meletakkan kata itu pada posisi khusus dan dalam bidang khusus, berada pada hubungan yang berbeda dengan semua kata penting lainnya dalam sistem tersebut.[4] Dalam mencapai makna relasional ini, Izutsu memerlukan analisis sebagai berikut.

    Pertama, Analisis Sintagmatik, yaitu analisis yang mencoba menentukan makna suatu kata dengan memperhatikan kata sebelum dan sesudah kata yang dijelaskan pada bagian tertentu. Kata khalifah dalam Al-Qur’an paling sering dipasangkan dengan kata fi al-ard (di bumi) yang bermakna penguasa bumi, seperti dalam QS. al-Baqarah ayat 30.

    وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ….. ٣٠

    Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

    Kedua, Analisis Paradigmatik, yaitu analisis yang membandingkan suatu kata atau konsep tertentu dengan kata atau konsep lain yang sejenis atau berlawanan. Oleh karena itu, jika dipandang dengan analisis ini terdapat beberapa kata yang dapat menggantikan kata khalifah, seperti kata imam (pemimpin), sultan (raja), waliy (penguasa).

    Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa makna dasar kata khalifah yaitu pengganti, dalam hal ini sebagai subjek yaitu manusia. Pemaknaan kata tersebut dapat dipahami bahwa manusia dijadikan Allah sebagai pengganti-Nya dalam menguasai bumi. Penguasaan ini dapat diartikan bahwa manusia diberi kuasa oleh Allah untuk memanfaatkan segala sesuatu yang ada di bumi dan menjaganya agar tetap baik serta terhindar dari kerusakan.

    Selain itu, manusia sebagai pengganti dapat diartikan sebagai pemimpin atau generasi baru yang mempertahankan atau mengambil alih kekuasaan generasi sebelumnya yang sudah tiada atau tak lagi berkuasa. Sehingga melalui pemaknaan kata khalifah ini dapat menjadi renungan setiap manusia untuk mengamalkan apa yang terkandung dalam kata tersebut.

    Baca Juga:

    Penulis: Arina Fatma Zahro (Mahasiswa S1 IAT Sunan Kalijaga Yogyakarta)

    Editor: Redaksi

    Redaksi

    Redaksi

    admin

    530

    Artikel