Bagaimana jika negara yang berdaulat dan memiliki kebebasan berpikir ini menjadi negara yang dicap minim moral karena seorang pemimpin?
Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam praktik korupsi, bahkan kerap masuk dalam jajaran negara dengan tingkat korupsi tinggi di kawasan Asia. Bahkan, bangsa Indonesia pernah dipimpin oleh seorang pelaku tindak pidana korupsi.
Data terbaru dari Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan potensi kerugian negara akibat korupsi di Indonesia pada tahun 2024 mencapai Rp279,9 triliun, angka ini meningkat tajam dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp28,4 triliun. Korupsi tersebut didominasi kasus timah, dengan total kasus yang ditangani penegak hukum (Kejagung, Polri, KPK) mencapai 364 kasus dengan 888 tersangka, walaupun kinerja penindakan menurun dalam 5 tahun terakhir. Banyaknya korupsi ini tidak hanya berdampak pada finansial negara, tetapi juga memperburuk ketimpangan sosial, meningkatkan kemiskinan dan pengangguran, serta melemahkan kepercayaan publik dan supremasi hukum. hal itu diperparah dengan implementasi kebijakan yang terlihat timpang dan terbalik dari kenyataannya, untuk itu perlunya pendalaman mengenai pemahaman moral dan etika dalam berpolitik.
Moral adalah kesadaran hati dari tiap-tiap jiwa manusia; kesadaran hati nurani untuk menghormati dan mencintai sesama, membela kaum tertindas, bersikap altruistik dengan mementingkan kepentingan masyarakat banyak dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai humanisme. Dengan adanya kesadaran jiwa ini, maka dapat dipastikan akan terjadi pertentangan dengan sikap dan perilaku negatif.
Dalam Islam, politik bukanlah sekadar upaya meraih kekuasaan, tetapi merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan nilai-nilai moral. Etika berpolitik dalam pandangan Islam berlandaskan pada prinsip keadilan, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap rakyat. Pondasi ini bersumber dari Al-Qur’an, Hadis, serta praktik politik Rasulullah SAW yang mencerminkan akhlak mulia. Berikut ini beberapa etika berpolitik dalam pandangan Islam:
1. Politik sebagai Amanah
Dalam QS. An-Nisa: 58, Allah memerintahkan agar amanah diberikan kepada yang berhak dan memutuskan perkara dengan adil. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan adalah titipan, bukan hak mutlak. Pemimpin dalam Islam adalah pelayan umat, bukan penguasa yang semena-mena.
2. Kejujuran dan Transparansi
Islam sangat menekankan kejujuran. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia jujur dalam perkataannya.” Dalam konteks politik, ini berarti tidak menyebarkan hoaks, fitnah, atau menggunakan tipu daya demi meraih kekuasaan.
3. Menjaga Ukhuwah dan Menghindari Konflik
Etika berpolitik Islam menekankan pentingnya menjaga persatuan (ukhuwah islamiyah dan basyariyah). Persaingan politik tidak boleh mencederai persaudaraan atau menyebabkan perpecahan di masyarakat.
4. Keadilan dan Pembelaan terhadap yang Lemah
Politik Islam berpihak pada yang lemah. Pemimpin ideal adalah yang membela hak-hak rakyat kecil, menjunjung keadilan tanpa memandang status sosial, suku, atau agama.
5. Menghindari Politik Uang dan Nepotisme
Islam melarang suap dan korupsi. Politik yang dilandasi uang dan kepentingan pribadi adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah.
Kondisi politik Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketimpangan kebijakan, penyalahgunaan kekuasaan, hingga melemahnya kepercayaan publik terhadap para pemimpin. Etika berpolitik terutama dalam prespektif Islam menjadi kunci utama dalam penyelesaian masalah. Hal itu karena sumber pondasinya dari Al-Qur’an dan Hadis; serta praktik politik Rasulullah SAW, yang mencerminkan akhlak mulia dan menuntut para aktor politik untuk mengedepankan kejujuran, keadilan, dan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Dengan etika yang kuat dan komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi serta moralitas, politik Indonesia dapat diarahkan menuju tatanan yang lebih bersih, adil, dan berintegritas.
Editor: Wahyudi Az-Zukhruf
Erik Ari Setiawan
Erik Ari Setiawan
Lahir di Bengkulu pada tanggal 07 Februari 2007 Dengan status Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yang mukim di Al Munawwir Komplek L
1
Artikel



