Lebensphilosophie: Laku Tarekat dan Relevansinya dalam Al-Qur’an

Lebensphilosophie: Laku Tarekat dan Relevansinya dalam Al-Qur’an

Almunawwir.com-Dalam dunia interpretasi teks terdapat kesempitan berpikir dan pemujaan obyektivitas yang bernama literalisme. Hal ini juga terjadi pada ilmu-ilmu modern yang melihat manusia dan masyarakat dipandang dari sisi lahiriah (fisik) dan materialnya yang dapat diperhitungkan secara obyektif dan mekanistis yang kemudian disebut sebagai positivisme.

Dalam ilmu sejarah, positivisme dianut dalam bentuk historisme yang berkeyakinan bahwa sejarah bergerak menurut mekanisme obyektif seperti yang terdapat dalam alam, Marxisme tergolong dalam pandangan ini. Namun, Dilthey sangat kritis terhadap positivisme. Dengan demikian Dilthey memberikan kontribusi baru dalam khazanah berpikir yang disebut sebagai Lebensphilosophie (filsafat kehidupan).

Lebensphilosophie dalam bahasa Indonesia acapkali dipahami sebagai “pandangan hidup”. Namun faktanya, lebih dalam dari itu mencakup segala aspek kehidupan yang luas. Para penganut Lebensphilosophie selalu mengedepankan kehidupan batiniah dan pengalaman manusiawi dengan mengkritik kecenderungan hidup yang bersifat lahiriah atau mengacu pada unsur-unsur profane (duniawi).

Baca Juga:

Tanpa disadari, manusia saat ini suka sekali atau bahkan terlena dan hanya fokus untuk menjadi manusia lahiriah yang kemudian memilih dalam memperbaharui fisik, uang dan prestise guna memenuhi ekspresi kelahiriahannya. Manusia yang fokus terhadap kepuasan indrawi ia akan merosot dengan seiiring berjalannya waktu.

Aspek lahiriah mempunyai ruang yang terbatas sehingga manusia yang menganutnya tidaklah benar kecuali hanya mendapatkan tipu daya dari fatamorgana belaka. Sedangkan manusia batiniah mempunyai konektivitas antara jiwa, roh dan akal yang didasari atas hubungan transendental terhadap tuhan. Sehingga kemudian hal tersebut menjadikan mereka memiliki fundamental berpikir sendiri terhadap kontruksi kehidupan yang jarang dilihat oleh manusia pada umumnya.

Sumber: Jernih.co

Dalam konteks ini, penganut batiniah menyadarkan betapa pentingnya bahwa manusia hanyalah makhluk mikrokosmos yang meneduh di bawah cinta dan agungnya Tuhan. Sehingga dengan demikian, setiap manusia patutlah menjadi agen dalam menebarkan keharmonisan terhadap setiap yang hidup di muka bumi ini.

Selain itu, sebab adanya hubungan tersebut, manusia batiniah mempunyai waktu khusus untuk berdialog dengan Tuhan sebagai kesempatan yang tepat dalam membangun kembali semangat spiritual. Dalam Al-Qur’an, terdapat seruan kepada kaum beriman untuk menjaga hubungan vertikal dan horizontal.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ

Artinya: Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia,

Ada dua signifikansi dalam memahami potongan ayat tersebut. Pertama adalah pentingnya untuk menjalin hubungan antara manusia dengan Allah (hablun minallah), yang kemudian dibuktikan dengan melaksanakan berbagai ritus-ritus keagamaan yang telah diperintahkanya dan menghentikan segala apa yang dilarang-Nya.

Secara khusus, salah satu di antara komunikasi dengan Allah adalah ibadah shalat. Sebab dengan demikian, makna dalam setiap gerakan shalat merupakan bagian dari proses konektivitas antara jiwa dengan sang pemiliknya, yang kemudian diklasifikasikan ke dalam kegiatan olah batiniah.

Sedangkan, kedua adalah hubungan antara sesama manusia. keberhasilannya dapat dilihat dari kematangan spiritual kepada tuhan yang akan berdampak bagaimana pola perilaku dari sifat manusia tersebut dalam bersosial.

Berangkat daripada pandangan tersebut, labensphilosophie mampu menjadi referensi yang baik untuk setiap manusia yang hidup di masa sekarang. Serta mengajarkan untuk tidak menjalani kehidupan yang selalu terpenjara dengan Marxisme (positivistik) yang berorientasi pada hal-hal yang bersifat profane dan membantah dogma dogma ketuhanan.

Dilthey menegaskan bahwa alunan kehidupan yang singkat ini dapat dinikmati secara mendalam dari adanya kematangan batiniah dan hubungan transendental serta melaksanakan kesalehan sosial sebagai bukti manusia yang beriman.

Penulis: Muwadhoful (Santri Komplek Asy-Syathibi)

Editor: Redaksi

Baca Juga:

Redaksi

Redaksi

admin

522

Artikel