Mengungkap “Dekengan Pusat” Para Pengkaji Ilmu

Mengungkap “Dekengan Pusat” Para Pengkaji Ilmu

AlMunawwir.com – Akhir-akhir ini penulis kerap kali mendengar istilah “dekengan pusat”. Mulai dari konten fyp media sosial hingga caption status whatsapp tak luput dengan ungkapan itu. Tak sekadar fyp di beranda medsos tapi istilah ini juga sering berseliweran lewat obrolan setiap hari. Sedikit-sedikit “dekengane pusat”.

Ungkapan ini santer dan benar-benar viral dibicarakan di mana-mana. Tak hanya berlaku di internal jamaah Sabilu Taubah asuhan da’i muda kondang asal kota Blitar, Gus Iqdam Kholid, namun ungkapan ini sudah menjadi semacam kebiasaan di kalangan publik, terlebih dalam komunitas penulis sendiri.

Mengacu dari artikel yang dimuat di Liputan6.com, frasa “dekengan” merupakan bahasa jawa populer yang merupakan kata serapan dari bahasa Belanda “dekking” yang berarti perlindungan atau sokongan berupa bantuan finansial.

Gambar: Gus Iqdam Kholid

Ungkapan ini lantas dimaksudkan sebagai “perlindungan” dari Allah yang selalu meliputi hamba-hambanya yang beramal baik. Atau jika diselaraskan dengan nama “Sabilu Taubah” maka perlindungan ini juga berlaku bagi siapapun yang menempuh jalan pertaubatan.

Namun di sini penulis tak ingin mengulas ungkapan ini dari sisi trending yang banyak dimuat di berbagai unggahan di media sosial. Penulis tertarik untuk membedah ‘dekengan pusat’ yang berlaku dan berkenaan langsung dengan para pembelajar dan pengkaji (baca: santri) ilmu agama.

Baca Juga:

Jaminan Khusus Para Pencari Ilmu

Umat muslim selama ini meyakini bahwa apapun yang telah diciptakan Allah pasti telah mendapat jatah dan kuota rizkinya masing-masing. Terlepas keyakinan ini terimplementasi pada kehidupan masing-masing individu atau tidak, yang pasti Allah telah mengabarkannya lewat Al-Qur’an.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (lauh mahfuzh).” QS.Hud ayat 12.

Menariknya, selain ter-khitab-i dengan ayat ini, ternyata santri juga mendapat bonus dari Allah berupa jaminan khusus yang hanya ia terima sendiri dan tidak berlaku kepada selainnya. Di sinilah keistimewaan seorang penuntut ilmu.

Sayyid Abdullah Alawi Al-Haddad dalam kitabnya, Nashaih Al-Diniyyah memberikan komentar terhadap hadis, “Sesungguhnya Allah menjamin rizki seorang penuntut ilmu” dengan penjelasan bahwa jaminan yang diberikan ini merupakan jaminan khusus.

Jaminan rizki ini merupakan bonus dan perpanjangan dari rizki yang telah Allah jaminkan kepada seluruh makhluk-Nya. Sayyid Abdullah menyebut jaminan bagi seluruh makhluk hidup itu dengan istilah takafful al-amm dan bagi penuntut ilmu dengan takafful al-khas.

قال عليه السلام : إن الله تكفل لطالب العلم برزقه . (قُلتُ ) وهذا تكفل خاص بعد التكفل العام الذي تكفل الله به لكل دابة في الأرض في قوله {ومَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّه رِزْقُهَا} . فيكون معناه زيادة التيسير ورفع المؤنة والكلفة في طلب الرزق وحصوله. والله أعلم

Rasulullah shollallohu alaihi wassalam bersabda, ”Sesungguhnya Allah menanggung rizki pencari ilmu”. Kukatakan : Ini adalah jaminan khusus setelah adanya jaminan secara umum yang telah dijamin oleh Allah terhadap setiap makhluk di muka bumi dalam firmanNya “Tiada satu makhlukpun di bumi melainkan rizkinya atas tanggungan Allah”. Maka makna pemberian jaminan khusus dalam hadits tersebut ialah bertambahnya kemudahan dan dihilangkannya kepayahan dan kesulitan dalam mencari dan memperoleh rizki.

Senada dengan penjelasan Sayyid Abdullah, Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi dalam kitab Al-Manhaj As-Sawi mengatakan bahwa jika seseorang memiliki pemahaman terhadap ilmu agama dan ia memberikan perhatian khusus terhadap proses belajarnya, maka hal itu menjadi penyebab utama ia mendapat rizki.

Orang Galau “Dekengane Pusat”

Tak hanya masalah finansial, bahkan Allah akan membersamai orang yang hatinya galau, susah dan dirundung pilu sebab Allah. Imam Fakhrudin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib menyebutkan bahwa keutamaan penuntut ilmu itu ada delapan.

Salah satunya ialah ketika ia galau sebab tak bisa memahami sebuah ilmu, maka kegalauan itu akan menjadikan dirinya semakin dekat dengan Allah.

وإذا ضاق قلبه لعدم الفهم صار غمه وسيلةً إلى حضرة الله تعالى لقوله تعالى: «أنا عند المنكسرة قلوبهم من أجلي، أي : جابرهم وناصرهم،

Ketika hatinya galau disebabkan ketidakpahamannya tentang suatu ilmu, maka kegalauan itu akan manjadi wasilah dekatnya dirinya dengan Allah, sesuai dengan hadis qudsi, ‘Aku (Allah) akan membersamai orang-orang galau yang disebabkan karenaku’ maksudnya penolong dan pelindung mereka.

Merujuk penjelasan di atas tentu “dekengan” para santri itu bukan main-main. Langsung pusatnya pusat. Allah telah memberikan perhatian lebih bagi pencari ilmu. Maka sudah selayaknya kita sebagai santri tak perlu risau dan khawatir soal masa depan.

Namun, keyakinan seperti ini juga harus diimbangi dengan usaha yang sepadan. Upaya yang dikerahkan harus benar-benar maksimal, sebab tipe santri seperti itu menjadi prasyarat untuk mendapat kemuliaan yang telah dijanjikan Allah. Wallahu a’lam.

Editor: Redaksi

Baca Juga:

Abdillah Amiril Adawy

Abdillah Amiril Adawy

AbdillahAdawy

Santri Komplek Madrasah Huffadz 1

20

Artikel