Komplek Nurussalam: Gelar Talkshow Inspiratif

Komplek Nurussalam: Gelar Talkshow Inspiratif

Yogyakarta – Almunawwir.com

Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek Nurussalam mengadakan berbagai agenda salah satunya yaitu menyelenggarakan talkshow inspiratif pada hari Jumat, (16/9/2022) dengan mengangkat tema “Membangun Karakter dan Menumbuhkan Orientasi Santri Di Era Smart Society 5.0”.

Dengan tiga pembicara hebat antara lain yaitu : Ning Imaz Fatimatuz Zahra, Dr. Imroatul Azizah, M. Ag, dan Dr. H. Moh. Tamtowi, M. Ag. serta moderator, Dr. H. Rifqi Muhammad Fatkhi, MA.

Pada kesempatan kali ini, selain memaparkan mengenai ilmu parenting pada anak, Ning Imaz juga menjelaskan mengenai pentingnya seorang pemuda mendapatkan sebuah pendidikan yang Adil, Spiritual, Humanis dan berdasarkan Character Building.

Sumber Gambar: Tim Media Nurussalam

Adapun, caranya terbagi menjadi 4 yaitu sebagai berikut :

Kemampuan memecahkan masalah secara kompleks

“Nanti ketika kita ini sudah menyelesaikan problem yang ada di dalam diri kita barulah kita mampu menyediakan solusi untuk lingkungan atau untuk masyarakat atau bahkan untuk bangsa dan negara kita.”

“Kalau misalnya kita sakit maka kita tidak akan mampu menyembuhkan orang lain, kita harus sembuh dulu barulah kita menjadi penyedia solusi bagi ummat” ucap beliau.

Kemampuan berfikir kritis di tengah masyarakat

Saat seseorang sudah mampu mencari solusi terhadap masalah pribadi maka nantinya seseorang juga akan mampu menyediakan solusi-solusi bagi lingkungan, maka dalam hal ini, self awareness tentu sangat penting guna mengenali diri kita masing-masing.

Hal tersebut tidak datang dengan sendirinya tetapi harus dengan adanya analisa, kesadaran dan juga kepekaan terhadap lingkungan.

“Jadi kita ini meneliti apa masalah yang ada di sekitar kita lalu kira-kira apa nih yang bisa saya lakukan untuk sedikit banyak memberikan kontribusi nyata, sehingga perubahan itu bisa pelan -pelan terjadi.”

“Nah, di sini ketika kita ini berusaha merumuskan dari analisa-analisa yang kita lakukan maka hal itu akan membuat kita ini memiliki kemampuan untuk memiliki cara berfikir kritis dari problematika yang ada” terangnya.

Kemampuan untuk berkreasi

Dengan adanya kemampuan berkreasi harapannya dapat menghasilkan pola-pola yang bisa menjadi solusi dari setiap problematika yang sedang tercipta.

Pembelajaran dan pelatihan sumber daya manusia

Hal ini bertujuan agar seseorang memiliki keterampilan berfikir tingkat tinggi.

Selain Ning Imaz, ada juga ibu Imroatul Azizah, M. Ag. atau sapaan akrab Bu Iim yang merupakan alumni dari Komplek Nurussalam, beliau memaparkan mengenai pandangannya seputar kapasitas keilmuan yang harus diketahui seorang santri.

“Apa sih ilmu-ilmu yang harus kita miliki dan ilmu – ilmu bantu yang membuat mereka minimal survive, tidak tergilas oleh Era Smart Society, gak punya hp tapi bisa tetap connect” tanya Gus Rifqi Selaku moderator untuk memancing jalannya acara.

Baca juga: Kegiatan Muharraman 1444 H Resmi Ditutup, Inilah Juaranya

Menanggapi pertanyaan dari Gus Rifqi, Bu Iim secara garis besar memaparkan bahwa pada Era Smart Society manusia mampu menjadi tuan untuk industri bukan justru sebaliknya. Selanjutnya, santri perlu mengetahui mengenai hal-hal berikut ini, yaitu :

  1. Melek teknologi, yang merupakan syarat utama agar tidak tergilas oleh zaman
  2. Rumpungnya ilmu, seperti diketahui semakin modern sebuah bangsa, maka semakin modern sipilnya.
  3. Adanya kemampuan untuk menjadi katalisator, yaitu menghubungkan berbagai problem yang ada di masyarakat.
  4. Adanya keseimbangan kurikulum pondok seperti contoh adanya intrepreneur.

Baca juga: Terlalu Banyak Menghafal, Melemahkan Daya Analisis?

Selain hal di atas, bu Iim juga menyampaikan mengenai etika dalam bermedia sosial, yaitu :

“Kalau anda mendapatkan berita maka harus crosschek betul atau tidaknya berita tersebut. Kalaupun betul maka fikirkan maslahat tidak kalau di-share ulang.”

“Kalau tidak maslahat, membuat fitnah atau malah membuka aib seseorang maka cukup di hp panjenengan kalau bisa hapus tapi kalau bener beritanya dan akan bermanfaat untuk orang lain maka silahkan di share” terangnya.

Seperti banyaknya kasus dan kurangnya kemampuan seseorang dalam mengelola data sehingga kadang menjadi boomerang bagi orang itu sendiri.

Overload data dalam hal ini menjadi penyebab utama sehingga setiap orang diharapkan pandai dalam mencerna setiap informasi yang diterima maupun yang akan disebarluaskan.

Selain kedua pemateri tadi, Pak Tamtowi yang merupakan alumni Komplek Nurussalam pun turut memeriahkan sebagai pemateri dalam acara talkshow ini.

Beliau memaparkan mengenai tradisi santri yang penuh dengan norma adat, berbanding dengan tradisi industry dan tradisi informasi.

“Tradisi pemikiran pesantren ini sebenarnya sudah sangat mapan dan kuat, bahkan para pakar Pendidikan sampai hari ini masih berpandangan bahwa pendidikan karakter yang paling sukses adalah di pondok pesantren” ucap pak Tamtowi.

Baca juga: Pengantar Ilmu Qira’at (1): Ruang Lingkup Ilmu Qira’at

Mengenai tradisi, budaya dan akhlak tidak selalu harus sesuai dengan zaman yang sudah berlalu, karena seiring berkembangnya zaman semua akan berubah sebagaimana semestinya. Tapi, dalam tanda kutip bukan menyalahi aturan yang ada.

Adapun yang penting dari yang terpeting yaitu, mengenai apa isi kepala dari santri tersebut. Tentunya harus smart, brilliant, dan penuh dengan kekayaan ilmu. Harapannya tentu seorang santri mampu menjawab setiap promblematika zaman.

Narda Nasar

Narda Nasar

Narda Nasar

Santri Komplek Nspi Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak. Minat Kajian di Sastra Berupa Opini, Puisi, Kisah dan lainnya.

5

Artikel